Devan masih menonton kartunnya. Dia tidak mempedulikan kesibukan orangtuanya di dapur. Mata kecilnya terus memperhatikan animasi kucing dan tikus saling memukul dan membunuh. Dia tertawa sesekali ketika melihat tubuh kedua binatang itu dihantam benda-benda tumpul, namun tidak mati. “Sudah kuduga, kartun buruk bagi perkembangan anak,” kata Fara mendekati anaknya, lalu mematikan televisi. Devan menangis. Ayahnya menghampirinya, “Sayang, kamu kelihatannya sudah besar, jadi papa punya hadiah untukmu, mama benar, kartun berpengaruh buruk untukmu, Nak.” “Mm?” Devan berhenti menangis dan memperhatinya. Fara curiga, “maksudnya?” Deva menunjukkan tangan kanannya yang tak memegang apapun pada sang putra, “Ini lihat ya—Papa main sulap ala manusia, kosong—kosong,” mengibaskan tangannya beberapa
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


