Fara berangkat kuliah pagi-pagi sekali. Dia masih sendirian saat masuk ke dalam kelas. Seluruh teman-temannya biasa berkumpul lima menit sebelum jam pertama mulai.
Ia menaruh setumpuk artikel tentang penusukan pacarnya di atas meja. Kemudian menjatuhkan diri di atas kursi. Hari ini bawaannya cukup banyak. Terlebih tasnya yang berisi banyak kamus. Apalagi semester awal, jadwal mata kuliahnya penuh.
... SEORANG MAHASISWA DITUSUK PRIA TIDAK DIKENAL ...
..Jevan Hadinata [21], seorang mahasiswa fakultas hukum di Universitas Edelweis Malang, ditusuk oleh pria misterius pada hari Selasa, 9/10. Menurut saksi mata, pelaku dicurigai akan merampok teman wanitanya. Tapi karena melakukan perlawanan, dia mendapatkan tiga kali tusukan di perut bagian bawah dan sampai sekarang masih berada di UGD Rumah Sakit Persada ...
.... Pelaku yang panik melarikan diri namun tertangkap warga setempat. Dia dihakimi massa sebelum dibawa ke rumah sakit oleh pihak kepolisian. Akan tetapi dia dinyatakan meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan intensif. Sampai saat ini polisi masih tidak bisa mengungkap identitas pelaku. Hal ini dikarenakan sidik jarinya tidak dikenali dimanapun....
*
"Aku tahu kalau pelakunya sudah mati," kata Fara memikirkan perkataan Jevan malam kemarin, "permintaan apa maksudnya? Saat dia terluka di halte, aku hanya berdoa agar dia baik-baik saja.. lalu saat di rumah sakit, doaku tetap sama ..."
"Hei, Fara! Pagi amat datangnya!" Sapa seorang gadis seusianya masuk ke kelas, duduk di sampingnya. Dia terlihat modis dari atas kepala sampai kaki. Aroma parfum bunga-bunga langsung semerbak setelah kehadirannya. Apalagi ketika dia mengibaskan rambut ombaknya. Sudah mirip beauty blogger.
"Silvi?" Panggil Fara membereskan berkas artikelnya. Buru-buru dia memasukkannya ke dalam ransel. Lalu menyunggingkan senyuman ramah pada temannya itu, "sudah tiga hari kamu tidak masuk, kemana aja?"
"Travelling dong," jawab Silvi santai
"Kemana?"
Silvi memberikan gantungan kunci bertema Bali kepada Fara, "Bali! Ini oleh-oleh untukmu."
Fara menerimanya, "Terima kasih."
"Kenapa muka ditekuk begitu? Lagi galau'kan? Pasti baru putus ini.." ucap Silvi menyelidik, "sudah kuduga, Jevan pasti ujung-ujungnya Playboy juga. Jaman sekarang, tidak ada cowok baik."
"Bukan kok."
Silvi malah menghela napas panjang, "Koneksi gosipku ini luas sekali, Fara."
Fara tertawa mendengarnya, "Kami baik-baik saja."
"Oh, terus kenapa dia kok tiba-tiba sok cool begitu? Tadi kusapa loh, biasanya Jevan yang kutahu itu menjitak kepalaku, dia tadi sok ngga kenal. Lebih sialannya lagi, dia malah sok akrab dengan adik-adik kelas," celoteh Silvi terhenti karena dia kelewatan membicarakan hal itu dengan pacarnya Jevan, "maksudku—ya cuma sok akrab saja."
"Entah, Sil, Jevan aneh.." kata Fara akhirnya tidak tahan ingin nyembunyikan kegelisahannya, "aneh—kepada kita semua. Ini salahku, aku tahu."
Tanpa dia sadari, matanya perlahan berkaca-kaca. Terlebih selalu disudutkan oleh ibu dan pacarnya sendiri.
Silvi hendak mengatakan sesuatu, tapi sekelompok teman-temannya mulai memasuki kelas. Wajah mereka tampak ceria tengah mengobrolkan berita terhangat hari ini:
Ada penampilan Band Kampus, LawBreakers.
Akan tetapi salah satu mahasiswa membicarakan ketua BEM mereka yang datang ke kampus dengan mata memar.
"Katanya dihajar kemarin—dia tidak bilang siapa yang menghajarnya," ucap seorang mahasiswa jangkung kurus duduk di bangku terdepan. Wajah lonjongnya tampak serius sampai otot pelipisnya terlihat.
Temannya menyahut, "Mungkin masalah cewek, biasanya."
"Perasaan dia jomblo."
“Ya siapa tahu ceweknya orang yang dia dekati?”
Mereka berdua menoleh pada Fara seolah menaruh curiga. Karena cewek yang paling dekat dengan ketua BEM kalau bukan Tina ya dirinya.
Fara berusaha mendinginkan telinganya yang panas karena obrolan tersebut, "Apa lagi sekarang? Kak Stefan kenapa?"
"Dipukuli pacarmu kali," sahut mahasiswa kurus tadi, "ya, coba kamu tanya deh, Far, kasihan sekali dia.. apalagi Jevan.." jeda sejenak karena bingung memilih kata, "aneh."
"Sudah cukup! Ini tidak mungkin," Fara menggelengkan kepala tidak mau lagi mendengar kelakuan jahat Jevan. Karena tidak tahan, dia berlari keluar untuk mencari Stefan.
Jika memang benar, lebih baik aku putus dengan Jevan, Pikirnya yakin.
***
Stefan duduk di kursi taman depan gedung fakultas. Kelasnya sedang jam kosong, jadi dia menghabiskan waktu sendirian dengan mendesain poster untuk seminar di laptopnya. Meskipun satu matanya tertutup perban. Tapi dia tampak tidak mempermasalahkan hal itu.
"Kak?" Panggil Fara dengan hati berdebar-debar. Dia takut kalau wajah kemerahan Stefan akibat perbuatan pacarnya. Bahkan semakin diperhatikan, seluruh kulit tubuh laki-laki ini tampak lecet.
Stefan tersenyum, "Oh, Fara?"
"Ke-Kenapa—“
"Jevan memukuliku kemarin, dia salah paham padaku, kurasa mungkin untuk menjaga perasaannya, kita menjauh dulu bagaimana?" Kata Stefan bernada serius, "aku merasa entahlah, dia—"
Lutut Fara serasa lemas. Dia ingin berbalik memukuli Jevan, tapi dia tidak sanggup melangkah sedikit pun. Tatapannya hanya tertuju pada luka-luka itu.
"Aku minta maaf atas ulahnya," ucapnya pelan.
"Tidak apa-apa. Sudahlah."
Fara beranjak pergi dengan rasa malu luar biasa.
"Fara!" Panggil Stefan ragu-ragu. Jeda sesaat. Lalu mengatakan hal yang sedikit sulit baginya, "menurutmu, Jevan.. bisa menghipnotis, maksudku—"
Fara berpikir lama.
"Maksudku," ulang Stefan memandangnya dalam, "kemarin dia tiba-tiba ada di depanku, lalu menyeretku ke gang begitu saja. Aku tidak mengada-ngada, tapi aku tidak bisa melawannya, aku linglung."
"Mungkin dia memang bukan Jevan," Fara membenarkan. Dia duduk di samping Stefan. Kemudian memberitahu, "Mungkin ini terdengar tidak masuk akal, tapi aku yakin dia bisa membaca pikiranku, kemudian membuat ibuku seperti terhipnotis agar memujanya. Dia seperti..."
Stefan menunggu.
"Iblis," lanjut Fara menahan napasnya sesaat, " seolah-olah jika aku berbicara, dia terkoneksi denganku. Itu mengerikan."
Karena Stefan hanya diam, Fara sadar omongannya kelewatan. Dia tertawa lirih sambil meralat, "Maksudku, mungkin dia... Dia sangat marah padaku dan trauma karena peristiwa itu."
"Aku percaya padamu," potong Stefan serius. Dia akhirnya menguatkan diri di hadapan Fara. "Kita harus menyelidikinya. Sejak awal dia ditusuk—"
"Kemarin dia bilang kalau saat tubuhnya sekarat, aku menyebutkan 'permintaan' yang membuatnya lolos dari Kematian. Aku tidak mengerti maksudnya! Saat itu memang aku mengatakan segalanya, aku panik, aku terus mengucapkan doa agar dia kembali!" jelas Fara menggebu-gebu.
"Aku yakin tidak mengatakan permintaan aneh, apakah permintaan pada Tuhan itu aneh? Apa maksudnya! aku sudah mengingat-ingat, bahkan aku membaca artikel tentangnya! kukira aku melewatkan sesuatu.." tambahnya tanpa jeda sedikitpun.
"Aku juga membacanya, pelakunya misterius'kan? Bahkan polisi sampai heran karena orang ini tidak terdaftar dimanapun, wajah yang tersebar di media sudah dalam kondisi rusak karena dihajar massa. Semuanya terasa aneh.. apalagi kematian mereka bersamaan, di rumah sakit yang sama."
Fara tertawa karena tidak kuat mendengar omong kosong itu. Dia menegaskan, "Maksudnya seperti cerita fiksi di komik atau film, bertukar jiwa? Tidak mungkin ada hal semacam itu!" Seraya enggelengkan kepala.
"Kamu sendiri malah mengira dia iblis.—"
Fara membisu karena ucapan menohok itu.
Jevan memang terkesan lupa dengan jati dirinya, kata batinnya.
"Atau mungkin kerasukan," tambah Stefan.
"Hentikan, sudah cukup," pinta Fara.
"Maafkan aku."
"Aku tidak mau menerima kenyataan kalau dia bukan Jevan, itu konyol! Lagipula aku tidak mau..." Fara terhenti karena memandang wajah kakak kelasnya yang menjadi panik karenanya.
"Untuk sementara akan kucari tahu tentang orang misterius yang menjadi pelaku penusukan. Bagaimana kalau kamu baikan dulu dengannya? Aku tahu kamu memang sangat menyukainya, sebelum masuk ke kampus ini, Jevan sudah sering membicarakanmu, kalian itu cocok, tenang saja, aku akan membantu menengahi ini, tapi kita harus jaga jarak."
"Aku tahu. Tapi dia sampai menghajarmu—"
Stefan tersenyum, "Jevan itu juga temanku. Santai saja. Sekarang aku bisa bernapas lega kalau punya pikiran yang sama, kita akan mengembalikan seperti dulu."
"Tapi kita tidak tahu dia kenapa?"
"Tenang, Fara, dia hanya bersikap posesif, kamu cukup senangkan dia untuk sementara."
"Sekali lagi, aku minta maaf atas ulahnya."
"Jangan lupa nonton dia saat nge-band di gedungnya nanti."
Fara pergi setelah mengangguk kecil.
***