05. Kamu Jevan?

1172 Kata
Fara pulang ke rumah dengan disambut wajah cemberut sang ibu. Mungkin karena dia diantar oleh orang lain, ibunya menjadi marah. Bahkan tidak menjawab saat ditanya. Tidak pernah sekalipun dia diacuhkan. Apalagi karena masalah sepele seperti ini. Dia merasa ibunya mulai mengagumi Jevan. "Lain kali jangan mau diantar kalau bukan Jevan!" Perintahnya yang kasar menusuk d**a Fara seketika. "Ibu, Jevan tadi masih di pesta, aku tidak mau menganggunya," ucap Fara berusaha mencari perhatian ibunya yang kesal meninggalkannya ke dapur. "Kamu kok bohong sih, Fara, Jevan tadi menghubungi Ibu kalau kamu ninggalin dia, kamu ini bagaimana sih? pamitnya mau pergi ke rumah teman dengan Jevan, tapi malah dia ditinggal," gerutu sang ibu terdengar seperti orang asing pula di telingaku Fara. "Tapi aku ..." Ibunya memotong dengan kasar, "Kamu tega banget sih Fara! Kamu tidak ingat dia sampai celaka demi kamu!" "Maafkan aku," pinta Fara tidak punya pilihan lain. Selama Jevan mengadukan semua masalah mereka kepada sang ibu, dia tidak bisa berbuat apapun. "Nanti malam, coba ajak dia makan malam dengan kita, terus minta maaf, ibu sekarang akan memasak untuknya." "Tapi Jevan itu—" "Jangan lupa, sejam lagi, coba telepon Jevan," sela ibunya dengan suara paksaan, "pokoknya harus dihubungi. Terus kamu minta maaf. Ibu sangat menyukai Jevan, dia itu baik, Fara, jangan kamu menyia-nyiakannya, ingat, kalau saja keajaiban itu tidak ada, orangtuanya akan membenci kita karena kamu membuat anaknya terbunuh!" "Sudah cukup jangan mengulangi kalimat itu terus menerus! Aku juga tidak mau Jevan ditusuk orang!" "Makanya kamu harus baik-baik saja dia. Kamu ini padahal cuma diajakin ke pesta, malah ditinggalin!" "Ibu, ibu ini kenapa sih? Itu cuma pesta! Lagipula sejak kapan Jevan suka pesta, aku juga tidak suka! Aku—aku pulang duluan, itu saja, jangan berkata seolah-olah aku berbuat jahat pada Jevan, aku tidak melakukan apapun!" "Intinya, ibu merestui kalian, jadi sebaiknya jangan kecewakan Jevan." "Kita ini bicara apa sih? Kenapa malah jadi seperti ini? Kenapa ibu sangat peduli dengan hubunganku dengan Jevan sampai seperti ini?" "Kalau kamu tidak ada kerjaan, lebih baik bantu potong sayuran," tegas ibunya memberikan tatapan mematikan kepadanya. Fara membisu. *** Di sebuah gang sempit antar bangunan tak terpakai, Jevan sedang menghajar wajah Stefan sampai memar seutuhnya. Dia memanfaatkan kondisi jalan raya yang ramai untuk meredam suara umpatannya. Walaupun tangannya sudah berlumuran darah, dia belum puas memukul. "Jangan dekati Fara!" Bentak Jevan. Tubuh Stefan dihempaskan ke tanah dengan kondisi luka parah. Seluruh wajahnya lebam sehingga sulit dikenali. Matanya menjadi bengkak, hidungnya patah, bibirnya sobek. Darah segarnya terus mengalir keluar dari luka-luka itu. Beruntungnya dia masih dapat bergerak. "Je ... Jevan, kau salah paham ..." katanya terbata-bata sambil mencengkram dadanya. Awalnya Jevan ingin menjejak tubuh Stefan kembali, tapi ponselnya berbunyi. Raut wajahnya menjadi segar saat melihat nama pemanggilnya adalah: Bunny "Aku tahu kamu pasti menelponku," jawabnya segera berjalan keluar gang tanpa mempedulikan apapun lagi. Senyuman manis mulai terlukis di bibirnya. "Ibu ingin mengundangmu makan malam," kata Fara bersuara berat di balik telepon. "Tentu saja aku akan datang, Bunny, sebaiknya kamu, jangan terpaksa melakukan ini, pikiranmu menjadi runyam sulit k****a, aku tahu kamu mencintaiku, terima saja perasaan itu." TITTTTTTTTTT..... sambungan terputus sebelum ia melanjutkan ucapannya. "What a meanie bunny," kata Jevan tertawa terbahak-bahak membayangkan wajah pacarnya yang sangat kebingungan. *** Makan malam pun dimulai. Untuk pertama kalinya, Ibu Fara memasak banyak sekali hidangan dari sayuran hingga daging. Meja makannya penuh bagaikan tengah merayakan sesuatu bersama keluarga besar, padahal hanya ada tiga orang yang duduk melingkarinya. Dirinya, putrinya dan calon menantunya. "Jevan, coba rasakan semuanya, beritahu mana yang kamu suka, ini tadi Fara membantu masak untukmu," terangnya bernada lembut. "Terima kasih, Tante Rina, tapi sebelum itu, ini acara makan malam biasa atau ..." Jevan melirik Fara dengan senyuman kecil. Karena tekanan hebat di sekelilingnya, Fara terpaksa mengatakan, "Aku minta maaf tadi meninggalkanmu di pesta." Ibunya mengangguk-angguk, "Fara itu sangat menyukaimu, Jevan." Jevan tertawa lirih dengan memasang wajah keheranan, "Benarkah, sangat menyukaiku?" "Iya, Ibu masih ingat dulu dia selalu memujimu, sampai-sampai mencetak fotomu dan ditempel di pintu lemari, khas remaja banget ya, pokoknya kamu idola sekolah baginya." "Oh, idola?" ulang Jevan sedikit menyeringai sombong pada Fara, "aku juga mengidolakan anak Tante, sudah cantik ... perhatian, baik pula." Fara membuang muka. Ia sampai tidak tahu harus merona atau tidak. Rasanya aneh, rayuan Jevan biasanya tidak berlebihan seperti itu. Mengapa sekarang terasa asing di telinganya? Ibunya kembali menambahkan, "bahkan sebelum kalian pacaran dulu, dia memaksa Ibu membuatkan kue agar bisa diberikan padamu." "Benarkah?" "Coba kamu ingat-ingat, coklat kue yang selalh diberikan Fara sebagian besar buatan Ibu loh, kamu suka?“ "Masa sih?" Jevan menatap sang kekasih lekat-lekat. Wajahnya dipenuhi tanda tanya. Kenapa kamu malah nanya, kamu tahu kejadiannya ... Pikir Fara kebingungan. "Maaf, aku hanya lupa, Fara," lanjut Jevan memandangnya seolah tahu apa yang ia gumamkan dalam hati. "Kamu ..." Fara mendelik tak percaya. "Begitu dong, melihat kalian akur begini, hati ibu jadi tenang," kata sang ibu tersenyum puas, "dulu kalian kompak sekali, bahkan ngerjain juga kompak.. tapi syukurlah kamu tidak banyak bercanda garing lagi seperti biasanya." "Sekarang juga kompak kok, Tante." Ibu Fara mulai mempersilakan untuk makan "Sudahlah, ayo kita makan dulu" Tidak ada pembicaraan kembali. *** Selepas makan, Fara berniat masuk kamar untuk menjauhi Jevan. Namun ibunya memaksa ia untuk duduk di kursi teras rumah bersama Jevan. Tidak ada pilihan. Tidak ada yang bisa lakukan. Dalam beberapa menit, mereka hanya berdiam diri. Jevan mengamati Fara dari samping, sementara gadis itu menatap pagar rumah, bunga-bunga, dan jalanan. "Besok setelah jam kuliah, kamu ikut ya ke ruangnya UKM Musik, pokoknya tungguin aku saja disana," pinta Jevan pelan. "Siapa kamu ini?" Tanya Fara tidak tahan lagi. "Kamu ini jahat sekali, Bunny," sahut Jevan menyandarkan kepalanya, "aku pacarmu." "Kenapa kamu sangat berbeda!" "Seseorang yang barusan menginjak kematian, pasti berbeda'kan?" Fara terkejut mendengarnya, "Jevan, kamu bicara apa?" "Tidak juga sih, tapi entahlah, mungkin begitu." Aku tidak mengerti jalan pikirannya, ucap Fara dalam hati. Karena melihat Jevan yang tidak berniat bicara lagi, dia bertanya hal lain, "apa kamu yang membuat Fionn tidak bisa bicara?" "Loh dia kenapa?" Fara menatap pacarnya dengan kerutan di kening, "Jev, aku mohon, katakan padaku, ada apa denganmu? Kenapa kamu sangat aneh, kamu bisa membaca pikiranku'kan? Ini tidak masuk akal ... Aku tidak mengenalmu!" "Masa? Coba pandang aku, wajah tampanku ini tidak kamu kenali? Orang yang selalu kamu cintai?" "Jevan tidak akan pernah mengatakan hal itu padaku, Jevan tidak pernah senarsis ini, kamu aneh." "Hanya karena aku memuji diriku, bukan berarti aku berbeda, Sayang." "Ada apa denganmu?" "Kamu mungkin tidak percaya kalau aku bilang siapa aku," kata Jevan akhirnya menyeringai lebar pada gadis itu. Fara sedikit waspada, "Apa maksudnya?" Jevan menyentuh dagu pacarnya dan menjawabnya dengan tegas, "Coba ingat-ingat permintaan apa yang terlontar dari bibirmu saat tubuh ini sekarat, menurutmu siapa aku?" "Aku berdoa agar Tuhan tidak mengambilmu!" Fara menjadi ketakutan. Dia menyingkirkan tangan Jevan darinya. "Tapi sudahlah, aku sekarang pacarmu," kata Jevan berdiri seraya mencium kening pacarnya sebelum akhirnya pergi, "Salam pada ibumu, makan malamnya menyenangkan. Tolong lain kali, kamu jangan terpaksa melakukannya.." dia menoleh untuk memperingatkan Fara, "aku sudah memenuhi permintaanmu loh, aku hidup lagi, jadi patuhi saja semua keinginanku.." "Permintaan?" Ulang Fara lirih. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN