04. Jevan Suka Pesta?

1130 Kata
Suara keras lagu pesta memekakkan telinga Fara. Dia berjalan pelan di belakang pacarnya menyusuri pinggiran kolam renang mewah. Dia merasa puluhan orang yang berada disini sangat asing di matanya. Apalagi dia sebenernya tidak tahu ini di rumah siapa. Jevan hanya menjelaskan kalau ini kenalan serta anggota band di kampusnya. Dia tidak terbiasa memakai dress biru selutut yang kelihatan cantik seperti yang membungkus dirinya sekarang. Padahal disana malah banyak yang memakai bikini. Dia tidak percaya mereka semua adalah mahasiswa-mahasiswi kampusnya. "Hei! New King, Jevan!" Sambut seorang laki-laki seumuran Jevan yang bertelanjang d**a, hanya memakai celana renang. Dia duduk di kursi berjemur bersama seorang gadis berbikini merah. "Maaf ya, Rey, gara-gara aku telat, kita tidak bisa latihan band tadi," kata Jevan menjabat tangan laki-laki itu dengan akrab. Rey melirik Fara dari ujung rambut sampai kaki, "Pacarmu? Kok kayak kenal ya?" "Iya ini Fara, pacarku," kata Jevan melirik pacarnya seolah mengisyaratkan untuk berkenalan, "Fara ini teman band baruku, Rey, dia dari hukum juga, semester akhir ya?" wajahnya seolah meledek Rey, "tapi kapan berakhir?" Rey melingkarkan tangan ke leher Jevan dan tertawa terbahak-bahak. Kemudian memukul pelan dadanya sambil menjawab dengan tegas, "Nah, makanya biar tidak tertekan masalah skripsi, pesta dulu dong!" Lalu berteriak pada teman-temannya, "Hei! MINGGU DEPAN, PESTA DI RUMAH JEVAN!" Semuanya sontak bersiul gembira. Jevan membalas tawanya dengan gembira, "Boleh saja, pastikan bawa banyak orang, rumahku luas loh!" Fara merasa sendirian disini. Bibirnya terkatup rapat, tidak tahu harus berkata apa. Dia bingung harus berbuat apa. Bahkan dia tidak tahu kenapa mengikuti Jevan kemari. Baru beberapa menit mendengarkan musik keras saja, kepalanya langsung pening. "Senang-senang saja sana!" Suruh Rey menyuruh mereka pergi menikmati hidangan. Jevan menarik tangan Fara untuk ke salah satu meja yang dipenuhi camilan kue kering. Dia terus menyapa satu per satu dari teman-teman barunya. "Sejak kapan kamu berteman dengan mereka?" Tanya Fara risih melihat beberapa orang yang menjeburkan diri di kolam bersama, "sejak kapan kamu suka pesta begini?" Jevan memakan salah satu kue sembari menjawab dengan suara bisikan, "Sejak aku tahu, kalau hidup itu harus dinikmati," kemudian tertawa terbahak-bahak. Maafkan aku, kata Fara dalam hati. Dia sekarang benar-benar yakin kalau pacarnya memang mengalami trauma. "Aku tidak butuh maafmu, aku sudah bilang, aku tulus menolongmu karena aku menyukaimu ..." sahut Jevan sambil berusaha menyuapi gadis itu satu kue. Fara tersentak kaget. Apa dia barusan membaca pikiranku? Kenapa dia terus menerus mengetahui isi hatiku?, Pikirnya mundur selangkah. "Kenapa sih? Kenapa mundur dariku? Apa aku kelihatan seperti orang asing? Masa sih aku bisa baca pikiran?" Heran Jevan memakan kuenya yang tidak jadi Fara makan. Lalu menyeringai kepada pacarnya itu dengan tatapan sejuta makna. "Siapa kamu?" Tanya Fara serius. Dia sangat heran mengapa Jevan tahu arah pikirannya? "Aduh ... kenapa ya dia terus membaca pikiranku?" Ulang Jevan menikmati raut wajah takut Fara. Tapi saat dia merasa itu keterlaluan, dia meralatlah, "Aku Jevan, wajahmu itu menunjukkan isi hatimu. Pikiranmu terlalu sempit." Fara sontak pergi dari hadapannya. Jevan memperingatkannya, "Kamu sebaiknya jangan meninggalkanku lagi, kembalilah, Fara, jika bukan aku yang sekarat saat itu, kamu yang mati ... kamu ini sadar diri tidak sih?" "Jev ..." Panggil Fara berbalik setelah menahan diri. Dia merasa Jevan terus menyalahkannya atas semua yang terjadi. Dia bertanya di hadapan Jevan dengan mata berkaca-kaca, "hentikan.. jangan terus membahasnya!" "Karena aku sangat mencintaimu," sahut Jevan santai sambil membelai rambut pacarnya, "aku hanya ingin kamu itu mendukungku, tidak berpikiran kolot, tidak berkumpul dengan teman norak, dan tampil cantik untukku. Katakan padamu, apa kamu masih menyukaiku'kan?" Tentu saja aku menyukaimu, apalagi jika kamu tidak perlu menghabiskan waktu hura-hura, bersikap narsistik dan dingin pada semua teman-temanku, jawab Fara dalam hati. "Maaf, kalau itu, aku tidak bisa, mana mungkin aku tidak memuji diriku sendiri yang sempurna ini," bisik Jevan benar-benar membaca pikirannya. Kemudian tertawa lirih. Fara melepaskan diri darinya, "Kamu?" Jevan tersenyum tipis,  "jangan takut dong, kamu tegang mulu kaalu dekat denganku. Ini Jevan, Fara, pacarmu. Sekarang kita lagi di pesta, jadi nikmati saja bersamaku." Fara meninggalkan tempat pesta tanpa peduli lagi dengan Jevan. Walaupun dia sudah keluar dari gerbang rumah, entah mengapa kepalanya masih dipenuhi dengungan suara Jevan. Semakin memikirkannya, semakin jelas. ..Aku Jevan... Aku Jevan, sayang.. Dia nyaris jatuh pingsan jika saja pundaknya tidak ditepuk oleh seseorang. Stefan. "Fara? Kamu kok ada disini?" Tanyanya panik. Fara tersentak kaget, "Stef! Kak Stef!" Dia memegangi dadanya untuk menenangkan diri. Kemudian keheranan melihat seragam pengantar pizza Stefan, "kenapa disini? Eh.. sejak kapan jadi.. kurir?" "Oh, menggantikan Fionn saja, dia bisa dipecat kalau tidak kerja, untung saja bosnya bisa diajak kerjasama, ini sudah pulang, rasanya punggungku mau patah.." kata Stefan meraba punggungnya sendiri. Fara mengangguk, "Oh.. bagaimana keadaan Kak Fionn? aku tidak bisa menjenguknya, aku merasa bersalah." "Dia sudah baikan, sudah pulang, tapi anehnya kok masih belum bisa bicara dengan lancar." "Kok bisa ya?" heran Fara mengerutkan dahi. ... Kak Fionn mendadak bisu? padahal sebelumnya tertawa bersama kami— bersama Jevan ... Jevan, pikirnya mendadak ingat sesuatu.  ... "Diam saja kau itu, daripada jadi bisu nanti." ... Perkataan Jevan terlintas sesaat di benaknya. Kalimatnya seperti kutukan. Tidak mungkin semuanya kebetulan. Sontak saja tangannya gemetar. "Fara? Fara? Kamu sakit ya?" Tanya Stefan hendak menyentuh tubuhnya tapi takut dimarahi. "Dia ... Bisu?" Ulang Fara tidak tenang. Dia menelan ludahnya sendiri. Semua tentang Jevan menjadi semakin tidak masuk akal sekarang. Dia menjadi orang lain dalam sekejab, mengutuk seseorang,, lalu membaca pikiranku? Apa-apaan ini!!!, Jeritnya dalam hati. "Far?" Fara menghela napas panjang, "Tidak ... hanya pikiranku. Jevan itu Jevan. Jevan masih trauma, ini kebetulan!" Bibirnya terus mengatakan hal sebaliknya. "Kalian ada masalah ya? Lagian kamu kenapa ada disini? Bukankah ini rumah kak Rey ... kalau tidak salah ..." heran Stefan menatap rumah megah di belakang Fara. "Iya, aku kemari dengan Jevan untuk menghadiri pesta, tapi aku ingin pulang sendiri, kami tidak ada masalah kok, dia hanya ingin menghadiri pesta teman, tapi aku pusing kalau kelamaan di keramaian," sahut Fara menyembunyikan kecemasannya dengan senyuman. "Kuantar pulang saja, ayo ... kamu kelihatan pucat, ya ampun, kalian ngapain sih?" Fara tidak menjawabnya. Jevan masih berdiam diri di ambang pintu rumah Rey. Dia meminum jus jeruknya sembari memperhatikan pacarnya dari kejauhan tengah mengobrol dengan Stefan. Awalnya ia hanya tersenyum tipis seolah tidak mempermasalahkan hal tersebut. Akan tetapi saat mereka pulang bersama, dia meremas gelasnya hingga hancur berkeping-keping. Kemudian mengibas-ngibaskan tangannya yang tidak tergores pecahan sama sekali. Sebelum akhirnya mengepalkannya seolah ingin menghajar seseorang. "Faranisa ..." panggilnya dengan tarikan napas penuh kemarahan, "sudah kubilang jangan dekat-dekat dengan sialan itu." "Mau bantuan?" Tanya Rey yang menghampirinya dengan langkah pelan. Dia menepuk bahu sobat barunya itu sembari tersenyum lebar, "dia pasti merebut pacarmu kalau kelamaan dibiarkan." "Aku tahu. Akan kubalas dia." "Biar kubantu, itulah gunanya teman! Besok kita hajar sama-sama!" Kata Rey serius, "ayo kita pesta lagi, biarkan saja." Tapi Jevan malah pergi. Mana mungkin dia menunggu sampai besok. Kilatan di matanya mengatakan kalau ada yang harus sekarat hari ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN