FransAle IX | Setitik Masalah

1417 Kata
"Hati-hati Le!" "Okay. Kalian berdua juga hati-hati," kemudian Ale menoleh pada Gani yang duduk di kursi pengemudi, "Gani! Anterin sahabat kesayangan ku dengan selamat tanpa cacat!" "Siap!" "Yaudah, aku masuk dulu." "Assalamualaikum." "Wa'alaikummussalam." Jawab Refa dan Gani kemudian menjalankan mobilnya menjauh dari pelataran depan rumah sakit. Ale masuk perlahan melewati area pendaftaran, karena di antar menggunakan mobil Gani, terpaksa ia melewati ruang depan dimana bilik resepsionis dan beberapa bangku tunggu tersedia. Biasanya Ale akan memasuki rumah sakit lewat lorong samping, dekat parkiran. BRAK! Suara gebrakan berasal dari ruang rapat yang berada tak jauh dari ruang aula staf mengangetkan Ale yang berada di depan pintu. Ia menyentuh dadanya pelan, menetralkan detak jantung yang berdegup kencang karena terkejut. "Apa masih ada rapat malam-malam begini?" Kata Ale pelan. Tak biasanya pejabat tinggi rumah sakit masih mengadakan rapat hingga malam, ruang rapat dan aula tentu akan di kosongkan ketika sudah sore. Apakah ada sesuatu yang terjadi? Baru saja, Ale akan memeriksa. Pintu terbuka dari dalam, membuat Ale kembali terkejut. Ia tak menyangka ada seseorang yang membuka pintu bersamaan dengan dirinya yang akan membuka pintu. Seorang pria berpawakan tinggi dengan setelan formal menatap tajam Ale. Manik matanya yang berwarna hitam, dengan aura tak bersahabat melingkupi pria itu. Ale tak pernah mengenal pria di hadapannya, apalagi pria ini ada di ruang rapat khusus petinggi rumah sakit. Jika pun memang pria itu salah satu petinggi rumah sakit? Mengapa Ale baru melihatnya sekarang? "Maaf, Bapak,--" Perkataan Ale terpotong ketika pria itu dengan acuh berjalan melewatinya. Menghiraukan keberadaan Ale yang mematung di depan pintu. Di lihat dari raut wajahnya sangat marah, atau pria itu yang menimbulkan suara gebrakan tadi? "Alessa?" Ale menoleh begitu namanya di panggil, "Pak Wayan." Ale memberi hormat kepada Wakil Direktur rumah sakit. "Kamu benar, Alessa?" "Iya Pak, saya Alessa." "Saya tidak salah mengenali orang ternyata." Gurau Pak Wayan di balas senyum canggung Ale. "Ada apa?" Ale menggeleng, "Tidak ada apa-apa, Pak. Tadi saya hanya terkejut karena suara berisik dari dalam ruangan." "Ah, iya. Kamu tenang saja, tidak ada masalah." "Tadi ada pria,--" "Alessa jaga malam?" Pak Wayan memotong pertanyaan yang akan Ale ajukan. Ale spontan mengangguk, "Iya, Pak. Jaga malam di rawat inap." "Baiklah, hati-hati ya. Saya masih ada urusan, saya permisi." "Silahkan, Pak." Ale menyingkir sedikit menjauh dari pintu, memberi jalan kepada Pak Wayan yang berjalan tergesa-gesa. Ale mengernyitkan kening, merasa aneh dengan sikap Wakil Direktur. "Sebenernya ada apa sih? Rumah sakit kena masalah lagi?" Ale bertanya-tanya sendiri. Menggelengkan kepala, Ale kembali berjalan menuju instalasi rawat inap, ia sudah telat sepuluh menit karena insiden ini. Beberapa menit sebelum kedatangan Ale di depan pintu ruang rapat, Pak Wayan dan Frans terlibat diskusi yang menegangkan. Pak Wayan tampak menunduk menghormati Frans sebagai Presdir yang baru. Tatapan Frans sama sekali tak bersahabat, hari ini semua kejadian di rumah sakit membuatnya kesal. Frans membutuhkan tempat untuk meluapkan emosinya. "Saya tidak mau mendengar kejadian ini terulang lagi!" "Kami sudah mengusahakan yang terbaik, Pak." "Jangan mengatakan terbaik jika kalian semua memakan gaji buta!" Frans menggebrak meja keras. Pak Wayan terkejut, "Apa maksud Bapak?" Siang tadi setelah acara rapat pertemuan selesai, Frans ingin memeriksa staf penanggung jawab untuk kendaraan rumah sakit dan fasilitas lain yang seharusnya di dapatkan oleh pasien. Di dampingi oleh Pak Wayan, Frans berjalan penuh wibawa. Tak segan ia menyapa pasien lansia dan anak-anak yang bermain di sekitar lorong. Hingga suara bising dan bentakan terdengar ketika Frans tak jauh dari staf ruang belakang. "Saya mohon, Pak. Ini mendesak!" "Maaf Bu, tapi Ibu harus menyelesaikan administrasi dulu." "Saya akan menyelesaikan administrasinya, tapi saya mohon. Anak saya kecelakaan, saya membutuhkan ambulans segera." "Iya saya tau. Tapi ibu ke depan dulu, ngurus administrasi. Setelah bawa surat perijinan, saya akan ke lokasi anak ibuk berada." "Pak! Saya mohon! Saya butuh ambulans segera! Anak saya tidak bisa menunggu! Saya janji, saya akan mengurus administrasinya. Tapi saya mohon, Bapak segera ke lokasi anak saya." "Bu, saya sudah bilang. Ibu urus administrasinya dulu." "Saya akan urus! Tapi saya mohon, bawa anak saya kemari untuk mendapat pertolongan! Hanya rumah sakit ini yang terdekat!" "Ada apa ini?" Suara Pak Wayan menyela di antara petugas ambulans dan seorang wanita paruh baya. "Pak! Saya mohon, bawa anak saya ke rumah sakit ini. Anak saya kecelakaan! Saya akan menyelesaikan administrasinya, saya mohon!" "Kamu!" Tunjuk Pak Wayan kepada staf tersebut, "Segera ke lokasi dan selamatkan anak ibu ini!" "Tapi, Pak,--" "Sekarang!" Staf tersebut segera menjalankan mobil ambulans menuju lokasi kecelakaan. Frans yang melihat semua ini merasa muak, sistem kinerja yang buruk. Pantas saja, semua orang memandang rumah sakit Santa Claria memiliki citra buruk dengan staf yang lamban. "Ibu, saya akan memastikan anak Ibu mendapatkan pertolongan dan perawatan yang terbaik di rumah sakit ini." Frans mendekati ibu itu yang duduk bersimpuh. "Terima kasih Pak, terima kasih." "Saya akan segera menyelesaikan administrasinya!" Kemudian ibu tersebut berlari dimana meja resepsionis berada. "Saya ingin bicara masalah ini." Hingga malam, Frans dan Pak Wayan masih membahas masalah tersebut. Tampak dari raut wajahnya, Frans sangat marah. Sejak kapan pemberlakukan penggunaan fasilitas rumah sakit harus mengisi admistrasi terlebih dahulu. "Saya ingin masalah ini segera di tangani." "Baik Pak." Bersamaan marah yang belum mereda, Frans keluar dari ruangan dan berpapasan dengan salah satu karyawan rumah sakit. Gadis itu tampak terkejut, tak memedulikan keberadaan si gadis. Frans pergi dengan tergesa. *** Kepalanya terasa nyut-nyutan tak karuan. Rambut hitam legamnya berantakan. Kantung mata semakin menghitam, dan raut wajah sayu mendominasi pria yang kini duduk di balkon apartemennya. Frans memutuskan untuk tinggal sementara di apartemen setelah pertengkaran dengan Mamanya kemarin malam. Tak dapat di pungkiri, rasa tidak terima dan kesal masih ia rasakan. Sekuat tenaga, Frans mencoba menyangkal, perasaan itu masih menggelayuti hatinya. Frans tidak terima, hidupnya di atur dan di kendalikan oleh Mamanya. Hidup Frans adalah hak Frans untuk menentukan, jalan cerita apa yang Frans tulis dalam kehidupannya. Namun, Mamanya berperan banyak dalam hidup Frans. Hingga Frans tak memiliki cela untuk menjalani kehidupan yang Frans inginkan. Frans kesal, sangat-sangat kesal. Kesal pada dirinya sendiri yang lemah di hadapan Mamanya, ia tak ingin melihat Mamanya menderita setelah kepergian Papa. Frans ingin berkata, jika semua yang ia jalani adalah keinginan Mamanya. Dan Frans tak memiliki kekuatan untuk menolak. Perasaannya melihat Mamanya yang dulu menderita, menyekolahkan Frans hingga mendapat gelar S2 sesuai keinginan Mama. Dan Frans menjalani apapun yang Mamanya katakan, demi membungkam mulut orang-orang yang dulu menghina keluarganya. Begitu Mamanya terlalu ambisius dalam mencapai tujuan, hingga melupakan jika Frans pun menginginkan hak kebebasan menentukan apa yang Frans inginkan dan sukai. Tak kuat menahan rasa pusing di kepalanya, Frans mengambil kotak rokok yang ia letakkan di atas meja. Diambilnya satu batang rokok, kemudian di letakkan di bibirnya. Frans akan menyalakan korek api, kegiatannya terhenti ketika ponselnya berdering. Mama is calling.... Frans melupakan jika Mamanya belum mengetahui keberadaan Frans yang memiliki apartemen sendiri. Di cabutnya batang tersebut lalu di letakkan di atas meja. Frans mengangkat ponsel kemudian menerima panggilan dari Mamanya. "Halo, Ma?" "Halo? Frans?! Kamu dimana?!" "Frans baik-baik aja kok, Ma." "Kamu dimana?" "Ada." "Ada? Ada dimana?!" "Frans gak dimana-mana kok, Ma. Mama tenang aja, Frans gak di klub lagi." "Bilang sama Mama, kamu dimana?" Frans diam, ia ragu- ragu menjawab pertanyaan Mamanya. Frans tak ingin Mamanya datang dan memaksanya pulang dengan pengawal sialan yang membuatnya malu. "Ma... Frans baik-baik aja kok, Mama tenang aja." "Anak Mama ada di luar sana yang entah dimana, dan kamu suruh Mama tenang?" "Ma..." Panggil Frans lelah. "Frans baik-baik aja. Frans ada di tempat aman." Lanjut Frans. "Frans ada dimana? Jangan bikin Mama tambah khawatir." Mengambil napas dalam, Frans tak bisa memprediksi apa yang akan terjadi ketika Mamanya tau. Frans memiliki apartemen dan memilih tinggal sendirian. "Frans ada di apartemen." "Apartemen? Apartemen siapa?" "Frans beli apartemen." "Tanpa bilang ke Mama? Dan kamu baru bilang setelah Mama desak?" "Frans gak ada niatan jelek. Frans cuma pengen punya apartemen." "Kenapa? Rumah peninggalan Papa mu membuat mu tidak nyaman? Kamu merasa rumah ini bukan rumah kamu?" "Ma..." "Apa pentingnya posisi Mama dalam hidup kamu, Frans? Kenapa kamu selalu ingin menjauh dari Mama?" "Jangan memikirkan apapun, Ma. Frans sayang Mama." Terdengar Isak tangis tertahan dari Mama Claria, Frans mencoba menguatkan hati. Suara kesakitan seorang ibu terhadap sikap anaknya. "Sudah malam. Mama istirahat, Frans juga akan istirahat. Selamat malam, Ma,--" "Kapan Frans pulang?" Mama Claria menyela. "Untuk sementara, Frans akan tinggal di apartemen. Frans perlu menenangkan diri, Mama baik-baik di rumah. Sesekali Frans akan mampir." "Frans,--" "Selamat malam, Mama." Frans memutus panggilan secara sepihak. Rasanya, telinga Frans tak kuasa mendengar suara tangisan dari Mamanya. Frans tak sanggup, Mamanya adalah wanita yang ia sayangi sekaligus wanita yang membuatnya tak berdaya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN