Rasa mengantuk menggelayuti matanya, rasanya Ale ingin merebahkan diri di atas kasur. Menikmati empuknya kasur yang membuatnya nyaman. Tak ada yang mampu membuatnya nyaman hingga bertahan selama ini selain kasur.
Jam dinding masih menunjukkan pukul lima pagi, setelah menunaikan sholat subuh, Ale menggulung kasur busa yang tersedia di ruang instalasi.
Jangan mengharapkan jika Ale akan tidur di atas ranjang dengan kasur empuk diatasnya. Tidak. Tidak ada ranjang, hanya kasur busa yang Ale gelar di lantai dekat meja loket.
Biasanya pasien yang membutuhkan obat akan memencet bel yang telah di sediakan. Kemudian, meletakkan kertas resep di loket kaca. Ale akan mempersiapkan obat apa saja yang di butuhkan oleh pasien sesuai resep. Lantas, memberikan obat tersebut tanpa resep kembali.
Untuk resep dari dokter sendiri, ada yang boleh diulang, dan ada yang tidak boleh di ulang. Untuk resep yang boleh di ulang, artinya dapat digunakan kembali untuk menebus obat, dan untuk resep yang tidak boleh di ulang, artinya resep hanya untuk satu kali pengambilan obat.
Setiap pasien berhak meminta salinan resep, namun disarankan untuk tetap berkonsultasi ke dokter yang meresepkan obat jika ingin menebus obat dengan salinan resep obat tersebut.
Petugas kebersihan belum juga datang, biasanya pagi-pagi sekali petugas kebersihan datang untuk mengepel dan membawa sampah yang berada di ruang instalasi untuk di pisahkan sampah medis dan non medis.
Sembari menunggu jam tujuh, Ale membuka gorden yang menutupi loket pengambilan obat. Mematikan lampu dan merapikan resep yang semalam ia dapatkan. Kemudian Ale mencocokkan data obat yang semalam terambil karena resep dengan data obat di komputer agar keduanya sinkron dan mudah di telusuri apabila ada kesalahan.
"Assalamualaikum, Mbak."
Ale menoleh begitu melihat seorang wanita paruh baya berdiri kebingungan di depan loket. Segera Ale bangkit dan menghampiri wanita yang berusia sekitar lima puluhan tersebut.
"Iya, Ibu? Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya di kasih kertas obat dari dokter jaga, apakah benar diambil di sini ya, Mbak?"
"Boleh saya lihat resepnya?"
"Ini, Mbak." Ibu paruh baya tersebut memberikan kertas berukuran kecil kepada Ale lewat celah.
Ale membacanya sekilas, kemudian menatap ibu tersebut. "Benar Ibu, obatnya di tebus di sini. Ini obat untuk anak Ibu, ya?"
"Iya Mbak, anak saya sakit diare. Saya kasih sirup diare tapi tidak sembuh-sembuh, akhirnya sama suami saya di bawa ke rumah sakit ini."
Ale mengangguk, "Baik. Ibu, silahkan menunggu ya. Obatnya saya siapkan dulu. Nanti akan saya panggil jika sudah selesai."
"Baik Mbak, terima kasih."
Ale mengulas senyum sebagai jawaban, kemudian menyiapkan obat sesuai resep yang dokter umum tuliskan. Di resep tersebut tertulis perintah dokter untuk asisten apoteker membuatkan obat sesuai dosis yang dokter tuliskan.
Begitu selesai obat yang Ale buat, Ale kembali mencocokkan jumlah obat dengan tulisan yang tertera di resep. Apakah sudah sesuai atau belum, dirasa sudah selesai dan benar. Ale menuju loket, dan memanggil nama pasien.
"Anak Rani, lima tahun."
"Anak saya, Mbak." Ibu paruh baya itu berjalan menghampiri Ale dengan cepat.
"Benar ya, Bu. Ini resep untuk Anak Rani, berusia lima tahun. Alamat jalan Sakura nomor lima blok B."
"Benar Mbak."
"Ini ya Bu, Paracetamol sirup, di minum satu sendok teh sehari tiga kali. Sirup ini untuk nyeri yang Anak Rani rasakan. Obat kedua ada oralit, di minum setiap tiga jam pertama ya Bu. Ini untuk mengurangi dehidrasi akibat diare. Dan obat ketiga ada zinc sirup, sehari satu kali dua sendok takar."
"Iya Mbak, sudah paham. Totalnya berapa ya, Mbak?"
"Totalnya lima puluh lima ribu rupiah."
"Ini, Mbak."
Ale menerima uang seratus ribuan, kemudian ia memberikan kembalian dua lembar uang dua puluhan dan satu lembar lima ribuan.
"Kembaliannya empat puluh lima ribu ya Bu. Terima kasih, semoga lekas sembuh."
"Sama-sama Mbak, terima kasih juga. Aamiin, semoga Rani cepat sembuh."
Ibu paruh baya tersebut membawa kantong berisi obat dengan raut bahagia. Bak menemukan secercah cahaya kesembuhan untuk anaknya. Ale ikut mengulas senyum senang, ikut bahagia melihat orang lain bahagia.
Saru persatu karyawan yang bertugas di instalasi rawat jalan berdatangan. Ale melihat ke arah jam dinding yang terpasang di atas, samping televisi. Pukul tujuh kurang sepuluh menit.
Pantas saja semua orang mulai datang, sudah waktunya berganti shift. Ale segera membereskan pekerjaannya. Setelah di rasa selesai, Ale ke ruang loker mengambil tasnya.
"Mbak, mau pulang?" Tanya salah satu staf yang berada di ruang loker. Mempersiapkan diri dan memperbaiki penampilannya yang sedikit berantakan.
"Iya, Mbak. Mau pulang, capek banget rasanya."
"Rame ya, Mbak?"
"Lumayan, Mbak. Kerasa capeknya."
"Akhir-akhir ini, rumah sakit rame banget Mbak. Banyak pasien yang datang berobat."
"Kalo pasien mau makan, ya ke resto, Mbak." Guyon Ale.
"Enggak gitu Mbak, maksud aku."
Ale tertawa melihat salah satu rekannya tampak kesal karena jawaban darinya. Wilujeng Rahayu, gadis berusia dua puluh enam tahun yang berasal dari Jogjakarta. Bekerja lebih dari empat tahun semenjak gadis itu lulus kuliah D3.
Meski usianya lebih muda dari Ale, ia tetap memanggil Rahayu dengan sebutan 'Mbak' untuk menghargai posisinya yang lebih lama bekerja di rumah sakit ini dari pada Ale.
Dan juga, karena Rahayu berasal dari Jawa tengah, dimana sopan santun di junjung tinggi. Gadis itu tidak terbiasa menggunakan bahasa yang kasar. Menurutnya, kata-kata tersebut tidak sopan dan melanggar tata Krama yang selama ini orang tuanya ajari. Maka dari itu, meskipun anak-anak memanggil dengan sebutan lo-gue, Rahayu membiasakan dengan aku-kamu.
"Iya, iya Mbak Ayu. Ale ngerti kok, canda Mbak."
Rahayu ikut tertawa meski sedikit kesal dalam konteks candaan yang Ale lemparkan.
"Tapi Mbak, rumah sakit emang lagi-lagi ramenya. Kebanyakan pasien anak yang sakit panas, batuk, pilek sama diare."
"Oh ya?" Ale teringat dengan pasien anak dari ibu paruh baya tadi pagi, anaknya menderita sakit diare meski sudah di berikan obat. Dan harus di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih efektif.
Rahayu mengangguk, "Iya Mbak. Bahkan pasien di depan ruang pendaftaran udah penuh. Sampek sesek kalo mau lewat. Mbak Ale kalo mau pulang mending lewat koridor samping aja, yang deket parkiran."
"Iya Mbak Ayu, makasih ya informasinya."
"Sama-sama Mbak."
"Kalo gitu, Ale pulang dulu ya Mbak."
"Silahkan Mbak Ale, hati-hati di jalan."
Ale mengangguk dan segera keluar dari ruang loker. Begitu ia keluar, apa yang di katakan Rahayu benar. Banyak sekali pasien anak-anak yang di gendong orang tuanya, tampak lemas memeluk ibunya.
Menghiraukan, Ale memilih meneruskan perjalanan. Rasanya ia ingin bertemu dengan kasur empuknya, berpelukan dengan nyaman, menikmati waktu sepanjang hari.
Dari arah depan, Ale melihat kerumunan kecil. Tampak seorang pria dewasa berpakaian formal dan rapi, berjongkok di depan anak yang memakai kursi roda. Dua orang yang berada di belakang anak berkursi roda yang Ale perkirakan adalah orang tua dari anak tersebut. Kemudian dua orang lagi, yang satu adalah Pak Wayan, wakil direktur rumah sakit dan seorang lagi yang tak Ale kenal.
"Kayak pernah liat, tapi dimana?"
Ale teringat sesuatu, "Bukan kah pria itu pria yang sama di ruang rapat semalam? Sama Pak Wayan lagi?"
Lama Ale mengamati, tak sengaja pria yang tadinya berjongkok kini berdiri. Berbalik menatap Ale yang terus saja mengamatinya. Sepertinya pria itu sadar akan tatapan Ale yang intens padanya.
Gugup karena ketahuan, Ale segera berbelok. Bergegas menjauh sebelum pria itu menyadari kehadirannya. Jantungnya berdetak kencang, entah karena ketahuan atau ada hal lain. Terpenting sekarang Ale harus segera menjauh dari rumah sakit dan pulang ke kostan. Ale merindukan kasur empuknya.
***
"Untuk masalah kemarin, bagaimana perkembangannya?"
"Sudah kami urus dengan baik, Pak. Saya memberikan peringatan tertulis kepada petugas ambulans agar mematuhi aturan rumah sakit." Pak Wayan berjalan mendampingi Frans menuju ruang perawatan anak.
Beberapa hari terakhir, banyak sekali pasien anak-anak yang memenuhi ruang pengobatan hingga dokter dan perawat kewalahan. Pasien anak datang dengan keluhan dan sakit yang sama, panas, batuk, pilek dan diare.
"Saya ingin laporan pertanggung jawaban pembuatan peraturan rumah sakit."
"Baik Pak! Segera saya bawakan laporannya ke ruangan Anda."
Langkah Frans terhenti ketika sepasang orang tua mendorong kursi roda yang terdapat anak kecil duduk di sana. Tampak wajah gadis kecil itu pucat dengan kupluk rajut di kepalanya. Memandang anak-anak lain yang berlarian di taman dengan keluarga mereka. Di tangannya terdapat boneka kelinci berwarna cokelat yang terlihat lusuh.
Frans menghampiri mereka, menyapa dengan senyum hangat di bibirnya. "Halo, perkenalkan saya Dokter Frans. Salah satu dokter di rumah sakit ini." Frans mengulurkan tangan, yang di sambut sepasang wanita dan laki-laki berusia sekitar empat puluhan.
Pak Wayan merasa aneh dengan perkenalan yang Presdir katakan. Mengapa tidak mengatakan jika Frans adalah Presdir bukan Dokter, meskipun Frans bersekolah khusus kedokteran jantung. Akan sangat berbeda jika Frans memperkenalkan diri sebagai dokter bukannya Presdir rumah sakit.
"Tapi Pak, Anda bukan--" ketika Pak Wayan memprotes, Frans mengangkat tangan. Meminta untuk Pak Wayan tidak melanjutkan perkataannya.
"Baik Pak." Kata Pak Wayan pasrah.
"Ah, halo Dokter. Saya Melly dan ini suami saya, Harno."
"Senang bisa bertemu kalian di sini."
"Pak Dokter ingin lewat? Biar saya sedikit minggir."
"Ah, tidak Pak. Saya hanya ingin menyapa sebentar." Kemudian pandangan Frans tertuju pada gadis kecil yang mengamatinya dari atas kursi roda.
"Hai, gadis manis. Boleh Pak Dokter tau namanya?"
"Sayang, Pak Dokter ingin berkenalan. Coba bilang ke Pak Dokter, namanya siapa." Ibu Melly membujuk putrinya yang diam.
"Sayang..." Bujuk Bu Melly, gadis kecil itu tampak takut.
"Tidak apa-apa, sayang..."
Tampak gadis itu diam merasa ketakutan meskipun Bu Melly membujuknya. Frans tak ingin membuat anak itu semakin tertekan. Mengulas senyum, Frans memahami.
"Tak apa Bu Melly, sepertinya gadis manis ini pemalu."
"Maafkan Aruna, Pak Dokter. Sebenarnya Aruna anak yang ceria dan suka bercerita, semenjak sakit Aruna lebih sering diam dan tidak suka bermain."
Frans mengangguk mengerti, "Tidak apa Bu, saya memaklumi."
Lantas, Frans berjongkok. Menyamakan tingginya dengan gadis yang duduk di kursi roda dalam diam.
"Hai, nama Pak Dokter Frans. Semangat ya, jangan putus asa. Pak Dokter yakin, kamu gadis manis yang kuat. Kamu pasti bisa sembuh." Kata Frans menyemangati.
Gadis memakai kupluk rajut itu menggeleng, "Malu."
Pak Wayan, Bu Melly serta Pak Harno memperhatikan bagaimana cara Frans memancing gadis kecil itu untuk berbicara.
"Kenapa malu?"
"Tidak punya rambut."
Frans mengerti, terlihat dari rambutnya yang nyaris habis karena rontok. Gadis kecil ini menderita sakit kanker, entah kanker apa. Karena efek pengobatan yang di jalani membuat rambutnya rontok dan harus tertutupi oleh kupluk. Pasti gadis seusianya merasa malu dan minder pada teman sebaya nya. Pantas saja, tatapan gadis ini mengarah pada anak-anak yang bermain di taman.
Frans mengelus kepala gadis itu, "Setelah sembuh pasti rambutnya akan tumbuh lagi. Karena sekarang gadis manis ini sedang berjuang melawan sakit, rambutnya belum tumbuh. Gadis manis jangan putus semangat ya?"
Gadis itu tersenyum dan mengangguk semangat, Frans melebarkan senyum. Kedua orang tuanya pun terharu melihat putri mereka mau berinteraksi dengan orang lain. Apalagi semenjak sakit, yang harus membuatnya merasa iri karena rambutnya yang rontok.
"Karena gadis manis ini semangat untuk sembuh, bagaimana jika Pak Dokter kasih hadiah?"
Sepasang manik kecilnya berbinar, "Hadiah?"
"Iya, hadiah. Gadis manis mau?"
"Mau! Mau!"
"Baiklah, nanti hadiahnya Pak Dokter antar ke kamar ya? Coba kasih tau Pak Dokter, namanya siapa?"
"Nama aku, Aruna Pak Dokter!"
"Aruna?" Gadis bernama Aruna itu mengangguk semangat.
"Wah... Namanya manis sekali, seperti orangnya."
"Terima kasih Pak Dokter."
"Sama-sama, Aruna."
"Dokter janji ya, hadiahnya." Tagih Aruna.
Bu Melly mengelus kepala Aruna penuh perhatian, "Aruna sayang... Pak Dokter pasti sibuk, nanti Mama dan Papa yang akan beri hadiahnya buat Aruna ya?"
"Tidak mau! Pak Dokter bilang mau kasih Aruna hadiah."
"Aruna..." Kali ini Pak Harno membujuk Aruna.
"Tidak masalah Pak Harno, Bu Melly. Saya senang memberikan hadiah sebagai ungkapan bangga kepada anak yang bersemangat untuk sembuh."
"Kami tau, Pak Dokter sangat sibuk. Jadi Pak Dokter tidak perlu repot-repot. Biar kami saja yang memberikan hadiah untuk Aruna." Kata Pak Harno.
"Saya sudah berjanji pada Aruna, iya kan, Aruna?"
"Iya! Pak Dokter sudah berjanji! Dan janji harus di tepati!"
"Pasti." Kata Frans mengelus kepala Aruna penuh kasih sayang.
"Pak Harno dan Bu Melly, boleh saya minta nomor kamar berapa Aruna di rawat?"
"Seharusnya Pak Dokter tidak perlu repot seperti ini." Bu Melly merasa tak enak.
"Tidak sama sekali Bu Melly."
"Aruna di rawat di ruang mawar nomor lima, Pak Dokter."
"Baik kalau begitu, nanti saya akan mampir sebentar."
"Terima kasih Pak Dokter telah menyempatkan waktu untuk berkunjung di jam sibuk."
Frans mengulas senyum, "Saya permisi dulu," katanya kepada kedua orang tua Aruna. Kemudian Frans berjongkok sebentar, "Aruna, Pak Dokter pamit dulu ya? Sampai nanti."
"Sampai nanti Pak Dokter! Dadah!"
Frans membalas senyuman ceria Aruna, kemudian ia berbalik. Sekilas tertangkap matanya seorang gadis memandang lekat ke arahnya. Kemudian gadis itu tersentak kaget dan berbelok menuju lorong samping rumah sakit.
Sepertinya Frans pernah bertemu dengan gadis itu, tapi dimana?
"Pak!" Pak Wayan menepuk bahu Frans.
"Ya?"
"Kita lanjutkan perjalanan?"
"Tentu."
"Baik, mari saya akan menunjukkan ruangan anak yang belum sempat Anda kunjungi kemarin." Papar Pak Wayan singkat. Frans mengangguk mengikuti.
***
"Laporannya sudah saya letakkan di meja Bapak, nanti Bapak bisa cek."
"Bagus. Hari ini, saya ingin memeriksa laporan yang sudah ada di ruangan saya."
"Baik Pak."
"Oh, iya. Untuk pesanan saya tadi, jangan lupa minta kurir untuk kirim secepatnya. Saya ingin sore ini, paket sudah ada di ruangan saya."
"Baik Pak. Saya sudah minta untuk membawakan boneka beruang berwarna cokelat berukuran paling besar dengan cokelat berbentuk berbagai karakter."
"Bagus. Terima kasih, Pak Wayan sudah menemani saya berkeliling rumah sakit."
"Sudah menjadi tugas saya, Pak." Frans mengangguk.
"Kalau begitu, saya pamit."
"Silahkan."
Pak Wayan pergi setelah mengantarkan Frans di ruangan Presdir. Baru saja Frans membuka pintu, sosok yang duduk di sofa membuatnya menghentikan langkah. Rautnya berubah, firasatnya tak enak.
"Mama..."
Mama Claria menoleh begitu putranya memanggil. Menutup majalah yang menemaninya menunggu Frans selesai berkeliling.
"Mama bawakan makanan kesukaan kamu."
Di atas meja, terdapat rantang tiga susun. Menghela napas, Frans memasuki ruangannya. Menghampiri Mamanya yang duduk tenang menunggu dirinya.
"Bagaimana tour hari ini? Ada kendala?"
Frans menggeleng, "Bisa Frans handle. Mama tidak perlu khawatir."
"Sepertinya kamu sudah begitu paham dengan sistem kerja di rumah sakit Santa Claria. Mama senang, dan Mama akan lebih tenang jika pelantikan mu sebagai Presdir rumah sakit Santa Claria secara resmi di laksanakan."
"Frans masih belum siap memegang posisi Presdir, Ma."
"Duduklah, Frans. Kamu sarapan dulu ya, pasti kamu belum sarapan."
Menuruti perkataan Mamanya, Frans duduk di sofa. Bergabung dengan Mamanya yang sibuk membuka rantang berisi makanan.
"Nih, Mama masakin makanan kesukaan kamu. Ada sambel terasi, ayam tepung goreng sama sayur cah sawi. Sekalian Mama ambilin ya? Lauknya mau yang mana? Mama ambil semuanya aja ya? Biar putra kesayangan Mama tumbuh sehat dan kuat, apalagi kamu sibuk akhir-akhir ini."
Mama menyerahkan rantang nasi berisi lauk yang lengkap. Frans menerima dalam diam. Memegang rantang itu dengan kedua tangannya.
"Mau Mama suapin?"
Frans menggeleng, "Frans makan sendiri aja." Mengambil sendok, dan menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
Rasanya masih sama. Masakan rumahan yang selalu Frans rindukan, namun baru sekarang semuanya terwujud. Lagi-lagi karena ekonomi dan paksaan Mamanya yang mengharuskan Frans menetap di Belanda mengambil kuliah kedokteran.
"Gimana masakan Mama? Enak?"
"Enak kok, Ma."
"Bagus kalo kamu suka, habisin ya."
Mama begitu antusias, menyiapkan segala kebutuhan Frans. Meski Frans menolak sekali pun. Tega kah Frans menyakiti hati Mamanya jika Mamanya seperti ini pada Frans? Tega kah?
"Ma..."
Mama Claria menatap Frans yang menghabiskan makanannya, di mata wanita paruh baya tersebut Frans masihlah putranya yang baru belajar naik sepeda ketika terjatuh menangis kencang mencari Mamanya.
"Jangan menatap Frans seperti itu."
"Mama rindu putra kesayangan Mama."
"Ma..."
Frans meletakkan rantang yang masih tersisa sedikit makanan di atas meja. Kemudian memegang kedua tangan yang mulai keriput milik Mamanya, namun sangat halus ketika membuainya.
"Mama jangan seperti ini. Apa yang Mama lakukan buat Frans merasa bersalah sama Mama."
"Mama hanya rindu putra kesayangan Mama."
"Ma... Maafin Frans. Tapi Frans tidak bisa kembali ke rumah itu lagi."
"Kenapa Frans? Kenapa kamu mau ninggalin Mama?"
"Frans enggak ninggalin Mama."
"Kalau begitu, Frans kembali ya. Kita tinggal bareng-bareng lagi. Rumah itu sepi tanpa Frans. Mama kesepian."
Frans menggeleng, "Maafin Frans Ma. Frans tidak bisa tinggal di sana. Frans ingin menenangkan diri dari semuanya."
"Frans..."
"Setidaknya Frans sudah memenuhi keinginan Mama untuk mengambil kuliah kedokteran dan pulang meneruskan posisi yang Mama inginkan."
Mama Claria memandang sedih putranya, "Frans pulang ya? Mama minta maaf, Mama salah sama Frans."
"Mama tidak bersalah. Tapi Frans perlu menerima sesuatu yang tidak Frans inginkan. Frans mengerti, Mama hanya ingin memberikan yang terbaik untuk Frans. Maka dari itu, biarkan Frans tinggal di apartemen. Sesekali Mama bisa berkunjung ke apartemen, atau bisa datang ke rumah sakit."
Melihat Mamanya yang menangis, Frans memeluk Mama Claria. "Frans tidak akan pergi meninggalkan Mama. Mama jangan menangis, Frans ikut sedih melihatnya."
"Frans janji ya? Tidak akan meninggalkan Mama, Frans juga harus menginap di rumah. Mama sendirian tanpa Frans."
"Tentu Ma, Frans akan berkunjung sesekali."
Mama Claria mengeratkan pelukannya erat, menangis di bahu putranya yang menguatkan dirinya. Apa yang Mama Claria lakukan adalah untuk kebahagiaan Frans, namun imbas yang ia dapatkan begitu besar.
Putranya ada, tepat di depan mata. Tapi terasa jauh hanya sekedar memandangnya.
***