FransAle XI | Frans Dan Sikap Menyebalkannya

2578 Kata
"Lo gak kasihan sama Tante? Dia sendirian di rumah." "Yaudah, Lo temenin." "Gak gitu konsepnya!" Frans acuh pada Andre yang mengomel sejak pria itu datang ke apartemennya. Capek mengusir Andre yang bebal tak ingin pergi, Frans membiarkan saja. Asal pria itu tak menginap di apartemennya. "Kalo Lo udah selese, pulang gih." "Lo pelit banget sih, Frans! Baru juga dateng, kasih minum kek! Makanan kek! Apa kek! Ini malah buru-buru Lo usir." "Gak ada makanan di apartemen gue." Andre menatap tak percaya, "Masa sih? Gak yakin gue." Pria itu bangkit dari sofa, berjalan santai menuju dapur. Frans mengamati dalam diam, karena di apartemennya memang tak ada makanan, bahkan bahan mentah pun tak ada. "Gila! Lo makan apa sih? Go food Lo?!" Teriak Andre dari dapur yang dapat Frans dengar. Pertama ke dapur, Andre memeriksa isi kulkas berukuran besar di pojok ruangan. Hanya ada tiga botol air minum, tanpa bahan makanan. Bahkan sebutir telur pun tidak ada di dalam kulkas. Kemudian lemari atas dapur, setidaknya Andre berharap ia menemukan bahan makanan mentah yang dapat ia olah. Semua lemari ternyata kosong, benar-benar kosong tanpa ada bahan makanan mentah. "Mie Lo yang kemaren mana?! Kok gak ada?!" "Udah gue makan." Jawab Frans cuek. "Cuma satu itu doang?" "Iya." "Ck." Kemudian Andre menjauhi dapur, kembali ke sofa ruang tamu. Bergabung bersama Frans yang sibuk dengan laptopnya. "Beli mie instan atau makanan gitu, Frans. Gue laper." "Beli sendiri, gue sibuk." "Gue laper. Gak ada tenaga buat jalan." "Bilang males aja susah." Ketus Frans. Andre tertawa, "Nah, itu maksud gue. Males buat keluar, beliin dong Frans." "Gue sibuk. Kalo mau beli sendiri, kalo enggak pulang." Andre berdecak kesal, Frans masih sama menyebalkannya. Matanya menjelajahi ruang tamu sekaligus ruang keluarga di apartemen Frans. Dengan gaya monochrome, serba hitam putih, khas gaya Frans sekali. Apartemen yang Frans miliki tak luas dan tak sempit. Cukup untuk tempat tinggal Frans sendiri, berbeda halnya dengan keluarga besar Frans nanti. Apartemen ini kurang nyaman, dan pasti merasa kesempitan. Begitu masuk apartemen milik Frans, ruangan pertama kali yang terlihat adalah ruang tamu sekaligus ruang keluarga. Di lengkapi satu set sofa beludru yang empuk, meja kayu ukir berukuran panjang dan satu televisi berada di atas bufet minimalis. Di sisi kiri, terdapat set kitchen yang hanya tersekat oleh meja bar kecil. Di dalamnya terdapat meja makan berbentuk persegi yang hanya di isi oleh empat kursi. Kemudian peralatan dapur, yang tak banyak tertata rapi. Satu kulkas berukuran sedang berada di pojok di dapur. Sayangnya tak ada makanan, bahkan bahan mentah pun seorang Presdir tak memilikinya. Di sebelah kanan ruang tamu, terdapat dua pintu yang Andre yakini adalah kamar. Andre tak banyak mengetahui karena pria itu tak mengijinkannya memasuki kamarnya. "Ntar malem gue nginep sini, ya?" "Gak." Jawab singkat Frans. Andre mendengus kesal, "Pelit banget Lo." "Gue lagi lagi sibuk. Mending Lo pulang deh." Frans merasa terganggu karena Andre kehadiran Andre. "Jangan dong. Masih jam berapa sih ini?" Andre melihat jam di pergelangan tangannya. "Masih jam delapan, jarang-jarang gue menikmati waktu di rumah kayak gini." Frans menatap Andre datar, "Koreksi, apartemen gue." "Oke. Oke. Apartemen Frans. Fransciso Kennedy Reneegan. Puas?" Frans mengangguk, "Sangat." "Serakah Lo." Bosan melihat Frans yang tak jenuh berkutat dengan laptopnya, Andre berdiri dari duduknya. "Serius gue laper. Di bawah ada minimarket gak sih?" "Ada. Deket sama lobby." "Mau nitip gak?" "Boleh." Andre kian mengeraskan decakannya, "Giliran gue aja, nitip Lo!" "Lo nawarin gue." Lama-lama berbicara dengan Frans membuat otaknya panas. Emosi tak terbantahkan ingin mengarungi Frans dan membuangnya ke jembatan. Frans mudah sekali membuat orang lain kesal. "Yaudah, gue turun ke bawah. Nyari makanan! Si tuan rumah kere!" Andre melengos setelah mengatakannya, Frans menatap aneh kepergian Andre. "Paling juga minta ganti biaya makanan ke gue." Kemudian kembali menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai. Malam ini, semua tugasnya harus selesai, tak peduli bagaimana kondisinya esok pagi. Tidurnya sangat tidak nyaman karena menanggung beban yang belum usai. *** Andre mengernyitkan dahinya bingung, mencari-cari minimarket yang di katakan Frans. Katanya ada di dekat lobby, tapi tak ada apapun. Gelap. Di saat Andre sibuk mencari, seorang satpam mengagetkannya. "Mas ngapain di sini?" "Bapak bikin saya kaget aja!" Andre mengelus dadanya terkejut. "Maaf Mas, tadi saya lihat Mas celingukan. Cari siapa?" Tanya pria paruh baya yang memakai baju putih dengan celana hitam dan senter yang menyala di tangannya. "Saya nyari minimarket, katanya di dekat lobby. Dimana ya, Mas?" "Minimarket?" "Iya. Minimarket." Satpam itu tampak berpikir, "Di sini tidak ada minimarket Mas." "Hah? Gak ada? Bapak yakin?!" Pak Satpam itu mengangguk pasti, "Yakin Mas! Saya sudah bekerja sebagai keamanan disini sekitar lima tahun. Dan tidak ada minimarket dekat lobby. Jika pun ada, sudah pasti saya tau." Andre menggaruk kepalanya meski tak gatal, pandangannya mengitari lobby yang sepi dengan kursi tunggu yang begitu banyak. Benar apa yang di katakan oleh satpam ini, tak ada minimarket. "Tapi kata temen saya, di lobby ada minimarket, Pak?" Andre bertanya dalam bingung. Pak Satpam menganggukkan kepalanya "Mungkin yang temennya Mas maksud, di samping kiri apartemen ini ada minimarket yang buka hingga dua puluh empat jam. Jadi kalo Mas mau, Mas bisa ke sana." "Loh? Jadi di lobby apartemen gak ada minimarket?" "Tidak ada, Mas. Kalo minimarket di samping apartemen baru ada." Andre tersenyum kikuk, "Oalah, saya kira minimarketnya di lobby apartemen." Pak Satpam menanggapi dengan tawa renyah, "Masnya penghuni baru ya?" "Eh?" Andre menggeleng, "Bukan Pak! Bukan! Bukan saya, tapi temen saya yang penghuni baru di apartemen ini. Kebetulan pas saya dateng, temen saya gak punya makanan. Pas saya tanya, kata temen saya di lobby apartemen ada minimarket." "Masnya salah denger kali. Mungkin, temennya Mas bilang deketnya lobby." Kata Pak Satpam tertawa. "Soalnya bukan cuma Mas aja yang kesasar, tapi banyak penghuni lain juga mondar mandir nyari minimarket di lobby tengah malem. Saya kira hantu ternyata orang kebingungan." Andre tertawa terbahak mendengar celotehan Pak Satpam. Selera humornya receh sekali. "Kalo gitu, terima kasih ya Pak, informasinya. Saya mau ke minimarket dulu, nyari makanan." "Boleh Mas, silahkan." Andre kembali mengingat apa yang Frans katakan padanya ketika ia akan pergi tadi, tapi entah mengapa seketika otak Andre tak mengingat apapun. Menggelengkan kepala, Andre tak dapat berpikir sekarang. Tugas utamanya adalah mengurus perutnya yang kini suara berdemo semakin keras. "Bodo ah! Yang penting dapet makan!" Begitu Andre keluar dari kawasan apartemen, kemudian pria itu berbelok ke kiri. Benar sekali, di sebelah apartemen terdapat minimarket yang masih buka. Matanya berbinar, bergegas Andre masuk ke dalam minimarket membeli bahan makanan yang ia inginkan. Minimarket ini tak begitu besar, berupa bangunan sederhana yang di terangi lampu hingga begitu mencolok di tengah temaramnya lampu jalan. Hanya minimarket ini, satu-satunya toko swalayan terdekat dari apartemen. Jika di pikir, kenapa tidak memesan makanan online saja? Ah, itu karena apartemen ini terletak sedikit jauh dari jalan raya. Akan memakan waktu lebih lama jika menunggu makanan pesan antar. Benar saja, minimarket ini ramai pengunjung. Padahal di depan halaman parkir hanya ada beberapa sepeda motor dan satu mobil terparkir. Tak ingin membuang waktu, Andre segera menuju rak makanan instan, memilih beberapa makanan kemudian ia masukkan ke keranjang. Lantas tak sengaja matanya menemukan bahan makanan mentah, seperti daging, telur, ayam, dan sayuran dalam suatu kotak es. Andre mengambil telur yang telah terbungkus wadah dan beberapa ikat sayur sawi. "Enak nih, kalo bikin mie instan tambah telur sama sayur," celutuk Andre. "Eh! Ada sosis gak ya?" Teringat, Andre mencari rak tempat sosis. Mengitari rak pertama, kemudian rak kedua, rak ketiga dan seterusnya tak kunjung menemukan keberadaan sosis. "Nih sosis di taro di mana sih, sama Mbak-Mbaknya? Dari tadi gak ketemu-ketemu!" Matanya tak sengaja bertemu dengan seorang perempuan yang berjongkok memilih sabun detergen, Andre menghampiri perempuan berhijab tersebut. "Permisi, Mbak. Boleh bertanya sebentar?" Perempuan berhijab itu menoleh, "Iya, boleh." "Loh? Pak Andre?" "Eh, Alessa?" Keduanya sama-sama terkejut, tak menyangka akan bertemu di minimarket. Alessa tersenyum kikuk karena bertemu dengan kepala instalasi divisinya. "Bapak lagi ngapain?" Alessa bertanya karena ia merasa canggung, Alessa sering datang ke minimarket ini. Namun, baru kali ini ia bertemu dengan atasannya di minimarket. "Saya lagi belanja." Andre menunjukkan keranjang yang penuh dengan isi makanan. Mie instan, sayur, telur, snack, minuman bersoda, dan beberapa makanan lain. Alessa tersenyum ber-oh ria, tentu saja orang datang ke minimarket untuk berbelanja. Kemudian ia teringat, "Tadi Bapak mau tanya apa?" "Ah, saya mau tanya rak sosis." Kata Andre. Alessa mengangguk, "Bapak mau sosis yang mana? Yang siap matang ada di rak depan deket meja kasir. Kalo sosis mentah, biasanya ada di freezer. Coba Pak Andre cari lagi, deketnya sayuran kalau tidak salah." Ale menjelaskan dengan begitu lancar tanpa hambatan, Andre kagum. Gadis di hadapannya ini selalu penuh aura positif yang membuat orang lain merasa nyaman bertemu dengannya. "Kamu hapal banget ya?" Andre memulai obrolan. "Eh?" Alessa menatap bingung, "Iya saya tau sih, Pak. Soalnya saya selalu ke sini akhir bulan. Belanja di sini, harganya lebih hemat dari pada di minimarket deket kos." "Oh. Pantas saja." "Pak Andre sendiri?" Kini giliran Alessa yang bertanya. "Kebetulan saya mau nginep di apartemen temen, dan di sana tidak ada makanan. Jadi ya, begitu." Alessa tertawa mendengar penjelasan Andre. "Kost kamu jauh dari sini?" Alessa menggeleng, "Enggak terlalu jauh kok, Pak. Lagian minimarketnya deket sama rumah sakit, jadi enak. Nanti langsung berangkat." "Loh? Kamu jaga malam?" "Iya, Pak. Jaga malam, besok baru libur." Andre mengangguk paham, "Ya sudah, saya permisi dulu ya. Terima kasih atas informasinya." "Sama-sama Pak. Silahkan," Kemudian Andre menjauhi Alessa yang kembali sibuk memilih detergen. Ketika Andre berbelok menuju freezer, ia kembali melihat Alessa dari kejauhan. Gadis itu masih saja sibuk membandingkan produk satu dengan produk lainnya. "Kamu gadis baik, Alessa. Tapi sayang sekali, kisah mu begitu pahit." *** Andre melemparkan tas belanjanya di sofa, kemudian merebahkan diri di sana. Melihat Frans yang masih duduk di tempat yang sama dan pose yang sama. Pria itu masih berkutat dengan laptopnya, kali ini raut wajahnya tampak serius. "Lo malu-maluin gue aja." Andre membuka obrolan. Mendapat respon cuek dari Frans, Andre mendengus kesal. Bila fokus pada pekerjaan, Frans akan cuek tak memedulikan siapapun. Membuat Andre semakin kesal saja. Mengambil kresek berisi makanan yang baru saja ia beli, Andre menuju dapur. Membuat mie instan, ia benar-benar lapar. Dan sikap Frans membuat Andre ingin memakan pria itu. Andre membuka kresek itu, mengeluarkan seluruh isinya di meja dapur. Menata telur di kulkas, menyisakan sebutir untuknya. Kemudian sayur sawi putih yang tadi ia beli, tak lupa satu pack sosis Andre masukkan juga ke dalam kulkas. Sementara mi instan, Andre masukkan ke lemari dapur dan menyisakan dua bungkus untuknya. Begitu semua bahan tersedia, Andre memanaskan air di panci. Sembari ia mencuci sayur sawi putih dan memotongnya kecil. Andre mengambil dua bungkus panjang sosis, kemudian membuka plastik yang membungkusnya dan memotong sosis memanjang. Begitu air mendidih, Andre memecahkan sebutir telur di dalamnya, dan memasukkan sosis yang telah ia potong. Sambil menunggu setengah matang, Andre membuka bungkus mie instan yang telah ia beli tadi, bumbunya ia masukkan ke dalam mangkuk besar. Andre kembali mengecek eksperimennya di dalam panci, begitu telur dan sosisnya matang. Andre memasukkan dua keping mie instan ke dalamnya. Mengaduknya pelan hingga dirasa mie instan setengah matang. Sebelum mie instan matang, Andre memasukkan sayur. Tak membiarkan lama, Andre mengangkat panci dan menyaring isi di dalamnya. Sementara air rebusan ia buang. Lantas, Andre memanaskan air untuk kuah mienya. Mie dengan segala kekomplitannya akan segera siap begitu air mendidih menyiram di atasnya. Aroma mie instan menguar di seluruh penjuru apartemen, tak memikirkan Frans sama sekali. Andre sengaja memakan makanannya sambil duduk di karpet menonton televisi. Frans melirik sebentar, karena terganggu. Ia melihat Andre yang nyaman dengan televisi dan mie di atas meja. Menghela napas, Frans akhirnya tergoda. "Buat gue mana?" Tanya pria itu. Andre menoleh, "Buat sendiri." Kemudian melanjutkan acara makannya. "Kenapa gak sekalian di buatin?" Frans melihat mie di mangkuk Andre yang banyak. "Lo buat dua bungkus kan?" Todongnya. Andre menjeda makannya, "Iya gue buat dua bungkus! Lo kalo mau, ya buat sendiri! Salah Lo, diem aja dari tadi!" Kesal Andre. Tak ingin mencari masalah, Frans beranjak dari sofa dan menuju dapur membuat mie instan. Tak seperti Andre yang ribet, Frans cukup dengan dua mie instan tanpa apapun. Andre menatap Frans yang membawa semangkuk mie instan di tangannya. "Cepet amat Lo?" Frans melengos acuh, ia mengambil duduk di sofa dengan santai sembari menyantap mie instan. Andre mendengus kasar. Frans tak henti-hentinya membuat ia kesal. "Tadi gue nyari minimarket deket lobby gak ada." Kata Andre memulai pembicaraan. Frans menatap sekilas, kemudian lanjut memakan makanannya. "Terus kenapa?" Komentar Frans. "Lo ngerjain gue ya?" Frans menatap Andre aneh, "Gue gak ada waktu ngerjain Lo. Kerjaan gue banyak." "Lo tadi bilang apa? Minimarket deket lobby kan?" "Iya terus?" "Gue pikir tuh minimarket ada di sekitar lobby, ternyata samping apartemen." Frans memandang santai, "Lo gak tau maksud dari omongan gue? Deket lobby, kan emang minimarketnya di deket lobby. Yang bilang di dalem lobby siapa?" "Ngeselin Lo." "Jangan bilang gue ngeselin kalo itu salah Lo." Tutup Frans. "Lain kali kalo ngasih infomasi yang lengkap kek!" Sindir Andre. Frans yang sibuk menghabiskan makanannya, dan Andre yang sibuk mendumel sembari makan. Tanpa ada pembicaraan yang berarti karena keduanya sama-sama bungkam. "Tugas yang gue minta udah Lo kerjain?" Heningnya apartemen terpecah oleh suara Frans. Andre menatap datar Frans, "Seriusan? Lo bahas kerjaan pas makan?" "Kenapa? Lo tadi juga bahas lobby." Ingin hati membuat Frans diam, justru Andre yang merasa kian kesal. "Berkasnya mau gue cek." Tambah Frans. "Ntar gue kasih ke Lo." "Harus segera Lo kerjain dan taro di meja ruangan gue." "Iya, iya... Ntar gue anter ke tempat Lo! Kalo perlu gue taro di kamar Lo!" "Di meja ruangan gue." Koreksi Frans. "Iya!" Andre semakin dongkol. Mengambil segelas air yang berada di dekatnya, Andre membasahi kerongkongannya yang kering. Setelahnya merasa segar, Andre berkata, "Gue tadi udah belanja, gue taro di kulkas. Gue minta ganti." Frans tersedak kuah mie instan yang ia makan. Meraih gelas minum, Andre membantu menuang air di dalam gelas. Frans kelabakan karena rasa perih di kerongkongannya. "Makanya jangan suka judes. Di judesin sambel kan Lo!" Andre memanasi. "Lo beli mie instan empat, minta ganti ke gue?" Protes Frans ketika kerongkongannya merasa lebih baik. "Lo juga makan, ngapain minta ganti?! Tau gitu gak usah beli!" Andre menekuk wajah kesal, "Tanggal tua, duit gue abis." Frans diam tak menanggapi Andre, ia sibuk menghabiskan mienya yang tersisa sedikit. Andre lebih dulu selesai dengan kegiatan makannya, Frans menatap tak suka begitu mangkuk kotor tergeletak di atas meja. "Cuci!" "Iya ntar gue cuci." Tak ingin memperpanjang, Frans bangkit membawa mangkuknya sendiri. Andre menatap tak terima. "Frans! Sekalian dong!" "Cuci sendiri." "Pelit Lo! Makanan aja gue yang beli, Lo juga menikmati. Masa nitip cuci aja gak mau!" "Ntar gue ganti." Ucap terakhir Frans sebelum pria itu berjalan menuju dapur. "Nah! Gitu dong!" Andre bersorak gembira. Selesai makan dan mencuci piring, Andre masih duduk bersantai di sofa. Frans berjalan dengan tampilan rapi melewati Andre yang duduk santai, sepertinya pria itu akan keluar. Andre mengernyit heran. "Mau kemana Lo?" "Rumah sakit." "Ngapain?" "Gue mau cek kerjaan Lo. Nungguin Lo selese, lama." Mendengar pernyataan Frans, Andre hanya ber-oh ria saja. "Gue nginep sini ya?" Frans menatap tak suka, "Gak! Lo ikut gue." "Ke rumah sakit." "Ngapain?" tanya Andre bingung. "Selesein laporan yang gue minta kemaren." "Kan gue udah bilang, ntar gue taro di ruangan Lo. Gue gak mau nglembur!" "Lembur atau gue gak mau ganti." "Tapi besok gue masuk pagi!" "Kebetulan, Lo gak usah pulang." "Tega Lo!" "Buruan keluar!" Perintah Frans. "Ck! Tega Lo, Frans!" Dengan terpaksa, Andre bangkit dari sofa. Berjalan penuh beban menyusul Frans yang menunggunya di luar pintu. "Untung dia atasan gue, coba kalo bukan? Udah gue buang." Dumel nya kesal. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN