FransAle XIV | Persiapan Acara Peresmian

1672 Kata
Jam dinding di kamar kost-nya menunjukkan pukul dua siang lebih dua puluh menit. Sebentar lagi, pasti terdengar suara Refa yang memanggil namanya di depan pintu kamar. Alessa melirik sekilas, tinggal menunggu saja. Pasti gadis itu akan langsung menggedor pintu kamarnya. "ALE!" "ALE!" "WOY! ALE!" Benar saja, tidak sampai satu menit Alessa memikirkan kedatangan Refa. Gadis itu sudah membuat kericuhan di depan pintu kamar kos-nya. Refa mengetuk pintu dengan tak sabaran, dan berteriak kencang. Bergegas Alessa membuka pintu, telinganya terasa pengang mendengar Refa yang berteriak. Tak hanya Alessa, bahkan teman-teman satu kos mungkin merasakan hal sama dengan apa yang Alessa rasakan. "Apaan sih Re! Kamu ganggu aja sih!" Tak menjawab gerutuan Alessa, Refa nyelonong masuk tanpa permisi bak kamar sendiri. Alessa mendengus kesal, tingkah Refa benar-benar mengesalkan. "Kenapa gak sekalian pindah satu kamar sama aku?! Biar gak bar-bar!" "Emang boleh?" "Ya enggak lah! Refa suka berantakin kamar! Gak! Gak boleh!" Refa menirukan gaya Alessa yang cerewet, "Tadi katanya suruh pindah satu kamar. Giliran gue setuju aja, malah ngomel-ngomel." "Aku gak serius, Refa!" Seperti biasa, Refa berjalan ke kamar mandi. Mencuci kaki dan mencuci tangannya dengan sabun, tak lupa membasuh muka dengan air. Itu adalah kebiasaan wajib ketika Refa datang ke kamarnya. Alessa si pecinta kebersihan selalu mengomel setiap Refa datang dengan kebiasaan jorok yang masih gadis itu terapkan. Sulit membiasakan Refa rajin dan menjaga kebersihan, namun bukan masalah jika Refa sendiri melakukannya demi dirinya sendiri. "Capek banget gue. Rumah sakit lagi rame - ramenya." Keluh Refa begitu gadis itu rebahan di sofa. Tangannya mengambil toples yang berisi keripik kentang berbentuk bulat panjang dengan rasa asin tanpa micin. Sudah menjadi tradisi bagi Alessa, harus menyiapkan camilan setiap harinya. Karena tak hanya dirinya, Refa pun selalu menyukai apa yang Alessa beli di pasar tradisional. Entah jajanan pasar atau makanan basah, Alessa selalu membeli dua karena Refa. Begitu pula sebaliknya, setiap Refa pulang kampung atau me time ketika weekend. Gadis itu tak lupa membelikan makanan untuk Alessa juga, bahkan Refa sering membelikan makanan ketika Alessa mendapat jaga malam. "Setiap hari rumah sakit juga selalu rame kali, Re. Emang kapan sih, rumah sakit sepi?" Komentar Alessa. "Lo dapet undangan kan? Gue denger dari Mbak Jogja." Tanya Refa melenceng dari topik. 'Mbak Jogja' adalah sebutan dari Refa untuk Rahayu. Karena dulu Refa hanya mengingat tempat gadis itu berasal tanpa ingat namanya. Hingga kini, kebiasaan itu tak juga menghilang. Apalagi Rahayu dengan senang hati menerima panggilan nyeleneh itu dengan tangan terbuka. Tak mempermasalahkan, terpenting semua baik-baik saja dalam hal komunikasi. "Iya, tadi Mbak Rahayu kesini. Aku aja kaget." "Tadi Mbak Jogja, tanya gue. Makanya dia langsung kesini begitu gue bilang Lo ada di kos." Kata Refa menjelaskan. "Cieeee... Yang jadi orang penting, mainnya ke ballroom - ballroom hotel sekarang." Celutuk Refa menggoda Alessa. Alessa menatap sengit sahabatnya yang tertawa puas itu, "Apaan sih Re! Enggak! Aku aslinya gak mau! Cuma sama Mbak Rahayu di paksa buat ikut." "Ya kan Lo bisa nolak, Alessa!" Refa gemas dengan sikap Ale yang selalu tak enakan apabila menolak permintaan dari orang lain. "Masalahnya aku gak bisa nolak, Re. Yang nyuruh Pak Andre." "Hah? Pak Andre? Seriusan?!" "Iya, makanya kan gak bisa nolak. Kata Mbak Rahayu, Pak Andre yang pilih aku secara langsung. Alasannya karena besok pas banget sama aku yang masih libur." "Eh," Refa menyadari satu hal, "Iya sih, besok kan Lo masih libur. Gak salah kalo Pak Andre langsung pilih Lo. Tau sendiri kan, Pak Andre orangnya disiplin banget. Gak boleh bolos lebih dari setengah hari dari jam kerja." "Betul juga. Tapi tadi Mbak Rahayu langsung pulang katanya, bolos dua jam." "Emang ya, Mbak Rahayu nya aja yang langsung gercep pas Pak Andre mau minta tolong nyampein undangannya ke Lo, sekalian suruh bilang kalo Lo harus ikut sama Pak Andre buat perwakilan," "Padahal tadi gue udah bilang, biar gue aja yang nyampein pas selese jam kerja. Gue udah pulang juga kan, tapi tetep aja, Mbak Rahayu ngeyel buat tetep anterin undangan ke Lo secara langsung. Terus gue yang berstatus temen satu kos, apa kabar?" Dumel Refa. Alessa tertawa mendengar keluhan Refa soal Mbak Rahayu, "Udah lah Re, siapa cepat dia dapat soalnya." "Tetep aja kesel. Tapi gue gak bisa kesel ke Mbak Jogja! Gegara di traktir bakso." "Dih, Mbak Rahayu baik banget loh sama Refa." Goda Ale. "Baik karena ada maunya!" Tambah Refa. Dengan sisa tawa yang masih ada, Alessa mengingatkan Refa untuk segera berganti baju, mandi dan istirahat. Dari wajahnya, nampak sekali Refa kelelahan. "Ntaran aja deh, capek gue. Masih mau rebahan dulu." Tangannya tak lepas dari stoples jajanan kentang di pelukannya. Alessa menatap bosan, Refa sulit selalu membiasakan kebiasaan bersih seperti dirinya. "Aku laper, pengen keluar cari makan di pujasera. Kamu ikut gak?" Tawar Alessa. Refa menatap sekilas, kemudian melanjutkan kegiatannya. "Gue nitip aja deh. Males keluar." "Yaudah, mana uangnya." Alessa mengacungkan tangan ke depan, meminta uang pada Refa yang kini meringis pelan. "Pake uang Lo, dulu ya, Le. Ntar gajian gue ganti." "Tuh kan! Alesan pasti!" "Hehehe... Buat bayar s****e soalnya, keranjang gue numpuk. Mau beli skin care." "Perasaan skin care kamu udah banyak deh, mau numpuk apalagi?" "Ada satu brand serum inceran gue, pengen banget beli. Gue udah nabung dua bulan buat gak jajan. Pake uang Lo dulu ya, Le." Refa berkata dengan nada memelas, sementara Ale masih diam memperhatikan tingkah Refa bila ada maunya, "Ale baik deh!" Ucap Refa tiba-tiba bangkit dan memeluk Alessa. Alessa menghembus napas lelah, "Gak aku iyain padahal." "Iya, Ale baik banget! Luv luv pokoknya!" "Dih! Gak!" Refa tertawa terbahak-bahak mendengar penolakan Alessa, "Gih berangkat! Udah laper gue!" Ujar Refa melepas pelukan keduanya. "Aku yang laper, aku yang bayar, Lo yang nyuruh." Celutuk Ale sebelum keluar dari kamar kos-nya. Refa tertawa penuh kepuasan. Melihat sahabatnya telah pergi, Refa kembali rebahan dengan camilan setoples di pelukannya. Tak lupa drama kore yang menyala menayangkan salah satu cerita Romance di layar ponsel semakin menambah energi positif yang sempat hilang karena kekesalannya. Di sela Refa menikmati waktunya, terdengar suara ponsel berdering. Di lihatnya ponsel miliknya yang tidak menampilkan panggilan, kemudian Refa bangkit dari rebahannya. Mencari sumber suara. Ponsel pipih tergeletak di atas meja yang menampilkan nama si penelepon. Refa mengambil ponsel tersebut. "Ini kan punya Alessa, lupa gak di bawa?" Refa mengernyit membaca nama si penelepon, "Mana yang telepon Pak Andre lagi. Pasti soal acara besok." "Gue angkat gak ya? Tapi kalo gue angkat bukan hak gue, kalo enggak ntar penting lagi." Refa menatap layar ponsel yang masih berdering menunggu respon dari si pemilik. Memikirkan dengan baik-baik, Refa memutuskan untuk menerima panggilan telepon dari Pak Andre. "Halo, Pak?" "Halo, Assalamualaikum, Ale." "Wa'alaikummussalam, Pak." "Saya mau bicara soal,--" "Maaf, Pak, menyela. Alessa lagi keluar beli makan, ponselnya ketinggalan. Ini saya, Refa." "Ah, Refa? Baiklah kalau begitu. Nanti jika Alessa sudah kembali, tolong minta dia hubungi saya segera." "Baik, Pak. Akan saya sampaikan pesan Bapak." "Maaf mengganggu, ya Refa." "Tidak masalah Pak Andre." "Saya tutup dulu Assalamualaikum." "Wassalamualaikum." Setelah panggilan terputus, Refa meletakkan ponsel Ale di tempat semula. "Bisa gue tebak kalo ini ada kaitannya sama acara besok." *** "Tadi Pak Andre telepon Lo, gue angkat." "Hm? Pak Andre?" Refa mengangguk di sela kegiatan makannya, selepas Alessa pulang dari pujasera di depan komplek kost. Refa menyambar makanannya, dan menikmati dengan lahap. Perutnya sudah keroncongan, jajan keripik kentang tak cukup mengganjal perutnya yang berdemo minta makan. "Ada urusan apa? Tumben banget." Tanya Alessa bingung. "Mungkin buat acara besok kali, kan Lo dipilih sama Pak Andre buat perwakilan peresmian Presdir rumah sakit." Papar Refa singkat. "Bisa jadi sih, Re." "Oh, tadi Pak Andre titip pesen ke gue. Kalo Lo udah pulang suruh kasih kabar ke Pak Andre." Refa menambahkan. Alessa mengangguk paham, "Selese makan deh, ntar aku telepon balik si Pak Andre." "Sip." Belum sempat Alessa menyelesaikan kegiatan makannya, ponsel miliknya berdering. Alessa bangkit dan meraih ponselnya yang berada cukup jauh dari tempatnya berada. Pak Andre is calling... Refa memperhatikan dalam diam, Alessa menunjukkan siapa peneleponnya. Begitu tau si penelepon, Refa mengerti. "Angkat, Le. Udah di cariin lagi tuh." Tak menggubris celutukan Refa, Alessa membersihkan tangannya dari bekas makanan. Kemudian baru menjawab panggilan dari Kepala Divisinya itu. "Halo Pak Andre, assalamualaikum." Ale mengawali pembicaraan. "Halo, wa'alaikummussalam. Alessa, kan?" "Iya, Pak. Saya Alessa." "Tadi saya telepon kamu, tapi yang angkat Refa." Jelas dari suara seberang menjelaskan singkat. "Eh? Iya, Pak. Tadi saya lagi keluar beli makan. Ada apa ya, Pak? Maaf, saya tadi makan dulu setelah tiba di kos." "Tidak apa, Alessa. Justru saya yang minta maaf mengganggu waktu libur kamu." "Tidak masalah, Pak." "Kamu sudah dapat undangan dari Rahayu, kan?" "Iya, Pak. Sudah di anter tadi sama Mbak Rahayu." "Di undangan sudah tertera jelas alamat dan tempat acara peresmian. Tolong besok datang tepat waktu ya? Saya juga sudah pesan taksi untuk kamu, jadi besok bisa langsung berangkat saja." "Tapi Pak,--" "Tenang saja, Alessa. Saya pakai fasilitas rumah sakit. Jadi jangan merasa tidak enakan. Kamu juga salah satu keluarga besar rumah sakit, jadi kamu berhak mendapat fasilitas yang sesuai." "Baik Pak." "Itu saja pesan saya, setelah ini saya akan sangat sibuk dan tidak sempat pegang ponsel. Maka dari itu, saya langsung telepon kamu. Dari pada nanti saya kelupaan dan pesan mu terabaikan." Alessa tertawa kecil, "Baik Pak. Terima kasih informasinya." "Sama-sama Alessa. Saya tutup dulu, assalamualaikum." "Wa'alaikummussalam." Dan panggilan terputus oleh Andre dari seberang sana. Alessa melihat tatapan penasaran Refa tertuju padanya. "Ada apa? Terkait acara besok ya?" Refa bertanya secepat kilat, padahal Alessa belum meletakkan ponselnya dengan benar. Ale mengangguk, "Iya. Besok gue diminta buat dateng tepat waktu, udah di pesenin taksi sama Pak Andre juga." "Wuih, enak nih. Pak Andre emang selalu baik sih sama bawahannya." "Pak Andre emang baik, makanya anak-anak pada naksir." Tambah Alessa. "Iya juga sih, masih jomblo plus ganteng juga. Siapa yang gak naksir coba?" "Aku." Refa menatap Alessa datar, "Selera Lo susah." Alessa tertawa terbahak-bahak, pasalnya Refa tau benar tipe cowok idaman Alessa yang tidak masuk akal, Lee Min-ho misalnya. "Dah ah! Gue mau balik, mau mandi. Bau nih!" Refa mendekatkan tubuhnya pada Alessa yang menjauh darinya. "Iyuh! Refa! Jorok!" Teriakan Alessa membuat Refa tertawa puas sambil berjalan keluar kamar kos Alessa. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN