"Seneng banget yang mau hadir di acara rumah sakit." Sindir Refa.
"Apaan sih, Re!" Alessa sibuk mempersiapkan baju yang akan ia pakai, acara peresmian yang Alessa ketahui di laksanakan secara privat dan mendadak sangat memunculkan tanda tanya.
"Butuh pengorbanan buat dateng ke acara peresmian. Lagian aku harus mengorbankan jatah libur yang berharga. Padahal harusnya hari ini kan libur, rebahan, bangun siang. Eh, ini malah pagi-pagi udah mandi, siap-siap ke acara."
Refa rebahan di sofa yang berada di kamar kos Alessa, mengambil toples makanan dan memakannya dengan tenang. "Anggep aja refreshing Le. Lo kan jarang banget keluar. Sesekali lah."
Alessa menatap tak setuju, "Beda! Gak bisa di samain!"
"Kalo refreshing beda lagi, ada tempat yang mau di tuju. Nah, ini, gue enggak berharap Dateng sebagai perwakilan. Lagian kenapa pas banget gue sih, yang di pilih Pak Andre. Enggak yang lain aja!" Dumel Alessa.
Semenjak Refa datang ke kamar kos-nya, Alessa tak henti-hentinya mendumel. Merasa tidak terima jika ia harus datang ke acara peresmian Presdir yang menyita jatah liburnya yang berharga. Refa sih santai-santai saja, selagi ada makanan ia mau di ajak pergi apalagi untuk menggantikan posisi Alessa yang harus menghadiri acara peresmian Presdir.
Sayangnya, Pak Andre akan bertanya ketika melihat Refa yang datang bukannya Alessa.
"Udah sih, Le. Terima aja, palingan bentaran doang."
"Iya bagus kalo bentaran, kalo sampek malem?"
"Heh Buk! Ngapain acara peresmian Presdir sampek malem? Kurang kerjaan amat!"
"Gue cuma memikirkan kemungkinan buruk yang siapa tau terjadi."
"Gak salah juga sih." Komentar Refa.
Suara pintu diketuk dari luar membuat Alessa dan Refa mengalihkan pandangan. Refa menatap tanya pada Alessa, lantas di balas gelengan oleh gadis tersebut.
"Alessa! Go car pesenan Lo tuh, udah nungguin!" Teriak seseorang dari luar.
"Oh, iya Mbak! Sebentar!" Balas Ale.
Tak ingin si sopir menunggu lama, Alessa menyambar Sling Bag-nya. Memperhatikannya penampilannya sudah sopan dan sesuai arahan dari syarat di undangan yang tertera.
"Mau bareng gak?"
"Bareng keluar aja, gue naik motor soalnya."
"Yaudah ayok!"
Refa bangkit dari duduk santainya. Pagi ini Refa masih masuk shift pagi dan Alessa yang tersisa satu hari jatah libur. Keduanya berangkat bersama namun berbeda tempat tujuan. Alessa melambaikan tangan pada Refa yang bersiap di motornya, sedangkan dirinya bersiap memasuki mobil.
"Ttdj Re!"
"Sip! Lo juga!"
***
Baru pertama kali masuk, Alessa di suguhi dekorasi yang mewah dan elegan di salah satu hotel ternama di Surabaya. Datang seorang diri tanpa seseorang yang Alessa kenal membuatnya bingung dimana tempat dan acara peresmian Presdir.
Tak sengaja matanya menangkap tulisan putih yang di tempel di sebuah papan persegi bertuliskan 'Acara Private Santa Claria' dengan sebuah anak panah di bawah tulisan. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Alessa segera menuju tempat acara sesuai gambar anak panah yang tertera.
Alessa melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, "Gak ada waktu lagi, jamnya udah mepet."
Begitu Alessa menghilang dari balik belokan menuju lift di lantai dua, seseorang memasuki loby hotel dengan pakaian formal yang rapi dan mewah. Dengan seorang pria yang berdiri di sampingnya, tampak berjalan tergesa dengan tangan yang sibuk membaca jadwal acara peresmian hari ini.
"Gue udah setting, jadi Lo cuma ngasih pidato pembukaan setelah nerima gelar dari Bu Claria,"
"Sesuai yang Lo minta, Lo gak lama berdiri di atas panggung." Andre membaca tulisan di buku notes dengan begitu cepat dan tangkas.
Meskipun Andre bukanlah wakil Presdir, namun Frans hanya mempercayai kinerja Andre yang cepat. Bukan bermaksud menyepelekan Pak Wayan yang berstatus wakil Presdir semenjak Mamanya. Frans akan lebih berhati-hati, dan menyeleksi dengan ketat seluruh staf-nya, termasuk saudaranya sendiri.
"Bagus."
"Oke. Kita langsung ke tempat acara, Lo bisa nunggu di ruangan yang udah gue siapin. Sementara acara di buka."
Frans mengangguk, terlepas dari Andre yang bersikap non formal ketika hanya ada mereka berdua. Bagi Frans tidak masalah, karena Andre mampu bekerja secara profesional dengannya.
Andre menggiring Frans untuk menunggu di ruang yang telah ia siapkan sementara dirinya mengurus keperluan yang belum terselesaikan. Karena acara peresmian yang mendadak, semuanya serba instan yang hanya di hadiri perwakilan divisi, rekan kerja, dan donatur.
"Pak!"
Langkah tergesa Andre terhenti ketika seorang panitia acara menghentikannya.
"Ada apa?"
"Maaf sebelumnya Pak, ada kendala dari pembawa acara yang telah kami sewa."
Andre menatap datar orang tersebut, "Kendala gimana? Saya sudah suruh kamu untuk cari host yang terbaik bukan?"
"Iy-iya Pak, tapi,--"
Andre mengangkat tangan menghentikan kalimat panita tersebut. "Cari solusi dan segera buka acaranya!"
"Masalahnya salah satu dari kami tidak bisa menjadi host, Pak."
Andre menggeram kesal, "Bagaimana cara kerja mu selama ini! Cari host saja tidak becus!"
"Maaf, Pak. Kami sudah berusaha, namun kendala acara yang mendadak, membuat kami sedikit kesulitan."
"Kan kemarin udah setuju kalo bisa!"
"Saya juga tidak tau, Pak,"
Mengambil napas panjang, Andre meredam emosinya. Pikirannya panas mendengar masalah demi masalah yang kian berdatangan seperti sekarang. Ingin memaki seorang panitia di hadapannya, namun Andre sadar jika acara peresmian ini terlalu mendadak.
"Pak Andre."
Panggil seseorang di sela ketegangan keduanya, Andre menoleh. Ia menemukan Alessa yang berjalan menghampirinya. Tampilan gadis itu cukup fresh pagi ini, sedikit berbeda dari riasan sebelumnya.
"Alessa?"
"Tadi saya nyariin Bapak, tapi gak ketemu. Untungnya ketemu sama Bapak disini, saya bingung mau gimana." Papar Alessa nampak sekali gadis itu kebingungan berada di aula acara sendirian.
Penampilan Alessa cukup mengesankan dengan gamis putih gading di hiasi brukat dan manik-manik kecil yang indah. Sepatu flatshoes berwarna hitam dengan kerudung yang berwarna senada dengan sepatunya menambah kecantikan gadis itu kian menguar.
Seketika Andre memiliki ide cemerlang melihat penampilan Alessa yang menurutnya pas. Apalagi Andre tau jika Alessa adalah gadis dengan pembawaan yang ramah dan easy going.
"Saya bisa minta tolong? Ini mendesak."
"Minta tolong ke saya?"
Andre mengangguk, di dukung satu panitia yang menatap Alessa penuh harapan. Alessa menatap bingung keduanya, merasa salah tingkah di tatap begitu anehnya oleh dua orang yang berdiri di hadapannya.
"Minta tolong apa ya, Pak?"
"Bisa ikut saya sebentar?" Andre tersenyum misterius, tanpa basa basi di bawanya Alessa ke salah satu ruangan.
Alessa mengikuti tanpa membantah, setidaknya Alessa bisa membantu Pak Andre yang sekiranya butuh bantuan. Alessa tampak kebingungan, ketika Andre memberikan secarik kertas kecil yang berisi tulisan jadwal acara peresmian Presdir.
"Ini, apa ya Pak?"
"Kamu jadi co-host acara ya? Co-hostnya berhalangan hadir, ini saya bingung mau cari kemana lagi."
"Saya Pak?"
"Iya, kamu."
"Tapi Pak,--"
"Kamu bisa latihan dulu sebentar, tenang saja. Host satunya sudah memulai acara. Jadi kamu tinggal mengikuti instruksi saja."
"Tapi Pak, saya,--"
"Saya sangat yakin kamu bisa bantu saya dalam hal ini. Saya ada urusan lain yang harus segera saya selesaikan, terima kasih Alessa."
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Andre pergi meninggalkan Alessa yang diam di ruang khusus panitia. Menatap bingung pada keadaannya yang sekarang, Alessa menghela napas pasrah.
"Mbak. Pendamping host kan?" Seseorang menyenggol bahunya pelan.
"Eee... Saya,--"
"Tadi kata Pak Andre, Mbaknya yang baju putih gading co-hostnya." Perempuan berhijab itu memotong kalimat Ale.
"Yaudah yuk, Mbak. Acaranya sudah di mulai, buruan Mbak nyusul ke atas panggung." Ajak perempuan berhijab itu dengan tergesa.
Ale menatap ngeri kertas di genggamannya, "Kok jadi gini sih?"
***
"Mbak, ini giliran Mbak yang bacain acara selanjutnya ya, saya haus. Mau minum dulu, sebentar." Ujar seorang wanita yang berpakaian putih gading, sama seperti warna gamis Alessa.
Dalam hati ia menggerutu, mungkin inilah sebabnya Andre memaksa Alessa untuk menjadi host karena baju Alessa dan host bernama Ulfa berwarna sama. Hanya modelnya saja yang berbeda. Seketika Alessa merasa menyesal sekejap, namun kekesalannya akan sirna begitu acara peresmian Presdir Santa Claria berjalan lancar tanpa hambatan.
Alessa mengangguk, "Iya Mbak Ulfa, saya gantiin. Tapi nanti Mbak nyusul ya, saya bingung mau gimana lagi."
"Sip."
Begitu perempuan bernama Ulfa itu turun dari atas panggung, Alessa menggantikan posisi Ulfa sebagai host. Dengan senyuman ramah dan pembawaan yang hangat, Alessa mampu menciptakan suasana meriah penuh kebahagiaan.
"Sebenarnya saya juga penasaran, belum mengetahui siapa pengganti dari Bu Claria sebagai Presiden Direktur dari Rumah Sakit Santa Claria. Saya berharap Rumah Sakit Santa Claria akan semakin membaik dan maju dalam kepemilikan Presiden Direktur yang baru." Kata Alessa penuh dengan senyuman.
Ulfa menyentuh pundak dan memberi kode pada Alessa agar Ulfa saja yang melanjutkan, "Tanpa berlama-lama rekan saya menjelaskan, saya akan memanggil Bu Claria Paramitha, sebagai Presiden Direktur dari Santa Claria dan putranya, Fransciso Kennedy Reneegan, yang akan meneruskan posisi sebagai Presiden Direktur ke depan. Untuk waktu dan tempat saya persilahkan."
Alessa termenung di atas panggung ketika Ulfa menyebutkan nama seseorang yang sangat ia kenal. Menepis pemikirannya yang terasa ngawur, Alessa menggeleng. Mengusir sekilas bayangan yang berkeliaran di pikirannya.
Dalam hati ia meyakini, jika nama yang Ulfa sebutkan adalah sebuah kebetulan. Bukan sosok yang ia kenal, bukan.
"Boleh berikan tepuk tangan untuk menyambut Presiden Direktur Bu Claria, dan calon Presiden Direktur kita Pak Fransciso Kennedy Reneegan!"
Alessa terpaku di pinggir panggung mendengar nama yang familiar di telinganya di sebutkan Ulfa. Hatinya berdegup kencang, marathon tak karuan. Sekedar untuk menoleh saja, Alessa tak mampu. Ia takut, takut apa yang di dengarnya adalah kesalahan.
Suara riuh tepuk tangan bergemuruh di aula menyambut kedatangan sesosok pria yang baru saja memasuki aula. Alessa mengangkat pandangan, menatap sosok yang datang. Pria berkemeja biru dongker dan jas berwarna hitam serta dasi kupu-kupu menambah wibawa sosok tersebut. Sepatu pantofel hitam mengkilap terpasang rapi di sepasang kaki jenjangnya yang melangkah penuh aura kekuasaan. Rambut hitam legam yang ter-pomade rapi tak berantakan kian membuat pria itu memesona.
Langkahnya kian mendekat, tak berjarak jauh dari tempat Alessa diam terpaku. Bibirnya tak mampu terbuka, lidahnya kelu tak bersuara, dan matanya terpaku pada sosok yang kini telah berdiri di tengah panggung dengan senyum tipis di bibirnya.
Ketika semua orang menyambut hangat peresmian Presdir Santa Claria yang baru, dengan tepuk tangan yang meriah, Alessa justru masih diam membeku. Sosok pria yang memberi sambutan singkat itu, Alessa mengenalnya.
Pria itu masih sama, tak ada yang berubah hingga Alessa bisa mengenalnya. Hanya tubuhnya yang semakin tinggi dan atletis. Serta wajahnya yang semakin dewasa dan berwibawa. Melihat bagaimana pria itu berkata dengan singkat dan jelas sebagai sambutan dirinya yang kini menjadi Presdir. Dan senyuman tipis yang tak begitu kentara di bibirnya. Semuanya masih sama, dan Alessa tak akan pernah melupakan sosok yang dulu sangat ia kagumi.
"Mbak! Ayo mundur dulu, kasih ruang untuk Bu Claria dan Pak Fransciso." Host bernama Ulfa itu menarik Alessa agar menyingkir dari pinggir panggung.
"Kak Ken..."
Dua kata yang secara tak sadar terucap dari bibirnya, memanggil dengan suara kecil di tengah riuhnya tepuk tangan. Entah mengapa mampu membuat pria berstatus Presdir itu menoleh pada Alessa singkat dan kembali memusatkan perhatiannya pada seluruh tamu yang datang.
***