Anniversary
Langkah kaki Tiara mengarah pada ruangan pacarnya, Angga. Beberapa pegawai menegur dan tersenyum kepada Tiara, dengan ramah Tiara membalas dengan senyuman lebarnya. Hari ini adalah hari yang istimewa untuk dirinya dan Angga. Tiara tidak sabar untuk bertemu dengan sang kekasih.
"Angga di dalam kan?" tanya Tiara kepada sekretaris Angga. Dengan ramah sekretaris Angga menganggukkan kepalanya.
Tiara pun membuka pintu ruangan Angga dan menampakkan sang kekasih sedang bertaut dengan kerjaannya.
"Hai sayang!" sapa Tiara dengan semangat. Angga menoleh ke sumber suara dan tersenyum tipis kepada Tiara. Tanpa membalas sapaan Tiara, dia kembali menatap ke laptopnya dan mengetik sesuatu.
Sedikit kecewa, tetapi Tiara berusaha untuk menepis semua itu. Dia pun berjalan mendekati meja kerja Angga. "Kamu tau gak hari ini hari apa?" tanya Tiara sembari menatap Angga dengan antusias.
"Hari Rabu," jawab Angga singkat.
"Angga.. hari ini anniversary ke empat tahun kita. Kamu lupa ya?!' tanya Tiara dengan kecewa. Siapa yang tidak kecewa ketika tau pasangannya melupakan hari jadi mereka.
"Maaf.. Aku lupa. Minggu ini aku sibuk banget."
Tiara tidak bisa berkata apa-apa lagi ketika mendengar pembelaan Angga. Jika menyangkut pekerjaan, Tiara tidak bisa membantah. Angga memang harus fokus dengan perusahaannya ini. Apalagi sebagai seorang CEO dia memiliki banyak pekerjaan.
Langkah Tiara menuju sofa yang tak jauh dari meja kerja Angga. Dia duduk di sofa itu sembari termenung memikirkan banyak hal. Salah satunya mengenai hubungannya dengan Angga.
Hampir dua puluh menit Tiara diam membisu. Hingga akhirnya Angga menyadari diamnya Tiara. Ia pun menutup laptop miliknya dan berjalan mendekati Tiara. Angga duduk di samping Tiara dan tersenyum tipis melihat wajah diam Tiara.
"Kamu kenapa?" tanya Angga sembari mengelus rambut panjang Tiara.
"Enggak papa kok. Pekerjaan kamu udah siap?" tanya balik Tiara.
"Minggu depan kita rayain anniversary kita ya. Kalau dalam Minggu ini aku enggak ada waktu. Besok aku mau ke Singapura ketemu sama klien."
Angga menjelaskan kegiatannya kepada Tiara. Tentu saja Tiara sangat kecewa dengan sikap Angga ini. Tetapi dia tidak bisa berbuat apapun.
"Mama semalam bilang sama aku, dia mimpi aku pakai gaun pengantin. Katanya aku cantik banget. Aku gak tau kenapa tiba-tiba mama mimpiin itu. Tapi entah kenapa, aku senang banget dengarnya. Menurut kamu kenapa ya mana bisa mimpiin itu?" Tiara menceritanya semuanya dengan senyuman lebar dan antusiasnya.
"Mungkin cuman bunga tidur aja kali. Kamu gak usah terlalu memikirkannya," jawab Angga. Senyuman lebar Tiara perlahan menghilang setelah mendengar jawaban Angga.
Bagaimana bisa Angga berkata seperti itu. Sekali lagi Tiara kecewa mendengar jawaban dari Angga. Angga melihat jam di tangan kirinya. "Satu jam lagi kita makan siang di luar ya," tutur Angga. Angga mengecup pipi Tiara dan bangkit dari duduknya. Ia kembali berjalan menuju meja kerjanya.
Tiara menghela napas panjang. Entah kenapa dia selalu berpikir jika hanya dirinya saja yang selalu antusias dengan hubungannya ini. Sedangkan Angga, sama sekali tidak terlihat tertarik. Sembari menunggu satu jam, Tiara mengambil handphonenya dari dalam tasnya. Ia melihat notifikasi dari sahabatnya, Amara. Wanita itu mengucapkan selamat atas hari jadinya dengan Angga.
Senyuman tipis Tiara tercipta ketika membaca pesan dari Amara. Bahkan Amara saja ingat dengan hari ini, berbanding terbalik dengan Angga sendiri. Tiara kembali menyimpan handphone dan menutup tasnya. Rasa bosannya mulai muncul seketika
"Kamu tau gak, kadang mimpi itu bisa kejadian loh. Mungkin aja apa yang mama mimpiin terjadi. Apalagi ini mimpi yang baik kan? Lihat aku jadi pengantin. Aku juga berharap gitu tau. Tapi bukannya kamu doain yang baik, kamu malah bilang itu cuman bunga tidur."
Tiara bangkit dari duduknya dan menatap Angga kesal. Angga yang mendengar perkataan Tiara terlihat sangat bingung. Tetapi dia tidak mengatakan apapun. Melihat itu, emosi Tiara seketika meningkat.
"Empat tahun, Angga. Empat tahun. Kamu gak mau bawa hubungan ini lebih serius lagi? Atau kamu tunggu sampai enam tahun? Bahkan sepuluh tahun lagi?"
"Tiara aku sama sekali engga--"
"Kamu sama sekali enggak pernah memikirkan tentang pernikahan. Atau mungkin kamu enggak serius sama hubungan kita ini ya? Kamu cuma memikirkan tentang pekerjaan kamu."
Angga berdiri dan menatap Tiara dengan wajah seriusnya. "Aku lagi gak mau bertengkar sama kamu, Tiara. Kalo ini karena aku lupa tentang anniversary kita, aku minta maaf. Aku benar-benar sibuk sampai aku gak terpikir mengenai hari ini," jawab Angga mencoba untuk menjelaskan duduk permasalahannya.
"Memang dari dulu kamu gak pernah berpikir tentang hubungan ini kan? Dari empat tahun aku pacaran sama kamu, cuman satu kali kamu ingat hari jadi kita. Setelahnya, kamu selalu lupa. Aku juga punya kerjaan, Angga. Tapi aku selalu ingat sama kamu. Sedangkan kamu?"
Angga memejamkan matanya. Ia sangat lelah bertengkar hanya karena masalah ini. Melihat Angga yang tidak merespon perkataannya, Tiara berjalan mendekat kearah Angga dan menatap Angga dengan penuh kekecewaan.
"Jujur saja, kamu enggak pernah tertarik sama hubungan kita ini kan? Tega kamu!" Setelah mengatakan itu, Tiara berjalan pergi keluar dari ruangan Angga. Angga hanya bisa diam sembari memijat kepalanya yang terasa berdenyut.
Semenit setelah Tiara keluar dari ruangan, Amar sekretaris Angga masuk ke dalam ruangannya.
"Ada apa?" tanya Angga kepada Amar.
"Pak.. Mau saya kirimkan bunga ke mbak Tiara sebagai permintaan maaf?" tanya Amar menawarkan diri.
"Tidak usah. Biar saya sendiri saja yang mengurusnya. Kamu sudah mengurus tiket untuk besok kan? Saya tidak mau ada yang terlewatkan untuk besok. Ini kesempatan besar untuk kita bisa bekerja sama dengan mereka." Angga mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Semuanya sudah beres pak. Tapi mbak Tiara?"
"Amar!"
Amar langsung keluar dari ruangan ketika mendengar suara peringatan itu. Amar sendiri bingung dengan hubungan percintaan bosnya itu. Bagaimana bisa dia sangat dingin kepada pacarnya. terlebih lagi bagaimana bisa Tiara tahan dengan sikap Angga kepadanya.
***
"Gue cinta sama dia, Amara!" Teriak Tiara kepada Amara. Amara menghela napas panjang mendengar itu.
"Karena itu, Lo harus tes dia. Coba Lo bersikap cuek dan gak peduli dengan Angga. Kita lihat gimana responnya."
"Kalau dianya gak perduli gimana?"
"Berarti dia gak cinta sama Lo. Lagian gue bingung, Lo tau sikap dia gimana tapi kenapa Lo masih bisa tahan sama ini semua. Kalau gue jadi Lo, udah pasti gue putusin. Capek tau excited sendirian," ucap Amara.
Tiara menundukkan kepalanya mendengar itu. Tapi dia tidak bisa jauh dari Angga, rasa cinta Tiara terlalu besar untuk Angga. Selain selingkuh ataupun ada wanita lain, Tiara masih bisa menerima itu. Tetapi jika Angga ada wanita lain selain dirinya, tanpa berpikir dua kali, Tiara pasti akan langsung mengakhiri hubungan ini.