Pengejaran terus berlanjut. Jaguar hitam milik Jenderal membelah jalanan sepi, mengeluarkannya dari perkotaan. Tidak ingin aksi kejar-kejaran yang nantinya menjadi saling tembak atau membunuh dapat mengorbankan rakyat yang tidak tahu apa apa. "Apa kau membawa senjata?" Athran terus memfokuskan matanya pada jalanan lengang di depan. Anthea menggeleng. Tangannya memegang sabuk pengaman dengan erat karena kecepatan mobil yang Athran kendarai sangat kencang. "Tidak." Sahutnya singkat sambil sesekali menoleh ke belakang. "Di dashboard ada pistol magnum. Ambillah!" Jenderal menunjuk dengan dagunya. "Setelah itu, aku akan menghadang mereka dan tugasmu menembak mereka." Anthea menganggu mantap. Kemudian mengambil pistol magnum berwarna gold. "Kau siap?" "Siap, Jenderal." "Good, pegangan yan

