bc

SINGLE FATHER NUMBER 225

book_age18+
565
IKUTI
6.0K
BACA
family
mate
scandal
badgirl
independent
bxg
city
sassy
love at the first sight
stubborn
like
intro-logo
Uraian

Berawal ingin pergi jauh dari mantan pacarnya, Jullie pindah ke perumahan Mutiara Bersinar Indah Regency Nomor 224 Blok A-A. Jullie bertetangga dengan seorang duda anak dua yang merubah hidupnya.

Dari pertemuan-pertemuan kecil, obrolan sederhana merubah kehidupan mereka berdua. Jullie tidak mengira dia akan jatuh cinta pada laki-laki sederhana yang jauh dari kriterianya, entah kenapa dia merasa hanya dengan laki-laki ini dia bisa melangkah maju. Tapi tunggu dulu, bagaimana dengan Lukman ? Tidak semudah itu dia melupakan mendiang istrinya….

Lawan Jullie selamanya adalah memori Lukman dengan mendiang istrinya…, kisah cinta Lukman dengan almarhum Rosa, Jullie tahu dia tidak bisa mengacak-acak kenangan itu.

chap-preview
Pratinjau gratis
RUMAH NOMOR 225
Beberapa minggu lalu aku pindah ke salah satu perumahan di Jakarta Barat, perumahan yang dihuni oleh keluarga-keluarga hangat yang lengkap. Dengan beraninya gadis broken home beli properti di kompleks ini, dan tinggal sendirian. Aku tidak masalah tinggal sendirian, bisa dikatakan orang tuaku tidak peduli lagi padaku, masing-masing mereka sudah menikah, dan kebahagiaanku adalah tanggung jawabku. Karena dari SMA aku sudah bisa menghasilkan uang sendiri, jadi aku putuskan hidupku bukan lagi tanggung jawab mereka. Secara teknis aku memilih meninggalkan mereka untuk kebahagiaanku sendiri. Boleh dong? mereka aja boleh bahagia, kok ya aku nggak. Rumahku bernomor 224 dan semenjak pindah kemari aku memiliki rutinitas baru yaitu mengamati tetanggaku di rumah nomor 225. Setiap pagi aku akan duduk di depan jendela sambil mengamati interaksi keluarga itu, keluarga yang kusebut keluarga sinetron. Yang menarik dari keluarga 225 bukan cuma keharmonisannya, tetapi kepala keluarganya yang ganteng seperti dewa-dewa yunani. Namanya mas Lukman, usianya pertengahan tiga puluhan, kurasa. Ada larangan keras agar tidak melihat matanya lama-lama, nanti bisa meleleh kan otak, khususnya cewek yang otaknya setengah, bayangkan kalo otak lo leleh, mikir masak pakai dengkul. Yah, beginilah rutinitasku setiap pagi sebelum berangkat menjadi juru makeup, menyeruput kopi sambil ngintipin suami orang. Sinting memang,, "Minggu-minggu kerja aja kamu Jull." Aku tersenyum kecil pada Rosa. Dia sedang menyiapkan barang-barang yang akan dibawa ke dalam mobil new fortuner, sepertinya mereka akan pergi berekreasi. Dia melirik koper makeup bawaanku "Minggu malah banyak kerjaan ya?" Aku mengangguk."Bisa sampe malem banget kadang." "Wah, pengen deh aku dimakeup sekali aja sama kamu." Aku mengangkat alis. "Ada duitnya nggak?" Rosa tertawa terbahak-bahak, di belakang suaminya mengerling agak tersinggung dengan ucapanku. Ya maaf, aku nggak menyeka kuas di wajah seorang kerelita. "Nggak jadi deh, dua anakku mau masuk sekolah, bayaranmu kan mahal banget," katanya diselingi tawa. "Sudah sana ini mau jam 7!" Dia mengibaskan tangan mengusirku. "Kamu nggak boleh telat kan? nanti bayaranmu kurang lagi." Rosa perempuan baik, sangat baik, ramah dan sederhana, kesederhanaan yang tidak akan pernah kumiliki, dia seorang ibu yang merelakan kehidupannya untuk dua anaknya. Aku tidak akan bisa seperti dia, ya ampun mikir mau ngurusin dua anak dan meninggalkan pekerjaanku demi seorang laki-laki membuatku merinding. Lukman masih memperhatikanku ketika aku naik mobil, mukanya agak masam, sepertinya dia tersinggung dengan candaan ku tadi. Yah.... cakep doang tapi baperan... *** Hari ini gue ada job untuk merias seorang penyanyi bernama Miranda di acara pernikahannya, sebelum pergi ke tempat acara, gue jemput dulu asisten kesayangan gue, Zya. Gue biasanya memang sarapan di mobil aja, drive true terus sarapan sambil menikmati kemacetan ibu kota. Zia mendesah begitu masuk ke dalam mobil gue. "Lo ini berantakkan banget sih." Gue nyengir aja, dia memang suka ngomel kayak buk-ibuk. Jangan heran kalau dia kelihatan lebih tua dari gue, beban hidupnya dibuat sendiri sama keribetannya. "Duduk aja duduk, lo tinggal duduk Zya. Ampun deh, untung gue baik mau jemput lo." "Tau mobil lo bau sampah gue mending naik MRT, paling parah naik bajaj juga nggak sebauk ini." Gue memukul mukanya pelan dengan kertas kontrak yang gue ambil dari dasbor mobil. Seenak-enaknya! "Cowok lo yang doyan jajan itu lo suruh sekali waktu bersihin mobil lo. Jadi cowok nggak berguna banget." "Lo kenapa nyalahin Archie?" Dia memutar bola matanya kesal. "Lo tuh, cari cowok yang bener deh, lo tu udah mau tiga puluh tahun begok, lo nggak selamanya muda." "Gue nggak mau nikah, lo ya! Tolong dong Zya, lo jangan ngelewatin batas. Gue ini bos lo ya, nggak gue kasi perbulan lo tahu rasa." "Eh, perempuan bebas! Gue kasih tahu lo ya, nggak selamanya lo bakal kayak gini terus suatu hari lo akan merasa kesepian, suatu hari lo bakal butuh teman buat meratapi hidup." "Gue bukan peretap kayak lo.." "Jullie, ada waktunya ketika lo butuh gue. Ketika lo nangis-nangis sambil teler gue nggak selamanya bisa nemenin lo, karena sejujurnya lo bukan prioritas di hidup gue" Gue tancap gas dengan kasar membuat dia memegang pegangan tangan di atasnya dengan syok. Dia memukul lengan ku. "Keterlaluan lo, nyawa ni yang lo bawa, begok !" *** Karena mobil gue dihina habis-habisan oleh Zya, gue berhenti di tempat cuci mobil sehabis merias Miranda. Gue post di sosial media dan yang komen udah sampai jutaan dalam beberapa menit saja. Biasalah netijen, kaum panglingpangling look, mengomentari riasan gue, ada yang bilang manglingin, ada juga yang bilang si Miranda kelihatan lebih tua karena lipstik warna tua yang dipakai, manusia-manusia berjari-jari racun dan toxic ini kayak pada nggak nyari rizki aja lo di dunia ini. Gue menghela nafas tapi gue berhenti pada satu akun yang kayaknya gue kenal. @rosaDia, gue buka dah tu akun, eh ternyata benar, tetangga gue tercinta. Dia mengajukan pertemanan ke gue. maklum gue kan makeup artis ye. Sosial media gue lumayan rame, jadi kalo akun nggak verified biasanya gue nggak gubris. Gue membuka akun sosial media Rosa, hanya ada beberapa post aja, salah satunya foto bpk. Lukman yang menawan itu. Eh ke love. Anjay...ng Gue panik melihat kanan-kiri. Ini gimana sekarang, gue nge-love foto suami orang. Gue sesak nafas. Gimana caranya gue pulang sekarang, gimana kalau Rosa mengira gue lagi ngincer suaminya? Ya Allah, sebinal-binalnya diri ini gue juga nggak mau sama suami orang. Sampai di rumah, gue takut-takut waktu parkir mobil, takut salah satu nyapa gue, dan bilang, "Ngapain stolking?" Begok! Peduli amat mereka sama gue, mereka pasti sibuk nggak mungkin mantengin media sosial dan ngeliat banget love gue, paling nggak dianggap juga ah udahlah, nggak usah dipikirin, pasti nggak apa-apa kok. Lampu rumah sudah dimatikan, mobil new fortuner sudah terparkir rapih, sepedah anak-anak tergantung di tembok, sisa lampu di teras aja yang masih menyala. Gue menghela nafas. Turun dari mobil dengan tenang, tapi eh tunggu. Ada Lukman, dia lagi nelpon. Gue liatin di antara kegelapan itu mata kami bertemu. Walaupun gak ada cahaya, gue tetap bisa melihat warna bola matanya yang coklat seperti coklat yang meleleh, melelehkan jiwa raga gue juga. Dia melihat gue tanpa ekspresi apa-apa. "Nggak ma, semuanya oke, mama..." Oh, lagi telponan sama mamanya. Jangan-jangan si Rosa dipanggilnya mama, ih, mas Lukman, aku mau dong dipanggil mama juga.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook