Sepulang kerja aku dengan akal pikiran dan kewarasan lari menyeberangi jalan menuju rumah nomor 225, bahkan aku belum pulang ke rumah untuk taruh tas. Seharian ini yang kupikirkan Bias, apakah dia sudah baikan? Lukman bilang dia makan dua piring, seharusnya kan jangan makan banyak-banyak dulu. Aku mengetuk pintu dua kali, dibuka oleh Neneng. “Neneng,” panggilku spontan saja karena melihatnya lebih dulu. Neneng membuka pintu lebih lebar, mempersilahkan aku masuk. Aku menolak karena tahu yang punya rumah biasanya nggak ngijinin. “Aku nggak masuk Neng.” Aku masih tertahan di depan pintu. “Aku cuma mau tahu kondisi Bias.” “Ias ada Tate mama.” “Neng!” Aku salah tingkah dong, kok diberikan embel-embel mama sih. Aku mengguncang pelan lengan Neneng. Dia malah tertawa. “Bias dari tadi carii

