Part 4

1145 Kata
Sean menepis tangan Tori yang diam diam memegang ujung bajunya, perempuan itu menunduk dengan wajah yang ditekuk. Berusaha tidak mempeduhlikan beberapa orang yang mencuri curi tatapan pada mereka. "Kau ini kenapa?" "Disini terlalu ramai." Sean memutar bolamatanya malas, tentu saja disini ramai apa dia pikir mereka akan bekerja dipemakaman? begitu? "Tidak ada yang akan memakanmu." "Tapi tapi-" "Ayo!" Tori bergegas kembali mengekori Sean yang melangkah lebar memasuki sebuah ruangan, dimana Bram dan Helen sudah menunggu pria itu. "Selamat pagi, Sean!" "Selamat pagi." "E-itu." Helen membungkan mulutnya saat Sean meliriknya dengan tajam, Bram menghela nafasnya juga menyadari gadis yang sedang mereka bicarakan adalah perempun yang kini tersenyum kearah mereka. "Ini Asisten baruku." "Hai! Namaku Victoria kalian bisa memanggilku Tori. Mohon kerja samanya!" Helen dan Bram mengangguk canggung sebelum memutuskan untuk ikut memperkenalkan diri dan memberi perempuan itu sedikit ruang untuk beradaptasi diantara mereka. "Aku Bram dan ini Asistenku Helen." "Hai Tori!" "Hai!" "Well, cukup untuk perkenalan dirinya. Kita kembali bekerja, apa jadwalku?" Tori mendengus kesal namun ia lebih memilih untuk tetap bungkam sebelum Sean benar benar menendangnya dari sini. "Baiklah hari ini kita ada sesi pemotretan di-" "Sean My buddy!" Suara itu membuat mereka tersentak dan menoleh bersamaan kearah pintu yang terbuka lebar, dimana seorang pria dengan rambut cepak dan celana sobek sobeknya melenggang santai memasuki ruangan. Tori melompat dengan instingnya kebalik tubuh Sean yang mendelik kesal seraya menepis jemari yang mencengkram ujung lengan bajunya. "Tori!" Tori meringis, mundur selangkah berusaha menghindari tatapan peringatan Sean hang berdecak malas lalu menoleh kearah gitaris gila yang entah bagaimana menjadi teman dekatnya itu. "Ada apa Jules?" Pria itu tidak menanggapi pertanyaan Sean, kedua matanya masih terpaku pada perempuan dibelakang punggung Sean. "Kau kenapa? Kau melihatku seperti kau melihat hantu." Sean menghembuskan nafasnya kasar seraya mendorong kepala Tori yang kembali beringsut menempel padanya dengan jari telunjuk. "Abaikan dia, apa yang kau lakukan disini?" Jules mengedikkan bahunya dengan kedua tangan yang ia sembunyikan dalam saku celana. "Aku hanya ingin mengingatkanmu untuk kepesta ulang tahun Kendra." "Aku ingat." "Bagus, aku tidak ingin dia menangis karna teman paling membosankannya tidak hadir!" "Jules!" Jules tertawa kecil dan sekali lagi melempar tatapan penasaran kearah Tori yang terlihat tidak begitu nyaman dengan kehadirannya. "Okey, aku akan pergi tapi setelah aku tahu siapa orang disana." Jules mengedikkan dagunya kearah Tori, Sean mendengus kesal menarik lengan baju Tori agar berdiri disampingnya. "Sean-" "Ini, Tori. Asisten baruku, sekarang kau boleh pergi." Jules memutar bola matanya malas sebelum kembali menyimpan perhatiannya pada Tori. "Hai, Tori! Aku Jules gitaris The-" "Jules, aku bilang kau boleh pergi." "Tapi-" "Sekarang juga!" "Baiklah, baiklah! Aku pergi, kau memang selalu kejam padaku Sean!" Sean mengibaskan tangannya, Julas yang berniat beranjak dari sana kembalj melemparkan ujaran menggodanya. "Ah, senang berkenalan denganmu Tori!" Tori hanya mengangguk kaku membuat Sean mendesah gusar, jika Tori terus seperti ini akan sangat merepotkan untuk kedepannya. "Bisakah kau bersikap biasa saja?" Tori menekuk wajahnya, bibirnya terbuka ingin melayangkan protes sebelum Sean menyelanya. "Kalau kau tidak becus aku bisa meninggalkanmu dijalan saat pulang nanti." "Sean." Pria itu kembal mengibaskan tangannya dengan jengah seraya menghempaskan tubuhnya ke sofa. "Ambilkan aku air." "Siap." "Tori, airnya ada di pendingin diruangan seblah kanan." "Terima kasih, Helan!" Tori tersenyum kearah Helen sebelum bergegas mengambilkan apa yang Sean inginkan. "Kau baik baik saja dengan asistenmu, Sean?" Sean menatap Bram dengan tajam sebelum menghela nafasnya, merasa ia benar benar akan gila sebentar lagi. "Abaikan saja dia, perempuan itu memang sedikit aneh." "Sedikit?" "Tidak, tidak! Maksudku dia sangat aneh." Ralat Sean, Bram dan Helen saling melemparkan tatapan bingung. "Aku tidak mengerti." Gumam gadis itu seraya memperbaiki letak kaca matanya yang merosot dari pangkal hidungnya. "Oh, yah!" Helen dan Bram kembali menatap Sean dengan tatapan penuh tanda tanya nya. "Kenapa Sean?" "Aku ingin kalian membantuku." "Apa yang harus kami lakukan Sean?" Sean mendesah gusar, sepertinya memang memilih Tori sebagai asistennya bukanlah pilihan yang bagus. "Aku mungkin akan memohon bantuan kalian tentang Tori untuk kedepannya." "Kau tidak perlu memikirkan itu." "Well, asal kau tahu jika Tori bahkan tidak tahu banyak soal selebriti." "Apa maksudmu, Sean?" "Aku benar benar tidak mengerti." Helen dan Bram saling melempar tatapan bingung, Sean lagi lagi menghela nafasnya dengan berat. "Kalian juga akan mengerti." "Tapi kenapa-" "Tori bahkan tidak tahu sia aku." "w-what!?" "Tidak mungkin-" "Ck, kenapa lama sekali?" Sean berdecak kesal detik berikutnya yang terdengar hanya jeritan kencang dari arah ruangan dimana Tori menghilang. Brengsek! ** Tori menunduk dengan bibir mengurucut mendapat tatapan tajam penuh peringatan Sean saat ia ingin bergerak dari tempat duduknya. Bagaimanapun! Tori tidak berencana membuat Sean kembali mengulang sesi kuliahnya saat mengomeli Tori yang membuat keributan kecil dengan perempuan aneh yang tiba tiba mencari masalah dengannya. Mencebikkan bibirnya, tidak menyangkal jika Sean terlihat begitu tampan dan panas dibawah kilauan blitz kamera meskipun tatapan tajam pria itu masih diam diam menghujam nya tanpa perasaan. "Coffe?" Tori menoleh tersenyum lebar saat Helen mengulurkan satu Cup kopi yang masih panas ditangannya. "Terima kasih." Gadis itu ikut tersenyum sebelum ikut duduk disamping Tori yang sejak tadi tidak boleh melakukan gerakan tidak berarti tanpa seizin Sean. "Sebenarnya apa yang terjadi ?" Tori memutar bola matanya malas sebelum menyesap kopinya dengan pelan. "Perempuan itu entah datang dari mana dan mulai banyak bicara jadi aku menyiramnya dengan air, aku pikir dia akan berhenti bicara tapi dia malah menjerit seperti orang kesetanan!" Helen tertawa kecil mendengar ucapan santai Tori yang entah bagaimana terlihat menggemaskan dimatanya. Helen pikir Tori adalah salah satu Asisten seperti Rowena, perempuan yang sejak pertama kali mengganggu Helen saat bekerja dengan Bram dan membuatnya hanya bisa terdiam dan memilih mengalah bagaimanapun Rowena adalah Asisten Sarah salah satu Top model yang diagungkan agungkan di Agensi ini dan memulai debutnya nyaris bersamaan dengan Sean. "Itu hebat, aku bahkan tidak pernah punya kesempatan melakukan itu." Tori menatap Helen yang memperbaiki letak kacamatanya. "Memang sudah berapa lama kau bekerja dengan Bram dan Sean?" "Mungkin sudah 5 tahun?" Tori menganggukkan kepalanya pelan, tidak mengira Helen ternyata sudah cukup lama bekerja ditempat seperti ini. "Kau beruntung bekerja dengan Bram yang sabar dan baik hati! Benar benar berbeda dengan Sean yang menyebalkan!" Gumam Tori, Helen tertawa kecil seraya memperbaiki letak kacamatanya. "Sean memang suka memerintah tapi dia orang yang sangat baik." Tori menatap Helen yang menatap Sean dengan tatapan kagum namun bukan jenis tatapan yang membuat Tori akan berlari dan segera bersembunyi. "Tapi tetap saja dia menyebalkan! Dia juga pemarah, suka memerintah, cerewet dan bahkan selalu mengancamku!." "K-kenapa kau bilang seperti itu?" Tori mengerutkan keningnya melihat Helen yang duduk gelisah ditempatnya, menyesap kopinya yang masih panas dengan perlahan sebelum suara berat itu memenuhi telinganya. "Jadi aku ini menyebalkan, pemarah, suka memerintah, cerewet dan suka mengancam?" Detik berikutnya Tori menyemburkan kopi dimulutnya dengan mata membulat, menyadari noda yang begitu kontras memenuhi pakaian berwarna putih pria yang kini berdiri kaku tepat dihadapannya. Menelan ludah susah payah, mengangkat wajahnya takut takut saat menemukan teror mengerikan yang menyambutnya ganas dengan geraman rendah dan tatapan tajam membunuhnya. "Sean?" "TORI!" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN