Theo menatap dirinya dalam pantulan kaca di depannya yang menampilkan tubuhnya dalam balutan baju kerajaan berwarna putih terang, dibantu dengan beberapa pelayan perempuan yang memakaikannnya baju lambang kebesarannya bagi kerajaan eropa tersebut.
Seorang pria yang baru saja melangkah masuk kedalam peraduan milik Raja itu segera menunduk hormat saat melihat Theo yang tepat berdiri didepannya, membelakanginya dan hanya meliriknya sekilas.
"Ada apa Zack ?" Para pelayan perempuan segera menyingkir dari sana saat sang-Raja memberi arahan untuk segera keluar dari peraduannya setelah semuanya selesai memasangkan pakaian padanya.
Zack adalah pengawal pribadinya yang selalu berada di sisinya atau tepatnya satu - satunya pria dalam kerajaan yang tak akan melakukan politik licik dalam kerajaan untuk mencuranginya, meskipun pada dasarnya pria itu memang tidak memiliki hal sebesar itu untuk ikut dalam berpolitik. Tetapi, tetap saja Zack adalah seperti kunci kedua untuk membuka atau menjatuhkan Theo dikarenakan hampir di setiap langkah dan apa yang di lakukannya, pasti Theo akan memberi tahu pengawal pribadinya tersebut.
"Yang Mulia sepertinya anda harus menunda jamuan makan pagi anda. Perdana Menteri Wuliox datang untuk bertemu anda. Sepertinya ada hal yang mendesak." Lapor Zack membuat Theo membalikan badannya dengan kening yang berkerut dan dengan segera pengawal pribadinya itu menundukan kepalanya tidak berani menatap langsung wajah dari junjungan tertingginya itu.
"Apa ada masalah dengan perpajakan dari kerajaan lain ?" Perdana Mentrei Wuliox adalah pria yang bergelut pada bidang perpajakan yang mengambil tiap tahunnya pemasukan dari kerajaan - kerajaan yang telah berhasil di taklukan dalam peperangan, mereka akan membayar pajak sebagai bentuk patuh dan hormat pada kerajaan yang kini berada di struktur tertinggi dan membawahi mereka.
"Kerajaan di bagian Utara sepertinya tidak dapat membayar pajak pada tahun ini." Dan saat itu juga tatapan mata orange itu menyipit tajam, seolah memperingati orang - orang yang melihatnya bahwa situasi ini tidak mendukung.
Tidak membayar pajak pada kerajaan yang telah nerhasil di taklukan olehnya berarti memberontak dan tidak patuh yang berarti mereka harus bersiap untuk diratakan atau di hanguskan demi membangun pemerintahan baru yang dapat patuh padanya.
"Mari kita dengar apa alasan mereka tidak ingin membayar pajak padaku untuk tahun ini." Ucapnya lalu segera berjaln keluar dari peraduannya di ikuti dengan pengawla prinadinya di belakang.
Sophia yang baru saja menyelesaikan semua pemasangan gaun pada tubuhnya itu sedang sibuk mematut rambut cokelat bergelombang miliknya agar terlihat lebih menarik di depan kaca.
Hingga pelayan pribadi miliknya, Mirna datang menghampirinya dengan sedikit tergesa - gesa bahkan langkah kaki pelayannya itu terdengar sangat mengganggu dirinya karena suara yang di timbulkannya.
Melihat Mirna datang dengan tergesa - gesa membuatnya melirik kesal pelayannya tersebut, sebelum kembali mematut dirinya pada kaca di depannya. "Ada apa ? Kenapa kau sangat terburu - buru ?"
"Maafkan hamba Duchess. Hanya saja hamba membawa berita untuk anda." Lapornya yang berhasil membuat Sophia berhenti mematut dirinya depan kaca lalu segera berbalik menatapnya.
Dengan kening yang berkerut Sophia menatap pelayannya yang sedang tersenyum padannya, membuatnya semakin bingung. "Berita apa ?"
"Anda akan senang mendengarnya." Balas Mirna membuat majikannya itu mulai tak sabaran saat dirinya terus mengulur - ulur waktu. "Katakan cepat !"
"Hanya anda yang akan kembali melakukan jamuan makan pagi ini bersama Yang Mulia Raja. Sementara Duchess Ellia harus menunggu gilirannya lagi."
Saat pelayannya telah menyampaikan keseluruhan pesan yang katanya akan membahagiakan Sophia setelah mendengarnya, benar saja Sophia langsung tertawa dengan menutup mulutnya melalui sebelah tangannya dan sebelahnya lagi yang sibuk memegang perutnya itu. Terlihat bahagia.
"Apa sepupuku yang malang itu sudah kalah bahkan sebelum Yang Mulia melihatnya ?" Ejeknya membuat Mirna ikut tersenyum mendengarnya. Bagaimanapun kebahagiaan dari majikannya merupakan kebahagiaan yang di perolehnya juga sebagai pelayan yang melayaninya.
"Sudah kubilang bukan Mirna, raja hanya akan melihatku. Mungkin Yang Mulia Raja terlihat dingin semalam hanya karena dirinya gugup bertemu denganku." Sambungnya dengan sombong lalu kembali berbalik menatap kaca di depannya dengan dagu yang lebih mendongak naik dan bibirnya yang terus tersenyum.
"Apa dia sudah di beritahu bahwa Yang Mulia hanya ingin kembali bertemu denganku ?" Tanyanya lagi pada pelayan pribadinya tersebut membuat Mirna tersenyum dengan menundukan kepalanya.
"Saya pikir pelayan utusan istana baru saja akan pergi memberitauhnya. Mereka datang pada anda lebih dahulu untuk memberi informasi bahwa anda sudah harus segera bersiap - siap Duchess."
Langsung saja senyum sinis tersungging di bibir merona miliknya tersebut bersamaan dengan kilat di kedua bola matanya yang terlihat "Sudah kubilang padanya semalam bahwa aku yang akan menjadi pilihan Raja. Tetapi, dia malah mengejekku di depan para pelayan istana. Sekarang lihat apa yang kuucapkan benar bukan. Bersiaplah untuk segera pulang." Desisnya saat mengingat kelakuan sepupunya yang semalam, dirinya ingin mempermalukannya itu justru malah berbalik mempermalukannya dirinya sendiri , membuatnya kehilangan muka untuk kedua kalinya di depan para pelayan istana.
"Ellia kau harus buru - buru. Tidak ada waktu lagi untuk bersantai." Aria membantu Ellia berdiri dari bak mandi yang beraroma lavender itu dengan lembut tetapi tidak mengurungkan kegesitannya.
Sedangkan Ellia yang melihat kepanikan dari pelayan ibundanya itu hanya memasang senyumannya sebelum dengan lembut berkata "Jangan terlalu panik, bibi. Pelan - pelan saja." Mendengar ucapan yang di keluarkan oleh majikannya membuat Aria menghela nafas dengan pelan, sebelum kembali sibuk mengangkat gaun yang akan di pakai oleh gadis manis yang masih saja tersenyum menenangkan itu.
"Bagaimana aku bisa pelan - pelan saja jika kau harus bersiap lebih cepat dari Yang Mulia. Martabatmu di pertaruhkan." Tegasnya lalu melangkah mendekati puteri majikannya itu dengan gaun berwarna emas di kedua tangannya, sama dengan gaun semalam yang gagal di pakai oleh Ellia.
Aria sibuk membantu Ellia memakai gaun tersebut dengan kepalanya yang terus berteriak untuk mengejar waktu, agar pemimpin dari kerajaan eropa tidak mendahului mereka atau bahkan membuat pria tersebut menunggu kedatangan mereka.
Saat semua persiapan Ellia telah teratur dengan baik suara ketukan pada pintu peraduan berbunyi membuat Aria menatap Ellia dari belakang tubuh gadis tersebut sebelum kembali dengan gesit mengikat tali gaun bagian terakhir pada bagian punggung "Sepertinya para pelayan istana sudah datang menjemputmu. Aku akan membuka pintu, tunggu disini." Ucapnya sebelum berlalu dengan cepat menuju pintu dari peraduan yang di tempati oleh puteri majikannya tersebut.
Aria menunduk sesaat setelah menatap pelayan di depannya yang juga melakukan hal sama dengannya saling menghormati, lalu kembali mendongak saling melempar tatapan. "Duchess Ellia telah bersiap untuk menuju jamuan makan pagi bersama Yang Mulia Raja." Ucap Aria pertama membuat pelayan istana yang hanya datang sendirian menjemput mereka itu tersenyum.
"Maaf. Tapi Yang Mulia Raja Theo memerintahkan Duchess Ellia agar menunggu sedikit lagi."
Mendengar ucapan tersebut membuat Aria mengkerutkan keningnya. Apa yang di maksudkan dengan menyuruh Ellia menunggu sedikit lagi ? Apa maksudnya itu ialah waktu jamuan makan pagi ini di undur ? Tapi, jika begitu apakah Raja Theo berarti akan melewatkan jamuan paginya untuk hari ini ?
Dengan kebingungan yang kentara pelayan setengah baya dari keluarga Selomitha kembali membuka suaranya bertanya "Apa Yang Mulia tidak akan melakukan jamuan makan paginya ?"
"Bukan seperti itu. Tetapi, untuk jamuan makan pagi ini Yang Mulia hanya ingin melakukannya bersama Duchess Sophia. Sementara Duchess Ellia di perintahkan untuk kembali menunggu gilirannya."
Mendengar itu membuat Aria terdiam tercengang. Perasaan tak enak dan rasa bersalah yang entah kenapa muncul dalam dirinya membuat Aria tidak ingin menyampaikan pesan tersebut pada majikan mudanya yang masih menunggu dengan tenang di dalam peraduan.
"Menunggu giliran ? Maksudnya Duchess Ellia tidak akan bertemu Yang Mulia Raja lagi tetapi, hanya Duchess Sophia saja ?" Beonya yang langsung dia angguki "Benar."
Dan setelah ucapn itu Aria tidak dapat berpikir dengan jernih terlebih saat perasaan iba yang mulai menggerogotinya. Entah kesalahan apa yang di lakukan oleh majikannya itu hingga Yang Mulia tidak ingin bertemu dengannya bahkan sebelum mereka saling bertatap wajah untuk sedetik saja.
"Kalau begitu saya permisi. Tolong sampaikan pada Duchess Ellia." Pamit sang pelayan istana yang hanya di anggukan oleh Aria dengan perasaanya yang tak menentu.
Sesaat saat Aria baru saja akan berbalik masuk kedalam ruang peristrahatan Ellia dirinya kembali berhenti saat melihat gadis yang datang bersama majikannya itu kini melintas di depannya, membuatnya mau tak mau harus berhenti dan mulai menunduk memberi hormat.
Sementara itu Sophia yang melihat pelayan dari sepupunya Ellia sedang berada di luar peraduan dan kini memberinya penghormatan itu, membuatnya melangkah dengan anggun berjalan mendekati wanita tua tersebut dengan senyum licik di bibirnya.
"Aria." Panggilnya membuat yang di panggil meliriknya sebentar sebelum kembali menundukan kepala patuh "Ya Duchess."
"Sedang apa kau disini ? Apa kau sedang menunggu para pelayan istana datang untuk menjemput Ellia ?" Tanya Sophia yang justru membuat Aria kebingungan untuk menjawabnya.
Aria susah lama mengabdi pada keluarga bangsawan Selomitha khususnya pada keluarga Ellia. Jadi dirinya tahu bahwa sepupu dekat dari majikannya ini tengah mencoba menurunkan martabat dari puteri majikannya sendiri.
Gadis di depannya ini memiliki sifat ego yang tinggi dan penuh kedengkian atau tepatnya tidak ingin di kalah. Sophia terlalu menumpuk kedengkiannya pada Ellia yang selalu di lihatnya sebagai saingannya dalam keluarga bangsawan Selomitha untuk mencuri perhatian yang memang sedari kecil berhasil di dapatkan oleh Ellia sendiri. Entah melalui kebakatan yang di milikinya atau melalui sikap dan perilakunya.
Jadi saat Sophia kembali melihat sepupunya itu juga berhasil maju dalam seleksi untuk menjadi ratu dari kerajaan, dirinya menjadikan Ellia jauh berkali - kali lipat sebagai saingannya yang benar - benar harus di kalahkannya.
Jangan tanya pada Aria bagaimana dirinya tahu itu semua. Justru orang yang memiliki peran yang tidak berarti yang justru telah melihat lebih banyak hal.
"Kurasa pelayan istana telah memberitahumu." Suara milik Sophia kembali masuk kedalam indera pendengarannya membuat Aria hanya terdiam dengan kebingungan dan persiapan pasokan jawaban yang dikiranya pas untuk dikatakannya, jika gadis di depannya ini kembali mengajukan pertanyaan yang akan membuat majikannya terlihat rendah.
"Tolong hibur sepupuku itu Aria. Aku tidak ingin dia bersedih karena ini. Terlebih saat dengan lugasnya dia berbicara sembarangan di depan para pelayan istana semalam. Dia pasti sangat malu. Dia tidak terlihat seperti perempuan bodoh kau tahu." Suara simpati yang di buat - buat oleh Sophia dengan berbagai kata - kata sindirian itu mampu membuat Aria memejamkan matanya, mencoba menahan diri dari mulut anak muda di depannya.
Jika saja dirinya berada di status dan tingkat yang sama pada Sophia ataukah jika saja Ellia bukan bagian dari bangsawan Selomitha melainakn bangsawan lainnya, pasti Aria tidak akan menahan diri untuk menampar mulut merona di depannya ini.
Sayangnya itu tidak bisa terjadi. Jika dirinya berani melakukan hal tersebut justru dirinya yang akan dicap sebagai penghianat dari keluarga bangsawan Selomitha karena tidak mematuhi keluarga majikannya sendiri, yang berarti mau tidak mau Ellia juga harus menganggapnya sebagai penghianat dan tidak akan bisa kembali menemani majikannya yang bisa dibilang besar di tangannya itu.
"Bagaimanapun Ellia pasti sudah dapat belajar sesuatu pagi ini dan pastinya akan memikirkan kembali ucapan sombongnya itu. Kalau begitu aku akan pergi duku, Yang Mulia pasti sudah menunggu." Ocehan itu menjadi kalimat terakhir yang di keluarkan oleh Sophia sebelum bersiap beranjak dari sana hingga pintu peraduan di belakang Aria terbuka, menampakan Ellia yang berjalan keluar dari dalam.