T&E~3

1783 Kata
Ellia menutup bukunya saat melihat Aria keluar dari dalam tempat permandian yang akan dimasukinya, untuk berbersih diri setelah semuanya telah dipersiapkan oleh pelayannya tersebut. "Ellia, sekarang kau sudah bisa masuk. Kita harus bergegas, sebentar lagi akan diadakan makan malam kerajaan." panggil pelayan berusia paruh baya tersebut yang satu - satunya berada di dalam kamar bersamanya yang di berikan oleh pihak kerajaan, tempatnya beristrahat selama berada di istana. Meletakan buku yang bercerita mengenai kehidupan seorang penjelajah dunia terkenal atau lebih dikenal dengan sebutan judul buku 'feet that take you around the world'. Ellia baru saja membelinya beberapa hari dan membawa buku tersebut ke istana sebagai satu - satunya buku yang hanya mejadi pilihannya. Sebenarnya, pihak kerajaan tidak membatasi membawa hal pribadi yang akan dibutuhkan olehnya selama divkerajaan, hanya saja membawa banyak barang semenatara dirinya hanya akan sebentar disini membuatnya memilih untuk tidak repot nantinya atau tepatnya merepotkan Aria yang berstatus sebagai pelayannya. Ellia membuka gaunnya yang dibantu oleh Aria tentu saja, membuat gaun biru laut tersebut terjatuh kebawah mata kakinya sebelum sang pelayan dengan segera mengambil gaun cantik tersebut dan meletakannya di salah satu sofa yang berada di dalam permandian. Ellia masuk kedalam kolam permandian berbentuk segi empat yang didalamnya telah di isi dengan air dan bunga - bunga beserta aroma - aroma yang menyejukan. "Apa kau ingin minum teh Rossela ?" pertanyaan itu keluar bersamaan dengan Aria yang membuka tatanan rambutnya dengan pelan membuat rambut cokelat terang itu terjatuh terurai dengan indah. Teh Rossela sendiri adalah sebuah teh yang terbuat dari sebuah bunga yang disebut bunga Rossela sehingga disebut teh Rossela. Bunga Rossela terbagi menjadi dua, hanya sajayang membedakannya hanya terletak pada warna dan rasanya yang berbeda yaitu, berwarna merah dan berwarna ungu tetapi memiliki khasiat yang sama. Bunga Rossela terdapat di negara Afrika, sehingga teh Rossela sendiri hanya dimiliki oleh kaum bangsawan saja dan sulit untuk ditemukan di pasaran. Ellia menutup matanya, menikmati pijitan dari Aria yang kini memijit kepala dan bahunya sembari membantunya membersihkan tubuhnya. "Tidak apa, bibi. Aku sudah cukup minum teh perjamuan dari Ratu." tolaknya membuat pelayannya tersebut hanya mengangguk mengerti dan kembali fokus membantunya membersihkan tubuhnya diselingi denga pijitan yang membuatnya Rileks. Saat Ellia memutup matanya kilasan beberapa jam lalu mengenai punggung kokoh yang di duganya milik Sang Raja, pemimpin monarki tertinggi itu tiba - tiba saja merayap masuk kedalam kepalanya spontan membuat Ellia menampakan kembali bola mata jayde miliknya. "Bibi." panggilnya pelan membuat bibi Aria yang berada dibelakamg tubuhnya menatapnya dengan kedua tangan miliknya yang masih terus memberishkan tubuh Duchess yang dilayaninya. "Ya ?" "Jika aku tidak di pilih oleh Yang Mulia Raja. Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya ?" Aria mengkerutkan keningnnya mendengar pertanyaan tersebut sembari kembali menggosok sabun berbentuk batangan tersebut ke pundak Ellia kemudian kembali memijitnya. "Bukankah itu berarti kau akan kembali menjadi sekedar puteri babgsawan dari Selomitha. Dan Duchess Sophia akan menjadi Ratu Eropa seperti yang surat kerajaan katakan, dia mencari seorang ratu." "Bukan begitu maksudku bibi." balas Ellia sembari menggigit bibirnya bimbang untuk melanjutkan ucapannya sebelum pada akhirnya memilih untuk melanjutkan ucapannya sendiri. "Apa itu berarti aku tidak akan bertemu dengan Yang Mulia Raja ?" Tertawa kecil mendengar pertanyaan naif tersebut membuat Ellia melirik pelayan setia ibundanya itu. "Jika begitu bagaimana Raja akan menyeleksi kalian berdua jika dia sendiri tidak bertemu dengan kalian ? Jika kau bertanya apakah keputusan mengenai terpilihnya Ratu Eropa hanya dilakukan oleh Raja saja. Bukankah sudah jelas bahwa seluruh pihak kerajaan akan ikut berdiskusi lebih dulu ?" Ellia hanya menghela nafas saat pelayan dari ibundanya itu justru berbalik beranya pada dirinya. Guru takhta ramanya tidak pernah mengajarinya mengenai struktur kerajaan atau tata politik, perempuan tidak perlu mengetahui hal sebanyak itu. Disaat para lelaki berdiskusi mengenai politik para wanita hanya perlu menanggapinya saja dengan sekedarnya itupun jika mereka dipersilahkan. Yang di ajarkan oleh guru tahta ramahnya pada saat berumur 10 tahun ialah bagaimana cara menikmati jamuan teh, cara makan yang benar, cara berjalan yang benar, tertawa yang benar, berucap dengan baik, dan bagaimana cara menanggapi pembicaraan yang memang melibatkan perempuan. Masih banyak hal lainnya yang bahkan terlihat sepele tetapi sangat ditekankan. Tidak ingin memenuhi kepalanya dengan hal yang belum pasti tersebut membuat Ellia kembali merelaksasikan tubuhnya dengan baik, sebelum bertemu dengan Yang Mulia Raja untuk pertama kalinya. "Aku akan mengecek keluar dulu, sepertinya kita kedatangan tamu." ucap Aria, membuat Ellia hanya menganggukan kepalanya lewat tatapan kaca yang memberika izin. Ellia sudah selesai berpakaian dan hanya perlu mengoleskan aroma wewangian yang diberikan oleh ibundanya kembali di tubuhnya. Tepat di area - area yang panas dan seharusnya membuat aroma wewangian tersebut bertahan lama. Gaun berwarna kuning yang tidak terlalu terang itu kembali melekat dengan pas ditubuh mungil miliknya, ibundanya benar - benar tidak tanggung - tanggung memberikannya sebuah gaun untuk penyeleksian di kerajaan ini. Lilin yang menerangi peraduan tempatnya yang temaram itu membuat Ellia terlihat seperti mengenakan sebuah gaun emas yang berkilau dengan elegan dan indah tetapi tidak mencolok. Kali ini dirinya membiarkan rambut cokelat miliknya terurai bergelombang dengan baik, dengan menjepit beberapa bagian dirambut bagian belakangnya. Saat dirinya telah selesai mematut diri dikaca Aria kembali masuk kedalam peraduan miliknya dan menatapnya dengan sebuah senyuman lembut menenangkan tetapi, mata sayu tersebut itu tidak bisa membohongi anak dari majikannya bahwa sesuatu yang kurang baik terjadi. Berjalan mendekati Aria yang hanya menatap dirinya dari atas sampai kebawah sebelum kembali pada bola mata jayde tersebut membuatnya menghela nafas. "Ada apa bibi ? Katakanlah." "Sayang kau begitu cantik dan sudah mempersiapkan diri dengan baik. Tetapi, Yang Mulia Raja memilih untuk jamuan makan malam ini dia hanya akan bertemu dengan Duchess Sophia. Besok pagi baru giliranmu tiba." ucap bibi Aria menjelaskan membuat sedikit rasa kecewa mendobrak perasaannya, terlalu berharap bahwa malam ini dirinya akan dapat bertemu dengan Raja Theo. Menepis sedikit perasaan mencuit itu membuat Ellia kembali tersenyum manis dengan pikiran positif bahwa mungkin Raja Theo ingin bertemu dengan mereka secara sendiri - sendiri saja, lebih pribadi untuk mengenal kepribadian mereka dengan lebih baik. Ellia yakin itu karena Raja Theo sendiri bukanlah seorang pemimpin yang dikenal tidak bijaksana dalam setiap langkah yang di ambilnya terlebih dalam hal keadilan. "Baiklah. Jika Yang Mulia Raja mengatakan bahwa besok giliranku, maka aku akan bertemu dengannya besok." balas Ellia membuat Aria tersenyum menanggapinya sebelum kembali membuka suaranya. "Kalau begitu ayo segera ganti pakaianmu. Bibi akan meminta pelayan untuk menyediakan makan malam untukmu." ucap pelayannya tersebut membuat Ellia berbalik melangkah kembali ke tengah peraduannya untuk melepas gaun serta perhiasan yang telah melekat dengan baik pada tubuhnya itu. "Bagaimana dengan kedua gadis bangsawan tersebut ? Apa mereka sudah berada dalam perjamuan dengan Raja ?" tanya Ratu Merlina pada sesosok pelayan kepercayaanya yang telah lima tahun melayaninya itu, berdiri disampingnya. Ratu Merlina memperhatikan para pelayan kerajaan yang datang ke peraduannya untuk menyediakan makan malam dan sekarang tengah menatanya di atas meja, yang ditempatinya untuk menyantap makanan seperti biasanya jika tidak ada jamuan makan malam kerajaan. "Yang Mulia Raja hanya meminta untuk malam ini agar Duchess Sophia yang menemuinya pada jamuan makan malam pertama, My Queen." jawab sang pelayan membuat sang Ratu yang sedang menatap sajian makanan di atas meja, sontak berbalik dan langsung sedikit mendongak karena dirinya yang duduk dikursi. Melihat bahwa sang Ratu mendongak untuk menatapnya membuat pelayan tersebut langsung menundukan kepalanya dalam - dalam tidak menatap mata ibunda dari pemimpin kerajaan. "Lalu bagaimana dengan Duchess Ellia ?" tanyanya lugas. "Duchess Ellia akan menikmati jamuan makan malamnya di peraduannya sendiri My Queen." kembali mendengar jawaban dari pelayannya tersebut membuatnya berbalik menatap para pelayan yang masih menata makanan dengan hidangan yang berbeda pada meja didepannya. "Tambahkan porsi untuk dua orang. Aku akan melakukan jamuan makan malam bersama Duchess Ellia di peraduanku." ucapnya kepada para pelayan yang langsung di angguki, membuat beberapa pelayan wanita segera berbalik berjalan keluar dari kediaman Ratu Merlina untuk melaksanakan tugas yang diberikan. "Beritahukan pada Duchess Ellia bahwa aku mengundangnya untuk jamuan makan malam di peraduan milikku." "Baik Yang Mulia Ratu." Aria yang baru saja selesai menyimpan dengan baik gaun serta perhiasan yang di pakai oleh Ellia sebelumnya itu, segera kembali berjalan mendekati puteri majikannya dan mulai membantunya untuk mengambil tempat di salah satu meja makan yang memang diperuntukan dalam kamar. Setiap kamar kerajaan memiliki meja makan tersendiri dalam kamar, saat mereka akan menikmati makanan mereka didalam kamar sewaktu - waktu. Karena sangat jarang keluarga kerajaan mengadakan jamuan makan malam bersama, biasanya ruangan jamuan makan malam dipakai jika ada tamu politik yang diundang untuk menikmati jamuan atau jika ada perayaan antara keluarga kerajaan sendiri. Di luar itu hanya Raja saja yang dapat memakainya untuk menikmati makanannya, kecuali jika pemimpin dari kerajaan yang mengundang mereka. Berbeda dengan keluarga bangsawan, para keluarga bangsawan mengharuskan keluarga inti yang berada dalam rumah untuk menikmati makanan mereka dalam satu meja yang sama tanpa terkecuali. Berbeda halnya saat mereka tidak berada di tempat yang sama. "Tunggu sebentar. Bibi akan segera datang bersama pelayan kerajaan untuk jamuan makan malammu." ucap Aria membuat Ellia lagi - lagi tersenyum saja. "Bibi, sementara aku menunggu makanannya datang. Biarkan aku membaca buku." pinta Ellia membuat Aria hanya menghela nafas dan berjalan mendekati meja yang berada di ujung sana yang di khususkan untuk bersantai itu, lalu segera mengambil buku bersampul warna ungu dan kembali memberikannya pada Ellia. "Saat pintu peraduanmu ini diketuk, buku itu sudah harus tidak ada dalam tanganmu saat kau masih duduk di kursi ini." peringat Aria. Melakukan hal lainnya di atas meja makan selain menikmati makanan merupakan hal yang tidak sopan untuk di lakukan para bangsawan. Mereka harus bisa membedakan kegunaan dan fungsi dari semua barang. "Baiklah."ucap Ellia memyanggupi lalu segera membuka buku yang tadinya sempat tertunda untuk dibacanya, saat akan bersiap - siap untuk mandi. Melihat Ellia kembali fokus pada buku ditangannya membuat Aria kembali mengambil kangkah untuk keluar dari peraduan tersebut. Pada saat Aria telah membuka pintu peraduan teraebut dirinya dikagetkan dengan munculnya pelayan kepercayaan dari Ratu Merlina yang bersiap untuk mengetok pintu, membuat Aria langsung saja membungkuk memberi ucapan. Pada dasarnya jika salah seorang pelayan bekerja pada majikannya yang memiliki status lebih tinggi dibanding dengan majikan pelayan lainnya, maka pelayan yang memilik majikan dengan status lebih tinggi tersebut akan mendapatkan ucapan salam seperti bentuk penghormatan dari pelayan yang memiliki majikan dibawah mereka. Dikarenakan pelayan yang kau miliki berarti perwakilan dari dirimu, maka dari itu banyak bangsawan yang mendidik dan memilih - memilih pelayan mereka bukan hanya dari segi kualitas kemampuannya dalam melakukan pekerjaan tetapi, bagaimana kualitas etika yang akan mencerminkan diri majikan mereka. Tetapi, hal tersebut kembali tidak berlaku antar bangsawan dan pelayan. Hanya antara pelayan saja, sementara jika kau berstatus sebagai pelayan dari garis bangsawan apapun kau tetap harus tunduk memberi hormat pada bangsawan lainnya, terlepas dari siapa yang kau layani. "Ada apa gerangan hingga Yang Mulia Ratu mengirimkan anda ?" "Duchess Ellia mendapatkan undangan jamuan makan malam bersama Ratu di peraduannya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN