“Kamu bohong, 'kan?” Aluna mengulang pertanyaannya. Di tempatnya, Bima bergeming seakan membenarkan segala tuduhan yang ditudingkan. Sebenarnya kurang tepat jika ada yang mengatakan bahwa pertanyaan Aluna merupakan sebuah tuduhan. Bukankah kenyataannya memang begitu?
“Lun ....” Bima bersuara, mengahadap muka, mengunci binar mata Aluna yang berubah redup. “Aku nggak bohong. Aku gak bisa bohongin kamu.”
Hilih, tahi kucing. “Lantas?”
Bima menggosok pelan hidungnya sebelum bersuara. “Anaknya ... memang laki-laki.” Dan adiknya perempuan. Bima ingin melanjutkan tapi tenggorokannya seolah tercekat. Alih-alih jujur, Bima malah terbatuk singkat. Kembali melempar atensinya pada putaran film—Disney Mulan—dengan pikiran bercabang.
Akankah kebohongannya saat ini berakhir petaka? Atau semuanya akan berlalu dan terlupakan begitu saja saat pasiennya itu kembali pulih?
Dari pintu masuk, seorang gadis berambut sebahu datang bersama seorang anak berusia sekitar tigabelas tahun, masuk ke dalam ruangan sambil membawa serta beberapa camilan. Aluna menyadarinya, ia tersenyum asimetris seraya melirik Bima.
Begitu pun Bima. Tulang punggungnya mendadak kaku, terlebih gadis itu—Kalista— mengenakan hoodie miliknya yang sempat ia pinjamkan beberapa hari lalu, dan belum dikembalikan sampai saat ini.
Sujud syukur karena wabah corona mewajibkan semua pengunjung mengenakan masker sehingga Bima bisa berkamuflase dengan mudah. Sedikit demi sedikit Bima menunduk, menaikan posisi maskernya lalu mengeluarkan kacamata hitamnya. Orang gila mana yang mengenakan kacamata hitam di tempat seredup seperti ini?
Ah, peduli setan. Suka-suka gue, oy! sorak Bima dalam hati.
Tolong, jangan duduk di belakang. Tolong, tetap di sana. Tolong kasihani aku! Bima memanjatkan doa dalam hati. Sedetik kemudian Kalista duduk di barisan paling depan. Berada cukup jauh darinya. Bima mengusap dadanya, merasa aman. Syukurlah.
Mengembuskan napas lega, Bima memejamkan matanya. Satu masalah berakhir sesuai harapannya. Untuk nanti? Ayo kita berpikir lagi. Bima berusaha berdamai dengan otaknya yang dangkal, memutar ide untuk kebaikan bersama.
Kebaikan bersama? Bahkan bima sangsi dengan kalimat itu.
Sebenarnya bisa saja Bima jujur. Tapi, untuk meminjamkan hoodie—yang merupakan hadiah anniversary dari kekasihnya— kepada gadis lain, Bima sangsi Aluna bisa memaafkannya.
Aluna masih memperhatikan gerak-gerik mencurigakan Bima, lantas tersenyum sinis. Ada sebuah drama seru yang akan ia rancang, semoga Bima tak akan melupakannya sampai mati.
***
Aluna tahu bahwa beberapa menit lagi filmnya akan segera tamat. Lantas ia berdiri, membetulkan rok-nya, membawa satu cup soda. “Ayok, ah. Bosen,” ajaknya pada Bima.
“Ke mana? Film-nya belum tamat.”
“Ah, palingan sebentar lagi udahan.”
Bima membetulkan posisi kacamatanya, melirik kilas Kalista yang anteng di barisan depan. Untung saja Kalista tidak menyadari keberadaannya. Sifat sok kenal sok dekat dari gadis itu—Kalista—bisa membawa petaka bagi kisah cinta Bima. Bisa-bisa Bima gagal kawin hanya karena Kalista menyapanya dan tanpa sengaja membicarakan riwayat penyakit sang ibu dengan panjang lebar.
Lagi pula, untuk apa Kalista enak-enakan menonton movie di bioskop sementara ibunya sekarat di rumah sakit?
Emang dasar sengaja bikin mental gue acak adul! Dewa batin Bima menggerutu. Entah pada siapa.
“Bim, ih!” Aluna memukul pelan bahu Bima yang masih asyik duduk dengan atensi tak karuan. Untung saja tertutup kacamata hitam, sehingga manik matanya tak mudah ditelisik oleh Aluna si ratu jeli.
Jeli dalam mengulik kesalahan orang lain.
Bima terkesiap. “Hem? Iya, mau ke mana?”
“Ke luar yuk,” ajak Aluna enteng, menikmati gurat wajah tersiksa dari sang kekasih. Dasar psikopat.
“Oh ... ya udah a-ayo!” Sekali lagi Bima melirik posisi duduk Kalista. Dengan gusar, Bima berdiri, melangkah mengekori Aluna yang mulai menuruni pijakan satu per satu.
Sialan. Kenapa harus melewati tempat duduk Kalista, sih?
Bima membenarkan posisi masker dan kacamatanya, lantas menundukan wajah, melirik Kalista dari celah bulu mata. Wanita itu terlihat anteng menonton movie, sesekali tertawa bersama anak remaja di sampingnya.
Entah disengaja atau tidak, Aluna tersandung. Satu cup minuman bersodanya tumpah berceceran mengenai baju—hoodie— yang dikenakan Kalista. Praktis Bima terkesiap, menahan pinggang Aluna agar tak jatuh tersungkur.
Semua pasang mata mengalihkan atensi dari putaran film menuju drama realita yang di sutradari oleh Aluna Titania Gamora Santoso, termasuk gadis remaja di samping Kalista.
Kalista berdiri seraya merentangkan kedua tangan, mulutnya menganga, menatap pakaiannya yang tak berbentuk. Atensinya kini teralih pada dua mahluk di hadapannya, bersiap untuk mengumpat.
“Ya ampun, Kakak. Maaf banget.” Aluna menunduk beberapa kali. “Maaf, aku salah. Maaf banget.”
Bima memejamkan mata seraya mundur satu langkah. Riwayatnya habis saat ini juga, saat Kalista memerhatikan wujudnya yang terasa familiar.
Kalista menahan berbagai umpatannya menyadari Aluna yang malah meminta maaf. “Oke. Lain kali hati-hati.”
Sok perhatian, Aluna mengusap hoodie kalista—yang sebenarnya milik Bima—menggunakan saputangan. Sia-sia memang, tapi Aluna tetap ingin melakukannya. “Hoodie-nya bagus banget, Kak. Sekarang jadi kotor gara-gara aku.”
“Iya nggak apa-apa.” Kalista mendorong tangan Aluna pelan. Matanya tetap curi-curi pandang pada seorang pemuda yang ... pura-pura menelpon seseorang?
“Itu calon suamiku, Kak. Namanya Bima.” Aluna masih bersikeras membersihkan hoodie Kalista. Sesaat setelah menyadari arah pandang Kalista —yang jauh lebih tinggi darinya—, Aluna lantas memainkan peran. “Hoodie-nya bagus. Beli di mana, Kak?”
“Pemberian seseorang,” jawabnya Kalista santai, lantas menyeringai.
Pemberian? “Oh, begitu.” Aluna tersenyum memaksakan. “Aku hanya merasa sedikit familiar dengan hoodie ini. Ah, lagi pula pakaian seperti ini memang agak pasaran. Mungkin aku pernah lihat, tapi entah di mana. Lupa,” lanjutnya seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Kalista terkekeh mendengar pengakuan Aluna. “Pacarmu, 'kan?” tanyanya, menunjuk Bima dengan dagunya yang lantas dibalas anggukan oleh Aluna. “Sepertinya aku kenal,” lanjut Kalista. Dipandangnya kedua manik Aluna, menelisiknya hingga dalam.
Saat kedua gadis di hadapannya bersepandang, Bima malah bergidik ngeri, lantas melanjutkan aktingnya. “Gimana, gimana? Iya, whiskas. Ah, jangan dikasih ikan asin melulu, kasihan kucing gue.”
Aluna si pengendali semesta lantas tersenyum asimetris, menatap Bima dan Kalista bergantian.
Sejak kapan Bima punya kucing?
Perang dingin terhenti saat seluruh pengunjung berhamburan menuju pintu keluar. Sekali lagi, Aluna tersenyum seraya mengucapkan kata maaf beberapa kali. Sementara Bima? Ia hanya menganggukan kepala pada Kalista, berharap gadis itu tak mengenalinya walau rasanya mustahil.
Di tempatnya, Kalista tersenyum, menganggukan kepalanya dengan sopan, menatap Aluna yang melambai tangan. Sesaat setelah dua sejoli itu hilang ditelan pintu, senyum manis Kalista luntur, berganti tatapan datar dan tawa asimetris. Ia membuka hoodie yang dikenakannya. “Han, jaket hitam dan kacamata yang tadi mana? Aku mau pakai lagi,” tanyanya pada gadis remaja yang berdiri di sampingnya.
Gadis remaja—Hana—di sampingnya itu membuka ransel, memberikan barang yang dimaksud. “Mau nguntit siapa lagi, Tante?”
***
Bima menggaruk kepala saat mengekori Aluna yang berjalan tanpa tempo. Aluna tak berucap barang sepatahkatapun, yang dilakukan gadis itu hanya menghirup napas dalam, menggeram, menendang apa pun yang menghalangi langkahnya.
“Bisa-bisanya ada kerikil di jalanan!” umpat Aluna membuat Bima semakin meringis.
Bukankah tempat kerikil memang di jalanan?
“Ah, nyesel banget pake heels, pegel kaki gue!” Aluna kembali mengumpat, menendang bebatuan kecil seraya berjalan menyusuri cafe—tempat parkir motor Bima tadi.
Di belakang sana, Bima berusaha meraih pundak Aluna, namun di urungkannya saat lagi-lagi gadis itu mengumpat.
“Kenapa malam harus gelap? Karena gelap kakiku jadi kesandung!” cerocos Aluna seraya menendang kaleng soda.
Bima menghela napas panjang. “Lun ...,” ucapnya pada akhirnya, memasang raut melas saat Aluna menghentikan langkah dan mulai menatapnya garang.
“Apa? Lo mau maki-maki gue?” Aluna bertolak pinggang, melotot ke arah Bima yang malah mundur selangkah.
“B-bukan.” Bima mengibaskan kedua tangannya. Aluna menaikan sebelah alisnya, menunggu Bima kembali bersuara. “A-aku ... cuma mau ... minta maaf kalau ada salah ... ya?” lanjut Bima, meringis di tempatnya.
Aluna tergelak. “Kalau ada salah?”
Bima mengangguk polos. “Iya.”
“Kamu merasa bahwa dirimu tidak bersalah?”
“Bukan begitu!”
“Terus?”
Bima menggosok hidungnya, merasa terpojokan. Dasar Aluna si pengendali semesta—semesta-nya Bima. “Iya, iya. Aku salah.”
“Bagus kalau kamu sadar.” Aluna maju satu langkah, membuat Bima sedikit terjengat. “Apa kesalahan kamu? Coba sebutkan!”
Bima kembali menggaruk kepalanya. “Soal Kalista. Iya. Dia anak dari pasien yang kutangani.”
Alis Aluna bertaut, heran. “Oh ... namanya Kalista.” Gadis itu menelisik manik Bima yang seolah enggan bersepandang dengannya, menghindari tatapannya. “Kamu tadi bilang kalau anaknya laki-laki 'kan?” tanyanya, memutari sosok Bima yang mematung. “Berarti kamu bohong?”
Bima menghela napas berat. Lama-lama sikap Aluna terasa begitu berlebihan baginya. “Iya, anaknya laki-laki ... dan perempuan.”
Alis Aluna terangkat satu. “Oh? ... Oke.”
“Sudah clear berarti, ya?” Bima memastikan kendati masih takut-takut bersitatap dengan kekasihnya.
Kekasih?
Sepertinya panggilan ibu tiri lebih cocok disematkan untuk Aluna ketimbang panggilan 'kekasih'.
“Clear apanya?” Enak saja. Berbuat kesalahan lalu menyudahinya dengan mudah. “Hoodie tadi ... punya kamu 'kan?”
Bima menelan salivanya saking gugup. “Iya, waktu itu pagi-pagi hujan, dan Kalista tidak membawa baju hangat. Jadi aku—”
“Memberikan hoodie dariku untuk Kalista. Begitu? Kalista, Kalista, Kalista, Kali—”
“Ka—eh, Lun!” Bima menutup mulutnya karena keceplosan. Bukan keceplosan, sih, sebenarnya, melainkan ... latah. Iya, latah. Terbawa Aluna yang beberapa kali menyebutkan nama gadis itu.
“Bahkan kamu salah manggil nama aku?” Aluna mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan muka Bima yang langsung ditepis kasar.
“Kamu beberapa kali nyebut nama Kalista, Lun. Aku jadi latah.” Bima membela diri. “Dan aku nggak ngasih hoodie itu buat dia. Aku cuma minjemin. Jangan salah paham!”
“Aku benci kebohongan, ya, Bim!”
Bima mengembuskan napas dengan kasar. Mengusap wajahnya serampangan.
“Kamu jangan membodohi aku terus. Lama-lama kamu nyebelin, ya?” cerocos Aluna membuat sebagian mahluk yang lalu lalang menatap mereka aneh.
Sshh.
Merasa tak sabar, Bima menarik pergelangan tangan Aluna. “Ayo pulang!”
“Nggak!” jawab Aluna tegas, berusaha menepis cengkraman Bima darinya kendati sia-sia.
“Pulang!” Bima bersikukuh menarik Aluna agar mengikutinya.
“Apa sih, kamu? Lepasin!”
“KUBILANG PULANG!”
Aluna mematung di tempat, menatap manik Bima yang masih setajam elang. Entah kenapa rasanya begitu sakit mengetahui kekasih yang begitu dicintainya sudah berani membentaknya.
Mungkin dirinya yang keterlaluan, atau Bima yang terlalu menyepelekan hal kecil? Dari hal kecil itulah bibit-bibit kebohongan besar terbentuk. Kesalahpahaman terjadi, menjadi jembatan kerenggangan di antara dua sejoli.
Bibir Aluna bergetar. Ia melangkah menjauhi Bima yang masih menatapnya garang. “Aku bisa pulang sendiri.”
“Mau ke mana kamu?” tanya Bima seraya menatap punggung Aluna yang bergerak menjauh. “Lun?”
Aluna tak bersuara. Ia berajalan cepat seraya melambai tangan ke setiap kendaraan yang melintas. Sampai menemukan sebuah taksi yang berhenti, buru-buru Aluna berlari menghampiri sebelum Bima bergerak maju mengejarnya. Dengan cepat Aluna membuka pintu dan masuk.
Sialan. Bima kalah cepat karena Aluna sudah memasuki mobil saat ia berdiri tepat di depan pintu yang telah tertutup rapat. “Lun, Buka!” Bima mengetuk kaca mobil beberapa kali kendati Aluna acuh tak acuh.
“Jalan, Pak!”
“Aluna!”
Taksi berlalu, meninggalkan Bima dengan gurat marah tercetak jelas di wajahnya. Tangan Bima terkepal kuat. Andai urat malunya putus, mungkin Bima sudah berteriak keras tanpa memedulikan tatapan aneh mahluk sekitarnya.
Sialan memang.
Sekuat tenaga Aluna menahan airmatanya sebelum menganak sungai, kendati ... usaha itu sia-sia. Pertahanannya runtuh seketika, masalah sekecil itu mampu membuat hubungan keduanya menjadi retak. Kepercayaannya pada Bima sudah tak seutuh dulu.
Aluna terisak pelan. Limapuluh dua hari lagi, atau tidak sama sekali?