"Pernikahan kita kurang dari dua bulan lagi, kan Bim?" Aluna menyesap americano dari balik cup saat mereka menyusuri trotoar jalanan.
Kencan murah yang diidamkan Aluna semenjak dahulu. Menikmati malam di tengah riuhnya kota, berjalan berdua tak tahu arah kendati melupakan motor Bima yang terparkir sembarangan di halaman cafe. Mungkin sejam atau dua jam lagi di bawa kabur begal. Bahkan, kemungkinan lainnya diarak oleh mobil derek?
Aluna tak mau tahu, yang ia butuh hanya quality time bersama sang kekasih yang jarang dilakukannya selama beberapa bulan terakhir ini.
Bima menatap Aluna dalam remangnya cahaya malam, ia tersenyum tipis kendati tak jelas tertangkap optik sang gadis. Gelap malam menghadang pancaran rona sang pria. "Limapuluh dua hari lagi, tepatnya."
Sang gadis mengangguk mengerti, tersenyum manis seolah hubungan keduanya berjalan mulus tanpa hambatan.
Begitulah Aluna. Sebesar apa pun kekecewaan yang ditumpuknya, ia tak bisa membiarkannya sampai berlarut-larut. Mungkin terkadang sifat posesif Aluna membuat Bima sedikit risih, dan Aluna selalu mengatakannya secara gamblang tentang semua hal yang tak ia sukai dari Bima.
Saat seseorang tak suka tentang apa pun yang dilakukan kekasihnya, pilihannya hanya dua. Satu, mengatakan secara langsung bahwa kamu tak menyukainya. Atau dua, melupakannya dan tak menjadikan hal tersebut sebagai masalah. Jangan sampai memendam kekesalan sampai menumpuk di suatu hari. Tidak, Aluna tak mau menjadikannya opsi ke tiga karena ia tak ingin membuat batinnya menanggung beban lebih banyak.
Bahkan tentang hoodie, Aluna memutuskan untuk tak mau tahu. Ia tak siap mendengar hal-hal aneh yang dapat membuat tidur malamnya terganggu.
"Akhir-akhir ini kamu sibuk, ya?" sindir Aluna.
Bima mengangguk pelan. "Iya, aku sering lembur. Maaf, ya."
Lagi-lagi permintaan maaf yang Aluna dengar. "Maaf terus, Bim. Aku bosan mendengarnya."
"Ya maaf, membuatmu bosan." Bima terkekeh, mengacak rambut sang gadis yang terurai.
Aluna merapihkan rambutnya selagi berdecak sebal. "Tuh, maaf lagi."
Bima masih dengan kekehannya. "Iya, maaf."
Ya, Tuhan. Bimasena Gala Arshaka, anaknya ibu Rosmala dan bapak Holil. Aluna menggeram dalam hati. Bima selalu menganggap sepele apa pun ucapan yang keluar dari mulutnya.
Sesaat Bima celingukan ke seluruh penjuru jalanan. Di sana ramai, bahkan saking ramainya sampai-sampai Bima bingung membedakan mana manusia baik, dan mana yang punya rencana jahat.
Sampai ia menangkap sesosok manusia dengan setelan hoodie hitam bertudung, mengenakan masker hitam dan kacamata, membuat sosoknya tidak mudah dikenali. Sosok itu ... seolah mengincar tas selempang Aluna yang sepertinya lupa ditutup, didalam tas tersebut terdapat ponsel yang menyembul terlihat. Mata bima menyipit. Mahluk aneh ini seperti tengah mengincar ponsel Aluna. Iya, Bima berpikir demikian.
"Santoso?" Bima menepuk bahu Aluna, dan tanpa aba-aba menarik tali tas selempang si gadis, hingga Aluna mau tak mau mengikuti langkahnya. "Ikut aku, yuk."
Sialan. Mulai lagi.
"Ke mana?" tanya Aluna yang terhuyung hampir jatuh, kewalahan saat Bima menariknya semakin jauh. Untung saja americano di tangannya masih terselamatkan.
"Masuk BIP, lah. Ngapain jalan-jalan di pinggir trotoar? Pegel kakiku," protes Bima membawa Aluna memasuki area mall.
Saat Aluna mendengkus sebal, Bima celingukan ke arah jalanan yang yang sempat dipijakinya tadi. Lantas bernapas lega karena seseorang mencurigakan itu hilang ditelan jarak.
Aluna yang tak mengerti apa-apa hanya mengikuti arah pandang Bima. "Ada apa, Bim?"
"Nggak apa-apa. Lain kali kalau ke mana-mana hati-hati, ya," jawab Bima, mengelus puncak kepala sang kekasih, kemudian menutup resleting tas Aluna hingga kembali rapat sebelum menggandengnya untuk memasuki mall.
Aluna mengangguk polos, mengikuti gerak tungkai sang kekasih—yang melangkah tak beraturan. Lantas Aluna mengulum senyum saat Bima mengusap jemari tangannya—yang erat dalam genggaman telapak tangan Bima yang cukup besar. Ternyata menyenangkan mengetahui kekasihmu yang sedingin samudera atlantik secara tiba-tiba berubah sehangat kopi jahe. Ah, peribahasa macam apa ini?
"Kita nonton, ya?" tanya Bima, terdengar seperti ajakan. Sang pemuda sedikit menarik Aluna untuk mendominasinya agar turut serta.
"Ke mana?" tanya Aluna tertatih.
"Bioskop, lah. Lantai empat."
"Mau nonton apa, gitu?"
Bima tak menjawab, hanya melangkah mangandeng lengan Aluna memasuki lift bersama dua mahluk asing yang tak dikenalnya. Ia lantas menekan angka empat hingga pintu lift tertutup, membawa dirinya dan si gadis ke tempat tujuan.
Mereka berjalan beriringan mencari gedung bioskop. Aluna tak mau ambil pusing, yang dilakukannya hanya mengekori Bima sambil menyesap americano sesekali. Bersenandung pelan, atau berkaca di depan toko-toko yang ia lewati untuk membetulkan poni rambutnya.
"Akhirnya, eks-eks wan!" celetuk Bima saat berdiri di depan gedung bioskop. Ia nyengir seraya menatap sang kekasih yang ... kok malah dandan?
Si gadis dengan santai berdiri tegak seraya mengoles liptint sambil berkaca, americano-nya ia selipkan di ketiak. Terlihat sangat ribet, membuat Bima berdecak kesal melihatnya. "Oy, Santoso! Ayo masuk!" ajak Bima sekenanya.
"Siap, Holil," balas Aluna enteng, lantas memasukan liptint dan kacanya ke dalam tas untuk bergerak mengikuti tungkai sang kekasih.
"Mohon maaf, Ibu. Makanannya bisa ditaruh di luar dulu? Di sini tidak diperbolehkan membawa makanan dari luar," jelas petugas bioskop yang langsung mengukir gurat malu di wajah Aluna. Bima cekikikan sambil menutup mulutnya, hal itu sukses membuat Aluna menyikut lengan Bima untuk berhenti menertawakannya.
"Baik, Kak. Maaf, ya." Aluna berlalu pergi sambil melengos. Membuang americano yang masih sisa separuh ke dalam tempat sampah. Aluna mengucap berbagai sumpah serapah untuk Bima, juga untuk petugas bioskop tadi. Mereka berdua memnbuatnya malu setengah mati.
Aluna kembali. Bima mengantri tiket tanpa membiarkan Aluna lepas dalam jangkauannya. Ia membawa Aluna agar tetap diam di belakang pantatnya. "Jangan kabur ke mana-mana, ya. Papa cubit kalau kamu kelayapan!" Sungguh, peringatan yang cocok untuk anak enam tahun.
Aluna merotasi kedua bola matanya. "Lebay banget, lu. Dasar Holil!"
"Eh, Santoso. Gak sopan kamu!" Bima menjitak dahi Aluna hingga mengaduh kesakitan. Lantas melangkah maju, memilih kursi mana yang akan didudukinya.
"Aku mau nonton film apa, sih?" Bima bermonolog, yang langsung mendapat cubitan dari Aluna tepat di pinggangnya.
"Aw!" Bima mengusap bekas cubitan tadi seraya meringis.
"Gilak! Lo ngantri film disney!" bisik Aluna, menyikut lengan Bima yang kini menggaruk kepalanya.
Bima nyengir polos. "Emang iya?"
"Menurut lo?"
"Lo?"
"Kakak mau pilih kursi yang mana?" tanya petugas yang sukses membuat Bima dan Aluna saling melempar pandang.
"Pojok kanan atas," sahut Bima dengan mantap. "Iya, kan Sayang?"
"Hem," jawab Aluna kelewat malas.
"Untuk berapa orang, Kak?"
"Dua," sahut Bima, merentangkan dua jemari tangan kanannya. Ia masih mempertahankan cengiran polosnya.
Bima berhasil mendapatkan dua tiket 'Disney Mulan'. Ia berjalan santai setelah membeli dua wadah popcorn dan dua cup soda dingin. Lantas kembali duduk di ruang tunggu, tepat di depan pintu teater enam.
"Kencan yang sempurna, ya?" celetuk Bima seringan kapas, seolah tak peduli dengan ekspresi Aluna yang sudah ditekuk sejak beberapa menit lalu. "Kok kamu cemberut?"
Bima menaruh barang bawaannya di atas meja kemudian duduk santai di samping Aluna-yang mengubah posisi duduknya, jadi menyerong membelakangi Bima. "Mbak Bulan marah, nih," goda Bima seraya mencolek pinggang sang gadis.
"Siapa yang marah?" Aluna mengelak, menepis tangan Bima.
"Malu, lho. Dilihatin banyak orang!" bisik Bima tepat di samping rungu sang gadis, matanya menatap setiap mahluk yang berada satu ruangan dengannya. "Tuh, mereka sedang ghibahin kamu," lanjutnya seraya cekikikan.
"Bim ...."
"Hem."
Aluna berbalik, menatap mata Bima yang masih usil. "Bisa nggak kamu serius?"
"Bisa."
Ssshh ... "Bim ...."
Air muka Bima berubah, lantas menegakan tulang punggungnya seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Oke. Maaf, ya."
Lagi-lagi maaf.
Pintu teater dibuka, pengumumannya menggema dari balik pengeras suara. Lantas Bima berdiri tegap, tak lupa membawa serta dua wadah popcorn dan soda dinginnya dalam dekapan. Bima mendengkus saat menatap punggung Aluna yang berjalan mendahuluinya. Sialan memang gadis itu. Bisanya hanya berkomentar, mengeluh, dan ingin menang sendiri. Kadang Bima kesal, tapi ia terlalu sayang, sampai-sampai tak ingin ada perdebatan di antara keduanya. Bima selalu memilih untuk diam dan menyembunyikan seluruh luka untuk dirinya sendiri.
Sekali lagi, resiko bucin.
"Sayang, tungguin, dong!" Bima setengah berlari mengejar gadisnya.
"Makanya kalau jalan yang cepat!" sahut Aluna tanpa menoleh barang sedetik pun.
Bima berdecak, merotasi kedua bola matanya saat Aluna berhenti untuk menunjukan tiketnya pada petugas bioskop. Ia lantas mengekori sang gadis kemudian duduk bersisian di pojok kanan atas, seperti pintanya tadi.
Masih sibuk dengan dua wadah popcorn yang kini disimpannya di sisi kursi, juga dua cup soda dingin yang masih bertengger di tangannya. "Nih, punya kamu satu." Satu cup soda dingin disodorkannya untuk Aluna. Aluna mengambilnya, menyeruput minumanya pelan tanpa mengucapkan terimakasih.
Lagi-lagi Bima mendengkus. Sungguh, Bima yang malang.
"Sama-sama, Sayang," sindir Bima dengan nada mengejek, lantas menyandarkan punggungnya di balik kursi seraya menyeruput soda.
Aluna melirik Bima acuh. "Sindir terus."
Lampu teater mati, menyisakan cahaya hanya dari film yang diputar. Bima menyeringai di tempatnya. "Syukurlah, wajah bruntusan gue jadi nggak kelihatan," celetuknya seraya menyimpan cup soda ke dalam wadah.
"Apa, sih norak banget."
"Mukaku bruntusan, 'kan, Lun?" tanya Bima, melempar wajah menatap Aluna. "Nih, di pipi kiri merah-merah. Kelihatan, nggak?" Jari telunjuk kanannya menunjuk pipi-yang kalau menurut kebanyakan manusia waras terbilang baik-baik saja.
"Nggak terlalu kelihatan, kok," jawab Aluna, tak mau terlalu menanggapi.
"Beneran? Padahal aku lupa ngurusin wajah semenjak operasi tiga hari ke belakang. Aku jadi sibuk," ucapnya.
Mendengar kata sibuk, juga operasi, membuat mood baik Aluna seketika ambyar berganti kepulan kebencian. Ia benci kesibukan Bima, terlebih gadis rambut sebahu yang membuatnya hangus dilalap api cemburu.
"Pasien kamu ... gimana kondisinya sekarang?" tanya Aluna, yang sudah tak bisa membendung rasa penasarannya lagi.
"Pasien aku yang mana?" tanya Bima Alih-alih menjawab.
"Yang waktu itu kamu batalin janji kamu, sore-sore. Hari apa itu? Aku lupa."
"Oh ... Ibu Hartati?" tanya Bima entah untuk Aluna, atau dirinya memang sedang bermonolog. "Dia amputasi setengah betis, Lun. Luka pasca operasinya kurang bagus juga, masih banyak nanah keluar dari lubang jahitannya."
"Terus, kamu sering ke sana?"
Bima tampak bergeming sesaat sebelum kembali bersuara. "Dulu ... iya, karena aku ditugaskan home care. Sekarang Bu Hartati-nya dirawat di ruang ICU, dan pihak keluarganya meminta agar aku saja yang merawatnya," jelas Bima. Sejauh ini jawabannya terbilang aman, dan Aluna tak menemukan setitik debu pun kebohongan di baliknya. Apa yang Aluna dengar barusan, sama persis dengan informasi yang ia gali dari berbagai sumber.
"Keluarganya siapa? Anaknya atau ... suaminya, atau siapanya?" pancing Aluna, membuat gurat gusar di balik wajah Bima yang untungnya tertutup oleh gelapnya suasana.
"Bu Hartati janda, Lun."
Aluna mengambil cup soda, menyesapnya perlahan. "Berarti anaknya? Atau siapanya?"
"Iya, anaknya."
"Anaknya perempuan atau laki-laki?" Aluna tak ingin berhenti. Ia ingin tahu, apakah Bima akan berbicara jujur tentang hal ini atau justru menyembunyikannya.
Kita lihat.
"Laki-laki," jawab Bima seraya memalingkan wajah menghadap putaran film yang yang sedang berlangsung. Di tempatnya, Aluna mengatur detak jantungnya yang bertalu-talu tak karuan, sampai ingin mengacak seluruh gedung bioskop sebagai target kemarahannya saat ini. Untuk apa Bima menyembunyikan fakta tentang anak gadis seorang pasien?
"Kamu bohong."