Episode 18 | Kisses

1897 Kata

Keping demi keping bayangan masa lalu mendesak memenuhi memori Yudistira. Ia termenung di balik meja bar mini apartemennya, duduk menyamping menghadap jendela kaca, menatap luasnya cakrawala. Bima sudah angkat kaki beberapa menit yang lalu, setelah perdebatan panjang yang berpuncak pada ingatan sejarah hidup yang ingin ia hapuskan. Bima mengungkitnya, menyentil sebuah kisah yang sudah ia simpan rapat-rapat dalam berkas masa lalu. Bisakah ia mencintai wanita lain? Sungguh, ia sedang berusaha melakukan itu. Beberapa kali Yudistira mengencani wanita kendati berujung mogok di tengah jalan. Mereka—para wanita itu—mengatakan bahwa Yudistira merupakan lelaki pemberi harapan palsu, playboy, anti berkomitmen. Beberapa kali berakhir tamparan, beberapa kali berakhir cemoohan. Bahkan, beberapa di an

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN