Keping demi keping bayangan masa lalu mendesak memenuhi memori Yudistira. Ia termenung di balik meja bar mini apartemennya, duduk menyamping menghadap jendela kaca, menatap luasnya cakrawala. Bima sudah angkat kaki beberapa menit yang lalu, setelah perdebatan panjang yang berpuncak pada ingatan sejarah hidup yang ingin ia hapuskan. Bima mengungkitnya, menyentil sebuah kisah yang sudah ia simpan rapat-rapat dalam berkas masa lalu. Bisakah ia mencintai wanita lain? Sungguh, ia sedang berusaha melakukan itu. Beberapa kali Yudistira mengencani wanita kendati berujung mogok di tengah jalan. Mereka—para wanita itu—mengatakan bahwa Yudistira merupakan lelaki pemberi harapan palsu, playboy, anti berkomitmen. Beberapa kali berakhir tamparan, beberapa kali berakhir cemoohan. Bahkan, beberapa di an

