“Katanya kamu mau sate ayam bumbu kacang.”
Bima nyengir di ambang pintu. Rela datang pukul sepuluh malam demi memenuhi permintaan kekasihnya. Ia menyodorkan satu kantong kresek kecil berisi sate ayam Mas Mulyo yang selalu mangkal di pertigaan komplek. “Ambil, dong. Aku udah bela-belain datang ke sini demi memenuhi permintaan kamu.”
Aluna mengambil kantong kresek itu dengan perasaan sedikit dongkol. Kejadian siang tadi membuat mood-nya berubah buruk. Itu lipstik siapa? Masa iya Bima pakai lipstik, sih?
“Siapa yang bilang mau sate ayam?” tanya Aluna. Perasaan dia tak mengatakan apa pun pada Bima.
“Story istagram kamu. kamu ngode, ‘kan, biar dibeliin?”
“Nggak. enak aja.”
Bima terkekeh di ambang pintu. “Masa?”
“Iya. Masuk!” Aluna pergi terlebih dahulu meninggalkan Bima yang mematung di depan pintu.
“Aku boleh masuk, nih?”
“Aku, ‘kan, udah nyuruh kamu masuk barusan!”
Bima menggaruk kepalanya. Ini cewek kesurupan dugong atau bagaimana? Mendadak ketus begini? Eh, biasanya juga ketus, sih. Menyebalkan juga macam p****t domba qurban.
“Kamu kenapa, sih?”
“Apanya yang kenapa?” Aluna berjalan ke dapur, mengambil piring untuk wadah sate.
Bima mendengkus pasrah. Duduk di sofa ruang tv sambil memainkan ponsel. Beberapa saat kemudian ponselnya berbunyi, pesan dari Kalista muncul. Sebelum membukanya, Bima mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan untuk menghindari kecurigaan Aluna.
Kalista
Kak. Jangan bilang siapa-siapa, ya, soal kemarin.
Bimasena
Soal apa?
Kalista
Foto aku yang cuma pakai dalaman. Hehe.
Bima menggaruk kepalanya. Apaan, sih, ini? Ngapain juga Bima gembar-gemborin foto seksi anak orang? Toh, itu hanya kejadian yang tak disengaja.
Bimasena
Typing...
“Makan sate dulu. Minumnya ini aja, ya. Teh manis anget biar nggak masuk angin.” Aluna menaruh piring berisi sate di atas meja dengan dua gelas teh manis hangat. Buru-buru Bima memasukan kembali ponselnya ke dalam saku. Ia mengelus dadanya pelan. Untung nggak ketahuan.
“Kok kamu masih pakai seragam rumah sakit, sih?” tanya Aluna yang sudah duduk di samping Bima dan mulai melahap satenya.
“Pulang-pulang aku disuruh Mama ngasih makanan buat Yudistira. Jadi, aku ke apartemen Yudi, tapi dia lagi sakit. Sekarang udah diperiksa ke dokter dan katanya nggak apa-apa. Cuma masuk angin.”
Aluna mangut-mangut di tempatnya. “Mama kamu sama Kak Yudi udah baikan?”
Bima menggeleng. “Belum. Mama bilang ke aku, kalau ngasih makanan buat Yudi jangan bilang-bilang dari Mama. Bilang aja kamu ngumpet-ngumpet ngambil makanan dari rumah dan Mama nggak tahu.”
Aluna tertawa di tempatnya sampai terbatuk kecil. “Mama kamu lucu banget. Ya ampun.”
Bima nyengir. Gini dong. Senyum. Jangan cemberut melulu. Dewa batinnya mendadak gemas melihat tingkah Aluna yang berubah manis.
“Kok sepi? Pada ke mana penghuni rumah?” tanya Bima celingukan melirik seluruh penjuru ruangan.
“Nggak ada. Makanya aku bikin story pengen sate. Biar ada yang peka, terus aku ada yang nemenin makan.”
Tuh, kan! Bima tersenyum kecil di tempatnya. Melirik Aluna sekilas yang lahap memakan sate. Ia berdehem. “Minta ditemenin makan sate atau ...?”
“Atau apa?”
“Nggak ah. Nggak jadi.”
Bima menyeruput teh hangatnya. Di luar, gerimis mengguyur Bandung. Membuatnya semakin tertahan di tempat ini. Juga, ia berjalan ke tempat tersebut mengenakan motor sport, membuatnya semakin tak mungkin untuk pulang menerobos hujan.
“Hujan, Lun.”
“Di sini aja dulu. Jangan hujan-hujanan.”
“Emang kamu nggak ngantuk? Ini udah jam sepuluh malam, lho.”
Aluna menggeleng. Seporsi sate di piringnya rampung menyisakan garis-garis bumbu yang juga ia bersihkan dengan secentong nasi. Ini cewek atau jelmaan raksasa?
“Makan kamu banyak banget?”
“Biarin.”
“Iya, sih. Kemarin katanya diet mulai besok.”
“Ya ... diet mulai besok.”
Bima terkikik geli. Menoyor kepala sang kekasih dari samping hingga terhuyung hampir jatuh ke belakang. Bak adegan sinetron, Bima menangkapnya. Padahal kalau dibiarkan jatuh juga tidak apa-apa. Toh, di bawahnya sofa empuk, lho, bukan pembuangan kulit durian.
“Ngapain pakai ditahan-tahan, sih, Bim. Sok romantis banget!” Aluna mengalungkan lengannya di leher Bima. Masih saling memandang.
“Kamu nggak mau diromantisin sama aku?”
“Ya ... mau, sih.”
“Terus kenapa protes?”
“Aku kan masih makan?”
Bima melepaskan pelukannya. Membuat Aluna terhempas jatuh di atas sofa. Aluna mencebik kesal, lantas bangun dan melahap kembali nasi kuah bumbu sate-nya.
Gerimis masih mengguyur. Bunyi air hujan yang terjun bebas di balik atap rumah terdengar begitu jelas. Aluna kembali dari dapur setelah menyimpan piring kotornya. Duduk di samping Bima yang termenung memandangi rintik air hujan.
“Udah setengah sebelas. Hujannya masih belum reda, ya?” Bima memandang kaca rumah yang menampakan rintik-rintik air hujan di baliknya.
“Kamu mandi aja dulu. Kamu belum mandi 'kan?”
Bima menaikan sebelah alisnya. Menoleh kilas pada sang kekasih yang menyandarkan kepala ke pundaknya. “Boleh mandi di sini?”
“Hmm.”
“Tapi aku nggak bawa baju ganti,” ucapnya. “Atau nggak usah pakai baju?”
Aluna tertawa kecil. Memalingkan wajahnya yang sudah merah padam. Obrolan vulgar receh seperti ini sudah sering didengarnya. Kenapa malam ini ia terbawa suasana?
“Kenapa?” tanya Bima. Menggoyangkan pundaknya agar Aluna memberikan reaksi.
Aluna tersenyum. Tanpa berkata-kata ia mengecup pipi Bima sekilas, lantas kembali membenamkan kepalanya di atas pundak Bima.
Bima tertawa kecil, meraih dagu sang kekasih dan menciumnya dalam. Aluna terbawa perasaan, lantas mengalungkan kedua tangannya di leher Bima. Ciuman membuas, Bima menuntun sang kekasih untuk membuka mulutnya dan lidahnya merangsek masuk.
Suara kedua sejoli yang dimabuk asmara ini tak terdengar, tersalip suara hujan yang berjatuhan di balik atap rumah. Aluna kalap saat ciuman Bima beralih ke pipi, lalu daun telinga, dan turun ke lehernya. Praktis, Aluna membuka kancing seragam Bima, meloloskannya hingga si pria bertelanjang d**a.
Fokus Aluna berubah saat ia menatap bercak merah di kerah baju Bima. Ia mendorong bahu Bima agar menjauh. Cepat-cepat meraih seragam yang tergeletak di atas meja. Memeriksanya dengan saksama.
“Ini darah?” Aluna mencium bercak itu. “Bukan. Ini bukan bau darah.”
Bima menautkan sepasang alis tak mengerti. “Ada apa, sih?”
“Kerah baju kamu. Ini ada bercak apa?” Aluna mengusap bercak itu menggunakan ibu jari hingga bekas usapan di jarinya berubah menjadi merah bata. “Ini lipstik. Fix ini lipstik.” Aluna menaikan sebelah alisnya. Menatap Bima lekat-lekat.
“Aku nggak ngerti.” Bima menggaruk kepalanya bingung. “Mending lanjutin yang tadi,” ucapnya enteng.
“Kamu selingkuh, ya?” tanya Aluna.
Bima yang sudah malas berdebat menggaruk kasar kepalanya. “Kamu kok nuduh-nuduh aku terus, sih?”
“Kamu memang aneh akhir-akhir ini.”
“Aku nggak selingkuh!”
“BOHONG!”
“Serius.”
“Lipstik siapa di mobil kamu? Bukan lipstik Mama kamu, ‘kan?” Aluna memandang Bima yang gelagapan. Memang bukan lipstik Mamanya. Tapi, ya, lipstik Kalista—yang ia sendiri tidak mengerti kenapa bisa ada di mobilnya?
“Aku bisa jelasin.”
“Lipstik siapa di kerah baju kamu ini?”
“Aku nggak tahu, Lun.”
Aluna melempar kasar seragam Bima ke lantai. “Sini hp kamu!”
“Buat apa?”
“Sini!” Tanpa permisi Aluna merogoh saku celana Bima. Memeriksa isi ponselnya. “Tuh, kan? Bener dugaan aku!”
Kalista
Foto aku yang cuma pakai dalaman. Hehe.
Bima memejamkan mata frustasi. Kesalahpahaman yang sempurna! Bisa-bisanya Kalista mengiriminya pesan di waktu yang tepat. Chat yang sedikit vulgar walau tak disengaja itu membuat malamnya semakin lengkap.
KENAPA PULA HARUS ADA PEMBAHASAN SEPUTAR FOTO YANG CUMA PAKAI DALAMAN! YA, RAB!
“Pakai baju kamu. Keluar kamu dari rumah ini.” Aluna memungut pakaian Bima, melemparkannya lagi tepat di depan wajah pria itu tanpa belas kasih.
“Lun ... Ini cuma salah paham.” Bima masih bersikukuh
“Salah paham apa lagi?” Aluna Murka. Jari telunjuknya menunjuk pintu keluar. Memberikan gestur mengusir.
Bima menggaruk kepalanya saking bingung. “Kamu serius mau ngusir aku?”
“Dari tadi kamu pikir aku main-main?”
“Lun. Sampai kapan kamu akan mencurigai aku terus?”
“Jangan banyak ngomong. Keluar!”
Bima mendengkus. Memakai baju seragamnya dan bergegas ke luar. “Kalo itu mau kamu. Aku keluar.”
Sebelum benar-benar menghilang di ambang pintu, air mata Aluna menggenang di pelupuk. Ia berucap dengan berat. “Satu lagi.”
Bima menghentikan langkah kendati tak berani menoleh. “Kenapa?”
“Kita akhiri saja semuanya.”
Keheningan merebak beberapa sesaat. Bima mematung di tempatnya. Mencerna kalimat yang baru saja terucap dari mulut sang kekasih. “Oke, kalau itu mau kamu.”
“Jangan hubungi aku lagi!” setitik air mata mulai jatuh. Aluna menahannya agar air mata yang lain tak meluncur lebih banyak lagi.
Bima terdiam beberapa saat. Mengangguk ringan, lantas memegang gagang pintu. “Jaga diri kamu.”
Aluna merosot di balik pintu setelah menutupnya dengan kasar. Perpisahan ini pada akhirnya benar-benar terjadi. Air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk tak lagi terbendung dan jatuh menganak sungai membasahi pipi. Ia menangis sesenggukan seorang diri, ditemani rintik air hujan yang seolah mengetahui suasana hati. Kilatan cahaya petir menyala bergantian, diikuti gemuruh guntur yang membawa dalamnya luka. Semesta seolah melengkapi kelabunya hati Aluna saat ini.
Perpisahan yang sedari dulu Aluna takutkan akhirnya menjemputnya malam ini. Aluna harus mengikhlaskan walau tak semudah membalik telapak tangan. Pernikahan yang sudah direncakannya kandas, lenyap dalam satu kata ‘putus’. Kendati dirinya sendiri yang meminta, tapi ucapannya tadi tak benar-benar serius.
Cahaya lampu dari motor Bima berangsur menjauh. Pria itu meninggalkannya seorang diri dalam rintik air hujan yang perlahan semakin deras. Isak tangis Aluna berubah menjadi sebuah erangan. Rasanya sangat sesak saat mengetahui ternyata Bima mengaiyakan ajakannya untuk berpisah.
***
Bima melajukan motornya dalam kecepatan tinggi. Menerobos air hujan yang seakan menusuk permukaan kulit tubuh. Saking derasnya. Jalan yang licin seolah tak dihiraukannya. Bima tak peduli akan keselamatannya sendiri, yang ia perlukan kini hanya pelampiasan. Bima hanya ingin meluapkan kemarahannya.
Jalanan yang mulai sepi menjadikan Bima seseorang yang lebih buas. Ia terus menarik gas, meliuk-liuk di jalanan Bandung sampai hilang kendali. Jalanan yang licin membuat ban motornya tergelincir dan jatuh menghantam tiang lampu.
Bima bangkit kendati kakinya lemas. Menggapai motornya kembali seraya berjalan tertatih-tatih. Hujan sedikit bersahabat kali ini, berawal deras berubah menjadi rintik-rintik. Jalanan kota yang semula buram tertutup rintikan hujan, kini sudah lebih nampak. Motor sport Bima tergeletak di pinggir tihang lampu, dan saat ini dirinya tengah berusaha menyalakannya kembali.
Sialan. Penderitaannya lengkap sudah. Motornya mogok tak kunjung menyala. Bima berteriak keras tanpa rasa malu, menendang motor sialannya. Tak apa. Toh, tak akan ada yang mendengar umpatannya. Rintikan air hujan mengubur telinga mereka, hingga suara Bima bisa bersembunyi di baliknya.
Cahaya mobil menyilaukan netranya. Mata Bima menyipit saat mobil itu mendekat dan berhenti di bahu jalan, tepat di hadapannya. Pemilik mobil membunyikan klakson. Bima mengernyitkan alis di tempatnya. Ini siapa?
Kaca mobil perlahan turun, menampakan wajah si pemilik mobil yang menatapnya keheranan.
“Kak. Ngapain? Ayo naik!” Dia gadis dengan rambut sebahu. Kalista.
Kalista mengambil payung lipat yang ia simpan di jok belakang. Lantas turun, memayungi dirinya juga Bima yang kini merapatkan tubuh dengannya. Berlindung dari air hujan kendati percuma. Toh, Bima sudah basah kuyup juga.
“Motor aku gimana?”
“Aku bisa panggil tukang bengkel buat benerin motor Kakak. Nggak usah khawatir.”
Bima menaiki mobil Kalista tanpa penolakan. Keheningan merebak di sepanjang jalan. Bima tak tahu ke mana Kalista akan membawanya, ia juga tak peduli. Malam ini Bima tak ingin pulang. Kalau perlu, Bima ingin mengasingkan diri ke tempat di mana tak seorang pun dapat menemukannya.
“Lutut Kakak kayaknya luka, ya?” Kalista melirik Bima dari balik ekor mata.
Pandangan Bima turun, menatap lututnya yang terluka. Celananya robek di bagian itu. Bima tersenyum asimetris. Bahkan sakit di lututnya sama sekali tak terasa. Luka hatinya jauh lebih buruk dari ini.
“Kakak ke apartemen aku dulu, ya. Aku obatin luka Kakak. Sekalian ganti baju, di sana ada baju kakakku.”
Bima tak menjawab. Ia hanya menatap Kalista dan tersenyum tipis. Lantas Kalista membawa mobilnya ke kawasan apartemen. Mereka berjalan menuju lift, naik ke lantai 9, nomor unit 088. Bima mematung di ambang pintu saat Kalista menekan beberapa digit password dan melenggang masuk. Bima memerhatikan keadaanya yang amat lusuh. Tak berani masuk.
“Ayo masuk, Kak.”
“Aku basah kuyup.”
Kalista tak menjawab. Ia melenggang membuka pintu lemari dan mengambil sebuah handuk baru dan satu set pakaian lengkap milik Kakaknya.
“Pakai ini, Kak. Kakak aku kadang suka ikut nginep di sini sesekali. Jadi ada beberapa set pakaian Kakakku di lemari. Kak Bima pakai aja.”
Bima mengangguk setelah menggumamkan kata terimakasih. Membututi Kalista hingga menemukan kamar mandi untuk berganti pakaian.
Bima duduk di sofa seraya menonton putaran drama Korea di balik layar. Ia tertawa sesekali, padahal tak mengerti apa-apa.
Kalista menyuguhkan secangkir cokelat panas di atas meja. “Minum ini, Kak. Biar hangat.”
Bima mengangguk, lantas menyesap coklat panasnya. “Aku baru tahu ternyata kamu punya apartemen.”
“Aku tinggal di sini pada awalnya, tapi semenjak Mama sakit, aku memutuskan buat jagain Mama. Paling ke sini sesekali buat menyendiri, atau kalau sedang tanggung pulang ke rumah sementara jarak ke sini lebih dekat, baru aku memilih untuk mampir ke apartemen.” Kalista tersenyum. Menyibakan rambut sebahunya ke belakang telinga. Entah sejak kapan, bibir merah batanya kembali menyala. Bima menyadari itu, dan memutuskan untuk pura-pura tak peduli.
“Apartemennya enak. Tidak terlalu besar, tapi sangat cukup untuk ditinggali sendiri.”
“Benar. Lokasinya juga strategis. Dekat dengan rumah, dekat juga dengan tempat kerjaku.”
Bima mengangguk setuju. Menaruh kembali cangkirnya ke atas meja. Lantas termenung menatap jendela kaca yang menampakan langit Bandung. “Hujannya masih rintik-rintik, ya?”
Kalista mengikuti arah pandang Bima. Benar, di luar sana cahaya petir dan guntur masih bersahutan kendatipun tak menggelegar layaknya beberapa menit lalu.
“Aku mau pesan taxi online aja, Kal. Kasian sudah malam, kamu perlu istirahat.”
“Kak. Menginap juga nggak apa-apa. Ini sudah jam setengah satu pagi.”
Bima mengibaskan lengannya. “Enggak, Kal. Aku nggak mau digrebek hansip.”
Kalista tergelak. “Hansip mana yang menggrebek apartemen?”
Bima terkekeh. “Serius. Aku mau pulang. Terimakasih tumpangannya.”
Bima melenggang menunju pintu keluar. Baru beberapa langkah, tiba-tiba tangannya ditarik ke belakang. Kalista mencekalnya.
“Gimana kalau Kakak menemani aku minum? Di sini. Malam ini. Aku lihat, suasana hati Kakak juga sedang nggak baik-baik aja.”