BAB 1 NICO DAN LUPITA
Lupita meniup permen karetnya. Cukup lama ia berdiri di belakang gerombolan remaja seusianya yang sibuk melihat hasil pengumuman kelulusan sekolah tingkat atas di stasiun ruang angkasa Grand White Base. Anak-anak muda itu cuma difasilitasi beberapa layar kecil untuk menginput data dan password mereka untuk mengetahui lulus atau tidak setelah empat tahun mengenyam pendidikan. Hal itu dimaksudkan untuk melindungi mental nama-nama siswa yang harus mengulang tahun berikutnya di kelas yang sama.
Robot-robot pengawas memastikan para remaja itu antre dengan tertib tanpa berebut, apalagi menimbulkan kekacauan. Satu sama lain saling penasaran dengan hasil teman mereka, namun tak sedikit yang menyimpan hasil pengumumannya rapat-rapat. Semua sabar menunggu giliran, namun suasana memanas gara-gara salah satu siswa cukup lama memasukkan data, membuat suara siswa lainnya berteriak lantang di belakangnya.
“Hei, cepat sedikit! Giliran yang lain!” serunya, maka siswa yang tadinya berlama-lama segera mempercepat keperluannya dan beranjak pergi.
“Dasar gadis gipsy aneh!” ledek remaja laki-laki tersebut, membalas perlakuan gadis di belakangnya yang bersedekap sambil terus mengunyah dan meletupkan permen karet di mulutnya.
Lupita Sanchez, nama lengkap gadis itu. Tahun terakhir di sekolah pada usia delapan belas yang membuat hatinya lega. Baginya, sekaranglah saatnya meninggalkan dunia remaja yang kekanakan dan menyebalkan di mana hampir semua remaja seusianya lebih tertarik belajar merias diri dan berusaha tampil populer. Kemudian menyambut dunia kedewasaan yang lebih menyentuh kenyataan hidup, bukan sekadar mimpi dan janji palsu yang ia alami selama ini. Sifatnya yang cenderung tertutup tetap tidak menyulitkannya meskipun tidak punya banyak teman.
Ia telah terbiasa hidup sendiri sehingga harus mandiri. Dilepas paman dan bibinya di Grand White Base sekitar delapan tahun lalu, menghadapkannya pada situasi di mana ia mulai berpikir bahwa tak seorang pun yang sayang dan peduli padanya. Ia adalah beban yang harus disingkirkan, seperti halnya permen karet di dalam mulutnya yang langsung dibuang bila sudah bosan dikunyah. Begitulah ia menganggap diri sendiri.
Penyuka warna hitam, pada saat gadis-gadis lainnya memilih merah muda untuk baju dan segala aksesoris mereka, sehingga jadilah Lupita si gadis emo sering dianggap aneh dan dijauhi teman-temannya, kecuali satu orang, Nico Xander.
Nico Xander, cowok introvert yang sejak dulu menjadikan gitar sebagai teman bicara melalui petikan nada-nada indah di jemarinya. Kegemarannya mengungkapkan isi hati lewat baris syair lagu karyanya sendiri. Beda setahun lebih tua dari Lupita, karakter Nico yang pendiam dan enggan repot mampu meredam emosi gadis itu yang kadang meledak-ledak. Cerdas, berjiwa pemimpin, walaupun belum menyadari hal itu. Hidupnya bisa dibilang santai.
Sama-sama kurang berbaur, membuat keduanya cocok dan akrab. Membicarakan hobi, tugas sekolah atau hal-hal lain yang wajar dibicarakan remaja pada umumnya. Saking akrab sebagai teman, Lupita tak keberatan memenuhi keinginan Nico untuk mencari tahu nilai kelulusannya.
Jari-jari Lupita asyik menginput data Nico di atas panel hologram setelah menyelesaikan hasil nilainya sendiri, dan tak lama, muncul pernyataan kelulusan berikut seluruh nilai Nico, tertera di sana. Pemuda itu meraih peringkat ketiga dari lima lulusan terbaik tahun ini.
“Pintar juga ini bocah,” gumamnya, mengingat soal ujian kemarin betul-betul susah. Setelah selesai, ia bergegas pergi meninggalkan tempat itu, mencari Nico yang ia tahu pasti sedang berada di mana.
Di ruang musik yang sepi, Nico menerawang keluar jendela, mencari inspirasi lagu yang belum juga didapatnya. Konsentrasinya langsung buyar setelah gadis itu menyeruak masuk, menyerukan kelulusan mereka berdua.
“Nico, kita lulus! Ini luar biasa! Kau berhasil masuk peringkat ketiga! Selama ini aku tidak tahu ada bakat cerdas di otakmu.”
Nico bersikap biasa-biasa saja sambil kembali memetik pelan gitar akustiknya. “Kecerdasan bukanlah bakat, itu dua hal yang berbeda.”
Lupita diam sesaat, memikirkan sanggahan sahabatnya. “Tidak, bagiku sama saja. Yang penting, selamat! Aku bangga padamu.” Tangan Lupita terulur dan Nico menjabatnya. “Sekarang, kau bisa melanjutkan pendidikan di akademi pilihanmu. Sedangkan aku … .”
“Apa maksudmu? Oh tidak, jangan sampai kau berubah pikiran.”
“Aku suka piano, tetapi membayangkannya saja sudah begitu berat. Kurasa akademi musik tidak cocok untukku.”
“Lalu?” Nico menyimak sungguh-sungguh keinginan sahabatnya tersebut.
“Akademi militer membuka pendidikan pilot pesawat tempur tiga bulan lagi. Hanya dua tahun dan jika lulus, aku bisa langsung bekerja. Butuh kerja keras tapi aku akan terbiasa. Mulanya pilot pendamping pada tahun-tahun pertama, setelah jam terbangku cukup, sebuah pesawat tempur akan kukendalikan penuh. Lisensi terbang, sejak dulu hanya itu yang kuinginkan. Pergi ke dunia baru, membantu evakuasi koloni, ikut bertempur dan menjadi kesatria antariksa, lebih keren dan terhormat bagi seseorang yang tak lagi mengenal keluarganya.”
Nico menatapnya heran sembari meletakkan gitar di meja. “Kalau tidak salah, dulu seseorang pernah berjanji padaku untuk mewujudkan impiannya menjadi pianis hebat. Kita akan sama-sama berlatih di akademi musik lalu menempuh jalan masing-masing dengan bermusik, menunjukkan pada dunia bahwa musik itu indah. Musik akan selalu di hatimu dan selamanya begitu. Mengapa tiba-tiba berubah pikiran? Jika tidak seorang pun anggota keluarga yang masih ingin merawatmu, setidaknya kau memiliki paman dan bibimu. Sedangkan aku? Siapa diriku pun, aku tak tahu.”
“Hei, siapapun diriku, persahabatan kita tidak akan pernah berubah. Aku akan tetap menjadi Lupita Sanchez yang kau kenal. Gadis aneh yang dibenci semua orang. Keren ‘kan?”
Nico tergelak. “Apanya yang keren? Hidup sendirian membuatmu nyaman?”
“Aneh memang, tapi aku suka cara hidupku. Hanya mengenal satu-satunya sahabatku yang mau saling berbagi suka duka bersamaku. Itu sangat sulit dicari, bagai mencari jarum dalam jerami.”
“Terima kasih,” ucap Nico sambil membalas tatapan gadis itu. Sepasang mata dengan eye liner hitam, ditambah rambut hitam lurus panjang berponi pinggir, serta semua kesan gelap yang menjadi ciri khusus gadis itu. Ia benar-benar akan merindukannya bila suatu saat berpisah. “Tapi, bukankah pendaftaran pilot masih beberapa bulan lagi? Kau bisa masuk akademi musik dulu.”
“Maksudmu, menemanimu untuk sementara waktu?”
“Setidaknya kau mengisi waktumu. Siapa tahu, bermain piano akan mengubah keinginanmu, dan aku akan mencoba hal baru.”
“Hal baru?”
“Ya, menjadi DJ. Dengan demikian, semua unsur musik bisa kugunakan. Gitar, piano, drum, apapun. Terdengar asyik ‘kan? Lagi pula, coba tebak, siapa yang akan menjadi mentor DJ Academy tahun ini?”
“Hm … DJ Tags? DJ kembar yang pensiun sebagai Space DJ di kapal induk Silver Twin? Cuma mereka kandidat mentor terkuat.”
Nico menggeleng. “Space DJ Carlo Dante. Dia sudah menyatakan bersedia mengajar, mungkin karena harus ada regenerasi di Soundbuzzter Club. Sangat sulit mengalihkan penggemar ke Space DJ baru jika mereka sudah fanatik pada sosok tunggal Carlo Dante.” Jelasnya.
“Kau benar. Kalau begitu, baiklah! Akan kucoba mendaftar dulu di akademi yang sama denganmu. Siapapun tak ingin melewatkan kesempatan dilatih oleh Space DJ Carlo Dante ‘kan?”
Sahabatnya itu mengangguk, membenarkan kalimatnya. “Ayo, kutraktir makan siang. Aku tahu, perutmu lapar.” Ajak Nico sambil menyimpan gitar di tempat semula. Sebuah rak khusus gitar akustik yang muncul dari dinding kaca. Hanya mereka yang memiliki gitar yang dititipkan di sana yang bisa membukanya. Ia senang, Lupita menerima ajakannya.