bc

Little Sunshine

book_age16+
186
IKUTI
2.6K
BACA
HE
blue collar
kicking
city
like
intro-logo
Uraian

“Ketika terlalu lama berada dalam kegelapan kamu akan lupa pada eksistensi cahaya.”

Sheila muncul ke dalam hidup Gasendra bagai cahaya kecil.

Sheila, seorang pengangguran yang melarikan diri dari perjodohan nekad untuk menjadi pendonor hati bagi anak Gasendra demi segepok uang. Gasendra kira Sheila tak akan mengusik hidupnya setelah hari itu. Sayangnya, dugaan Gasendra meleset.

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog
“Apa ini?” Gasendra menarik pelan kertas yang disodorkan oleh Sheila. Perempuan yang baru dia temui kurang dari 10 menit itu tampak sibuk mengunyah ayam goreng dan menelannya dengan buru-buru. “Itu kontrak, Pak. Seperti yang Bapak tau, saya ‘kan cocok jadi pendonor hati untuk anak Bapak. Dan resiko jadi pendonor itu besar, Pak. Uang segepok mah kurang sebanding sama nyawa saya. Jadi, sebagai anggaplah biaya tambahan saya minta supaya Bapak ikut menampung saya dan adik saya. Enggak lama kok, sampai saya dapat kerjaan tetap aja di Jakarta dan bisa hidup mandiri.” Gasendra meletakan kembali surat kontrak yang dimaksud oleh Sheila tanpa minat. Terdapat setidaknya 10 poin yang tertulis di atas selembar kertas itu. Beberapa di antaranya adalah Gasendra wajib menyediakan tempat tinggal bagi Sheila beserta adiknya sampai perempuan itu sembuh dan mampu mandiri secara finansial. “Kamu akan menerima uang dalam jumlah yang cukup besar. Saya rasa itu cukup untuk dijadikan sebagai tabungan emergency selama kamu menganggur,” balas Gasendra logis. Mana sudi dia menampung orang asing di rumahnya. Walaupun kelak Gasendra akan berhutang nyawa kepada Sheila, tetap saja rasanya tak mungkin menerima orang lain yang sama sekali tidak ia kenal untuk tinggal bersama, “Justru saya enggak mau sampai uangnya kepake, Pak. Lagian, enggak ada jaminan saya bakal pulih dan dapat kerja sebelum uang itu habis.” Sheila meraih kembali kertas kontrak dan menunjuk satu poin. “Tertulis kok di sini saya enggak akan mengganggu ranah pribadi Bapak dan keluarga. Saya hanya butuh tempat tinggal sementara.” Sheila dan Gasendra baru bertemu secara tatap muka hari ini. Sebelumnya mereka hanya berkomunikasi via telepon. Sebelumnya Gasendra memasang iklan ilegal yang menyatakan bahwa dirinya sedang mencari pendonor hati bagi anaknya. Tentu saja Gasendra menjanjikan imbalan yang pantas. Dari sekian banyaknya orang yang datang untuk mencari peruntungan tersebut hanya Sheila yang dinyatakan cocok oleh dokter. Setelah hasil lab keluar, Gasendra langsung meminta untuk bertemu dengan perempuan itu langsung. Dan sinilah mereka berada duduk saling menghadap di kantin rumah sakit yang ramai. Sekitar 5 meja dari mereka duduk juga Layla, adik Sheila yang sedang makan dengan tenang. “Baiklah, kalau begitu saya akan mencari tempat tinggal untuk kalian.” Sheila menggeleng dengan cepat. “Saya mau tinggal bareng Bapak aja.” Salah satu alis Gasendra naik, sedangkan bibirnya berdecak tak suka. Kentara sekali kalau dia tak nyaman membicarakan hal ini dengan Sheila. “Kenapa harus dengan saya?” Sheila menatap sekeliling lantas mencondongkan tubuhnya mendekati Gasendra. Kemudian dengan hati-hati perempuan itu membuat gerakan berbisik yang membuat Gasendra harus memundurkan kepalanya sedikit. “Saya ini kabur dari kampung halaman. Saya ngerasa cepat atau lambat keluarga saya di kampung bakal mencari kami. Kalau kami tinggal di tempat yang gampang diakses sama masyarakat umum bisa jadi sebelum sembuh dan dapat pekerjaan di Jakarta saya udah keburu diciduk dan diseret buat pulang.” “Kamu seorang kriminal sampai harus melarikan diri?” tanya Gasendra heran. Sekarang lelaki itu paham kenapa penampilan Sheila dan Layla tampak kucel. Rupanya mereka adalah gelandangan yang bahkan tak punya tempat tinggal. Sesaat pandangan Gasendra turun pada tas ransel di bawah meja. Pasti di dalam sana Sheila membawa apapun yang dapat membuatnya mampu bertahan hidup di ibukota usai melarikan diri. “Bukan, Pak.” Sheila menjawab sambil kembali mencomot ayam gorengnya. Bertemu dengan Gasendra sama seperti ketiban durian runtuh baginya. Selain memiliki peluang untuk punya tempat tinggal sementara, Sheila juga bisa mendapatkan jaminan untuk makan setidaknya 3 kali dalam sehari. Hal yang tak mungkin terjadi jika tak menemukan iklan pencari donor di faceb00k. “Saya dijodohin sama juragan kambing,” sambung Sheila di tengah kegiatan makannya. Perempuan itu makan dengan lahap seolah belum pernah menemukan nasi selama hidupnya. “Duitnya sih banyak, tapi tampangnya mirip kodok. Istrinya juga ada banyak. Meskipun saya enggak cantik-cantik amat ya … saya tetap punya selera. Jadilah, saya kabur ke sini. Cuma, keluarga bibi saya udah keburu nerima dan pake uang mahar. Jadi, gitu, deh.” “Dan, karena itu pula kamu ingin tinggal bersama saya?” Tanpa malu Sheila mengangguk mantap. “Saya udah stalking media sosial Bapak. Saya tau Bapak tinggal di perumahan elit yang enggak bisa sembarangan dimasukin sama orang. Keluarga bibi saya ‘kan orang kere, Pak. Enggak mungkin mereka bisa masuk ke perumahan Bapak sekalipun mereka tau ada saya di sana.” “Pantas saja kamu kelihatan kurus, dekil, dan ….” Gasendra sempat menggantung ucapannya. “Agak gembel.” Sheila terbatuk-batuk mendengar ucapan Gasendra yang seperti tidak memiliki filter itu. “Makasih atas kejujurannya, Pak. Cuma kalau boleh, sih enggak usah bilang sekalian.” Gasendra mengetuk-ngetukan satu jari telunjuknya di ujung meja kantin. Suara ketukannya terdengar konsisten dan sama sekali tidak mengganggu. Lelaki itu sedang mempertimbangkan untung dan rugi yang akan diterimanya apabila menerima perjanjian setan ini. “Bagaimana mungkin saya bisa percaya kalau kamu melarikan diri dari perjodohan konyol dan bukannya melakukan tindak kejahatan?” Sheila berdecak gemas. Namun, tak ayal dia tetap menjawab. Sambil mengeluarkan KTP dari dompetnya Sheila menjelaskan, “Ini pegang KTP saya, Pak. Saya juga bawa ijazah, SKCK, foto copy kartu keluarga, sama SIM C kalau Bapak enggak percaya. Cari tau aja soal saya. Saya tau Bapak kenal banyak orang di kepolisian. Lacak aja riwayat kejahatan saya sama mereka.” Gasendra meraih KTP Sheila. Dia memperhatikannya dengan baik-baik dan berusaha mencari celah demi memastikan jika KTP tersebut adalah palsu. Sayangnya, entah sebanyak apapun Gasendra berusaha dia sama sekali tidak menemukan hal yang janggal. Mau tak mau lelaki itu mengalah. “Baiklah akan saya simpan dan cari tau informasi soal kamu. Paling lambat akan saya kabari sore ini. Tapi, kalau kamu terbukti seorang kriminal yang melarikan diri maka, saya tak segan-segan untuk melaporkan kamu sebagai bentuk hukuman karena telah menyita waktu berharga saya.” “Silakan aja, sih, Pak. Tapi, inget kalau saya dipenjara akan semakin lama juga Bapak nyari pendonor buat anak Bapak.” Gasendra bungkam. Dia tahu ucapan Sheila ada benarnya. Hampir 3 bulan lamanya Gasendra mencari pendonor hati yang cocok untuk sang anak. Baru kali ini dia bertemu orang yang cocok dan sialnya orang tersebut banyak mau. *** “Bersih, Sen.” Gasendra mengembuskan napas berat dari mulutnya. Dia langsung menghubungi salah satu detektif yang dia kenal di kepolisian untuk mencari tahu soal masalalu Sheila. Sedikitnya Gasendra berharap jika perempuan itu adalah seorang buronan supaya Gasendra memiliki alasan untuk menolak menerimanya sebagai pendonor. Namun, kini dia tak punya alasan lagi. “Lo udah cek dengan betul?” tanya Gasendra melalui sambungan telepon. “Barangkali ada data yang terlewat.” “Buset, udah! Gue ini orang yang teliti. Lagian dia siapa, sih?” “Calon pendonor untuk Liliana.” “Hah?!” Di seberang telepon sana Kadit berseru kaget. “Serius? Kenapa juga lo harus nyari tau soal dia sampai segininya? Kalau orangnya tau bisa-bisa dia berubah pikiran dan enggak jadi buat donor.” “Masalahnya bukan cuma itu.” Gasendra ingin bercerita, tetapi di lain sisi dia ingin merahasiakan soal kontrak setannya dengan Sheila. Jadilah Gasendra hanya menghela napas dan menyimpan beban tersebut sendirian. “Yaudah gue tutup teleponnya ya. Thanks, Dit.” Usai mengatakan itu Gasendra berlalu menuju kamar rawat Liliana. Anak semata wayangnya terlihat sedang memandangi jendela dari brankar. Begitu mendengar bunyi pintu yang dibuka Liliana menoleh. Tatapannya tampak sayu seakan binar kehidupan sudah ditarik menjauh dari wajahnya. “Hai My Little Princess,” sapa Gasendra ramah. Dia menarik kursi di samping brankar Liliana. “Sedang apa?” “Melihat langit saja, Papa.” “Ada apa memangnya di langit?” Liliana menunduk menatap kukunya yang mulai tampak kuning. “Kata para perawat setiap orang yang meninggal akan pergi ke langit dan bertemu Tuhan. Nanti kalau aku meninggal juga, aku akan pergi ke langit.” Jantung Gasendra seakan baru saja dicengkram mendengar putri semata wayangnya berkata demikian. Sambil menahan gejolak emosi Gasendra meraih tangan Liliana yang bebas dari jarum infus lalu berkata, “Liliana akan sembuh. Nanti ketika Liliana sembuh Papa akan belikan kamu mainan yang jumlahnya jauh lebih banyak dari sekarang.” “Tapi, sembuh itu kapan?” Liliana bertanya dengan sedih. Gadis kecil itu tampak begitu rapuh. “Rumah sakit itu menyeramkan, Papa. Aku enggak suka di sini. Makanannya hambar, aku disuntik hampir setiap hari, dan harus selalu minum obat. Katanya kalau meninggal aku enggak akan sakit-sakit lagi.” “Siapa yang bilang begitu?” “Mama.” Hening. Gasendra tahu jika mantan istrinya tak menyayangi putri mereka sebesar Gasendra menyayangi Liliana. Hanya saja, Gasendra tidak menyangka jika perempuan yang pernah begitu ia cintai dapat berkata dengan kejam. “Dengarkan Papa, Lili,” ucap Gasendra lembut. Suaranya membuat Liliana menjatuhkan fokus padanya. “Liliana akan sembuh secepatnya. Papa sudah menemukan pendonor yang tepat untuk kamu.” “Betul, Papa? Aku bisa sembuh?” Gasendra mengangguk. Dia lantas menarik Liliana ke dalam pelukan. Usai menidurkan Liliana Gasendra segera mengirim pesan singkat kepada Sheila. Gasendra Tanoewidjaya: Datanglah besok pagi ke RS Sheila Putriana: Saya masih di RS kok, Pak Sheila Putriana: Kalau Bapak mau ketemu saya ada di masjid RS Sheila Putriana: Pak, saya kayaknya mau diusir karena dikira gembel deh Gasendra mengembuskan napasnya. Semoga jalan yang dia pilih tidak salah. []

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.1K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Kali kedua

read
221.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.9K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook