Syafira baru saja melepas kepulang Aryan ke Jakarta. Ada rasa sedih bersarang menyaksikan pujaan hatinya kembali ke rumahnya. Pelukan dan ciuman mengiringi kepulangan Aryan. "Kangenin Bunda," bisik Syafira sebelum Aryan meninggalkannya. "Pasti, I Love you, Bunda," balas Aryan mencium punggung tangannya dengan takzim. "Love you, too. jangan nakal di sana," pesan Syafira diiringi lambaian. Syafira harus bersiap-siap menumpuk gunungan rindu, entah nanti setinggi apa? Satu yang Syafira ingat, kehadiran Aryan tidak ditolak Arsya, bocah itu malah akrab dan dekat dengan Aryan. Syafira benar-benar tidak menyangka. Ia exited sekali mendapat kenyataan baru tersebut. Ia berharap Cila juga bisa menerima Aryan dengan baik. Harapannya seketika melayang tinggi dan jauh ke awan. Pernikahan. Mun

