Episode 8 Bagian 2

3906 Kata
Kami berjalan menyusuri lapangan bola, sengaja aku tak memandang Dion. Gedung-gedung asrama terlihat berbaris di seberang lapangan. Di sebelah barat tampak gedung asrama dengan arsitektur unik. Aku ingat Dion pernah menjelaskan kalau dulunya itu untuk perpustakaan, tapi akhirnya dijadikan asrama, dan salah seorang teman kami sekarang tinggal di asrama itu, ya Kevin. Rasanya kangen sama Kevin, semenjak aku dekat dengan Fikri, Kevin jarang nyamperin aku lagi, padahal kadang aku membutuhkannya, menurutku dia salah seorang teman yang baik untuk diminta pendapat, meskipun dia suka ceplas ceplos. Apalagi aku mulai cemas, bagaimana kalau Fikri melupakanku? Kalau ada Kevin, setidaknya dia bisa memberi masukan tentang hubunganku dengan Fikri, apalagi anak itu sudah kelas 1 SMA mau naik kelas 2, jadi dia sudah paham dengan pacaran sesama cowok di sekolah ini. Aku benar-benar bingung. Jujur saja, aku sangat rindu sama Fikri, walau kami satu sekolah, hampir dua minggu ini aku tidak melihat batang hidungnya, di ruang makan dan di taman juga tidak kelihatan, meskipun hampir semua kelas 3 SMP juga begitu. Sekolah ini memang sudah punya reputasi soal tingkat kelulusan Ujian Nasional, aku pernah ke ruang kepala sekolah dan ada cukup banyak lemari berisi piala-piala kaki empat dan piagam-piagam yang tersusun begitu dempet di dinding, nyaris membuat tembok di ruangan itu tak nampak lagi. Tentu saja semua itu simbol prestasi yang diraih sekolah ini, ya sekolah ini selalu mengikuti even-even lokal, nasional bahkan internasional. Seperti saat ini, Jambore Dunia di Jepang kami mengutus satu kontingen, teman sekelasku Arthur jadi pesertanya. Sebenarnya tidak ada persaingan ketat untuk mengikuti jambore, toh akhir tahun ini akan ada dua jambore lagi, yaitu jambore Asia Pasific di Seoul, Korea Selatan dan Jambore Pemuda di Amsterdam, Belanda. Hanya saja untuk ongkos dan akomodasi bayar masing-masing, lumayan mahal biayanya, setara dengan satu mobil bekas tahun 90 an lah. Si Arthur malah sudah daftar dua-duanya. Dia anak yang cakep dengan warna kulit sawo matang. Aku tidak akrab sama anak itu, dia dari Jakarta tapi aslinya Magelang. Ayahnya di Mabes TNI, konon di pundaknya ada bintang tiga biji, aku nggak ngerti setinggi apa pangkatnya dan apa jabatannnya, mungkin saja dengan bintang tiga buah itu gajinya selangit, makanya anaknya bisa pergi keliling dunia begitu, hehehe. Dengan reputasi sekolah yang sudah bagus dan berprestasi tentu saja pihak sekolah akan mempertahankannya atau bahkan berusaha lebih hebat lagi, akibatnya semua siswa kelas 3 SMP dan SMA harus belajar, belajar dan belajar. Hemmmmmmm, akhirnya aku mengerti kenapa Fikri bilang akan sulit ketemu, maka aku tetap yakin kalau dia tidak menjauhiku, karena anak kelas 3 SMP benar-benar sibuk. Tapi kenapa siang waktu istirahat dia tidak menemuiku? Entahlah... "Aku kangen banget sama kamu Vick, aku nggak bakal menepis tanganmu lagi kalau kamu mau memelukku". Ouch! Nggak boleh mikirin itu, aku belum siap pacaran. "Kamu mikirin apa sih?" tanya Dion sambil menepuk pundakku, ternyata kami sudah sampe di Gedung Bagian Tamu. "Nggak mikirin apa-apa, kita langsung ke kamar tamu?" tanyaku sekalian mengalihkan pertanyaan Dion. "Iya, tapi ke kantor Bagian Tamu dulu buat mendaftarkan nama" ucap Dion sambil mengajakku berjalan ke ujung teras gedung. "Perasaan tahun lalu waktu papa dan mamaku kesini nggak pake daftar dulu deh," Mendengar ucapanku itu Dion berhenti sejenak. Dia menatapku seakan-akan aku bersalah, mulai lagi nih sok taunya. "Tahun lalu kita anak baru, jadi kalau kesini langsung saja ke kamar tamu. Untuk anak lama seperti kita sekarang, harus lapor ke Bagian Tamu dulu." ucap Dion. "Anak lama wajib lapor untuk antisipasi supaya nggak ngumpet di sini." Dion menambahkan melihat gelagatku yang ingin bertanya lebih lanjut hahaha, tau aja anak ini. "Ngapain ngumpet di sini? Emang takut sama apa?" tanyaku berlagak polos, tapi malah kelihatan t***l. Dion hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, hahahaha aku jadi kelihatan bener-bener t***l nih. "Supaya anak lama nggak ngumpet di sini waktu lari pagi, waktu latihan pidato, waktu pramuka bahkan sengaja bolos saat jam sekolah dan menjadikan kamar tamu tempat ngumpet" ucap Dion cepat seperti komentator bola, dan aku cukup mengangguk saja pertanda sudah paham. Kami berdiri di depan kantor Bagian Tamu, pintunya terbuka, tapi tidak ada orangya. Ruangan kantor ini tidak terlalu luas dengan satu set sofa dan meja yang lumayan besar, ada komputer dan tumpukan buku di sampingnya, mungkin data seluruh siswa di sini. Di dinding terpampang foto-foto lumayan besar dalam figura berwarna hitam. Di setiap bingkat terdapat foto enam orang siswa kelas 3 SMA berpakaian formal dengan menggunakan jas dan dasi, sepertinya itu adalah foto-foto para pengurus Bagian Tamu dari periode ke periode, karena di sudut bawah ada tahun yang menandakan angkatan masing-masing. Aku tertegun melihat orang-orang yang ada dalam foto-foto itu, semuanya sama, "CAKEP". Terus terang saja, aku jarang sekali melihat cowok-cowok cakep kumpul dan berfoto bareng begitu, kecuali boyband-boyband di televisi, itupun cakepnya karena sudah ditambal sana sini. Tapi foto-foto anak SMA ini benar-benar natural, tidak ada editan, posturnya hampir sama semua, dengan pose semi formal dan sambil tersenyum, aduhhhh pokoknya cakep. "Kenapa ngelihat foto-foto itu kamu kok jadi ngelamun?' ucap Dion, hahaha aku sampe lupa kalau ada anak ini di sampingku, padahal aku kesini kan ikut dia. Habisnya yang dalam foto-foto itu cakep-cakep banget. "Ini pengurus Bagian Tamu ya?" tanyaku pura-pura ke Dion, meski aku sudah bisa menebaknya. "Ya, bagian dengan kriteria khusus, dan semuanya ada di kamu" jawab Dion asal saja. "Aku serius" balasku. "Beneran. Bagian tamu adalah bagian yang sangat penting di sini, bisa dikatakan wajah sekolah ini ada di bagian tamu." Dion menambahkan, aku malah jadi nggak ngerti. Aneh. "Karena siapapun yang berkunjung kesini mesti lewat bagian tamu, kalau bagian tamunya nggak ramah, nggak enak dipandang mata, satu sekolah akan dianggap jelek. Makanya bagian tamu itu disebut wajah kampus ini" "Oh begitu," "Yang namanya wajah harus enak dipandang, meskipun orang punya muka jelek tetap saja dia berusaha membuatnya enak dilihat, mungkin pake pemutih, pake bedak, pake obat atau oplas seperti artis-artis korea itu" "Apa hubungannya?" tanyaku. "Tentu saja ada hubungannya. Syarat jadi bagian tamu itu aku sebutin ya, pertama harus cakep, jadi kalau tidak cakep langsung gugur. Kedua harus ramah dan sopan, ketiga mengerti seluk beluk kampus ini, karena bila ada yang study banding kesini, bagian tamu yang jadi guidenya, jadi harus mampu menejelaskan dengan benar." Ya, masuk akal juga kalau harus mengusai seluk beluk kampus, tapi urusan cakep tadi tetap saja aku nggak sependapat. Paling itu juga karangan Dion saja. Tapi ada benernya juga kalau lihat kakak-kakak yang di foto-foto itu cakep-cakep orangnya, entahlah, bisa juga Dion benar. "Selain itu juga harus tau tata krama meja makan, soalnya kalau ada tamu-tamu VVIP, taukan?' tanya Dion sekilas, aku menggangguk saja. "bagian tamu akan menjadi penanggung jawab urusan makan, mulai dari hidangan pembuka sampe hidangan penutup, termasuk penataan meja prasmanan, menu yang disajikan dan asisten yang bertugas di setiap ruang dan meja" tambah Dion. Kelihatannya bagian tamu ini benar-benar orang penting, memang nggak segalak keamanan, tapi kesannya eksklusif banget. "Apalagi masalah makananan, bagian tamu itu paling enak, setiap ada wali murid yang berkunjung, mereka sering dapat oleh-oleh makanan, pokoknya asik lah" tambah Dion. Anak ini dapat info darimana saja sih, kok tau semuanya. "Cari siapa?' tiba-tiba anak SMA keluar dari gorden di sudut ruangan. Aku sempat kaget, kukira itu tadi jendela, ternyata di sudut ruangan tempat kakak itu muncul ada pintu, habisnya tertutup gorden. By the way kakak ini cakep banget. "Mau daftar kak, ada kunjungan keluarga" jawab Dion sopan. Kakak bagian tamu itu menatapku sesaat, kemudian menunduk sambil tersenyum sendiri. Dia duduk di atas kursi yang ada meja nya dan mengambil buku tebal berwarna biru muda. "Daftar Pengunjung" judul buku yang ia serahkan ke Dion. "Apa hubungan sama pengunjungnya?" tanya kakak itu lagi. "Orang tua kak?' jawab Dion yang nampaknya sudah mengisi tanda tangan di kolom yang sudah diisi oleh orang tuanya saat mendaftar tadi siang. "Loh, kamu adiknya Rifki ya?" tiba-tiba kakak itu berbicara sangat ramah sama Dion. "Ya kak" jawab Dion malu. "Aku Yoga, teman sekelas kakakmu, tadi kakakmu barusan ke sini. Ini siapa?' tanya kakak itu sambil melirik ke arahku. Aku baru ingat kakaknya Dion sekarang kelas 3 SMA, bagian pramuka. Habisnya setiap ngumpul selalu ngebahas aku dan Fikri, jadi lupa sama kakaknya Dion yang seangkatan sama semua pengurus OSIS. Ternyata kakak cakep ini temannya kak Rifki, boleh juga tuh koneksi kakaknya Dion, buat selingan hahahaha. "Teman kak." jawab Dion sopan. Kakak itu mengangkat kedua alisnya, dan sedikit tersenyum. Dion sekarang kok sopan banget, tadi bicaranya ceplas ceplos, mungkin juga kakak ini mendengar penjelasan Dion, apalagi berkaitan dengan bagian mereka, makanya Dion jadi rada sungkan hahahaha. Ketika Dion menyerahkan buku biru itu, dua orang siswa SMA masuk, kelihatannya juga bagian tamu, posturnya sama tinggi dengan kakak yang melayani kami, dan tentu saja tidak kalah cakepnya. mereka berdua senyum sekilas dan berjalan menuju pintu di balik gorden tadi, mungkin di belakang pintu itu kamar bagian tamu. Tiba-tiba salah seorang dari dua kakak itu berhenti lalu temannya ikut berhenti, mereka menatapku lalu saling lirik sama kakak yang bernama Yoga tadi. "Ga, calon tuh" clutuk kakak itu. Anak yang bernama Yoga tadi hanya tersenyum, aku dan Dion diam saja. Lalu kami keluar dari kantor itu untuk menuju kamar tamu. "Eh tunggu," tiba-tiba kakak yang baru datang tadi memanggil kami yang sudah di luar pintu, aku dan Dion menoleh. "Nama kamu siapa?" tanyanya menatap ke arahku. "Ricko kak," jawabku gugup. "Oh, kamu ya yang namanya Ricko, dari Lampungkan?" Kakak itu saling pandang sama teman-temannya dan tersenyum. "Ya kak, ada apa ya?" tanyaku penasaran. "Nggak apa-apa, cuma nanya saja. Yaudah lanjut saja ke kamar tamu" ucap kakak itu, dan mereka masuk sambil cekikikan. "Ngapain mereka senyum-senyum begitu, aneh!" gumamku sambil berjalan ke kamar tamu. Dion tidak menggubris, kelihatannya dia sedang asik sendiri, orang tuanya kan lagi di sini. Kami mengucapkan salam dan masuk ke kamar tamu wanita yang tidak ditutup pintunya. Kamar ini berukuran lumayan luas, ada karpet merah dan beberapa kasur busa yang disusun rapi di sudut ruangan. Ibu Dion sedang ngobrol sama ibu-ibu, yang aku nggak tau ibunya siapa. Ayahnya nggak kelihatan, mungkin ada di kamar tamu pria. "Ini nak Ricko ya? Mari duduk sini" ajak ibu Dion ramah. "Ya bu," jawabku sambil duduk di samping Dion. Ibu Dion sepertinya berusia empat puluh tahunan, seumuran mamaku di rumah. Kami ngobrol panjang lebar sore itu, ternyata ibu Dion bukan saja ramah tapi juga sangat baik. Kami juga makan banyak makanan dan camilan yang dibawa dari Malang, Ibu Dion juga bertanya tentang keluargaku, ya aku jawab saja apa adanya. Hampir satu jam kami di kamar tamu, dan setelah selesai ngobrol aku dan Dion pamit, karena waktu sudah sore. Orang tua Dion masih akan menginap malam ini, dan pulang besok siang, jadi Dion nanti malam pasti akan ke bagian tamu lagi. Hemmmm, di perjalanan pulang ke asrama aku dan Dion ngobrol lagi tentang bagian tamu tadi, ya masalah sepele sih, tapi bikin aku penasaran. "Aku masih penasaran sama kakak-kakak tadi" ucapku pelan. "Mungkin kamu nanti akan jadi bagian tamu saat kelas 3 SMA" celetuk Dion sambil tersenyum. "Hemmmmm, kalau dipikir-pikir sih lumayan enak jadi bagian tamu." ucapku asal saja. "Bukan lumayan, tapi sangat enak. Berapa banyak yang antri jadi bagian tamu. Apalagi kalau sedang ada tamu rombongan dari sekolah khusus putri, kan bagian tamu yang jadi tour guidenya" terang Dion sambil tersenyum tipis. "Apa istimewanya itu?' tanyaku ketus. "Ouch, aku lupa kamu kan nggak suka cewek" canda Dion sambil menjaga jarak, takut aku timpuk kayaknya. Pengen banget nimpuk anak ini, enak aja ngomong begitu. Memang aku sedang dekat dan suka sama cowok yang namanya Fikri itu, bukan berarti aku nggak suka cewek. "Nggak usah jutek gitu, kan juga ada tamu rombongan dari sekolah khusus cowok, kali aja banyak yang cakep" sekali lagi Dion bikin aku tambah kesal saja. "Sudah puas sekarang?" timpalku masam. Dion malah tertawa terpingkal-pingkal ngeliat tampangku, aku juga jadi ikut tertawa. Dion ini benar-benar anak yang nyebelin banget. "Tapi bener kok, kalau aku jadi ketua OSIS, kamu akan aku pilih jadi pengurus bagian tamu" ucap Dion masih sambil tertawa. "Boleh, kalau begitu aku akan pilih kamu deh jadi ketua OSIS" balasku. Dion tersenyum, kelihatannya geer juga tuh anak. hehehehe. "Kakak-kakak bagian tamu tadi cakep-cakep ya, dan ramah-ramah juga" ucapku. "Semua bagian tamu itu saat masih junior adalah "seleb" nya kampus" Aku berhenti mendengar ucapan Dion barusan. Seleb kampus? Apa siswa-siswa "populer" maksud Dion? "Mereka siswa-siswa yang dikenal luas karena tampangnya yang cakep, aku tau sama kakak yang tadi melayani kita," celetuk Dion, dasar dukun tau aja pertanyaanku selanjutnya. "Kak Yoga tadi maksudmu? Tau apanya?" tanyaku serius. "Kakakku suka ngomongin dia waktu aku masih SD, malah dia punya fotonya. Waktu liburan kenaikan kelas kakakku pernah menunjukkan fotonya, meminta pendapatku. Tentu saja aku nggak bisa menilai, aku kan masih kecil" sambung Dion. Aku hanya menatapnya, bingung mau koment apa, ternyata kakaknya Dion doyan cowok juga hahahaha. "Sekarang aku sudah paham, kelihatannya kakakku mengagumi kak Yoga itu, aku sih nggak pernah ngebahas, heran juga tadi dia nyinggung-nyinggung kakakku." Ya, aku kira kak Yoga tadi teman sekelas Rifki saja, ternyata kakakknya Dion itu juga pengagum cowok cakep, jangan-jangan Yoga itu... "Hey, apa mungkin kak Yoga tadi calon kakak iparmu? Jadi ayah dan ibumu kesini mau ngelamar buat jadi istri kakakmu" candaku, muka Dion jadi ungu sangking kesalnya hahahahahaha. Gantian sekarang aku yang ngerjain. "Sembarangan aja, kakakku sekarang sudah punya cewek di Malang, cantik tau" kilah Dion jutek. "Bisa aja dia punya cowok juga, si Idris contohnya suka cewek, tapi pikirannya selalu membayangkan cowok b***l" ucapku spontan. Aku dan Dion tertawa dan melanjutkan omongan kami, terutama tentang Idris, sampai kami pisah arah karena asramaku di selatan sedang Dion di Timur. ******** Sudah lama kami berempat tidak kumpul di pondok jerami, dulu waktu kelas satu kami hampir setiap hari ke sini. Dion, Idris dan Reno tampak semakin besar saja posturnya, ya karena kami sudah beranjak remaja. Siswa kelas 3 SMP dalam hitungan hari akan melaksanakan ujian nasional, tentu saja Fikri akan sangat sibuk hari-hari ini. Aku sudah lupa berapa lama tidak bertemu dengannya. Memang jadi masalah karena kami tidak punya status, jadi nggak ada yang salah kalau tidak berkomunikasi. Kalau anak kelas 3 SMP sudah mendekati ujian nasional artinya giliran kami yang harus siap-siap UAS, aku dan ketiga temanku ini tidak terlalu cemas dengan ujian kenaikan kelas, dengan nilai semester I yang lumayan, sepertinya kami akan mulus saja naik ke kelas 3 beberapa bulan lagi. Tapi kami harus tetap belajar, jangan sampe kelas 3 nanti masuk lokal H, malu juga rasanya. "Kamu semakin jauh aja sama Fikri" celetuk Reno di tengah-tengah kesibukan kami membaca pelajaran. Sedang Dion diam saja sambil menatap bukunya, meski aku yakin dia ikut menunggu jawabanku. "Dia akan menghadapi ujian nasional, jadi biar bisa fokus belajar. Aku juga harus belajar kan? sebentar lagi UAS" jawabku datar. Idris menutup bukunya, sepertinya dia sekarang benar-benar ingin membahas masalah Fikri. "Sebenarnya kamu itu cinta nggak sama Fikri?' tanya Idris tanpa basa basi lagi. Aku terperangah mendengar ucapannya, Dion dan Reno tak peduli, justru kedua temanku itu ikut menatapku. "Ya, aku menyukainya. Aku mencintainya, hanya saja aku belum siap pacaran" jawabku pelan. "Rick, Fikri itu juga suka sama kamu. Menurutku masalahmu itu bukan takut pacaran, emang apa yang bikin kamu belum siap?" tanya Reno lagi. "Aku belum siap berhubungan serius, semua kebebasanku akan terkekang. Aku masih ingin menikmati hidupku saja." jawabku getir. "Gini, sebenarnya pacaran bukan berarti tidak bebas. Kamu jangan beraggapan pacaran itu terlalu mengekang kebebasan, itu semua tergantung pada bagaimana kita menjalaninya. Menurutku pacaran itu adalah ikatan. Tentang bagaimana menjalaninya, semua kembali kepada diri kita masing-masing, mau berduaan setiap saat, atau mau menjalankan kegiatan sendiri-sendiri, itu semua pilihan" timpal Dion. "Jadi semua akan tetap berjalan pada jalannya masing-masing, namun ikatan tadilah yang menyatukan. Kenapa memperhatikan seseorang? Kenapa mesti peduli padanya? Jawabnya simple kan, karena dia pacarnya" jelas Dion lagi. "Ya, bener yang Dion bilang. Kalau kamu selalu saja berharap sama Fikri, dan dia sudah jelas-jelas menyukaimu, apa susahnya kamu menerima dia jadi pacarmu. Masalah bagaimana menjalaninya, kalian kompromikan saja, bagaimana enaknya. Yang penting status kalian jelas, setidaknya itu akan membuat Fikri berpikir ulang untuk memutuskan" ucap Reno. "Memutuskan apa?" tanyaku penasaran. "Kamu nggak tau?" aku hanya menggeleng, begitupun Dion. Kelihatannya ada informasi yang belum kami dengar. "Fikri akan menghadapi ujian nasional, setelah itu dia akan tamat, lalu pulang" ucap Reno santai. "Kita juga akan pulang saat liburan kenaikan kelas," ucapku sedikit lega. ternyata cuma itu. "Kamu belum paham maksud Reno, Fikri akan pulang selamanya dan melanjutkan SMA di Bekasi" Idris menjelaskan omongan Reno tadi. "Hah? Tapi kan dia belum tamat, masih tiga tahun lagi?" perasaanku mulai tidak enak, "Kita tidak harus enam tahun di sini, bila sudah tamat SMP bebas saja mau melanjutkan kemana. Aturan sekolah ini hanya menegaskan siswa SMA di sekolah ini harus lulusan SMP ini juga, namun bagi siswa yang sudah lulus SMP punya hak untuk melanjutkan ke sekolah mana saja yang dia inginkan" Dion sepertinya sudah mengerti apa yang dimaksud Reno dan Idris. "Temanku yang bilang kalau Fikri akan melanjutkan sekolah di Bekasi, dia sama-sama satu klub bulu tangkis" ucap Reno. Aku tertunduk, panik, cemas, takut, malu, semua bercampur. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana kalau itu cuma berita bohong? Bukankah gosip yang beredar biasanya banyak bohongnya. Tapi informasi tadi, dari teman Reno yang satu club dengan Fikri, nggak mungkin juga dia bohong. Selama beberapa bulan ini aku tidak banyak berinteraksi dengan Fikri, itu saja sudah bikin aku nggak nyenyak tidur, apalagi kalau harus benar-benar berpisah. Seandainya sekarang aku mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya, apakah dia akan berubah pikiran? Bagaimana kalau itu adalah permintaan orang tuanya, tentu Fikri akan menurut. Aku benar-benar buntu, nggak tau harus bagaimana lagi. "Kamu ungkapkan saja perasaanmu" ucap Reno penuh harap. "Ya Rick, nggak usah berharap untuk dia tetap melanjutkan di sini. Tapi setidaknya, dengan mengungkapkan perasaanmu, kamu akan merasa lebih plong saja." Tambah Dion. Idris juga memberikan saran yang sama, tapi bagaimana? Anak kelas 3 sekarang sedang sangat sibuk. Selain itu bila aku mengungkapkan perasaanku, apakah tidak mengganggu konsentrasinya dalam ujian nanti? "Entahlah, aku akan pikirkan dulu. Maaf semua, kelihatannya aku ingin istirahat dulu di asrama" ucapku lesu, meskipun hari ini masih sore. "Ya, ambil keputusan, agar kamu bisa fokus ke pelajaran yang sudah menanti" ucap Dion tersenyum, Idris dan Reno juga tersenyum, mereka sahabat-sahabat yang baik. Aku meninggalkan teman-temanku di pondok jerami, pikiranku tambah kacau saja, di kejauhan lapangan bola kosong, padahal hari-hari biasa banyak siswa yang berolahraga, namun menjelang masa-masa ujian begini semua kegiatan olahraga divakumkan sementara, agar para siswa fokus dengan pelajaran. Kalau seandainya Fikri benar memutuskan untuk melanjutkan sekolah di luar, aku harus bagaimana? Aku tak tau jawabannya. Sebulan ini aku cemas bahwa hubunganku sama Fikri semakin renggang, tapi hari ini kecemasanku berubah jadi ketakutan, bukan hanya renggang, kami akan berpisah selamanya. Aku tak tau pikiranku sedang dimana, langkahku juga tidak jelas kemana, saat tersadar aku sudah ada di depan asrama Kevin, aku tida ada rencana kesini. Selain anak itu aku tidak banyak kenal siswa-siswa yang tinggal di asrama ini. Beberapa siswa duduk di bangku taman sambil membaca buku pelajaran, jadi ragu mau masuk, atau aku ke kolam renang saja, setidaknya di sana lumayan sepi, mengingat semua siswa juga tidak boleh berenang masa-masa ujian ini. Pintu gerbang gedung kolam ini tidak terkunci, aku masuk dan melihat di lobi tidak ada petugas jaga, hanya ada petugas kebersihan. Aku tidak masuk ruang ganti karena aku bukan mau berenang, hanya ingin menyendiri saja di pinggir kolam. Aku duduk di bangku panjang dekat kolam renang yang berukuran sedang, hanya ada satu anak yang sedang berenang di kolam yang besar, padahal sudah jelas-jelas dilarang karena sekarang masa-masa ujian. Tetap saja ada anak bandel yang tidak taat aturan. Ku perhatikan anak itu lebih dekat. Aku terkejut, benar-benar terkejut, sampe buku yang aku pegang jatuh. Aku kenal dia, siapa lagi kalau bukan Fikri. Kok bisa ketemu di sini? Kenapa dia berenang padahal jelas-jelas dilarang? Sepertinya Fikri menyadari keberadaanku, dia keluar dari kolam renang dan berjalan ke arahku dengan hanya menggunakan celana renang basah dan ketat. Semakin dekat semakin aku menahan ludah, memandang tubuh mulusnya yang putih, d**a yang sudah mulai membidang, wajar saja bodynya atletis gitu, dia suka renang, selain itu dia adalah atlet badminton. Fikri terseyum dan semakin dekat, mukanya yang masih basah tampak begitu mempesona, ingin rasanya aku berdiri dan berlari lalu memeluknya, menumpahkan semua yang ada dalam hatiku. Aku sudah muak dengan rasa takut dan ragu yang ada, aku akan menghadapi resiko apapun. "Siapa yang bilang ke kamu kalau aku di sini?' tanya Fikri begitu sudah dekat, dia berdiri menatapku dengan senyumnya yang ramah. Aku tidak menjawab pertanyaannya, jantungku berdegup begitu kencang, memompa darah dan adrenalinku pun bangkit, tak ada rencana, tak ada ketakutan dan tak ada pikiran yang panjang. Aku berdiri dan memeluknya, lalu mencium bibirnya yang merah, aku tidak bernafsu untuk melakukan tindakan yang tidak senonoh, meskipun dia cuma pake celana renang yang ketat. Aku hanya merindukannya, benar-benar merindukannya. Fikri membalas ciumanku, beberapa detik kami melakukannya, kemudian aku dan Fikri berhenti, aku kembali duduk, Fikri tetap berdiri di tempatnya, masih bengong dengan adegan barusan, aku juga malu dengan adegan itu. "Aku berharap kamu masuk SMA di sini, aku tidak sanggup pacaran jarak jauh" ucapku lirih. "Jadi kita pacaran nih?" tanya Fikri dengan senyum yang belum pernah aku lihat sebelumnya. "Kan sudah ciuman di bibir" jawabku polos. "Petugas kebersihan tadi mana? Jangan-jangan dia lihat kita ciuman tadi" celetuk Fikri tiba-tiba. "Mungkin saja" jawabku asal, aku tidak peduli kalau dia lihat, lagian petugas itu tidak kenal kami. "Cium dikit lagi boleh?" canda Fikri manja, "Pake baju dulu, malu tau" kilahku berlaga jutek. "Nggak apa-apalah, mendingan kamu saja yang ganti pake celana renang" "Ihh, pikirannya ngeres" bantahku. "Tapi kok kamu berenang sih? Kan sekarang masa-masa ujian nggak boleh berenang?' aku baru ingat, padahal ini yang mau aku tanyakan dari tadi. "Hari ini hari tenang, kami sudah belajar 1 bulan lebih, 2 hari lagi ujian nasional, jadi supaya tidak tertekan semua anak kelas 3 bebas dari kegiatan apapun, dan boleh berbuat apa saja, asal jangan melanggar aturan, buat penyegaran" jawab pacar baruku ini. "Kenapa kamu milih kolam renang?" tanyaku. "Aku suka berenang, bikin pikiranku lebih segar aja. Kamu sendiri tau aku di sini nanya sama siapa?" "Ih... kamu geer banget, aku kesini bukan nyari kamu, aku pengen menyendiri saja, sedang banyak pikiran, jadi aku kesini, kan lumayan sepi, nggak taunya malah ada kamu" kilahku. "Alesan! ngaku aja kamu kangen? Terus nyari aku sampe kesini." ucap Fikri cengengesan. "Kegeeran kamu itu, aku sedang banyak pikiran, tadi Reno ngasih info kalau kamu mau masuk SMA di Bekasi" gumamku. Ouch, kok aku keceplosan. Kulirik Fikri yang sedang berdiri di depanku, dia tersenyum penuh kemenangan. Huft! Dia tau dong masalah apa yang bikin aku begini. "Rick," bisik Fikri pelan. Aku mentapnya. "I Love You" ucap Fikri, hatiku terasa aneh mendengar ucapan itu, rada norak menurutku hahahaha, tapi aku senang dia mengucapkannya, dia lebih tua dariku, jadi memang dia seharusnya yang duluan ngungkapin. Sedang aku malu untuk mengucapkan kata-kata yang sama, masih belum pede. Biasanya cuma artis sinetron yang mengungkapkan cinta dengan kata-kata begitu. Aku berdiri dan memberi jawaban versiku sendiri, seperti kebanyakan di film-film Hollywood, hanya satu jawaban CIUMAN DI BIBIR Ternyata menumpahkan segalanya dengan satu ciuman lebih mudah dari pada menceritakan semua unek-unek dan isi kepalaku ini, aku juga masih malu untuk mengungkapkan kata I Love You, tapi setidaknya saat ini aku sudah berani bertindak, dan sepertinya Fikri lebih suka ciumanku ketimbang ucapanku hahahaha.... Setelah ciuman kedua itu, aku dan Fikri duduk di bangku samping kolam, tidak lama petugas kebersihan tadi muncul dari dalam gedung, kelihatannya dia cuek saja. "By the way petugas kebersihan tadi nggak ngelihat kan?" tanyaku rada malu. "Kelihatannya belum, sini aku cium lagi biar dia lihat" canda Fikri tiba-tiba. "Idih, doyan banget ya, males" elakku. BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN