Episode 8 Bagian 1

2331 Kata
Sudah sebulan aku menjalani hubungan dengan Fikri, bukan hubungan spesial. Ya, sampai saat ini kami masih belum punya status yang jelas. Hanya sebatas teman dekat, kalau ada istilah teman tapi mesra, sepertinya kami berdua sedang dalam situasi itu. Jadi aku dapat kecupan di kening terus dong? Tidak juga, kecupan malam itu, saat kami berdua di taman adalah moment paling dekat secara fisik antara aku dan Fikri. Kami tidak pernah melakukannya lagi, tepatnya Dia tidak pernah mengecup keningku lagi, meski kadang aku berharap dia mencobanya, bahkan dalam hayalanku sedikit lebih nakal. Sebenarnya bukan karena Fikri menggantung hubungan kami, justru akunya yang belum siap. Kadang aku memahami maksud Fikri untuk menjalani hubungan yang lebih serius, "pacaran". Namun, terus terang aku belum siap untuk itu. Pacaran artinya seutuhnya atau bisa dikatakan "all out", dan jujur saja aku belum ingin memulai hal seperti itu sekarang, aku baru 15 tahun. "Rick, perasaan kamu sebenarnya gimana?" tanya Fikri saat kami sedang istirahat sekolah. Aku tatap wajah Fikri yang cute, tidak ada senyuman, sepertinya dia serius bertanya. "Aku senang sudah mengenal kamu, dan kita bisa dekat seperti sekarang. Terus terang saja hari-hariku di sini terasa lebih baik" jawabku santai. Fikri tidak begitu antusias dengan jawabanku itu, mungkin bukan hal yang ingin dia dengar. Hemmmmm, tapi jujur kok, itulah yang sebenarnya. "Maksudku, lebih khusus. Kalau dibilang senang aku juga sangat senang kita bisa dekat dan akrab. Aku hanya ingin memastikan, karena aku tidak mau cuma menduga saja" timpal cowok di sampingku ini. Tak tampak wajah canggung atau kikuk, Fikri menatapku penuh arti, tergambar harapan dalam tatapannya itu. Aku susah untuk menjawab, sejenak aku diam mecari kata-kata yang pas untuk diucapkan. Kalau ditanya perasaanku, jawabannya sudah sangat jelas, aku menyukainya, aku mencintainya. Memang awal pertemuan kami ketika MOS adalah saat pertama kali rasa suka itu tumbuh, seiring aku mengenalnya, cinta itu berkembang semakin subur, ya Fikri tidak hanya tampan, tapi dia benar-benar bikin aku nyaman. Senyumannya, pelukannya, bahkan kecupan di kening waktu itu, meski cuma satu kali, cukup jadi alasanku untuk mencintainya. Tapi kalau masalah status hubungan? Aku juga bingung, terus terang saja pacaran tidak semudah mengucapkannya, ada konsekuensi yang harus aku dan dia tanggung, dan aku belum siap untuk itu. "Hemmmmm, kalau lebih khusus, tentang hubungan yang serius, aku nggak bisa jawab sekarang, jujur aku nggak ngerti dengan perasaan yang ada dalam diriku." jawabku. Fikri menarik nafas, pandangannya lurus menghadap bukit-bukit yang mengelilingi kampus ini. Aku tak tau apa yang ada dalam benaknya, hanya saja aku belum dapat mengartikan perasaanku sendiri. Mungkin dia kecewa dengan jawabanku, tapi aku harap dia dapat mengerti, kami hanyalah anak-anak kecil, di dunia luar cinta anak-anak seumuranku masih disebut cinta monyet. Memang satu setengah tahun lalu aku benar-benar jatuh hati pada anak ini, bahkan saat ini rasa itu sudah bertambah berkali-kali lipat. Ingin aku katakan padanya, jangan meragukan cintaku, tapi bagaimana? Mengungkapkannya saja belum. Kami berdua hanya saling menduga, membaca simbol dan rasa di antara kami. Seperti kendaraan di traffic light, ketika lampu merah menyala, kendaraan berhenti dan bila lampu hijau menyala maka kendaraan itupun berjalan kembali, tidak ada pemberitahuan, tidak ada pengumuman, hanya simbol yang umum, ya begitulah kami, membaca sikap kami masing-masing. "Aku ingin jadi pacarmu Vick, karena aku benar-benar menyayangimu, tapi semakin aku jalani dan melangkah ke dalam realita ini aku semakin takut dan tak berdaya. Aku tidak pernah pacaran sebelumnya, aku akui waktu SD aku pernah suka sama cewek sekelasku yang bernama Apriyani, dia selalu ranking satu saat itu. Tapi itu hanya cinta monyet, cinta yang aku sendiri tidak tau artinya. Aku tidak tau rasa sukaku karena dia cantik atau pintar, sampai saat ini pun tidak dapat aku bedakan." Ingin aku ungkapkan isi hatiku itu padanya, tapi aku tak tahan melihat dia kecewa. Aku belum siap pacaran, apalagi pacaran sama seorang cowok. Entahlah, memang benar awalnya aku ingin dekat dan mengenal Fikri lebih jauh, bahkan jujur saja aku menghayalkan kami pacaran, bersenang-senang dan hal-hal lainnya, bahkan sampe yang m***m pun juga muncul dalam bayanganku. Sekarang, setelah semua yang aku alami, proses panjang mendekati cowok idamanku sampai pada tahap ini, justru aku bingung. Aku tidak yakin untuk menjalani hubungan serius sesama cowok, ketakutan mulai muncul di dalam hatiku, bagaimana kalau orang tua ku tau? Apa yang akan mereka rasakan? Apakah ini jati diriku? Sudah benarkah pilihanku? Entahlah, aku tak tau jawabannya dan tak ingin tau. "Kok kamu diam?" tanya Fikri dengan senyumannya yang ramah. Aku hanya membalas dengan senyum getir, pikiranku masih kalut. Ada perasaan tak enak, rasa bersalah karena mengecewakannya, bahkan ada rasa takut seandainya Fikri mencari pacar lain. Aku belum bisa menerima itu, aku ingin memilikinya, tapi kelihatannya aku belum ikhlas dia memilikiku, egois memang. "Mukamu kok jadi serius gitu?" tiba-tiba Fikri bercanda seolah-olah apa yang ditanyakannya barusan tidak perlu dibahas lebih lanjut. "Habis pertanyaanmu bikin aku harus banyak mikir" jawabku pelan Dia meletakkan tangannya di pundakku, aku tak menepisnya karena berasa nyaman begitu. Kusandarkan kepalaku di lengannya, aroma tubuh Fikri begitu segar, bikin aku tambah nempel, hehehe. Jujur saja, aku enggan beranjak dari posisi ini. Entah sudah berapa kali aku menghayal memeluk peri tampan ini, kadang juga sampe kebawa mimpi. "Mungkin beberapa hari ke depan kita akan jarang bertemu" ucap Fikri tiba-tiba, suaranya terdengar kurang bersemangat. Aku meluruskan tubuhku dan menatap wajah Fikri, wajah yang serius dan terlihat murung. Dia tidak sedang bercanda. "Apa maksudmu? Apa masalah "hubungan serius" tadi?" tanyaku penasaran. Dia menggeleng dan tersenyum saja, meski senyumnya berbeda, dalam senyum itu tersimpan rasa yang aku tak pahami. Ada apa sebenarnya? "Nggak lama lagi ujian nasional, wali kelasku sudah menjadwalkan belajar malam hampir setiap hari, jadi kita akan jarang bertemu" Fikri memberi jawaban atas kegundahanku. Aku sedikit lega, syukurlah kalau cuma masalah itu, artinya hubungan kami akan tetap berjalan, meski hanya sebatas teman dekat. Tapi kalau dipikir-pikir masa wajahnya sampe sebegitu sedih sih, kan cuma nggak ketemu beberapa hari, bukan perpisahan selama-lamanya. "Tapi kan siang ada waktu. kamu juga nggak belajar melulu kan?" sindirku manja. "Hahahaha, kamu ini nggak ndukung aku sukses ya?" ucap Fikri sambil nyengir, sekarang mukanya sudah di depan mukaku, ingin rasanya aku cium bibirnya yang merah itu. Ah, aku nakal, hahahaha. "Ngapain juga aku dukung, kamu kan bukan pacarku" timpalku pura-pura ketus. "Nah kalau aku bukan pacarmu, kenapa kamu berharap waktu siang buat ketemu" balas Fikri dengan senyum puas. Aku manyun saja, anak ini benar-benar jago mematahkan alasanku, huft, meski itu salah satu faktor bikin aku tambah suka. "Oke, kalau siang kamu juga nggak ada waktu, kan masih ada Kevin" balasku nggak mau kalah. Muka Fikri berubah 360 derajat, sepertinya kata-kataku tadi benar-benar menusuk ke hati, hahaha. "Oh itu jadi alasanmu nggak mau hubungan kita lebih khusus, aku mengerti sekarang" kata-kata Fikri terlihat kecewa. Oh my god, dia beneran marah? Aku tadi kok ngomong gitu sih, padahal maksudku cuma becanda. Nggak mungkinlah aku sama Kevin "pacaran", ya meskipun aku tidak menolak berciuman atau lainnya dari Kevin, secara dia juga cakep, apalagi cuma pake celana renang, ih kok malah ngeres, huft. Maksudku, aku nggak ada perasaan spesial sama Kevin saat ini. "Sorry, aku becanda, Kevin itu cuma temanku kok" ucapku lesu. Kadang memang niat bercanda malah dipahaminya salah. Fikri hanya diam saja, dia tidak memandangku. Rasanya benar-benar nggak nyaman, kok jadi gini. "Hahahahaha, lucu liat muka kamu gitu" sambil tertawa Fikri memelukku dari samping. Huh! Dasar Fikri, aku sudah menyalahkan diriku sendiri, dan jadi salah tingkah begini, ternyata dia cuma main-main saja. Awas! "Hey, kamu ngerjain aku ya" ku tepis tangan Fikri dan melepaskan pelukannya. Dia malah tambah asik tertawa. "Kita bukan muhrim, jangan peluk-peluk" balasku jengkel. Aku masih kesal dibuatnya, ku kira tadi dia benar-benar kecewa, habis tampangnya sangat meyakinkan. "Masa nggak boleh meluk sih" Fikri merengek seperti anak kecil. Sekarang giliranku yang jutek. "Oke lah kalau nggak boleh meluk, aku cium aja ya, di bibir boleh?" bisiknya dengan muka sejengkal dari mukakku, terang aja bikin aku kaget dan gugup, jantungku juga dag dig dug. "Nggak boleh, aku bukan cowokmu" spontan aku memalingkan mukaku ke depan. Fikri malah tertawa lebar, kelihatannya anak ini seneng banget bikin aku sebel. "Tapi kenapa kamu harus marah kalau beneran aku mau jalan sama Kevin? Kitakan tidak sedang pacaran" sindirku dengan senyum puas. Fikri tidak menggubris pertanyaanku, malah dia cuma nyanyi-nyanyi sendiri. Dasar Fikri, pasti nggak bisa jawab tuh. Kebersamaan kami hari itu berakhir setelah bel masuk kelas berbunyi. Tidak banyak pertemuan setelah itu sampai hari ini, aku maklum karena menjelang ujian nasional begini seluruh siswa kelas 3 SMP dan SMA sudah sibuk mempersiapkan diri. Hemmmmm, tahun depan aku akan menghadapi hal yang serupa, semoga saja. Kalau sudah jarang ketemu begini bawaannya kangen, mau ke asramanya juga jadi serba salah. Fikri selalu pulang lewat jam 10 malam, sedangkan jam segitu absen malam di asrama. Seluruh siswa tidak diperkenankan keluar lebih dari jam 10, kecuali yang dapat panggilan pengurus OSIS atau guru. Kalau ada keperluan mendadak bisa izin ke pengurus asrama, masalahnya mau ketemuan sama Fikri lewat jam malam, tidak termasuk kategori urusan penting menurut pengurus asrama, huft. Meski sebenarnya saat siang Fikri bisa saja menemuiku, karena tidak ada jam belajar, tapi anehnya dia tidak melakukannya. Menurutku tidak ada masalah saat kami terakhir ketemu, meski Dion beranggapan bahwa Fikri sebenarnya pengen nembak waktu itu dan aku justru menolak sebelum dia menyatakan perasaanya. Padahal bagiku, saat itu Fikri hanya menanyakan perasaanku, tidak ada indikasi dia mau nembak, dan aku juga belum siap pacaran. Jadi itu bukan alasan dia menghindar atau menjauhiku seperti pendapat Dion. Aku sih tetap yakin dia hanya sibuk saja, karena ujian nasional semakin dekat. Aku sempat cerita sama Reno dan Idris, kedua sahabatku itu juga bingung mau ngasih saran, menurut mereka berdua, semua tergantung aku, karena Fikri sudah jelas punya perasaan dan ingin kami pacaran, sedangkan aku juga punya rasa yang sama, hanya saja aku belum siap untuk pacaran. "Jadi intinya tergantung kamu Rick, ucapan Fikri itu sudah mengisyaratkan dia nembak kamu" Begitu kira-kira pekiraan Reno. Tapi dia hanya bertanya tentang perasaanku, bukan nembak? Meskipun menurut Reno ada perbedaan nembak sesama cowok dengan nembak cewek. Kalau nembak cewek tinggal ungkapin saja, masalah ditolak urusan belakangan. Namun untuk urusan nembak sesama cowok, setidaknya punya keyakinan tujuh puluh persen dulu kalau dia punya perasaan sama, baru berani eksekusi. Jadi wajar kalau Fikri perlu signal yang lebih meyakinkan dariku. Artinya Reno sependapat dengan Dion. Sedangkan Idris tidak banyak saran, yang ada dia malah balik nanya tentang apa saja yang sudah kami lakukan dan ujung-ujungnya otaknya ngeres, jadi malas ngebahas masalahku sama anak itu. Yang bikin tambah bete malah si Dion, bukannya cari solusi anak itu sekarang justru mendukung agar aku jaga jarak dulu sama Fikri. Aneh, kemaren nyuruh nerima dan menafsirkan kata-kata Fikri, hari ini sudah beda lagi pendapatnya. "Fikri sedang mempersiapkan diri untuk ujian nasional, jadi kamu harus memahaminya. Lagian kamu harus fokus ke pelajaran kita juga, sebentar lagi ujian kenaikan kelas, jangan mentang-mentang kamu kelas A sudah yakin naik. Memang sih, bisa dipastikan semua teman sekelas kita akan naik, masalahnya naik kelas 3 apa dulu? Sudah siap kamu kalau naik ke kelas 3H?" Ucap Dion dengan ritme begitu cepat saat aku curhat sama dia, bukannya ngasih pencerahan malah ngasih petuah, dasar Dion! Semua hal-hal kecil bercampur aduk dengan ketakutan, kelemahan dan ketidakberdayaan sehingga aku merasa seakan-akan punya beban yang begitu besar. Tapi omongan Reno ada benarnya, akulah kunci semuanya. Ambil sikap yang tegas, kemudian enjoy saja. Hemmmm, Mudah sekali diucapkan, tapi nggak tau cara menerapkannya. Huft. Entah sudah berapa lama aku duduk di ruang rekreasi, memikirkan hal-hal yang terjadi selama ini. Dion belum sampai juga, padahal janjinya mau ngajak ke bagian tamu. Ya, meski sudah lebih satu setengah tahun aku dan Dion bersahabat, aku belum pernah bertemu orang tuanya, dan kebetulan hari ini mereka berkunjung, jadi dia akan ngajak kami ke bagian tamu, sayangnya Idris latihan teater dan Reno latihan bola sama klubnya, alhasil cuma aku saja yang ada waktu luang. Akhirnya Dion muncul juga, sudah lumayan lama aku duduk sendirian di ruanganan ini, maklum saja jam sore begini semua siswa banyak yang ikut eskul, olahraga, ke kantin dan pacaran, makanya ruang rekreasi jadi kosong, mungkin kalau aku sedang pacaran sama Fikri, entah sedang dimana kami sekarang. "Udah lama nunggu? Sorry ya tadi aku ada tugas dikit. Lagian kamu aku suruh ke asramaku malah nggak mau" ucap Dion masam. Aku tidak menjawabnya, males banget, nanti malah lain lagi yang dibahas. Kami berdua segera berangkat ke bagian tamu buat ketemu sama ortunya, bukan hanya sebatas kenalan tapi juga makan-makan, kalau sedang ada kunjungan orang tua sudah jadi tradisi banyak jajanan yang dibawa masuk ke kampus, ada buah-buahan, camilan khas dan banyak lagi. By the way aku juga nggak tau apa camilan khas dari Malang selain buah apel, hehehe. "Asramaku lebih dekat ke bagian tamu ketimbang asramamu, jadi mending aku nunggu di asramaku saja" jawabku seadanya sambil berjalan. Aduh, kok aku malah jawab sih pertanyaan Dion tadi. Mana pake ngarang alasan lagi, s**t! "Iya, aku percaya," timpal Dion dengan nada jelas-jelas tidak yakin. Dasar anak ini, analisisnya terlalu dalam. "Kenapa nadanya begitu?' tanyaku kesal. "Sudahlah nggak usah bohong, kamu nggak mau ke asramaku kan karena males ketemu sama Fikri?" tuduh Dion, huft! Meski benar tapi aku enggan mengakuinya. "Nggak, ngapain juga aku males ketemu dia, kami sudah dekat kok, dan juga nggak ada masalah di antara kami" balasku masam. "Emang terakhir kamu ketemu dia kapan?" tanya Dion dengan tatapan tajamnya. Akhirnya kesini lagi bahasannya, ngapain sih tadi aku pake jawab segala. Tapi kok Dion sekarang jadi aneh gitu, bukannya dia setuju agar aku menjaga jarak sama Fikri, supaya kami bisa fokus ke pelajaran masing-masing. "Kok diam? Sudah lupa ya pertemuan terakhir kalian" Dion kembali mengulang celutukkan yang sama, bikin nggak enak saja. "2 minggu yang lalu," jawabku lesu, ya memang sudah cukup lama, kadang aku ragu hubunganku dengan Fikri baik-baik saja, walaupun hal biasa bila teman tidak saling ketemu dalam 2 minggu, tapi aku dan Fikri setidaknya lebih dari teman, meski tidak pernah kami ucapkan. "Waktu istirahat sekolah itu?" tanya Dion sambil sesekali melirik ke arahku. "Iya," jawabku tanpa menatap wajahnya, anak itu diam saja. Kelihatannya dia juga tidak ingin membahas lagi masalah ini dan akupun sama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN