Episode 7 Bagian 2

402 Kata
Wajah Fikri juga rada nggak nyaman jadinya, tapi kok dia malah senyum-senyum begitu? Apa dia menganggap ucapanku tadi cuma becanda? Sukurlah kalau dia nganggap nggak serius. Thanks God. "Kita kan nggak sedang pacaran, mana mungkin aku cemburu sama Kevin" jawab Fikri santai. "Kalau kita sedang pacaran kamu cemburu?" tanyaku tanpa berpikir lagi. Aku juga heran dengan diriku sekarang, nggak tau pikiranku seakan-akan tidak mampu mengontrol ucapanku. Mungkin keberanian ku sudah muncul, entahlah aku tidak tau pasti. Fikri tidak langsung menjawab pertanyaan konyol ku tadi, dia tersenyum dan semakin dekat saja, tiba-tiba dia menatapku dan jarak mukanya hanya beberapa centi saja dari mukaku, aku dapat merasakan nafasnya, wajahnya begitu dekat, aku diam tak bergerak, tak mampu berkata, pokoknya semua syarafku seakan-akan berhenti berfungsi. "Kalau kita sedang pacaran aku pasti sudah mencium bibirmu" bisik Fikri di telingaku. Aku terkejut, ku kira dia mau memelukku atau menciumku, tapi ternyata dia hanya berbisik saja, dasar Fikri bikin jantungku dag dig dug saja, dan otakku juga rada m***m, jadi berharap yang nggak-nggak, huft! "Tapi sayang kita tidak sedang pacaran kan, jadi ucapanku tadi tidak perlu dipraktekkan" aku tidak tau mau merespon bagaimana ucapan Fikri barusan, apakah itu bentuk signal kalau dia ingin kami jadian, atau godaan agar aku jatuh dalam perangkap cintanya, entahlah hanya dia yang tau. Yang jelas saat ini aku masih tak mampu bicara. "Malam ini menyenangkan, aku akan selalu ingat malam ini" gumam Fikri, tatapannya lurus ke pepohonan yang remang di samping gedung kesenian. Aku tak tau apa yang ada di pikirannya saat ini, aku juga masih kacau dengan perasaanku sendiri. Lama kami berdua terdiam, sampai bel dari kantor Pengasuhan berbunyi tanda siswa harus kembali ke asramanya. "Pulang yuk, sudah hampir jam sepuluh, sebentar lagi absen di asrama kan?" ucapku lelah. Fikri mengangguk dan dia tersenyum seperti senyumnya satu setengah tahun lalu. Kami berdiri dan berjalanan berlawanan arah, karena asrama kami berbeda. "Vick," tiba-tiba saja aku memanggilnya, dia langsung berbalik dan mendatangiku, lagi-lagi dia tersenyum seperti itu. "Aku juga senang malam ini, makasih ya" ucapku lembut. Aku tak sadar dan tidak menduga, yang aku ingat bibir Fikri sudah menempel di keningku, terasa basah dan hangat, hembusan nafas dan aroma tubuhnya membuatku tak berdaya, aku tak tau mau berkata apa, tapi aku tidak akan menepisnya karena aku menyukainya dan berharap kecupan itu lebih lama, hemmmmmm harapan yang mustahil, "Karena kamu bukan pacarku, aku cuma berani mengecup keningmu" ucap Fikri, dan dia berlalu menuju asramanya. BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN