Happy Reading ^_^
***
Seminggu setelah perawatan, kondisi Indah dinyatakan fit untuk dipulangkan. Tapi meskipun raganya terlihat baik-baik saja, tapi jiwanya pasti masih terluka. Senyum ikhlasnya jelas tak benar-benar seikhlas itu. Dia jelas-jelas sedang berusaha menyembunyikan kepedihannya.
"Teh, makasih ya atas bantuannya. Dan maaf juga karena aku nggak bisa kerja sama Teteh lagi entah sampe kapan. Aku pengen istirahat dulu."
Perkataan Indah langsung diangguki oleh Laras. Laras terkenang dengan permintaan Indah beberapa hari setelah keluar dari rumah sakit. Katanya dia ingin pulang dan istirahat. Laras pun menyetujuinya karena paham seperti apa lelahnya Indah saat ini. Wajar baginya untuk muak dengan rutinitasnya yang melelahkan di saat batinnya yang terluka juga.
"Iya nggak apa-apa, Ndah. Fokus ke penyembuhan kamu aja dulu. Nanti kalo udah bener-bener sembuh, kapan pun kamu mau kerja lagi kamu bisa dateng untuk menemui saya. Saya pasti bakal menerima kamu lagi."
"Makasih ya, Teh. Dan makasih juga tentang Teteh yang bersedia tutup mulut dulu ke orang tua aku tentang kondisi aku. Aku bukannya pengen menutupi semuanya selamanya. Aku pasti cerita, tapi nanti setelah aku siap."
Laras pun terkenang saat momen di mana Indah menangis sesegukan dan memohon agar orang tuanya tak diberitahu dulu. Laras paham kenapa Indah sampai seperti ini. Antara tak kuat menahan isak tangisnya atau dia ketakutan setengah mati. Dia takut dihakimi makanya memilih menyembunyikan diri dulu. Meskipun salah, tapi tentu saja Laras menyetujuinya karena dia paham kalau ini bukan urusan keluarganya sama sekali. Dari sekian banyak orang, Indahlah yang paling berhak untuk menceritakan permasalahannya sendiri.
"Aku paham, Ndah. Kamu tenang aja. Itu permasalahan kamu dengan keluarga kamu, jadi aku nggak akan ikut campur. Entah kamu bercerita atau tidak, semoga kamu mendapatkan kebahagiaan setelahnya. Cuma aku mohon banget, jangan sampe hal seperti ini terulang lagi. Tolong sadari bahwa hidup kamu itu lebih penting dari apa pun."
Indah menitikkan air matanya dan mengangguk ke arah Laras. Dia menggenggam tangan Laras yang sudah dianggapnya seperti saudara sendiri. "Makasih ya, Teh. Di saat orang lain menganggap aku nggak punya masa depan, Teteh-lah satu-satunya orang yang maju dan ngasih aku pekerjaan. Walau belum mapan, tapi aku dapet uang dan bisa membungkam mulut orang-orang yang ngeremehin aku. Aku bodoh ya karena mengorbankan semua itu demi laki-laki seburuk Sebastian ya, Teh?"
"Iya, kamu bodoh banget. Tapi nggak apa-apa, ini pengalaman berharga. Kalo nggak ada ini kamu mungkin nggak akan pernah belajar kalo ada banyak laki-laki brenggsek di luar sana yang cuma mengincar wanita karena penasaran. Kamu harus lebih selektif lagi."
"...."
"Dan masalah uang pun bisa dicari. Apalagi aku udah janji akan menerima kamu kapan pun kamu mau kembali kan, Ndah? Yang penting sekarang kamu tenangkan diri kamu dulu. Mental kamu sedang lemah-lemahnya sekarang."
Indah mengangguk. "Aku pamit ya, Teh."
***
Laras ingat perkataannya pada Indah tentang kerelaannya saat melepaskan Indah meminta untuk berhenti bekerja. Tapi meskipun begitu tak dipungkiri juga kalau Indah lumayan keteteran dalam urusan pekerjaannya. Karena seperti yang diketahui, Indah adalah satu-satunya pekerjanya. Dengan Indah-lah dia berbagi banyaknya pesanan yang perlu di packing-nya. Bahkan karena ada orang lain -Indah- pekerjaan yang banyak pun terasa diringankan karena diselingi oleh cerita dan candaan. Sekarang? Laras menyelesaikan semuanya sendiri. Dia tidak membagi pekerjaannya dengan siapa pun. Bahkan di saat-saat lelah pun dia tidak punya teman ngobrol lagi. Dia bungkam sepanjang hari dan kala lelah pun dia memendamnya seorang diri.
Di hari pertama Laras membuka toko, semuanya memang baik-baik saja karena pesanan tidak membludak seperti biasanya. Tapi ketika Laras sudah membuka tokonya secara rutin, pesanan langsung datang tanpa henti. Laras pikir dengan libur yang diambilnya lumayan lama itu dia akan kehilangan customer-customernya. Tapi siapa sangka kepuasan mereka akan tokonya-lah yang membuat mereka kembali dan terus berbelanja di sini meski ada banyak toko dengan title original dan terpercaya.
Sadar akan privilege itu, Laras pun bertekad untuk memberikan pelayanan seperti saat Indah ada di sini. Packing cepat, rapi, dan barang dikirim melebihi ekspektasi pembeli. Tapi karena itu juga Laras harus mengorbankan dirinya untuk lembur terus. Bagaimana tidak, packing-an yang biasanya dia bagi dua kini dia handle sendirian. Belum lagi dengan stok barang-barangnya yang perlu dijaga--Laras benar-benar keteteran.
Tapi hari ini berbeda karena ada sosok kecil yang tiba-tiba datang dan merusuhinya. Dialah Fayyola Mahardika.
"Tanteeee..."
Duh, panggilan manjanya membuat Laras rindu. Sejak kasus Indah, dia dan Fayyola memang tidak pernah berteleponan lagi. Mungkin Faisal yang melarangnya karena pria itu tahu bagaimana terpuruknya kondisinya saat itu.
"Kamu ngapain ke sini?"
"Papa lagi nggak kerja, jadi aku minta anter ke sini."
Laras meringis. Masalahnya dia sedang bekerja dan kontrakannya saat ini sedang berantakan sekali. Ini hari minggu, tapi Laras sedang sibuk menyicil packing-an pesanannya.
"Mau main." tambah Fayyola lagi dengan tatapan yang tak bisa ditolak oleh Laras. Mungkin ini semacam teguran dari Tuhan agar Laras tidak hanya berfokus pada pekerjaannya. Ini minggu -walau dia sebenarnya lupa kalau ini minggu- dan sudah seharusnya dia beristirahat seperti kebanyakan orang.
"Kita main di luar aja mau? Kontrakan Tante berantakan soalnya."
"Nggak usah merasa terbebani dengan kehadiran Fayyola, Laras. Kalo kamu harus kerja ya kerjain aja. Fayyola murni pengen main ke kontrakan kamu karena katanya belum pernah ke sini. Sama dia mau nagih barbie kertas yang kamu janjiin via telpon kapan hari itu."
Laras memerhatikan Fayyola yang terlihat melirik Papanya. Itu artinya semua keputusan berada di tangan Papanya. Dan sebelum Papa Fayyola berujar apa pun, Laras menyela dengan cepat.
"Barbie kertas ada, dan jalan-jalan tetep di luar. Gimana? Fayyola seneng kan?" ucap Laras lagi yang langsung memunculkan binar di mata Fayyola.
"Tapi, Laras..."
Faisal hendak menyela, tapi Laras menggeleng sebagai bentuk penolakan. Dia pun kekeuh karena sepertinya dia juga butuh hiburan itu. Istilahnya mumpung ada yang ingin, karena kalau Laras pribadi jelas akan menahannya dan mementingkan pekerjaannya terlebih dahulu. Ya, dia sudah terbiasa menahan apa yang menjadi keinginannya untuk hal-hal yang dirasanya jauh lebih penting. Dan bekerja itu selalu lebih penting dari apa pun.
"Nggak apa-apa kok, Pak. Daripada maksain di sini, sayang banget hari minggunya. Mending jalan-jalan di luar aja. Udah terjamin Fayyola puas dan happy. Dan sebenernya saya pun agak jenuh." aku Laras dengan malu-malu.
"..."
"Gimana? Setuju kan?"
Pada akhirnya Faisal mengangguk sebagai pertanda setuju. Karena itu juga Fayyola langsung berseru senang dan Laras pun bergegas untuk bersiap-siap. Karena ini adalah perjalanan dadakan, Laras pun memutuskan untuk memakai pakaian yang simple saja. Siapa tahu nantinya dia membutuhkannya karena harus sigap dan banyak gerak.
Lalu pilihannya jatuh pada celana jeans yang warnanya sudah lumayan memudar karena terlalu sering dipakai lalu dicuci. Untuk atasannya sendiri Laras memilih kemeja warna biru yang lengannya dia gulung sesiku. Simpel dan cocok dengan cerahnya hari ini setelah sebelumnya diguyur oleh hujan.
Selesai menyiapkan diri, Laras pun bergegas pergi dengan ayah dan anak tersebut. Dan tujuan mereka pun bukan yang spesial sekali, melainkan hanya taman bermain anak yang lokasinya tak terlalu jauh. Sekitar setengah jam berkemudi pun mereka tiba di lokasi tujuan.
"Fayyola lihat kan banyak anak-anak seusia Fayyola di sini? Kamu main ya sama mereka. Jangan malu-malu. Dan inget... nggak boleh nakal. Paham kan?"
Fayyola mengangguk dan bergegas untuk bergabung bersama anak-anak kecil lainnya. Dan hati Laras langsung menghangat melihat interaksi anak-anak yang bisa bergaul dengan mudahnya tanpa pertanyaan 'kamu siapa' terlebih dahulu seperti orang dewasa.
"Kalo punya kesempatan, saya pengen jadi anak kecil lagi. Rasanya menyenangkan melihat anak-anak seusia mereka main tanpa khawatir akan timbul rasa suka satu sama lain. Ya intinya main aja. Nggak kayak sekarang--mainnya cuma sebentar, tapi banyak realita yang datang buat sadar diri." Laras berceloteh, lalu memandang Faisal lekat-lekat. "Menurut Pak Faisal gimana?"
Faisal terkekeh sekilas. Tapi meskipun begitu tatapan matanya tetap terarah ke ponsel yang ada dalam genggamannya. "Laras, saya udah punya anak. Kalo saya berharap memutar waktu dan jadi anak-anak lagi, terus anak saya gimana? Itu sama aja saya nggak mengharapkan anak saya untuk hadir ke dunia ini."
Laras memanyunkan bibirnya. Yang dibilang Faisal memang ada benarnya. Tapi kan ini pengandaian, masa iya dianggap serius oleh pria itu?
"Maksudnya kita berandai-andai gitu. Jangan dianggep serius."
"Hidup itu nggak usah kebanyakan berandai-andai, Laras. Yang serius-serius aja."
Laras merengut. Dasar tidak bisa diajak bercanda, pikir Laras. Tapi yang menjengkelkan adalah Faisal bisa berkata 'yang serius-serius saja' di saat matanya terus menatap ponselnya. Kalau seperti itu bagaimana Laras bisa menganggap jawaban pria itu sebagai sesuatu yang serius? Tidak mungkin.
"Pak Faisal lagi kerja ya? Ini hari minggu lho. Seharusnya Bapak quality time sama Fayyola, bukan quality time sama pekerjaan."
"Kamu sendiri kerja di hari minggu, Laras."
Oke, Laras langsung kena skakmat. Dia bungkam dan hal ini membuat Faisal tergelak selama beberapa detik. Kemudian pria itu mempercepat ketikannya dan setelah selesai ponselnya langsung dia letakkan ke atas meja. Ditatapnya Laras dengan perhatian penuh.
"Sebenernya dibilang kerja ya nggak juga sih, Ras. Cuma saya nggak melarang kalo staff lab saya mau konsultasi hasil yang kritis ke saya. Terutama kayak di RS satunya lagi tuh. Kan seperti yang kamu tahu sendiri kalo saya itu Sp.PK di dua rumah sakit dan memang stay di RS Permata Hati. Makanya untuk RS yang kemaren jadi tempat rawat inap Indah itu saya persilakan menghubungi saya kapan pun mereka butuh. Itu sebagai bentuk dedikasi saya karena berani praktek di dua tempat, yang artinya saya udah siap untuk direpotkan seperti ini."
"Kapanpun mereka butuh? Weekend seperti ini sekali pun?"
Faisal mengangguk. "Weekend seperti atau bahkan tengah malam sekali pun--saya bener-bener nggak masalah kalau mereka emang membutuhkan saya. Toh juga konsul semacam ini nggak akan memakan waktu yang lama banget. Mungkin terkesan ribet, tapi ini semacam cara saya memastikan bahwa setiap hasil yang keluar itu udah benar dan saya siap tanggung jawab sepenuhnya. Jadi kalo sewaktu-sewaktu saya dikomplain hasil kritis sama spesialis lain ya saya bisa jawab gitu. Nggak yang kebingungan dan akhirnya jadi boomerang buat diri sendiri."
Laras mengangguk paham dan sedikit terkagum-kagum dengan cara kerja Faisal. Maksudnya, pria itu benar-benar berusaha bertanggung jawab sekali di dua tempatnya bekerja. Laras ingat sekali Sp.PK-nya dulu begitu cuek dan percaya sepenuhnya dengan hasil yang dikeluarkan tanpa perlu konsul. Hasilnya? Ada banyak komplainan yang masuk karena ada ketidaksesuaian antara hasil dengan klinis. Ujung-ujungnya siapa yang pusing? Ya semua orang yang bekerja di lab itulah yang pusing. Jadi intinya jangan menganggap Sp.PK-nya merepotkan, namun tangkap dari sisi baiknya di mana dia mau diajak berdiskusi demi lingkungan kerja yang aman dan nyaman.
"Meski nggak yang lama banget, tapi ketika ada konsulan yang masuk ya saya harus fokus banget. Kadang udah nggak mikir lagi di mana ya intinya bantu mereka mikir keras. Makanya kadangan meskipun jalan-jalan gini saya tetep bawa pengasuh Fayyola. Tujuannya apa? Ya supaya pas saya lagi ada konsulan masuk dan saya lagi nggak fokus sama Fayyola tetep ada yang ngawasin anak itu. Kalo nggak gitu trus ada apa-apa sama Fayyola gimana coba?"
Laras terdiam dan akhirnya mendapatkan jawaban masuk akal dari pengasuh Fayyola yang terus dibawa oleh Faisal bahkan saat quality time sekali pun. Ya ini tujuannya--untuk keselamatan Fayyola.
"Kadang saya mikir Pak Faisal ini ayah macem apa sih. Dari kata-katanya kayak sayang banget, tapi dari sikapnya cuek banget. Bahkan kata Fayyola kalo kalian main gitu, Pak Faisal masih bawa pengasuh Fayyola. Me time nya di mana kalo gitu? Bahkan hari ini saya pun ngeliat Pak Faisal sibuk mainin handphone padahal lagi nemenin Fayyola."
"Tapi ternyata..."
Faisal sengaja menyela dengan menggantungkan kalimatnya. Laras meringis kemudian menyambungnya dengan malu-malu.
"Tapi ternyata saya salah." aku Laras dengan lirih.
Faisal tergelak. Jadi karena ini Laras berfikir dirinya tidak menyayangi Fayyola sama sekali, batin Faisal. "Laras, Jangan terkecoh sama sikap serius Fayyola yang kamu pikir karena dia tertekan. Kamu nggak liat gimana kakunya saya dalam berinteraksi? Justru karena dia anak saya makanya wajar bagi dia buat menuruni sifat saya. Dia juga sama kakunya sama kayak saya, bahkan sampe bikin orang lain salah paham."
"..."
"Tapi meskipun begitu saya sayang dengan Fayyola. Semua yang saya lakukan benar-benar untuk dia. Percaya deh sama saya."
Laras menatap Faisal dengan tatapan malu-malu. Dalam hatinya dia membatin karena sudah salah menebak kepribadian orang. Lagipula salahnya juga sok-sokan menebak kepribadian orang hanya dari cerita putrinya yang baru berumur lima tahun.
"Saya jadi malu sama Pak Faisal. Maaf ya, Pak..." lirih Laras dengan tujuan meminta maaf.
"Saya maafin kalo kamu berhenti manggil saya 'Pak Faisal'." Faisal mencoba bernego karena sudah muak dipanggil dengan embel-embel Bapak oleh Laras. Dia merasa tua sekali.
"Tapi aneh..."
"Saya aja bisa kok manggil kamu tanpa embel-embel 'Ibu Laras'. Ayolah, Laras..."
"Iya deh. Nanti." jawab Laras dengan kekehan.
Dan Faisal hanya bisa memutar bola matanya karena jawaban itu. Terakhir kali berjanji seperti itu tapi nyatanya sampai hari ini Laras masih memanggilnya dengan embel-embel Bapak. Menjengkelkan sekali.
"Saya tunggu ya. Awas aja besok masih manggil saya 'Pak Faisal' lagi. Saya nggak suka."
Trus maunya dipanggil apa? Benak Laras bertanya dengan usilnya. Tapi kemudian Laras terngiang-ngiang perkataan Faisal mengenai kakunya dia sebagai seseorang dalam berinteraksi. Katanya kaku, tapi kok Laras merasa Faisal tidak ada kaku-kakunya berinteraksi dengannya? Atau ini hanya perasaannya saja? Atau... memang ada rasa yang lain?
Waduh!
TBC