11. KENAPA?

2061 Kata
Happy Reading ^_^ *** "Kamu nemuin Sebastian-Sebastian itu ya?" tanya Faisal setelah Laras tenang dan mau diajak duduk bersama di sofa ruang tamu Laras. Sementara Laras masih bungkam, Faisal mengamati kontrakan Laras. Mungil dan lumayan penuh. Bukan penuh dengan beragam furniture, tapi box-box barang yang Faisal ketahui merupakan salah satu merek skincare korea. Ada serum, sheetmask, dan beragam barang-barang yang hanya kaum hawa saja yang tahu. Pedagang online, itulah pekerjaan Laras dari sumber terpercayanya yakni sang ibu. Saat mendengar ini, secara tak sadar Faisal agak mencemooh Laras yang memilih melepaskan karirnya di rumah sakit demi berdagang. Tapi setelah melihat semua stok-stok ini, Faisal langsung menarik kembali cemoohannya. Pada akhirnya dia pun mewajari kenapa Laras memilih banting setir dan masuk pada bidang yang tidak sejalan dengan jurusannya semasa kuliah. Sudah pasti ini tentang cuan dan dengan stok sebanyak ini cuan Laras setiap bulannya pasti melebihi cuannya selama bekerja di rumah sakit. Terdengar money oriented sekali, tapi sebenarnya ini cukup realistis. Apalagi manusia memang bekerja untuk mencari uang bukan? Selama itu bukan pekerjaan yang haram ya setiap manusia dipersilakan untuk pindah haluan. "Kamu tahu dari mana saya ada di sini? Dan tentang Sebastian... kamu tahu dari siapa kalo saya nemuin dia?" Faisal tersadar dari lamunannya, kemudian menjawab dengan tenang. "Dari Indah. Dia minta tolong ke saya buat nyariin kamu dengan paniknya. Dia khawatir kamu kenapa-napa karena nekat menemui Sebastian." "Pak Faisal nemuin Indah? Buat apa?" Detik itu juga Faisal langsung tergagap. Jawabannya tidak salah, yakin Faisal, tapi logika di belakangnya-lah yang dipertanyakan. Dan setelah dipikir-pikir pun memang untuk apa dia menemui Indah lagi? Dia tidak mengenal Indah secara personal. Setelah bantuannya kemarin, tugasnya sebagai seorang penolong telah usai. Tapi Faisal juga cukup sadar kalau tujuannya datang bukanlah untuk Indah, tapi untuk Laras. Dia mengkhawatirkan Laras makanya memilih datang di jam-jam yang mana seharusnya dia gunakan untuk pulang dan beristirahat setelah seharian bekerja. Apalagi jarak rumah sakit utama Faisal praktek dengan RS kedua yang mana Indah dirawat di situ lumayan jauh--alasan apa pun terasa sangat tidak cocok. Tidak ada yang masuk akal untuk dijadikan alasan olehnya. Tapi mengakuinya secara gamblang seperti ini pun bukan hal yang bagus. Jadi alih-alih jujur, Faisal memilih memutar otaknya dan mencari-cari alasan agar Laras tak pernah tahu tujuan aslinya ke rumah sakit. Laras hanya perlu tahu kalau dirinya ke rumah sakit untuk menjenguk Indah bukan untuk menemui sosok Laras. "Seminggu sekali saya emang nyempetin dateng ke lab RS itu buat beberapa kerjaan. Dan kebetulan kamu ada di situ ya saya menyempatkan diri untuk sekalian berkunjung." jawab Faisal dengan suara sebiasa mungkin. Dan yang tidak memahaminya pasti tidak akan paham betapa gugupnya Faisal saat ini. Dan jangan lupakan juga telinganya yang memerah karena sedang berbohong. Demi Tuhan, semoga saja Laras memang tidak menangkap kecurigaan dari jawabannya atau dia akan semakin bingung harus menjawab apa. "Indah cerita apa aja ke Bapak?" Dan Faisal bisa menghela napas lega kala pertanyaan kenapa dirinya ada di RS tersebut berubah haluan dengan cepat. Itu artinya aktingnya tadi cukup bagus sampai Laras merasa yakin dengan jawabannya. Padahal Faisal sendiri sudah lupa dia tadi ngomong apa. Intinya hanya asal ceplos saja. Tapi meskipun begitu Faisal hanya bisa pasrah dengan panggilan Laras. Mau dipanggil Bapak pun tak masalah yang penting masalah sebelumnya terlewati. Itu bisa diurus belakangan. Jadi tanpa perlu mengoreksinya panggilannya, duda beranak satu itu langsung menjawab. "Nggak cerita apa pun. Intinya dia cuma minta tolong agar saya menyusul kamu supaya nggak bertindak ceroboh." Faisal menjeda sejenak, lalu matanya menilai sosok Laras dari atas ke bawah. "Dan mewakili Indah, saya tanya sekali lagi--kamu nggak apa-apa kan, Laras?" tanya Faisal sekali lagi namun kali ini dengan penuh penekanan. Matanya menyipit untuk menilai semua reaksi Indah. "Nggak usah berlebihan. Saya baik-baik aja kok." Tapi Faisal tak percaya begitu saja. Kalau Laras baik-baik saja, kenapa perempuan itu menangis dengan memilukannya seperti tadi? Pasti ada yang membuatnya terluka dan dia mencoba menyembunyikannya. Dan Faisal langsung menipiskan bibir tidak suka. Apa Laras pikir bisa membohonginya begitu saja? "Trus kenapa kamu nangis kayak tadi?" selidik Faisal lagi. "Memang saya nggak boleh nangis ya, Pak Faisal?" tanya Laras dengan polosnya yang membuat Faisal salah tingkah. "Bukan gitu..." lirih Faisal yang tanpa sadar menggaruk tengkuknya. Dia kebingungan harus menjawab apa. "Setiap tangisan pasti ada alasannya, Laras. Dan saya penasaran apa alasan kamu sampe nangis seperti itu. Kalau memang ada luka fisik, alias Sebastian-Sebastian itu berlaku kasar, maka saya pasti bantu kamu untuk mengurusnya. Begitu lho maksud saya." ujar Faisal panjang lebar untuk mencoba membenarkan persepsi Laras. Sementara itu Laras terkekeh kecil mendengar betapa kerasnya pria bernama Faisal Mahardika ini menjelaskan sesuatu. Namun meskipun begitu tak dipungkiri juga kalau hatinya menghangat mendengar kepedulian semacam ini berasal dari mulut seorang pria. Maksudnya setelah sekian lama ada seseorang yang sekeras ini kepeduliannya pada dirinya. "Secara fisik saya nggak terluka, tapi secara batin--ya, saya pikir saya memang terluka. Sebastian-Sebastian itu benar-benar udah melukai batin seorang perempuan berkat ucapannya." aku Laras setelah mencoba menenangkan dirinya. Ada banyak hal yang ingin diceritakannya tapi mungkin hanya kalimat itulah yang pas untuk memulainya. "Memangnya Sebastian ngomong apa ke kamu?" tanya Faisal dengan mata yang berubah waspada. Dalam hatinya dia menegaskan akan menghajar Sebastian-Sebastian itu kalau dalam kalimatnya terdapat kalimat yang kurang ajar pada sosok Laras yang murung saat ini. "Dia bosan sama Indah." jawab Laras setelah menguatkan hatinya. Dan baru saja tenang, kini air mata mulai merebak lagi memenuhi pelupuk matanya. Tapi Laras tahu kalau tangisannya tak berguna sama sekali selain membuat orang lain panik--seperti Faisal saat ini. Makanya dengan kekehan kecil dia menghapus air mata yang sudah terlanjur menitik. "Saya heran dengan laki-laki yang bisa bilang bosan ke pasangannya dengan mudah. Apa se-nggak berharga itu kah sebuah hubungan sampai diakhiri dengan kalimat semacam itu? Yang dulunya menjaga perasaan lalu kini berubah menjadi menyakiti tanpa perasaan sama sekali." Laras menambahkan dengan berusaha menegarkan perasaannya. Pipinya basah karena air mata, tapi sebelah bibirnya tertarik ke atas sedikit membentuk sebuah senyum penuh ironi. "Kalau begitu udah bisa dipastikan Indah-lah yang sudah salah melabuhkan hatinya. Kalau dia melabuhkannya pada pria yang tepat, maka orang tersebut nggak akan berdalih seperti itu untuk meninggalkan dia. Orang itu akan stay, semembosankan apa pun kamu. Dia tulus ke kamu." Laras terkekeh mendengar jawaban Faisal. "Padahal saya pun heran dari sudut mana sosok Sebastian itu dikatakan menarik dan layak untuk Indah. Di bilang ganteng pun nggak juga. Dia masih bocah, pekerjaannya pun nggak jelas. Apa Indah nggak mikir ke depannya akan seperti apa kalau mereka itu beneran jadi? Atau jangan-jangan sejak awal memang keduanya sudah planning untuk nggak serius?" Faisal terkekeh mendengar hujatan tajam Laras. "Kamu pernah denger ungkapan kalau cinta itu buta?" Faisal menjeda sejenak. Matanya bertemu pandang dengan mata Laras. Diamati ekspresi Laras lekat-lekat. "Kalo sudah cinta, rupa itu nomor belakang, Laras. Bahkan kayak apa latar belakangnya, keluarganya, atau seburuk-buruknya orang ya pasti diterima dengan baik. Dan karena penjabaran kamu, saya percaya cinta Indah ke Sebastian tulus. Cuma masalahnya Sebastian-lah yang memanfaatkan ketulusan Indah makanya hal seperti ini sampe terjadi..." Faisal menunduk lalu memainkan jemari-jemarinya. "Karena kalo Sebastian juga tulus, dia nggak akan merusak Indah secinta apa pun dirinya. Dia akan menjaga Indah dengan sebaik mungkin." Faisal menyesal karena dari sisi ini dia menyadari kalau kaumnya lah yang tidak bisa menghargai ketulusan seorang perempuan. Bahkan bisa dibilang Indah sudah melakukan segalanya namun tetap ditinggalkan dengan dalih bosan. Tapi mau dikata apa juga semuanya sudah terjadi. Sudah terlambat untuk memberi saran harus begini atau begitu. "Yah, intinya Sebastian memang nggak baik dan Indah hanyut oleh tipu dayanya." Faisal menambahkan dengan helaan napas pelan. Lalu diakhir kalimatnya dia sedikit terkekeh untuk menenangkan Laras yang masih memandanginya lekat-lekat. Laras menghela napas. Senyum penuh ironinya tertampil. "Sedih ya, Pak, begini amat jadi orang yang sedang mencari pasangan. Salah sedikit saja kita tertipu dan terperdaya." ujar Laras mencoba menyampaikan pendapatnya. "Setelah menikah juga nggak semudah itu, Laras. Kalo mudah, angka perceraian di Indonesia pasti nggak akan tinggi." Faisal tergelak mendengar perumpamaan Laras yang konyol. "Baik berpasangan atau single, intinya kamu harus bisa berkomitmen. Kalo ga bisa berkomitmen ya sudah alamat kamu mungkin akan makan hati dalam menjalani hubungan." Dalam hatinya Laras membenarkan perkataan Faisal. Bagaimana tidak, komitmen nyatanya memang sepenting itu. Bahkan setelah dipikir-pikir cinta yang diagung-agung kan pun ternyata hanya sekedar penyebab dari terjadinya sebuah hubungan sedangkan pelanggengnya ya komitmen itu sendiri. Komitmen itu sendiri layaknya pegangan dari pasangan yang menjalin hubungan. Akan selalu ada orang yang lebih cantik atau bahkan lebih baik dari pasanganmu. Tapi berkat komitmenmu itu tadi semua kelebihan atau kekurangan pasanganmu bukan lagi masalah besar. Kamu menerimanya apa adanya, bahkan untuk segala kekurangannya pun bisa kamu lengkapi dengan kelebihanmu. Kamu akan berkorban untuknya. Dan semua itu kamu lakukan dengan tujuan untuk mempertahankan sebuah hubungan, bukanya mengakhirinya karena bosan. "Tapi saya heran kenapa kamu sekesal ini padahal masalah ini menimpa seseorang yang kamu kenal. Okelah katakan saja kamu sudah menganggap Indah seperti adik sendiri karena dititipi kedua orang tuanya di sini--tapi haruskah sampai seperti ini? Maksud saya... ini tetap bukan masalah kamu gitu." Faisal menyampaikan apa yang ada di kepalanya sejak kemarin. Tentang Laras yang sangat sensitif sampai bertindak impulsif seperti sekarang. Sedekat-dekatnya hubungan Indah dengan Laras, kemarahannya yang sampai seperti ini terasa tetap tidak masuk akal. Ini berlebihan. Laras terlihat agak gugup. "Ini memang bukan masalah saya pribadi, tapi sebagai seseorang yang ditinggalkan oleh pacarnya juga, wajar bagi saya untuk sekesal ini. Apalagi alasannya hanyalah karena bosan semata. Apa kaum pria pikir kami, kaum wanita, hanya sekumpulan manusia yang digunakan untuk memeriahkan suasana saja?" aku Laras dengan ekspresi jengkel karena terkenang sosok Sebastian-Sebastian itu lagi. "Tapi kemudian saya sadar kalau ini bukan kesalahan kaum kalian. Ini murni kesalahan kaum kami karena tidak bisa menilai orang-orang dari kaum kalian dengan baik sampai akhirnya terluka." "...." "Tapi yang miris adalah... kenapa sih sering banget perempuan baik-baik dipertemukan dengan laki-laki yang nggak baik dulu. Kan jatuhnya kita semua hanya membuang-buang waktu pada orang yang salah." Laras menambahkan dengan pemikirannya sendiri. Sebagai seseorang yang ditinggalkan juga, jujur saja dia kecewa. Tapi kemudian dia sadar kalau dia bukan satu-satunya yang dicampakkan saat lagi sayang-sayangnya. Ada banyak perempuan di luaran sana yang senasib dengannya. Itu artinya ada banyak perempuan juga yang waktunya terbuang sia-sia pada pria yang salah. "Sebenernya nggak ada istilah membuang-buang waktu, Ras. Waktu yang terlewati tetap waktu yang berharga. Kalo nggak ada waktu itu, nggak akan ada sosok kamu yang lebih tangguh saat ini. Kamu mungkin akan terus-terusan naif yang akhirnya itu juga merugikan kamu ke depannya." kata Faisal mencoba meluruskan pemikiran Laras. Dia selalu percaya kalau tidak ada hal yang sia-sia, bahkan dari sebuah kejadian buruk sekali pun. Semuanya tetap pelajaran untuk pengalaman yang lebih baik di kehidupan selanjutnya. Dan Faisal ingin Laras memandang dari perspektif ini agar hatinya yang terluka merasa dilapangkan. Dia tidak ingin Laras mendendam untuk sesuatu yang sebenarnya bisa diabaikan. "Okelah kalo memang disakiti semacam itu membuat saya tangguh--tapi kenapa harus saya gitu? Kenapa nggak orang lain aja?" Laras menjeda dengan protesnya. "Pak Faisal, kalimat Bapak terdengar menenangkan, tapi tahu nggak rasanya pas saya ditinggalkan saat itu? Saya ngerasa hancur dalam artian yang bener-bener hancur. Kalo bukan karena orang tua saya, saya mungkin udah melakukan hal yang fatal banget waktu itu." aku Laras yang menandakan betapa frustrasinya dia saat itu. "Ras, memang benar kisah seorang perempuan yang langsung bertemu pangerannya adalah kisah yang manis. Tapi percayalah, perempuan itu belum tentu sekuat orang-orang yang dikasih cobaan oleh Tuhan. Dia nggak sekuat kamu atau pun Indah. Kamu dan Indah adalah orang-orang pilihan Tuhan untuk survive di kondisi ini." Laras terdiam. Dia tidak bisa berkata-kata lagi kalau sudah membawa-bawa Tuhan. Entah dia harus bangga karena menjadi orang yang dipilih oleh Tuhan untuk melewati proses ini atau tidak--tapi yang jelas pada saat itu dia terluka. Dan rasanya sangat sakit sekali. "Mungkin nggak sih alasan Tuhan ngasih saya dan Indah cobaan semacam ini untuk menegur kami? Maksudnya... saya percaya kalo perihal pasangan itu adalah cerminan diri kita sendiri. Dan saya dapet pasangan semacem itu yang artinya sifat saya dan dia pun nggak berbeda jauh. Kami sama-sama seburuk itu makanya kami berjodoh." "Laras, berjodoh artinya bersama selamanya dalam sebuah ikatan yang jelas. Sedangkan kamu dan dia kan berpisah. Yang artinya kamu dan dia sama sekali nggak berjodoh. Jadi kamu nggak perlu merasa kalo kamu buruk dan lain sebagainya. Anggap aja ini cara Tuhan menguatkan kamu untuk bertahan di dunia yang keras ini." "...." "Jangan merasa rendah diri, okay?" Di akhir kalimatnya, Faisal meletakkan tangannya di atas tangan tangan Laras. Keduanya bertatapan lekat-lekat. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN