10. RASA TIDAK NYAMAN

1672 Kata
Happy Reading ^_^ *** "Kamu yang namanya Sebastian?" Merasa dipanggil, pria yang bernama Sebastian itu mendongak. Aksinya yang sedang mempreteli motornya terhenti. Pria bernama Sebastian itu mengerutkan keningnya karena tidak mengenali sosok perempuan yang ada di depannya. "Situ... siapa ya?" tanya Sebastian dengan bingung. "Saya Laras," Dan orang yang memastikan identitas Sebastian memang Laras. Tak perlu ditanya dia tahu dari mana, tapi intinya dia datang kemari untuk melabrak pria amoral yang sudah menghancurkan masa depan seorang perempuan. Dan lihatlah apa yang sedang dilakukannya saat ini, Laras membatin dengan penuh makian. Di saat Indah sedang dirawat di rumah sakit, tapi pria bernama Sebastian ini malah sibuk mempreteli motornya yang terlihat tak layak pakai. Laras tidak paham dari mana kerennya sebuah kendaraan semacam ini. "Dan siapa Laras? Saya nggak kenal cewek namanya Laras." Laras menatap Sebastian dengan ekspresi tajamnya. "Saya orang yang bertanggung jawab atas kehidupan perempuan yang udah kamu hancurkan." Mendengar hal ini, Sebastian memasang ekspresi kaget. Dan karena ekspresi ini juga Laras yakin Sebastian langsung paham siapa perempuan yang dimaksud olehnya. "Ya, perempuan itu bernama Indah." tambah Laras lagi namun dengan ekspresi mengejek. "Sudah inget kan, Sebastian?" kata Laras lagi dengan ekspresi mengejek. "Oh, jadi kamu keluarganya Indah-Indah itu, hah? Ngapain kamu ke sini? Mau ngewakilin Indah ngerebut pacar saya?" Bukan Sebastian yang menjawab, melainkan seorang perempuan berpakaian ketat yang duduk tak jauh dari posisi Sebastian mempreteli motornya. Perempuan itu langsung berdiri dan mendekati Laras dengan ekspresi sombongnya. Dan melihat ini Laras terkekeh. Betapa sombongnya remaja yang ada depannya, batin Laras. Mencari uang satu sen saja belum tentu bisa, tapi lihatlah bagaimana gayanya menggertak Laras. Dan melihat ini, naluri Laras sebagai anak perempuan tunggal yang tidak pernah dibantah digertak oleh seorang adik muncul. Dia menyeringai dan menatap perempuan itu dengan tak kalah tajamnya. "Oh, jadi ini ya perempuan yang merusak hubungan Indah dengan Sebastian? Pantes sih jadi perusak hubungan orang. Gayanya pantes kayak Mbak-Mbak yang butuh belaian." kata Laras dengan ucapan yang tak kalah pedasnya. "Lu bilang apa, hah?!" Perempuan itu terlihat marah, tapi Laras tetap cuek pada sikapnya. Beginilah caranya menghadapi remaja bar-bar yang tak tahu etika seperti mereka. Bahkan saat perempuan itu terlihat melayangkan tangan kanannya untuk memukul, Laras pun dengan sigap menangkapnya dengan tangan kanannya juga. Lalu tanpa aba-aba, tangan kirinya pun dia arahkan ke leher perempuan itu untuk mencengkeram kerah bajunya. Laras menyeringai melihat raut panik perempuan itu. "Saya nggak ada urusan ya sama kamu!" kata Laras sambil menghempaskan tubuh perempuan. Mendapati perlakuan seperti ini, perempuan itu agak gemetar ketakutan. Dan Laras puas sekali melihatnya. Perempuan itu hendak memberikan perlawanan lagi, tapi pria bernama Sebastian itu mencegahnya. Dia melarang kekasih barunya untuk berdebat dengan perempuan yang sepertinya bukan tandingan mereka. "Sebenarnya kenapa kamu dateng ke sini, hah? Apa Indah yang nyuruh kamu ke sini?" "Indah nggak pernah nyuruh saya ke sini. Justru sebaliknya, saya sendiri yang berinisiatif datang dan mencari kamu. Saya penasaran bajinggan macam apa yang udah meninggalkan Indah di masa terpuruknya seperti sekarang." "...." "Apa kamu tahu gimana perjuangan Indah untuk bertahan hidup? Dia menderita. Sedangkan kamu malah nongkrong di sini sama perempuan lain dan ngelakuin hal nggak berguna ini." Laras menambahkan dengan kaki yang menendang baut yang berceceran di lantai. Melihat itu, Sebastian jengkel sekali pada perempuan yang ada di depannya. "Saya nggak pernah nyuruh dia untuk ngegugurin kandungan itu ya!" "Ya terus kamu nyuruh Indah membesarkan anak itu sendirian? Otakmu itu tercecer di mana, hah?!" maki Laras. "Berdua aja nggak menjamin seorang anak akan mendapatkan kehidupan yang baik, apalagi sendirian." "Ya terus saya harus gimana? Saya belum siap jadi seorang Bapak!" kata Sebastian dengan jengkel. "Lagian, dari mana saya bisa yakin kalau itu anak saya dan bukannya anak laki-laki lain?" Miris. Apa laki-laki ini pikir Indah adalah perempuan gampangan? "Kalo kamu belum siap jadi seorang bapak, ya jangan berbuat semacam ini. Apa kamu pikir kegiatan semacam itu hanya untuk pembuktian cinta doang? Nyatanya setelah ada hasil pun malah Indah yang kamu tinggalkan. Seharusnya yang dipertanyakan cintanya itu bukan Indah, tapi kamu--dasar brengssek!" "..." "Dan bisa-bisanya juga kamu meragukan Indah..." Laras terbata dengan sedih. "Indah itu perempuan baik-baik. Kalau bukan karena kamu, masa depannya nggak akan seburuk ini!" "Terus saya harus gimana sekarang? Semuanya udah terlanjur dan saya juga nggak bisa bersama Indah lagi. Ini tuh tentang perasaan, nggak bisa dipaksa." Sebastian masih kekeuh dengan pemikirannya. Hati Laras terasa diremukkan dengan jawaban Sebastian yang luar biasa tak bernurani. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu dengan mudahnya di saat Indah berjuang dengan mempertaruhkan nyawanya. Laras berdecih. "Bilang aja kamu bosan dengan Indah, Sebastian. Nggak usah sok-sok an bilang belum siap jadi Bapak atau mengatai Indah sebagai perempuan yang nggak bener. Karena pada dasarnya memang kamu yang brengssek. Kamu cuma penasaran dan perusak masa depan orang." Benak terdalamnya bertanya-tanya: apa semua laki-laki memang setidakberperasaan ini? Apa bagi mereka hanya perempuan berstatus perawan saja yang boleh diperjuangkan, sedangkan yang tidak bisa langsung dibuang layaknya sampah seperti ini? Laras benar-benar tak habis pikir dengan pola pikir laki-laki yang ada di depannya. "Indah terluka, tapi saya bersyukur karena akhirnya dia terpisah dari pria macem kamu. Pria amoral yang nggak punya apa pun macem kamu nggak pantes bersama dengan Indah yang pekerja keras." Laras melirik sinis Sebastian, pacar barunya, motornya yang sedang dipreteli, dan juga bangunan tempat mereka berkumpul saat ini. Sosok Sebastian benar-benar tidak menunjukkan wibawa seorang pria yang siap menikah. Dia tidak punya apa pun, bahkan komitmen sekali pun. Bahkan pada pacar barunya sekali pun, Laras terkekeh mengejek, semuanya murni hanya senang-senang saja. Orang seperti Sebastian memang tidak cocok untuk dijadikan suami segenting apa pun keadaan Indah saat ini. Dan syukurlah mereka sudah berpisah. Tak bisa dibayangkan akan jadi apa Indah kalau menerima sosok Sebastian sebagai suaminya. "Terima kasih karena sudah membuat Indah dewasa lebih cepat. Saya tahu dia terluka, tapi saya percaya kalau sebentat lagi dia akan pulih. Dan ketjka dia pulih "Dari kelakuan kamu, Indah terluka. Tapi saya yakin setelah ini dia akan lekas pulih dan akhirnya meninggikan kriterianya. Dia akan paham seperti apa laki-laki baik dan laki-laki bajinggan hanya dengan sekali lihat." *** "Indah, Laras di mana ya? Kok kata suster yang jaga dia keluar dari ruang perawatan." tanya Faisal pada sosok Indah yang didapatinya tengah beristirahat di ruangannya. Tapi tepat seperti perkataan perawat yang berjaga, sosok Laras memang tidak ada di ruangan. Entah hanya perkiraannya saja atau memang seperti itu kenyataannya, tapi belakangan ini perasaan Laras terasa jauh lebih sensitif. Padahal yang terluka adalah Indah, tapi Laras-lah yang bertindak seperti korban yang sebenarnya. Kepedihan terpancar nyata di matanya hingga membuat Faisal Khawatir. Dan karena kekhawatirannya inilah dia datang. Tapi siapa sangka dia malah mendapatkan kabar ini. Perawat yang berjaga bilang kalau Laras ingin pulang dulu untuk mengambil beberapa pakaian, tapi entah kenapa Faisal merasakan keganjilan. Laras bisa meminta tolong padanya, tapi perempuan itu malah tidak melakukannya sama sekali. Fakta bahwa dirinya baru pulang bekerja dan lelah pun dia abaikan. Dia benar-benar harus bertemu dengan Laras karena pikirannya lumayan mengarah ke arah hal buruk. "Pak Faisal tolong saya..." kata Indah sesaat setelah melihat sosok Faisal masuk ke kamarnya. Faisal pun langsung mendekat tanpa banyak bicara. "Apa yang sebenarnya terjadi, Ndah? Kenapa Laras pulang cuma demi pakaian yang sebenarnya bisa dia titipkan ke saya?" "Teh Laras memang ngomong gitu, Pak Faisal, tapi saya yakin kalau pulangnya dia saat ini semata-mata bukan karena mau ambil pakaian saja. Teh Laras pasti mau menemui mantan pacar saya, Pak Faisal." "Apa?" "Kemarin saya curhat ke Teh Laras tentang mantan saya. Trus dia minta handphone saya. Dia bilang nggak mau saya main handphone dan tanpa sadar berhubungan lagi dengan mantan saya. Tapi saya curiga kalo Teh Laras baca pesan-pesan kami makanya sikapnya seaneh tadi." Mendengar itu, sosok Faisal langsung dilanda rasa panik. Meski belum mengenal Laras dengan baik, tapi dia tahu kalau Laras cukup impulsif dengan semua hal yang mengganggunya. Seperti halnya perempuan itu yang datang ke rumah orang tuanya malam-malam padahal sebenarnya itu bukan masalah besar, dia pun takut Laras secara impulsif mendatangi mantan Indah. Dia takut Laras bertindak gegabah dan akhirnya menbahayakan dirinya sendiri. Meski tidak tahu seperti apa sosok mantan Indah, tapi dari sikapnya yang tak mau bertanggung jawab saja atas perbuatannya saja sudah cukup untuk membuktikan betapa pengecutnya dia. Dan orang pengecut bisa cukup berbahaya kalau ditekan oleh orang emosian seperti Laras. Sadar bahwa Laras dalam bahaya, Faisal pun langsung bergegas pergi. Tapi tidak langsung ke alamat Sebastian yang diberikan Indah tadi, Faisal pun pergi ke rumah Laras dulu. Dia masih mencoba berbaik sangka kalau Laras memang mengambil pakaian seperti niatannya. Dan prasangka baiknya berbuah manis karena ternyata sosok Laras memang ada di kontrakannya. Faisal yakin sekali karena melihat motor Laras terparkir di halaman kecilnya. "Laras..." panggil Faisal sambil mengetuk pintu dengan sopan. Tak kunjung mendapatkan balasan, Faisal pun memutuskan masuk karena ternyata pintu depan tidak dikunci. Faisal sempat panik dan hendak mencari sosok Laras dengan cepat. Kebetulan juga rumah ini tidak terlalu besar, jadi kalau ada apa-apa dia masih bisa menemukannya dengan cepat. Tapi siapa sangka dia berjumpa dengan sosok Laras di ruang tengah dengan selembar lap yang sudah dibasahinya. Laras menyadari kehadirannya, tapi perempuan itu tidak menanyakan apa pun. Bahkan menyapa pun tidak dia lakukan. Alih-alih menyapanya, sosok Laras memilih langsung berjongkok di salah satu titik. Dan Faisal tahu apa yang hendak di lakukan Laras, yakni mengelap sisa darah Indah yang masih melekat di lantai keramik. Dari ekspresi Laras, Faisal tahu ada sesuatu yang membebani pikirannya. Perempuan itu murung. Bahkan dari caranya mengusap lantai keramik pun terlihat penuh dengan ketidaksukaan. Menyadari itu, Faisal langsung berjongkok dan berusaha mengambil alih apa yang hendak dilakukannya. Laras sempat menolak, tapi Faisal memaksa. Hingga akhirnya lap itu berpindah tangan. Kini Faisal melanjutkan apa yang tadi dilakoni oleh Laras. Tapi meskipun begitu sosok Laras tetap pada posisinya, yakni berjongkok juga tepat di depan Faisal. Sampai kemudian Faisal menyadari kalau bahu Laras sedikit bergetar yang menandakan kalau perempuan itu tengah menangis saat ini. Faisal menghela napas. "Nangis aja, Laras, nggak apa-apa. Saya nggak akan menghalangi atau membeberkannya ke siapa pun setelah ini. Tapi satu yang pasti, saya harap setelah ini kamu nggak akan nangis-nangis lagi. Saya nggak nyaman ngeliat kamu nangis, Laras." TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN