9. SEBUAH CERITA SEDIH DARI INDAH

1045 Kata
Happy Reading ^_^ *** Selang beberapa jam setelah masuk IGD dan ditangani dengan baik, sosok Indah langsung mendapatkan kamar perawatannya dan lekas dipindahkan ke sana. Karena merasa bertanggung jawab, Laras pun memutuskan untuk menemani Indah di ruang perawatannya. Dan syukurnya, Laras diizinkan untuk melakukan itu. Laras sadar bahwa semua kemudahan ini dia dapatkan berkat bantuan Faisal Mahardika. Pria itu menjemput dirinya dan Indah di kontrakan, lalu membawanya ke IGD RS yang kebetulan juga merupakan tempat praktek keduanya. Dan karena status pria itu pun Laras mendapat kemudahan lain, yakni penanganan yang cepat mulai dari pertolongan pertama, administrasi, hingga sosok dokter obgyn yang begitu detail dan care terhadap perkembangan kondisi Indah. Ah, jangan lupakan juga fasilitas kamar VIP yang didapatkannya dengan mudah. Pada kesempatan ini dia benar-benar berhutang banyak budi pada Faisal. Ingatkan dia untuk membalasnya di kemudian hari, batin Laras mencoba mengingatkannya. Tapi meskipun dikelilingi banyak kemudahan, tapi tak membuat Laras puas dan merasa cukup. Apalagi dengan semuanya yang masih abu-abu--Laras benar-benar belum bisa tenang. Laras masih membutuhkan pengakuan Indah yang sejujur-jujurnya untuk memahami kenapa sang karyawan melakukan hal berbahaya ini tanpa memikirkan resikonya. Kalau bukan karena nasihat Faisal yang melarangnya menekan Indah, Laras pasti sudah memberondong sosok Indah pada detik pertama dia sadarkan diri. Ya, Indah memang sudah sadar. Tapi bukannya dengan sadar diri mengakui semuanya, Indah malah bungkam. Sudah tak terhitung berapa kali Laras seliweran untuk membantu perempuan itu, tapi hati Indah benar-benar tidak tergerak sama sekali untuk mengakui kesalahannya. Hingga akhirnya malam ini untuk pertama kalinya Indah membuka mulutnya dan memanggil sosok Laras dengan sendunya. "Teh..." Laras yang sedang berbaring memunggungi Indah pun tergerak untuk mengubah posisinya. Dia menatap Indah dari sofa bed yang ditidurinya. Selama beberapa detik tidak ada sepatah kata pun yang keluar. Tapi Laras tahu bahwa jauh di lubuk hatinya yang paling dalam karyawannya ini sedang menyiapkan dirinya untuk bercerita. Dan Laras menanti dengan sabar. "Maafin aku ya, Teh. Dan makasih atas bantuannya..." lirih Indah setelah sekian lama. Laras menghela napas. "Kamu nggak ada niatan menceritakan kisah kamu, Ndah? Yang kamu lakuin ini fatal banget lho." kata Laras, yang meskipun sangat dongkol namun seluruh kalimatnya masih disampaikan dengan suara yang datar. Dia masih ingat perkataan Faisal tentang mental Indah yang mungkin saja masih lemah dan bisa berdampak buruk kalau ditekan dengan penghakiman. "Maaf, Teh..." "Coba kamu kasih tahu siapa nama laki-laki itu ke saya, Ndah. Udah cukup kamu bungkam sejak kemarin." Indah mengusap pelupuk matanya dengan sedih. "Kamu tahu nggak sih gimana kecewanya saya ke kamu malem itu? Saya percaya sama kamu makanya saya bebasin kamu, Ndah. Tapi lihat gimana kamu menghancurkan kepercayaan saya..." Kali ini Indah sudah sepenuhnya menangis tersedu-sedu. Baginya Laras itu sudah seperti kakak kandungnya sendiri. Dan mendengar Laras begitu kecewa padanya, Indah merasa sudah gagal sekali sebagai seorang manusia. Indah sudah mengecewakan orang yang mempercayainya melebihi rasa percaya orang tuanya kepada dirinya. Padahal dari sosok Laras lah Indah berhasil berkembang hingga ke tahap ini. Dia benar-benar perempuan yang menjijikkan, batin Indah. "Dia Sebastian, Teh. Pacar aku," ujar Indah dengan cepat dan miris. "Aku yakin Teteh pun tahu karena aku sering ceritain dia ke Teteh." Laras menatap Indah dengan miris. Dugaannya benar. "Tindakan kalian yang berhubungan di luar nikah adalah salah, tapi aku akan nggak bahas masalah dosa dan lain-lain--tapi... tapi dia cinta kamu kan, Ndah? Seharusnya nggak kayak gini kalau dia cinta sama kamu." Indah menatap langit-langit ruang perawatannya dengan pedih. "Tadinya aku pun mikir begitu, Teh, tapi lagi-lagi dugaan aku salah. Ternyata Sebastian nggak benar-benar cinta aku, Teh. Dia nggak mau menikahi aku." Indah yang berkata seperti itu, tapi hati Laras yang terasa diiris-iris. Laras benar-benar tidak menyangka kalau Indah yang dipikirnya sebagai anak yang polos akan mengalami hal yang semalang ini. Laras menyibak selimutnya, lalu mendekati sosok Indah. Dia duduk tepat di kursi yang ada di samping ranjang Indah. Dia menggenggam tangan Indah kuat-kuat untuk kemudian menangis secara bersamaan karena pengakuan Indah. "Aku terus ngehubungin dia, Teh, tapi dia nggak merespon sama sekali. Saat berhasil bertemu pun bukannya minta maaf, dia malah marah-marah ke aku. Trus aku mikir... salah aku tuh di mana ya, Teh? Kita ngelakuinnya secara sadar lho, tapi kenapa dia malah kayak gini sama aku..." Indah semakin kuat mencengkeram tangannya. "Aku mencoba ikhlas, tapi ternyata nggak semudah itu ikhlas, Teh. Aku udah cacat--siapa yang bisa menerima aku yang kayak gini, Teh? Bayangin diri aku menua sebagai single parent karena kebodohanku--aku nggak bisa, Teh. Aku nggak bisa. Sampe akhirnya aku khilaf dan nggak memikirkan apa pun lagi selain mengorbankan janin yang ada di dalam perut aku." Laras memahami perasaan tak berdaya yang dirasakan oleh Indah. Karena sudah dibuang oleh pacarnya dalam kondisi yang sudah tidak gadis lagi makanya Indah merasa tak berdaya dan rendah diri. Dia khawatir bagaimana penilaian orang lain akan sosoknya kalau hal ini terbongkar. Katakanlah saja semuanya baik-baik saja saat ini, lalu bagaimana saat dia memutuskan menjalin hubungan asmara lagi di masa depan? Bagaimana kalau dia mendapatkan laki-laki yang masih terjebak pada stigma orang Indonesia mengenai keperawanan? Dan kalau orang itu tidak bisa menerimanya, lalu bagaimana kalau dia dicampakkan lagi? Laras sadar bahwa ada banyak pikiran buruk yang memenuhi kepala Indah. Dan hal itu wajar terjadi pada seseorang yang melakukan kesalahan t***l seperti itu. Seandainya saja dia tidak khilaf dan melakukan kesalahan t***l seperti itu, sosok Indah pasti akan lepas dari mantan pacarnya tanpa beban. "Maafin aku ya, Teh..." lirih Indah lagi yang membuat Laras mampu merasakan kepiluannya. "Kamu seharusnya bukan minta maaf ke saya, Ndah, tapi ke diri kamu sendiri. Bahkan... ke janin yang udah kamu gugurin." Laras menekankan. "Diri kamu kamu itu nggak salah, apalagi janin yang kamu kandung. Tapi kamu mengorbankan dua hal yang seharusnya jadi bagian paling berharga dalam hidup kamu." "...." "Tapi nasi udah jadi bubur. Kamu udah kehilangan janin kamu dan sekarang yang tersisa hanyalah diri kamu yang hancur dari dalam. Tapi pegang ucapan saya, Ndah--" Laras menjeda dengan serius. "--nilai dalam diri kamu nggak ditentukan oleh selaput dara. Selama kamu berniat menjadi orang baik, maka kamu tetap sosok yang berharga. Jadi kamu jangan merasa rendah diri karena kekuranganmu yang satu ini. Yang benar-benar jodohmu pasti bakal menerima semua kekurangan kamu, Ndah." Dan tepat setelah mengatakan hal tersebut, keduanya menangis bersamaan dengan pilunya di ruangan tersebut untuk meratapi semua hal yang sudah terjadi. Terkadang takdir memang selucu ini pada hidup orang-orang baik. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN