Happy Reading ^_^
***
"Ibu Indah mengalami keguguran."
Laras terkejut bukan main. Laras sudah curiga saat darah segar mengalir secara konstan di paha Indah, tapi dia masih tak percaya kalau itu adalah perdarahan v****a yang menandakan luruhnya janin dalam rahim seseorang. Di mata Laras, Indah adalah sosok remaja pekerja keras. Walau dia yakin Indah tidak sepolos itu, tapi dari caranya bercerita dan berfikir saat curhat masalah percintaannya--Laras pikir Indah tidak alam seceroboh itu. Maksudnya... cinta boleh, tapi jangan sampai bodoh apalagi mempertaruhkan sesuatu seperti tubuhnya. Tapi siapa sangka kalau dia sudah sangat salah mengira. Ternyata Indah tidak sehebat itu hingga merelakan tubuhnya untuk nafsu duniawi.
"Sejauh ini saya masih menduga kalo keguguran ini karena obat tertentu. Tapi untuk lebih detail-nya kita bisa pastikan ketika ibu Indah sudah sadar nanti."
"Tapi... tapi karyawan saya ini baik-baik aja kan, dok? Maksudnya... dia bakal selamat kan?" Laras terbata.
Ketika memutuskan membawa Indah untuk jadi karyawannya, Laras sudah bertekad untuk bertanggung jawab sepenuhnya. Tapi kalau seperti ini bagaimana caranya bertanggung jawab? Kalau sesuatu yang buruk terjadi, bagaimana caranya menjelaskan kepada orang tua Indah mengenai kondisinya? Pada titik ini Laras benar-benar sudah merasa gagal.
"Untuk sekarang ini Ibu Indah sudah ditangani dengan baik, jadi ya, beliau akan baik-baik saja. Tapi sudah bisa dipastikan kalau Ibu Indah akan rawat inap."
Laras mengangguk mantap. "Ya, nggak apa-apa. Lakukan yang terbaik aja, dok. Yang penting karyawan saya baik-baik aja." jawab Laras dengan cepat dan tanpa ragu sedikit pun. Di kepalanya yang utama adalah keselamatan Indah, sedangkan berapa pun biaya yang dibutuhkan, Laras sudah tidak memikirkannya lagi. Dia sudah gagal bertanggung jawab atas diri Indah, tapi setidaknya dia masih bisa bertanggung jawab atas kesehatan Indah.
Tak lama berselang sosok Faisal Mahardika muncul dengan beberapa berkas pendaftaran yang sudah diselesaikannya. Faisal sadar Laras dalam kondisi yang tidak baik, jadi dia memilih mengambil alih tugas tersebut agar Laras bisa fokus untuk menjernihkan pikirannya.
"Hasil darahnya sudah keluar?" tanya Faisal yang ditujukannya pada dokter IGD yang saat ini berjaga. Dan bukannya bertindak sok akrab, tapi Faisal memang mengenal dokter IGD yang berjaga malam ini. Mustahil bagi Faisal untuk tidak mengenal sejawatnya di RS tempatnya bekerja.
Ya, rumah sakit yang ditujunya untuk membawa karyawan Laras adalah rumah sakit tempat Faisal bekerja. Namun ini bukan RS Permata Kasih yang pernah menjadi tempat Laras dulu bekerja. Ini adalah rumah sakit yang lain. Namun sudah menjadi hal yang wajar bagi seorang dokter spesialis yang berpengalaman untuk melakukan prakteknya di beberapa tempat sekaligus. Seperti yang terjadi pada Faisal saat ini.
"Sudah, dok, dan ya hasilnya lumayan jelek. Mulai dari parameter hematologi sampe SGOT dan SGPT-nya, dok." jawab dokter IGD yang bernama Kevin itu dengan tenang dan berwibawa. Kemudian dia melanjutkan lagi. "Sudah dikonsulkan juga dengan dokter Obgyn kita, dokter Winda, katanya beliau bakal dateng buat meriksa pasiennya sendiri. Infonya, dokter Faisal yang nelpon beliau ya?"
Faisal mengangguk untuk membenarkan. "Tadi saya memang nelpon dokter Winda dan ngejelasin semuanya secara rinci. Nggak nyangkanya beliau bakal dateng sih. Tapi syukurlah kalo gitu..."
Meski menjawab pertanyaan rekan sejawatnya, tapi tatapan Faisal tetap tertuju pada sosok Laras yang masih setia berdiri di samping bangsal karyawannya. Dia menggenggam tangan karyawannya dan tak henti-hentinya membisikkan beragam kalimat yang intinya adalah meminta sang karyawan untuk bertahan. Faisal menghela napas.
"Pendaftaran rawat inap udah saya selesaikan, nanti kalau kamarnya udah siap, tolong panggil saya ya? Saya dan temen saya mau nunggu di luar aja."
"Baik, dok."
"Sama minta tolong kalo dokter Winda udah dateng, tolong panggil saya juga ya? Makasih sebelumnya."
"Baik, dokter."
***
"Gimana keadaan kamu sekarang, Laras?" tanya Faisal setelah berhasil membawa Laras keluar dari ruangan UGD yang meskipun tergolong tidak terlalu ramai namun tetap saja tidak akan leluasa untuk mengobrol di sana. Semula Laras menolak karena ingin menemani karyawannya -Indah- tapi setelah dibujuk agak lama akhirnya dia setuju juga. Dan sekarang kini keduanya tengah duduk berdampingan di tempat tunggu yang disediakan tak jauh dari area IGD.
"Saya nggak tahu, Pak Faisal," jawab Laras dengan lemah.
Dari raut wajahnya tampak perempuan itu tengah kebingungan sekali. Dan Faisal memahaminya dengan baik. Memangnya siapa sih yang tidak bingung kalau dihadapkan pada situasi tak terduga ini?
"Saya selalu yakin Indah itu sosok yang tahu batasan. Bahkan dia sering sekali menceeitakan problemnya dengan pacarnya ke saya makanya saya mikir nggak ada rahasia sama sekali di antara saya dan dia. Tapi ternyata--" Laras menggeleng. Dia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya sendiri.
"Laras, setiap manusia pasti punya rahasia. Sejujur-jujurnya orang, nggak ada yang seratus persen jujur. Kamu hanya nggak tahu rahasia besar apa yang sedang dia sembunyikan dari kamu."
Faisal menjawab dengan santai. Bahkan ada kekehan di akhir kalimatnya. Tapi Laras tahu kalau jawaban itu bukanlah jawaban main-main. Dan setelah dipikir-pikir pun ya memang benar begitu faktanya. Jangankan Indah, Laras pun punya sesuatu yang dia sembunyikan rapat-rapat tanpa berniat membaginya dengan orang lain, termasuk kedua orang tuanya sekali pun. Dia tidak bisa mempercayai orang lain untuk menjaga rahasianya sebaik dirinya sendiri. Laras terhenyak selama beberapa detik berkat perkataan Faisal.
"Menurut Pak Faisal, apa alasan yang sebenarnya sampai Indah melakukan tindakan ini? Apa jangan-jangan dia diperkosa dan orang itu nggak mau tanggung jawab makanya Indah berfikir sependek ini?"
Laras mencondongkan tubuhnya ke arah Faidal yang tengah duduk setengah menunduk. Pria itu sedang memainkan jemarinya yang saling bertautan. Tapi menyadari gestur Laras, Faisal langsung menegakkan tubuhnya. Dia menatap Laras lekat-lekat dalam cahaya yang tak terlalu terang di area ini.
"Alih-alih berfikir dia diperkosa, kenapa kamu nggak berfikir kalo mereka adalah sepasang kekasih yang sadar ketika melakukan tindakan ini?" Faisal menjeda, lalu menghela napas pelan. Dia merasa kalau kalimatnya selanjutnya mungkin akan menyinggung Laras. "Kamu sendiri yang bilang kalau Indah menceritakan perihal hubungan asmaranya dengan kamu. Itu artinya dia memang punya seseorang yang dicintainya. Dan ketika seseorang bersama dengan orang yang dicintainya, bukan nggak mungkin juga kalau mereka akan lepas kendali atas nama cinta."
Laras terdiam. Dia mencerna setiap kata demi kata yang dilontarkan Faisal dengan baik. Ekspresinya mengeras.
"Saya yakin kamu paham maksud saya, Laras." Faisal menambahkan.
"Tapi kalau ini adalah kejadian yang disadari dengan baik, lalu kenapa Indah berusaha menggugurkannya? Bukannya mereka seharusnya mempertanggung jawabkannya?"
Faisal menghela napas. "Meskipun mereka melakukan hal itu dengan kesadaran penuh, tapi nggak semua orang punya kesadaran penuh untuk mempertanggung jawabkan buahnya. Nggak semua orang sesiap itu, Laras, apalagi bagi mereka yang melakukannya di luar nikah."
Laras terdiam.
"Di momen seperti ini kita nggak bisa berpatokan pada spekulasi kita sendiri. Kita perlu mendengarnya dari orang yang bersangkutan. Karena kita belum tahu siapa laki-laki itu, maka satu-satunya orang yang bisa kita tanyai ya Indah. Dan itu pun baru bisa dilakukan ketika dia sudah sadar nanti."
Laras langsung bungkam. Tubuhnya yang semula tampak tegak kini perlahan-lahan terlihat menunduk. Perempuan itu memainkan jemarinya sebagai pertanda kalau dia sedang kebingungan dan sedih di waktu bersamaan.
"Saya membebaskan Indah karena saya pikir dia bisa dipercaya. Tapi siapa sangka dia bahkan sama mengerikannya dengan remaja-remaja lain. Dia nggak tahu batasan dan akhirnya terjerumus ke hal-hal seperti ini."
"Tapi kamu juga nggak perlu merasa bersalah, Laras. Ini sepenuhnya bukan salah kamu. Mungkin umurnya lebih muda dari kita, tapi dia sudah tergolong dewasa untuk tahu mana yang benar dan mana yang salah."
"Tapi dia tinggal bareng saya. Orang tuanya mempercayakan dia pada saya, Pak Faisal."
"Terus kamu mau menanggung semua kesalahan yang murni dia lakukan pada dirinya sendiri, begitu? Laras, berbuat baik boleh, tapi jangan menutup mata kamu dari fakta yang sebenarnya."
"..."
"Kamu memberikan Indah pekerjaan, tempat tinggal, dan perlindungan--apa itu belum cukup? Katakanlah kalau orang tua Indah memang menitipkan Indah pada kamu, tapi apa semua yang kamu berikan itu masih belum cukup juga? Kamu dan Indah itu berbisnis, bukan tempat pengasuhan anak yang harus kamu jaga dengan sepenuh hati. Indah pun secara logika sudah dewasa dan sudah tahu mana yang baik dan buruk. Dia sudah mampu dan merdeka untuk menentukan pilihannya sendiri. Mau kamu atur seperti apa pun, itu nggak akan berhasil kalau hatinya nggak tergerak untuk mengikuti aturan kamu."
"..."
"Orang tua Indah menitipkan Indah sama kamu? Percayalah kalo tugas kamu udah tunai sejak lama. Kamu udah memberikan perlindungan, tempat tinggal, bahkan pekerjaan--semua itu udah cukup. Hal-hal lainnya yang terjadi di luar kendali kamu sudah bukan tanggung jawab kamu lagi."
Laras menghela napas dengan berat. Sebenarnya yang dikatakan Faisal memang benar, tapi tetap saja rasa bersalah itu tetap ada. Tapi Laras mencoba untuk kuat dan berdamai dengan semua ini. Ditatapnya Faisal lekat-lekat untuk menyampaikan rasa terima kasihnya.
"Makasih atas semuanya, Pak Faisal. Saya bener-bener udah ganggu malam Bapak dengan Fayyola. Maaf banget..."
"Saya setuju untuk menolong kamu, itu artinya saya pun sudah siap untuk direpotkan oleh kamu, Laras. Jadi nggak perlu merasa nggak enak hati juga."
"Udah malem, jadi kalau Pak Faisal mau pergi sekarang nggak masalah kok. Lagian kasian Fayyola ditinggal sendirian di rumah. Lagian besok Bapak kerja juga kan?"
Laras mencoba untuk meminta Faisal pulang saja. Dia sudah merepotkan pria itu malam-malam begini dan tidak nyaman kalau menundanya sampai lama. Tapi respon Faisal justru membuat Laras tertegun.
"Fayyola nggak sendirian kok. Dia sama pengasuhnya," Faisal memberitahu. Kemudian dia melanjutkan dengan tenang. "Saya temenin kamu dulu sampe Indah masuk rawat inap. Setelah itu baru saya bisa pulang dengan tenang."
Laras menatap Faisal lekat-lekat. Walau menerka-nerka maksud kalimat Faisal yang sebenarnya, tapi tak urung juga dirinya bersyukur sekali dengan kehadiran pria itu. Faisal adalah malaikat penolongnya.
TBC