7. TOLONG SAYA?

1359 Kata
Happy Reading^_^ *** Momen pulang ke kampung halamannya telah usai dan kini saatnya Laras kembali ke ibukota. Dan di ibukota inilah segala rutinitas Laras sebagai pekerja online terjadi. Ya, Laras memiliki online shop di dua marketplace terkenal yang ada di indonesia. Dan jumlah follower-nya pun tak main-main yakni sudah mencapai angka ratusan ribu dengan rating yang kokoh yang berada di angka 4.9 dari 5 bintang yang mereka sediakan. Laras bangga? Tak perlu ditanyakan lagi. Meski kesibukannya melebihi momen saat dirinya masih menjadi tenaga kesehatan, tapi setidaknya Laras tidak tertekan di profesi ini. Karena berbasis online, Laras tidak harus tertekan bertemu dengan orang-orang baru. Dia juga tidak diharuskan terus tersenyum pada pasien meski hatinya sedang hancur. Orang yang paling sering ditemuinya ya hanya satu orang karyawannya saja. Selebihnya dia mungkin akan bertemu tetangga kontrakan, itu pun tidak terlalu sering karena Laras lebih sering berjibaku di kontrakannya untuk packing barang. Intinya, pada pekerjaannya sekarang yang meskipun lebih sibuk tapi perasaan Laras jauh lebih terkendali. Satu-satunya hal yang menyebalkan hanyalah nyinyiran orang-orang di kampung halamannya yang seolah-olah meremehkan Laras dan profesi yang dipilihnya. Sangat berbanding terbalik dengan tetangganya di sini yang tersenyum maklum saat melihat kurir ekspedisi melakukan pick up barang setiap hari di sore hari. Mereka mengatakan Laras bodoh karena meninggalkan rumah sakit dan memilih membuka toko tidak jelas. Padahal toko online yang dibukanya sangat jelas, mulai dari barang-barangnya sampai uang yang didapatkannya. Tapi kemudian Laras sadar yang sebenarnya terjadi bukan toko online Laras yang tidak jelas, tapi mereka saja yang tidak bisa memanfaatkan peluang untuk bisa bekerja dari rumah seperti dirinya. Mereka iri karena Laras bisa menghasilkan uang dari rumah sedangkan mereka harus pergi ke suatu tempat dulu baru bisa dikatakan bekerja. Tapi Laras selalu percaya bahwa manusia hidup itu pasti sawang sinawang. Sawang sinawang sendiri adalah ungkapan dari bahasa Jawa yang merujuk pada perilaku manusia yang suka membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain, baik dari kecantikan, kesuksesan, hingga hal-hal lain yang nampak di depan mata. Padahal yang sebenarnya terjadi tidaklah seindah yang mereka lihat. Ada proses berat di belakangnya yang tak orang lain lihat. Terdengar berlebihan, tapi ini nyata. Laras mengalaminya sendiri. Orang-orang melihat Laras menganggur, tapi kenyataannya Laras bekerja sepanjang hari. Bahkan kadang dia pun melakukan proses packing sampai tengah malam agar pesanan bisa dikirim sesuai dengan tenggang waktu yang diberikan. Bahkan saat orderan sedang membludak, Laras pun merelakan weekend-nya untuk packing sambil dijeda nonton drama. Melelahkan bukan? Tapi anehnya masih banyak orang yang menyepelekannya. Apa mereka pikir hanya orang-orang yang berseragamlah yang sibuk dan lelah, sementara dirinya yang setiap hari memakai outif seadanya dianggap tidak punya pekerjaan sama sekali? Yah, kira-kira begitulah rutinitas harian Laras setiap harinya, mulai dari hari senin sampai bertemu ke senin lagi. Tapi semenjak momennya mengasuh Fayyola waktu itu, rutinitasnya jadi bertambah satu, yakni membalasi pesan Fayyola yang lumayan sering bertanya 'Tante lagi apa?' di sekitaran pukul tujuh sampai delapan malam. Sebenarnya ini bukan masalah besar, tapi yang agak membuatnya tidak nyaman adalah bocah kecil itu menggunakan ponsel papanya untuk menghubungi Laras. Sehingga Laras cukup bergidik kala pesan Fayyola yang bertanya dirinya sudah makan atau belum masuk namun atas nama Faisal. Dari identitas yang tertera, dia chat an dengan seorang pria yang sudah berumur, namun pria itu memanggilnya Tante terus-terusan, bahkan dia juga diingatkan jangan lupa makan, jangan lupa berdoa, bahkan sampai jangan lupa tidur. Laras merasa seperti tante-tante nakal gara-gara hal itu. "Tanteeee..." Kalau sebelumnya bocah itu aktif mengiriminya pesan, maka malam ini bocah itu memilih untuk menelpon. Dan sejak kapan suara Fayyola jadi semanja ini, pikir Laras. Tapi anehnya bukannya risih, Laras malah terkekeh senang. Mungkin efek sudah lama tidak ada yang mengucapinya selamat malam atau selamat makan sehingga saat ada yang mengucapinya, Laras merasa senang sekali. Padahal yang melakukannya adalah bocah perempuan berumur lima tahun. "Kenapa, Fay?" "Tante di rumah Bogor apa rumah Jakarta?" Laras tersenyum. Fayyola memang belum pernah main ke kontrakannya yang ada di Jakarta, ucapannya sudah seperti orang yang mengenal Laras dengan baik. "Tante ada di rumah Jakarta. Kenapa? Fayyola mau main?" "Mau, Tante. Tante kapan ada di rumah?" Antusias sekali, pikir Laras. "Kalau mau main, Fayyola main di hari sabtu atau minggu aja ya. Tante repot kalo hari senin sampe jumat." "Mau, Tante. Nanti Fayyola main ya?" Laras terkekeh. Betapa menyenangkannya mengobrol abnormal seperti ini. Dan jangan salah, lawan bicaranya pun anak kecil. Bukan orang dewasa seusianya. "Boleh..." "Nanti boleh nginep juga, Tante?" Laras tergelak. "Bolehhh--tenang aja. Apa sih yang nggak buat Fayyola, hm?" Sebagai orang yang bersuara dan mendengarnya sendiri, Laras saja merasakan kegelian. Tak terbayangkan bagaimana gelinya Faisal -ayah Fayyola- kala mendengar hal ini. Ya, Faisal Mahardika. Karena bagaimana pun pria itu pasti tidak berada di tempat yang jauh dan membiarkan anak perempuannya main handphone secara sembarangan tanpa pengawasannya sendiri. Dia pasti ada di sekitaran Fayyola dan terkekeh kecil saat ini. Di saat sedang asyik-asyiknya mengibrol ngalur-ngidul, Laras dikejutkan dengan sosok karyawannya yang pulang ke kontrakan dengan derai air mata yang membasahi wajahnya. Ya, Laras dan karyawannya memang tinggal di kontrakan yang sama. Salah satu alasan yang membuat Laras mempekerjakannya adalah mereka berasal dari kampung yang sama. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana sosok karyawannya ini gigih mencari pekerjaan setelah dirinya lulus SMA. Katanya, dia harus bekerja atau dirinya akan dinikahkan padahal belum menginginkannya. Nuraninya sebagai sesama perempuan yang ingin merdeka terusik. Hingga pada akhirnya Laras memutuskan untuk menariknya sebagai karyawan. Di awal-awal dia memutuskan tinggal bersama adalah untuk menekan biaya hidup karyawannya. Maklum saja, kepergian karyawannya ke Jakarta benar-benar dipandang sebelah mata oleh keluarganya hingga tak diberikan uang saku yang cukup. Laras tak ingin dia kesusahan sendirian makanya memutuskan untuk menampungnya selama sebulan-dua bulan. Tapi seiring berjalannya waktu mereka malah terbiasa tinggal bersama. Apalagi ternyata keduanya juga sama-sama berdedikasi tinggi di pekerjaan sederhana mereka ini hingga keduanya sering lembur demi membereskan sebuah packing-an. Untuk dikatakan kenal sekali dengan karyawannya memang tidak bisa, tapi sejauh ini Laras cukup tahu kalau karyawannya -Indah- bukan jenis orang yang akan tiba-tiba pulang dengan kondisi menangis seperti ini. Indah adalah sosok yang ceria dan tidak mudah menangis. Tapi kemudian dia ingat dengan izin yang indah pakai untuk keluar malam ini, yakni bertemu pacarnya. Lalu pertanyaan itu muncul: mungkinkah Indah bertengkar dengan pacarnya? "Ndah, kamu kenapa?" tanya Laras sambil mengetuk pintu kamar Indah. Karena hal seperti ini baru pertama kalinya terjadi makanya Laras panik. Apalagi Indah langsung masuk ke kamarnya tanpa bercerita seperti biasanya. "Tante kenapa?" Pertanyaan polos itu terlontar dan membuat Laras sadar selama prasangkanya tadi ternyata panggilannya dengan Fayyola masih terus terhubung. "Tante nggak apa-apa, Fay. Tapi temen Tante lagi sedih, jadi Tante tutup dulu teleponnya ya?" Laras berusaha mengakhiri panggilannya dengan Fayyola. Dia merasa harus mengutamakan sosok Indah terlebih dahulu yang tindak-tanduknya terasa berbeda sekali dengan biasanya. Tapi belum sempat dia mendengar jawaban Fayyola, sosok Laras dikejutkan lagi dengan pintu kamar karyawannya yang terbuka secara tiba-tiba. Mengabaikan Fayyola, Laras langsung mendekatinya lagi. "Ndah, kamu kenapa?" tanya Laras dengan raut panik. "Teteh, tolongin aku..." Laras mengernyitkan keningnya. Belum hilang kebingungannya dan kini tubuh Indah luruh. Laras menangkapnya sebisanya sambil berseru panik. "Ndah? Indah? Hei, bangun, jangan bikin saya panik..." Tapi kenyataannya Laras sudah panik. Dan rasa paniknya semakin menjadi-jadi saat mata Laras menangkap bercak darah yang merembes di celana kain yang dipakai Indah. Dan tak lama berselang ada darah yang mengalir secara terus menerus di kaki Indah. Tadinya Laras ingin mengenyahkan beragam pikiran buruknya dengan meyakini kalau semua itu adalah darah haid. Tapi kemudian dia sadar kalau darah haid tidak mungkin seperti itu. Laras panik. Kakinya gemetar hingga dia pun tak sanggup menahan bobot tubuh indah lagi. Dia luruh dan memeluk Indah dengan tangan yang gemetar hebat. Selama beberapa detik Laras merasa seperti hilang arah. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Lalu kemudian dia teringat dengan panggilannya bersama Fayyola. Sosok Faisal langsung terlintas sebagai sosok potensial yang bisa menolongnya. "Fay, Tante boleh bicara dengan Papa kamu?" Bahkan suara Laras pun bergetar saat mengatakan hal tersebut. "Laras, saya ada di sini. Kamu kenapa?" "Pak Faisal... t-tolong saya." Tanpa banyak pertanyaan, Faisal langsung mengiyakan permintaan Laras. Dan pada momen ini juga Laras benar-benar bersyukur punya seseorang yang bisa dimintai bantuan pada momen genting seperti ini. Dan seseorang itu ternyata berasal dari orang yang baru dikenalnya. Dialah Faisal Mahardika. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN