Pertemuan Tak Terduga

1099 Kata
“Maaf, kau butuh kacamata atau hanya suka membuat masalah?” Laras menyeka apel yang jatuh dan menatap pria di depannya dengan tatapan tajam. Bintang menahan napas, terkejut dengan sikap wanita ini. “Maaf, itu tidak sengaja,” jawabnya singkat, berusaha untuk tetap sopan. “Kau seharusnya lebih berhati-hati,” jawab Laras sambil mengembalikan apel ke troli belanjanya. Ia kemudian berbalik tanpa berkata lagi, meninggalkan Bintang yang masih terpaku di tempatnya. Bintang mengamati Laras yang berjalan menjauh. Rasa penasaran mulai tumbuh di dalam dirinya. Dia terbiasa menjadi pusat perhatian, tapi wanita ini bahkan tidak sedikit pun tampak mengenalnya. Itu hal yang baru dan mengganggu bagi Bintang. Dengan sedikit menggeleng, dia memutuskan untuk melanjutkan belanjanya, meskipun pikirannya masih tertuju pada pertemuan singkat itu. Sementara itu, Laras melanjutkan harinya tanpa memikirkan lebih lanjut pria yang menabraknya. Ia memiliki tujuan lebih penting, yaitu kunjungannya ke panti rehabilitasi penyakit mental, tempat di mana ia merasa dirinya lebih dibutuhkan. Setibanya di panti, Laras langsung disambut oleh beberapa penghuni yang sudah mengenalnya. “Laras! Senang kau datang lagi!” sapa Ibu Siti, salah satu penghuni yang sering bercerita padanya. “Selalu senang bisa ke sini, Bu Siti. Bagaimana kabar Anda hari ini?” tanya Laras sambil duduk di samping wanita paruh baya itu. “Sama seperti biasa, nak. Tapi kau tahu, melihatmu selalu membuat hariku lebih baik,” jawab Bu Siti dengan senyum hangat. Laras tersenyum balik, merasa nyaman berada di antara orang-orang yang ia anggap seperti keluarga ini. Di sudut ruangan, ia melihat Pak Darma, seorang pria yang selalu duduk sendirian, terpisah dari yang lain. Ia memutuskan untuk mendekatinya. “Selamat sore, Pak Darma. Bagaimana hari ini?” tanya Laras lembut. Pak Darma menatapnya dengan mata kosong. “Hari ini tidak ada bedanya dengan hari lainnya,” jawabnya singkat. Laras duduk di sampingnya, mencoba mencari topik pembicaraan yang bisa membuat pria itu berbicara lebih banyak. “Anda tahu, saya baru saja bertemu dengan seseorang yang aneh di swalayan. Dia menabrak troli saya tanpa permisi.” Pak Darma tersenyum tipis. “Orang-orang selalu terburu-buru, mereka tidak pernah punya waktu untuk berhati-hati.” Laras mengangguk. “Benar sekali. Apakah Anda merasa seperti itu juga? Bahwa orang-orang di sekitar Anda tidak selalu peduli?” Pak Darma menghela napas. “Mereka peduli, tetapi hanya pada apa yang ada di permukaan. Tidak ada yang benar-benar memahami apa yang ada di dalam kepala kita.” “Seperti apa yang ada di dalam kepala Anda, Pak Darma?” Laras bertanya dengan lembut, mencoba membuka lebih banyak cerita dari pria ini. Pak Darma diam sejenak, lalu berbicara dengan suara rendah. “Ketakutan, Laras. Ketakutan yang tidak pernah hilang. Mereka menyebutnya paranoia, tetapi bagi saya itu adalah kenyataan. Saya selalu merasa diawasi, diikuti, dan tidak pernah bisa merasa aman.” Laras mendengarkan dengan penuh perhatian, mengerti betapa beratnya perasaan seperti itu. “Apakah Anda pernah merasa ada seseorang yang bisa Anda percayai, Pak Darma?” “Tidak banyak, tetapi ada beberapa orang di sini yang membuat saya merasa sedikit lebih aman. Anda adalah salah satunya, Laras,” jawab Pak Darma dengan tulus. Laras merasa terharu mendengar itu. “Terima kasih, Pak Darma. Itu berarti banyak bagi saya.” Saat mereka berbicara, penghuni lainnya mulai berkumpul di sekitar Laras, masing-masing membawa cerita dan perasaan mereka sendiri. Laras dengan sabar mendengarkan dan memberikan dukungan yang mereka butuhkan. Ia selalu merasa bahwa tempat ini adalah rumah keduanya, di mana ia bisa memberikan arti dan nilai pada hidupnya yang sederhana. Namun, di sudut pikirannya, bayangan pria yang menabraknya di swalayan tetap muncul. Ada sesuatu tentang pertemuan itu yang mengusik hatinya, meskipun ia mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya. Ia mengalihkan perhatiannya kembali pada para penghuni panti, memberikan senyum dan kata-kata yang menenangkan. Menjelang sore, saat kunjungannya hampir selesai, seorang staf panti mendekati Laras. “Laras, ada seorang penghuni baru yang mungkin perlu bicara denganmu. Dia agak tertutup dan mungkin butuh seseorang untuk mendengarkan.” “Siapa dia?” tanya Laras. “Namanya Pak Ridwan. Dia baru saja datang beberapa hari yang lalu. Sepertinya dia mengalami hal yang mirip dengan Pak Darma, selalu merasa diawasi,” jelas staf tersebut. Laras mengangguk, merasa tugasnya belum selesai. Ia berjalan menuju kamar Pak Ridwan dan mengetuk pintu dengan lembut. “Selamat sore, Pak Ridwan. Saya Laras. Bolehkah saya masuk dan berbicara sebentar?” Suara dari dalam kamar terdengar ragu-ragu. “Silakan masuk.” Laras membuka pintu dan melihat seorang pria berusia lima puluhan duduk di kursi, menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong. “Bagaimana kabar Anda hari ini, Pak Ridwan?” tanyanya sambil duduk di kursi di depan pria itu. Pak Ridwan menoleh perlahan. “Tidak terlalu baik. Mereka masih ada di sana, terus memperhatikan saya.” “Siapa mereka?” tanya Laras dengan lembut. Pak Ridwan menggeleng. “Saya tidak tahu, tapi saya selalu merasa ada yang mengawasi. Saya tidak bisa tidur, tidak bisa makan dengan tenang. Hidup saya penuh dengan ketakutan.” Laras merasa sedih mendengar itu. “Saya mengerti, Pak Ridwan. Ketakutan seperti itu sangat sulit dihadapi. Tapi Anda tidak sendirian di sini. Kami semua ada di sini untuk membantu.” Pak Ridwan menatap Laras dengan mata penuh ketakutan dan keraguan. “Benarkah? Bisakah saya benar-benar mempercayai itu?” Laras mengangguk. “Ya, Anda bisa mempercayainya. Dan saya akan selalu ada di sini untuk mendengarkan.” Pak Ridwan tersenyum tipis, untuk pertama kalinya menunjukkan sedikit harapan. “Terima kasih, Laras. Itu berarti banyak bagi saya.” Setelah selesai berbicara dengan Pak Ridwan, Laras merasa lega. Meskipun hari itu penuh dengan kejadian tak terduga, ia merasa telah melakukan sesuatu yang berarti. Ketika ia keluar dari panti dan melihat langit yang mulai gelap, ia berpikir tentang banyak hal yang telah ia dengar hari ini. Namun, bayangan pria di swalayan itu tetap menghantuinya, meninggalkan perasaan penasaran yang tidak bisa ia abaikan. Malam itu, Laras kembali ke apartemennya dengan pikiran yang penuh. Ada sesuatu yang mengatakan padanya bahwa hidupnya akan berubah, meskipun ia belum tahu bagaimana caranya. Di tempat lain, Bintang duduk di ruang tamunya yang megah, dengan pikiran yang kalut. Ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya. “Masuk,” katanya lemah. Pak Surya, manajernya, masuk dengan wajah serius. "Pak Bintang, kami menemukan sesuatu yang mencurigakan," Bintang merasakan firasat buruk di dadanya. “Apa yang terjadi, Pak Surya?” Surya menghela napas, tampak ragu untuk berbicara. Bintang membeku. “Siapa pengirimnya kali ini?” “Kami belum tahu, tapi ini bukan kiriman biasa. Mereka tahu apa yang mereka kirimkan,” jawab Surya, suaranya penuh kekhawatiran. Bintang menatap ke luar jendela, ke dalam kegelapan malam. Pikirannya berputar, mencoba mencerna informasi baru ini. Di kejauhan, sirene polisi terdengar samar, menambah kesan suram pada malam itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN