Sopir taksi yang membawa mereka, sesekali melirik melalui kaca spion. Terlihat kalau ia turut mendengarkan perdebatan antara dirinya dan Jaka. Selama beberapa waktu, hanya keheningan sajalah yang tercipta diantara Jaka dan Riana. Jaka menarik napasnya dengan berat, lalu menghembuskan dengan perlahan. Ia lalu memejamkan kedua matanya dan menggenggam jemari Riana dengan erat. “Kita lupakan saja pembicaraan tadi, Na!. Lebih baik, kita pikirkan saja acara bulan madu kita, agar berhasil membuat junior yang mirip diriku ataupun dirimu. Apapun yang terjadi nantinya, kau harus percaya padaku dan akan kita hadapi bersama. Kau hancur, aku pun hancur, Na!. Kau bahagia, aku juga akan bahagia.” kata Jaka, sambil mempererat genggaman jemarinya di tangan Riana. Jaka lalu meletakkan kepala Riana di pun

