Jaka beberapa kali mencoba menghubungi nomor yang tercantum di dinding tersebut. Ia merasa sedikit kecewa, karena sambungan telepon tidak diangkat juga. “Ini, orang sebenarnya niat atau tidak sih, menjual rumah ini!” gerutu Jaka kesal. Jaka dan Budi melihat ada sebuah taksi yang berhenti tepat di depan pintu pagar rumah. Ke luarlah seorang wanita paruh baya dengan mengenakan rok panjang dan kemeja. Kemudian, disusul seorang wanita muda, yang sedang menggendong bayi. Jaka membelalakkan matanya, ketika melihat siapa wanita muda yang baru turun dari taksi tersebut. Yanti lah wanita tersebut. Melihat wanita yang membuat darahnya naik, sekarang justru berada di hadapannya, kekesalan Jaka yang sudah hilang, setelah berbincang dengan istrinya, kini menjadi emosi lagi. Yanti merasa kalau dirin

