Terobati

1088 Kata

Lubna masih mau memakan sereal yang sudah dihaluskan, walaupun sambil merajuk karena tenggorokannya sakit untuk menelan. Keningnya sudah ditempeli plester kompres dan sudah diberikan obat penurun panas. Bersyukur Armina, Mba Popi datang pada waktu yang telah dijanjikan. Wanita ramah itu langsung menolongnya menggantikan pakaian Lubna yang basah. “Mau dibawa ke dokter, Bu?” tanyanya. Panggilan ‘ibu’ masih saja membuat Armina risih. Padahal ia harus sudah membiasakan dirinya. “Mungkin nanti siangan, baru saja minum obat penurun panas. Biar dia tidur dulu,” kata Armina. Ia lalu menunjukkan tempat cuci dan seterika, peralatan kebersihan, dapur, dan ruang-ruang lain yang harus dibersihkan. Mba Popi dengan cepat mengerti dan memulai dengan bekerja di ruang cuci. Harsya menelefonnya lagi.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN