Di kedai kopi, sambil menunggu Lubna selesai sekolah, Armina tercenung. Ia merasa buntu dan mulai putus asa memikirkan masa depannya. Untuk wawancara besok, ia masih bisa menitipkan Lubna di daycare sekolah untuk beberapa jam. Tapi, bagaimana untuk selanjutnya jika dia mulai bekerja nanti. Tak mungkin Lubna dititipkan setiap hari. Ia ragu Harsya akan menyetujuinya. Tiga orang wanita masuk ke kedai sambil tertawa-tawa. Mereka duduk tak jauh dari Armina. Sesekali mereka memandangi Armina dan berbisik-bisik. Armina bukannya tidak merasakan tatapan mereka. Ia hanya berusaha tidak mempedulikan dengan sibuk menekuni layar ponselnya. “Hai!” Salah seorang wanita yang berhijab menghampirinya. Armina menengadah sedikit kaget. “Ya?” “Mamanya Lubna?” “Iya.” Armina mencoba mengingat apakah ia jug

