“Kamu sudah kenal dengan Oryza tadi itu?” tanya Harsya saat dia dan Armina baru saja duduk di dalam mobil. Dia dapat melihat kecanggungan Armina tadi. “Dia kan pelatih taekwondonya Lubna.” Armina memasang seatbeltnya. “Oh!” Harsya mulai melajukan kendaraannya. “Kakak bukannya pernah ketemu dia waktu ngantar Lubna latihan?” “Nggak. Sewaktu ngantar Lubna, aku langsung ketemu dan ngobrol dengan Andi di ruang kerjanya. Ngga pernah lihat atau ketemu dia.” Mobil mereka membelah jalan komplek yang berbalut cahaya lampu malam. Armina mengecek perkiraan waktu tempuh perjalanan mereka di aplikasi ponselnya. “Kayaknya dia naksir kamu, Na.” Harsya berkata tenang, yang dibalas dengan reaksi kaget Armina. Sedemikian terangkah sikap Oryza? “Sok tahu!” “Aku kan lelaki. Tahulah!” Harsya bersikuk

