Mungkin karena Armina yang termuda dan belum mengenal yang lainnya, Bu Ayu menggandengnya kemana-mana dan mengenalkannya ke siapapun sebagai isteri Harsya. Dia cuma bisa pasrah ditarik kesana-sini, memasang senyum seramah mungkin, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepadanya sesantun dia bisa. Diambangkannya rasa risih menerima tatapan aneh dan penasaran dari orang-orang yang dilewati. Dia juga menebalkan telinga kala terdengar bisik-bisik membicarakan tentang kemudaan, penampilan, dan nasibnya menikahi kakak ipar. Saat acara tausiyah menjelang berbuka dimulai, Bu Ayu menempatkan Armina duduk di sebelahnya. Tamu-tamu yang hadir duduk melingkar beralaskan karpet lembut di ruang tengah yang luas. Seperti umumnya acara yang bersifat keagamaan, kelompok wanita diatur terpisah

