Keesokan paginya, Armina menyiapkan sarapan dengan sikap waspada. Dia menunggu reaksi Harsya menanggapi perbuatannya membohongi Karina semalam. Namun, Harsya sama sekali tidak menunjukkan perubahan sikap apapun. Perilakunya tetap biasa. Sorot mata yang merupakan cerminan perasaannya, malah menyiratkan ketenangan. Sudahkah mereka berbicara semalam? Menyinggung dirinyakah? Apakah wanita itu mengaku telah menghubungi Armina? Padahal, sebenarnya dia enggan menyebutkan nama sosok lain itu, dan malas menghadirkannya di percakapannya dengan Harsya. Tetapi, sebagai perempuan, Armina jujur tidak bisa sepenuhnya melepaskan rasa tersaingi dalam memperebutkan perhatian Harsya meskipun dalam konteks yang berbeda. Meski demikian, dia tak mau dianggap seolah pihak yang senang menyinyiri lawannya. Armin

