Minggu pagi. Sejak bangun tidur, Armina sibuk di dapur. Rara dan Edo berjanji akan datang nanti dengan permintaan harus disediakan makan siang. Hingga menjelang siang, Harsya tidak juga menelefon atau mengirimkan pesan. Armina menunggu, namun ia tak mau memulai. Lubna yang menanti kabar dari papanya bolak-balik menanyakan Armina. Anak itu terpaksa menelan kecewa tiap Armina menjawab tak ada telefon atau pesan yang masuk. “Kenapa ngga Mamina aja yang telfon? Kalau ngga, sini aku yang telfon!” Lubna tak sabar. Armina mencegahnya. Ia khawatir yang menjawab bukan Harsya. Seperti kemarin. Ia tak mau Lubna sampai mendengar suara wanita lain Harsya. “Kenapa ngga boleh?” Lubna menunjukkan rasa kesalnya. “Papa lagi nyetir. Kan ngga boleh sambil nelfon.” Armina memberi alasan asal mengena.

