Jawaban Harsya membuat Armina terperanjat. Kakinya mendadak lemas, dan tubuhnya melunglai kehilangan keseimbangan. Ia hampir jatuh jika saja Harsya tidak cepat menyangga lengannya dan mendudukkannya di kursi. Armina berusaha menguatkan diri.
“Kenapa Kak Meisha merahasiakannya dari aku?”
“Dia nggak mau membuat dirimu sedih, dan mengganggu kuliahmu.”
“Tapi, mengapa aku bisa nggak tahu dia sakit?” Armina heran sendiri, karena selama dua tahun ini ia sama sekali tidak menyadari Meisha mengidap sakit yang parah. Beberapa kali Meisha memang pernah menolak menemuinya dengan alasan GERDnya kambuh. Dan ia tidak mau dijenguk, karena ingin istirahat maksimal.
“Kamu tahu Meisha kan, Na. Dia perempuan mandiri yang jarang mengeluh. Dia juga kuat menahan sakitnya. Saat kemoterapi atau radiasi, dia sering berangkat dan pulang sendiri ke rumah sakit. Aku pun baru diberitahu soal penyakitnya setelah enam bulan dia menjalani pengobatan,” jawab Harsya.
Armina memahami sifat Meisha. Sejak kecil, kakaknya itu memang terkenal dengan kemandiriannya. Meisha adalah pekerja keras yang tidak terbiasa menggantungkan dirinya kepada orang lain. Bahkan kepada suaminya sendiri pun. Makanya, ketika tiga tahun lalu Harsya ditugaskan memimpin cabang perusahaan tempatnya bekerja di Bandung, Meisha menolak ajakan Harsya untuk ikut pindah ke kota itu.
Meisha tak mau mengalah karena ia pun memiliki pekerjaan dan usaha yang potensial di Jakarta. Ia sama sekali tidak masalah dengan hubungan jarak jauhnya. Entah dengan Harsya. Namun, selama ini Armina melihat lelaki itu baik-baik saja. Setahunya hampir setiap akhir pekan ia selalu pulang ke Jakarta.
“Kata dokter, harapannya bagaimana?” Berat hati Armina menanyakan hal tersebut. Walau tidak mengerti detail, ia tahu kanker stadium empat adalah kondisi yang sudah sangat parah.
Harsya menarik nafasnya. Wajahnya menyiratkan kegelisahan yang dalam.
“Dokter bilang, sekarang ini proses perawatan yang dilakukan hanya bertujuan untuk meringankan gejala penyakit dan efek samping dari pengobatannya itu saja. Sangat kecil sekali kemungkinan untuk sembuh, sebab kankernya sudah menyebar ke organ tubuh yang lain.”
Hati Armina pilu mendengarnya. Ia seperti sudah divonis akan segera hidup sendirian di dunia ini. Ia pun menangis tanpa suara.
Harsya memeluk bahunya. Ia tak mampu memberikan kata-kata penghiburan kepada adik iparnya, karena hatinya pun diliputi kepiluan yang sama, ditambah lagi dengan rasa bersalah yang menghantuinya.
Armina berusaha keras menghentikan air matanya. Diaturnya nafasnya dengan menarik dan menghembuskannya dalam-dalam, sampai gelombang tidak tertib emosinya kembali stabil. Bisikan di hati kecilnya memintanya untuk tegar menerima kenyataan yang memang harus dihadapinya.
***
Seluruh waktu Armina dicurahkan untuk Meisha. Banyak hal yang dikorbankannya. Pindah kembali dari kosnya ke rumah kakaknya, melepaskan rencana mencari pekerjaan, dan tak pernah lagi hang out dengan teman-temannya. Bahkan ia nyaris melupakan Kevin, pacarnya. Baginya Meisha lebih penting di hidupnya kini.
Tak terasa, empat bulan berlalu sudah dengan Armina mempersembahkan hidup hanya untuk kakaknya. Kadang ia merasa lelah. Namun, dikuatkan jiwa dan raganya merawat Meisha di rumah ketika kondisinya dinyatakan stabil. Ia juga rutin menemani Meisha menjalani pengobatan. Namun, ada masanya kondisi Meisha sangat menurun sehingga harus dilarikan ke rumah sakit dan kembali diopname.
Seperti dua minggu terakhir ini. Kondisi Meisha makin melemah hingga harus kembali dirawat inap. Meski begitu, ia berusaha tidak membebani Armina. Berkali-kali ia meminta adiknya meninggalkannya dan pergi bersantai dengan teman-temannya. Tapi, manalah mungkin Armina tega membiarkan kakaknya sendirian.
“Nanti kamu cepat jadi tua karena ngurusin orang sakit,” ledek Meisha lirih. “Ngaca sana. Mukamu kusam banget.”
“Ngga usah dandan pun, aku tetap cantik, Kak!” balas Armina sambil menyuapkan obat pereda nyeri dan menempelkan pipet air minum ke mulut Meisha.
“Cantikan juga aku,” sela Meisha sambil meringis seusai menelan obatnya.
“Oh pastilah! Nggak ada yang bisa menyaingi kecantikan Kak Meisha, ratu segala ratu-ratuan di semua dunia.”
Armina berkelakar, tak mau mendebat. Disapunya bibir Meisha dengan tisu.
“Harsya kapan datang, Na?” tanya Meisha pelan.
Hari Jum’at, Harsya biasanya kembali ke Jakarta selepas siang. Armina melihat jam di tangannya. Kakak iparnya itu dua jam yang lalu mengiriminya pesan memberi tahu ia sedang dalam perjalanan.
“Mungkin sejam lagi, Kak.”
Meisha mendesah pendek. “Tolong dandanin aku, Na. Sebelum Harsya datang.”
Armina tersenyum. Dengan pedih yang ditahan, ia mengoleskan foundation, bedak, eye shadow, lipstik, dan lainnya di kulit layu Meisha. Kakaknya ini dulu sangat menjaga penampilan. Meski beranak satu, bentuk tubuhnya tetap ramping. Mukanya selalu segar dan bersinar. Berbeda jauh dengan sekarang. Kurus, cekung dan kuyu.
Setelah selesai, Armina menghadapkan cermin ke wajah Meisha. Mata sayunya berbinar.
“Kak Harsya pasti terpesona nanti melihat kakak,” kata Armina yakin.
Binar di mata Meisha perlahan meredup.
“Kasihan Harsya, punya isteri kayak aku begini. Sebentar lagi mati pula.”
“Ih, Kakak!” Armina menegur. “Sebentar lagi Kakak sehat!, kok!”
“Ngga usah bohongin aku, Na.” Meisha menatap adiknya. “Kunci deposit box, masih kamu simpan baik-baik kan?”
“Aman, Kak.”
Armina heran dengan pertanyaan kakaknya yang tiba-tiba menanyakan kunci tempat penyimpanan surat-surat berharga dan perhiasan warisan orang tua mereka.
“Kalau aku meninggal nanti, aku titip Lubna ya,” pesan Meisha.
Armina menahan degup jantungnya.
“Dan, kamu harus menikah dengan Harsya.”
Apa Armina tidak salah dengar? Menikah dengan Harsya? Kakak iparnya? Lelaki yang 11 tahun lebih tua darinya?
“Aku sudah membicarakan hal ini dengan orang tuanya Harsya. Mereka tidak keberatan,” sambung Meisha.
“Tapi aku keberatan!” protes Armina. “Aku punya pacar, Kak!”
Meisha hanya tersenyum. Ia tidak menanggapi protes adiknya. Malah kemudian menutup matanya dan tertidur.
Kata-kata kakaknya menimbulkan keresahan di hati Armina. Dirinya yang sudah mulai terbiasa hidup tanpa kedua orang tuanya, sudah bersiap dengan kemungkinan harus kehilangan kakaknya. Mengurus anaknya bukanlah masalah, tapi menikah dengan suaminya, sama sekali tidak terbayangkan olehnya.
Armina ingin melanjutkan penolakannya, tetapi wajah damai Meisha yang damai tertidur menyurutkannya. Dibelai dan diciumnya kening Meisha lembut.
Saat kemudian Harsya datang, ia menepi. Diberikannya ruang dan waktu pada pasangan suami isteri itu untuk melepas rindu. Sementara ia duduk di balkon kamar menatap langit sore yang sudah bersimburat jingga. Setiap ia melihat senja, ada suasana magis yang melingkupi dirinya. Seperti ada kesan sendu yang ditebarkan, yang menjadikannya merasa bertambah sendiri dan sepi.
Ia teringat Kevin. Ditelefonnya lelaki itu. Namun, tidak terjawab. Armina bertambah gelisah. Betapa ia menginginkan kekasihnya berada di sini, di sisinya, memeluk dan menenangkannya. Kapan terakhir kali mereka berbicara di telefon? Seminggu lalu?
“Mina!!!”
Teriakan panik Harsya mengejutkan Armina. Melemparkannya kembali ke dunia nyata dari lamunannya.
Ia berlari masuk ke kamar. Dilihatnya Harsya sedang menekan-nekan tombol nurse call. Meina memegang tangan kakaknya yang terkulai dingin. Sekejap, ia tahu… saat yang ia takutkan telah tiba.
Meisha pergi selamanya, bersamaan dengan tenggelamnya matahari. Armina menangis sepanjang malam. Walaupun sudah berusaha mempersiapkan diri, tak urung hatinya hancur juga. Separuh jiwanya menghampa.
***