Terpaksa

1316 Kata
Duka yang menyelimuti Armina terasa begitu pekat. Menyesakkan d**a dan seakan tak bertepi. Waktu yang dijalaninya seolah kehilangan makna. Ia tak bisa berlari. Menghindar sedikit pun tidak. Lubna yang oleng kehilangan ibunya, menyandarkan hidupnya kepadanya. Ia juga tidak bisa menjauh, karena anak tersebut adalah tempatnya berpaling. Hubungan darah keduanya, mengikatnya. Sekarang, dia adalah keluarga terdekat yang mengaitkan asal-usulnya. Setelah dua minggu cuti, mengurus semua perubahan data administrasi kependudukan dan urusan di kantor Meisha, Harsya kembali ke rutinitasnya bekerja di Bandung. Anaknya dititipkan pada Armina dan orang tuanya yang datang dari Semarang saat dikabari Meisha tiada. Sesungguhnya Armina jengah tinggal di rumah itu bersama Harsya. Status lelaki itu yang sudah tidak beristeri dan dirinya yang masih gadis, tentu saja bisa mengundang prasangka tak jelas jika mereka terus tinggal serumah. Walaupun ia memiliki kamar sendiri di lantai atas, sebab sejak orangtuanya meninggal, Meisha memaksanya tinggal di kediamannya. Sebelum Harsya berangkat ke Bandung, Armina menyampaikan keinginannya kembali kos. Ia tidak bisa kembali ke rumah orang tuanya, sebab sedang dikontrakkan ke sebuah keluarga ekspatriat yang sedang bertugas di Indonesia. Pihak yang menentang keinginan Armina justeru orang tua Harsya. Mereka menjamin tak akan ada yang berkata buruk karena mereka pun akan tinggal bersama sampai batas waktu yang belum mereka tetapkan. “Tunggu sampai 40 hari, baru nanti kita bicarakan langkah selanjutnya,” kata Bu Aya, mamanya Harsya, tegas. Armina menekan rasa gelisah yang muncul akibat mendengar dua kata ‘langkah selanjutnya’ dari bibir Bu Aya. Ia teringat pesan terakhir kakaknya. Apakah Bu Aya akan membahas hal tersebut? Apakah Meisha berpesan hal yang sama kepada Harsya? Jika iya, kenapa lelaki itu diam saja? Dipejamkannya matanya serapat mungkin hingga kulit wajahnya mengerut. Seandainya saja saat ia membuka kelopak mata, ia sudah berada di kondisi yang berbeda. Tapi, ya tentu saja hal tersebut tidaklah mungkin. Rara yang dicurhati tentang keresahannya, tidak bisa membantu banyak. Kevin pun tak bisa diharapkan. Hubungan mereka memang semakin tak jelas akhir-akhir ini. Komunikasi mereka merenggang. Padahal, Armina belum menceritakan soal pesan terakhir Meisha. Pengajian sore itu, menandai 40 hari sudah Meisha meninggalkan dunia. Sebagian besar keluarga besar Harsya hadir. Dari pihak Armina, tidak ada. Ayah dan ibunya yang dulu menikah tanpa persetujuan orang tua, memang hidup terasing dari keluarganya masing-masing. Akhirnya, waktu itupun tiba. Seusai acara, Bu Aya dan Pak Syafar, suaminya, memanggil Armina dan Harsya ke ruang tengah. Tanpa banyak basa-basi, disampaikannya pesan Meisha dan restu mereka. “Jadi bagaimana? Kapan kalian akan menikah?” tanya Bu Aya. Armina melirik Harsya. Lelaki di hadapannya itu sama sekali tidak bereaksi. Armina berharap Harsya menolak rencana ini. Tapi, dia hanya duduk diam menatap sajian makanan di meja. “Saya belum siap menikah!” seru Armina mencoba bertindak demi dirinya. Ia menggunakan cara apapun yang melintas di pikirannya untuk bisa terhindar dari keputusan keluarga Harsya. “Umurmu berapa sekarang, Mina?” tanya Bu Aya lembut. “Dua puluh dua.” “Sudah dewasalah. Sudah lulus kuliah juga. Ngga ada alasan belum siap.” Bu Aya menepis. Harsya tetap tidak berkomentar. “Tapi, saya sudah punya pacar!” Armina mencoba jalan terakhir. Semua yang hadir menatap Armina. Termasuk Harsya. “Hanya pacar… Belum dilamar kan?” tanya Bu Aya. Dengan hati melemah, Armina menggeleng. “Armina, kakakmu memberikan pesan terakhirnya itu, tentu ada maksud dan tujuannya. Kami yakin alasan utamanya terkait Lubna. Dia sudah tentu akan lebih nyaman dirawat dan dibesarkan oleh ibu sambung yang sudah dikenal baik dan sedarah.” Pak Syafar yang sedari tadi diam ikut bicara. “Lagipula, yang berwasiat ini kan kakakmu sendiri, Mina. Kamu tidak takut, dia nanti tidak tenang di alamnya sana, karena wasiatnya tidak dituruti?” timpal Bu Aya. Armina tersudut. Tertutup sudah semua celah untuk menolak. Ia menoleh pada Harsya yang juga masih menatapnya. Lelaki itu tetap merapatkan bibirnya. Rasa resah, kesal dan kecewa Armina akhirnya berujung pasrah. Keluarga Harsya menetapkan pernikahan keduanya akan dilaksanakan dua minggu lagi. Mereka ingin secepatnya kembali ke asalnya masing-masing dengan tidak membawa beban, serta mengingat bahwa tak ada masa iddah bagi lelaki yang cerai mati dari isterinya. Ketika Armina menyampaikan keputusan keluarganya kepada Kevin, lelaki itu terdiam cukup lama. Dia tidak marah katanya, hanya kecewa. Meski demikian, Kevin kemudian mengikhlaskan Armina. Hati Armina tak terelak menjadi pedih . Ia hanya bisa menangis sendirian merenungi nasibnya. Disangkanya, Kevin akan berjuang membela dan merebutnya. Ternyata, dia begitu mudah melepaskannya. Jika ditanya siapa yang paling berbahagia dengan rencana pernikahan Armina dan Harsya, jawabnya adalah Lubna. Anak kecil yang berduka karena kehilangan ibunya itu, tersenyum memeluk tantenya erat. Ia merasa aman menyerahkan hidupnya kepada Armina. Rara menguatkannya dengan mengatakan bahwa tak mungkin Meisha menjerumuskan adiknya. Pasti kakaknya yang selalu memperhatikannya itu menginginkan kebahagiaan untuknya. Armina mengaminkan perkataan Rara, di lubuk hatinya Armina pun berharap hal yang sama. Acara pernikahan itu dilaksanakan dengan amat sederhana di hari Jum’at siang yang cerah. Armina bersikeras menolak pesta. Ia hanya mengundang Rara dan Edo, meski teman-teman lain yang mendengar mempertanyakannya. Baginya, tak penting sama sekali pernikahan yang terpaksa ini dirayakan. Walau perasaannya jengah sepanjang prosesi acara, ia tetap mencoba tersenyum. Satu persatu tamu akhirnya berpamitan. Termasuk orang tua Harsya. Mereka harus mengejar pesawat terakhir malam itu. “Titip jaga cucuku dan Harsya ya, Na!” Bu Aya mencium pipi Armina. Armina mengangguk, biarpun kemudian hatinya bertanya, “terus, siapa yang menjaga aku?” “Kalau ada apa-apa, jangan sungkan menghubungi kami.” Pak Syafar mengusap kepala Armina. “Ya.” Armina menjawab sopan. Setelah semuanya pergi, rumah mendadak terasa sepi. Armina mengganti kebaya putihnya dengan baju rumah. Lubna mulai merajuk karena lelah. Namun, perlu bujukan ekstra untuk membuatnya mau mandi terlebih dahulu, sebelum dihantarkan ke tempat tidurnya. Armina membantu Mba Karti membereskan sisa-sisa acara. Ia tak ingin berhenti karena bingung harus melakukan apa di malam pertama perkawinannya. Dia sungkan mendekati Harsya yang asyik dengan ponselnya di ruang tengah. “Sudah, Bu. Istirahat saja, biar saya yang teruskan,” kata Mba Karti sambil mengangkat piring kotor terakhir dari meja makan. Kening Armina berkerut. “Ibu? Kenapa jadi manggil aku Ibu?” Armina protes karena sebelumnya Mba Karti yang lebih tua darinya memanggilnya ‘mbak’. Mba Karti tertawa. “Lah, kan sekarang sudah jadi isteri, jadi ibu.” Armina terdiam. Mana mungkin ia menyalahkan Mbak Karti tentang fakta yang disampaikannya. Ia lalu beranjak ke kamar Lubna yang terletak di sebelah kamarnya di lantai atas, biarpun Bu Aya sudah mendadani kamar Harsya menjadi kamar pengantin. Ia tahu pernikahan menghalalkan kontak fisik antara suami isteri. Namun, membayangkan ia harus melakukannya bersama Harsya sungguh membuatnya risih. Betapa aneh hidupnya kini. Armina membaringkan tubuhnya di samping Lubna. Tubuhnya letih, tapi matanya tak mau terpejam. Ia terkenang Kevin. Teringat semua mimpi yang pernah disemainya bersama pria itu, yang tak akan pernah bersemi. Entah berapa waktu yang terlewati dengan lamunannya. Armina tersadar kembali ke kenyataan, oleh ketukan Harsya di pintu yang hanya tertutup setengah. “Sudah tidur?” “Belum, Kak!” Armina bangkit duduk. “Bisa ikut aku?” Harsya memintanya keluar. Kaki Armina gemetar. Ia mengikuti langkah lelaki tinggi dan tegap itu menuju ke kamarnya di lantai bawah. Ketika Harsya perlahan menutup pintu, rasa gugup menguasai Armina. Tubuhnya panas dingin. Ia berdiri di tengah ruang berwarna putih itu dengan kikuk. Jemarinya saling meremas. Harsya duduk di tepi tempat tidur dan memberi isyarat kepada Armina untuk duduk di sebelahnya. Kegugupan Armina berubah menjadi dorongan panik. Wangi bunga mawar yang dirangkai Bu Aya di atas nakas tak mampu menenangkannya. “Kita mau ngapain, Kak?” tanyanya dengan suara parau bergetar. Ia resah sendiri membayangkan apa yang akan dilakukan Harsya. Pengalaman fisiknya bersama Kevin hanya sebatas bergandeng tangan, peluk dan cium saja. Ia bersedia dilakukannya dengan dasar cinta. Tapi, Harsya berhak melakukan apapun pada dirinya. Dan itu, sungguh membuatnya takut. “Kita ngobrol aja, sini! Ada yang ingin kubicarakan.” Perlahan Armina mendekat, ia masih belum percaya Harsya cuma bakal mengajaknya bicara. Penuh diliputi canggung, ia duduk di sebelah Harsya dengan menyisakan jarak yang cukup membuatnya nyaman. Sejenak ia memejamkan mata, dan mengatur nafasnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN