Terjebak

1186 Kata
Melihat kegugupan dan kecemasan Armina, Harsya jadi ingin tertawa. Ia menatap gadis mungil berambut panjang yang duduk tegang dengan perasaan iba. Secara lahiriah, tak terlalu banyak kemiripan antara Armina dan Meisha. Namun, secara kepribadian, Harsya sangat tahu kakak adik ini bertolak belakang sifatnya. Meisha keras kepala, tegas, percaya diri dan suka tantangan. Sedangkan Armina lembut, mudah bersimpati, tak banyak bicara dan cenderung rapuh. Ia jadi bimbang ingin membicarakan sesuatu yang dipendamnya. Tapi, jika tidak diutarakan ia khawatir akan semakin melukai hati Armina kelak. Walaupun tetap saja gadis ini bakal sakit hati mendengarnya. Tapi, lebih baik diungkapkannya sekarang agar kerusakan yang dibuatnya tidak semakin parah. “Kamu nggak usah takut. Aku janji nggak akan menyentuh kamu.” Armina tertegun. Tidak menyentuh? Apa maksud Harsya? “Armina, aku minta maaf karena wasiat Meisha sudah membuatmu terperangkap ke dalam penikahan yang sama-sama tidak kita inginkan ini. Kamu tahu kan sejak pertama aku menganggapmu sebagai adikku. Sampai sekarang pun perasaanku masih sama.” Kemana arah kalimat Harsya? Jantung Armina berdebar. “Ada yang harus kukatakan kepadamu, dan aku sangat-sangat minta maaf karena baru kukatakan sekarang. Sebab, aku pun sama denganmu, serba salah dan nggak bisa menolak pesan Meisha yang didukung keluargaku.” Harsya menjeda perkataannya. Armina menunggu. “Aku cuma bisa menceritakan hal ini ke kamu. Aku tahu apa yang telah aku lakukan salah…, terlalu salah. Kamu pasti marah, kecewa…, dan terserahlah kamu mau bagaimana nanti.” Harsya terdiam kembali beberapa detik. Armina tetap sabar menanti. “Aku mau kamu tahu, bahwa sejak dua tahunan yang lalu sebenarnya aku sudah menikah dengan perempuan lain di Bandung,” ujar Harsya tenang, tapi menebas telinga dan hati Armina tajam. Gadis di samping Harsya itu ternganga. Sejenak ia seperti dilemparkan ke dalam lorong hampa yang hening, tak bermassa. Ia membeku melayang di dalamnya. Tidak bisa berkata dan berpikir. Melihat dan mendengar. Sedangkan Harsya, meski beban yang cukup lama menghimpitnya terlepas sudah melalui pengakuannya, ia cemas juga dengan ekspresi Armina yang diam mematung. “Na?... Mina!” Harsya mengguncang bahu Armina perlahan. Guncangan tangan Harsya menarik Armina dari alam tanpa nama. Ia tersentak. Seketika nalarnya kembali berfungsi. Matanya menatap nanar Harsya. Ia sungguh tak percaya dengan apa yang telah didengarnya. “Kak Meisha tahu?” Suara Armina tercekat. Perlahan Harsya menggeleng. Sekejap Armina langsung menyadari apa yang telah terjadi. Harsya telah berselingkuh dari kakaknya. “Kok, Kakak tega? Apa karena Kak Meisha sakit, makanya menikah lagi?” Bibir Armina bergetar. Air matanya menetes tak mampu dibendung. “Bukan itu alasannya. Kakakmu baru memberi tahu sakitnya setelah pernikahan itu terjadi.” “Jadi apa alasannya?! Kak Meisha salah apa sampai Kakak khianatin dia?” Suara Armina meninggi. Duduknya bergeser menjauhi Harsya. Harsya menghela nafas. Ia menimbang sesaat. Armina tampak sangat kecewa. Ia tak mau menambah lagi lukanya. “Anggap saja karena kami tinggal berjauhan dan kurang komunikasi. Sementara aku lelaki yang punya kebutuhan,” jawab Harsya. “Tapi kan memang kalian sepakat tinggal berbeda kota? Kenapa terus jadi masalah? Jakarta Bandung kan sebenarnya dekat?” cecar Armina. Mendapatkan cercaan seperti itu, Harsya hanya bisa diam. Di benaknya berkecamuk banyak hal yang tak sanggup diuraikannya melalui kata-kata. Armina memejamkan matanya. Wajahnya sudah basah bersimbah tangis. Dadanya terasa penuh dan sesak. Harsya menepuk bahunya mencoba menenangkan, namun Armina cepat menepisnya. Dengan gerakan kasar ia menggeser duduknya, menjauhkan diri dari lelaki yang telah melukainya dalam. Harsya membiarkannya meluapkan kekecewaan. Setelah beberapa saat, Armina pun mulai bisa menguasai dirinya. Tangisnya mulai mereda. “Siapa dia?” “Pemilik perusahaan rekanan kantorku di sana.” Armina menahan dirinya untuk mengetahui detail wanita itu. Ia penasaran, namun tak mau terbebani dengan sosoknya. “Teman-teman kantor Kakak tahu?” Harsya menggeleng. “Kenapa waktu orang tua Kakak meminta kita menikah, ngga bilang kalau sudah ada isteri yang lain? Bukannya kemarin itu, habis Kak Meisha meninggal, kesempatan buat Kakak dan isteri lain Kakak itu mengumumkan diri? Kenapa terus malah mau menikahi aku? Bikin aku terjebak kayak begini, sampai harus ninggalin pacarku? Sudah kakaknya diselingkuhin, adiknya dibodohi pula? Jahat banget, sih?!” serang Armina beruntun. Harsya terdiam. Armina yang biasanya bersikap sebagaimana adik perempuan yang lembut, penurut dan sungkan terhadap Harsya, berubah keras dan menatapnya tajam. Tampak di matanya, benih-benih kebencian yang cepat sekali bertunas di hatinya. Harsya sadar, ia tak bisa menyalahkan Armina bila merasa begitu. Walau bagaiamanapun, ia yang bersalah. “Jawab, Kak!” Armina menuntut. Wajahnya teramat kesal. “Maaf, Na. Orang tuaku nggak memberiku pilihan lain. Kalau mereka tahu aku sudah menikah lagi pun, bisa dipastikan mereka akan memaksaku menceraikannya,” jawab Harsya. “Lagipula, kami hanya menikah siri, dan Karina ngga mau meresmikannya.” Armina mengigit bibirnya. Akhirnya ia mendengar namanya. Karina… Pikirannya jadi tak bisa dicegah menerka-nerka bagaimana rupa perempuan yang telah mengkhianati Meisha, dan menghancurkan pernikahannya di malam pertamanya. Dalam hati ia bertanya, jika pernikahan resminya dilakukan setelah Harsya dan Karina menikah secara siri, lalu siapa yang dianggap jadi isteri pertama dan siapa yang kedua? Dirinya atau Karina? “Na, jangan kamu kira aku memang berniat membuatmu sengsara. Aku nggak setega itu. Anggap saja kita sama-sama terjebak di sini. Tapi, menurutku sebenarnya kita masih punya jalan keluar.” Armina mendengus. Kenapa baru sekarang Harsya punya jalan keluar? “Dengan menikah, kita sudah memenuhi wasiat Meisha dan keinginan orang tuaku. Dan, sepertinya ini jelas ngga akan berjalan baik. Saranku, setelah setahun, kita bisa bercerai dengan alasan kita tidak cocok. Kamu bisa melanjutkan hdupmu dengan orang yang kamu cintai, aku pun juga. Anak-anak biar aku yang urus. Aku nggak akan membebanimu.” Harsya memaparkan idenya. “Terus, aku harus berstatus janda, gitu?!” suara Armina parau. Hatinya porak-poranda. Harsya menghela nafas. Ia mengeluh dalam hati. Kalimat yang Armina barusan semakin menambah rasa bersalahnya. Armina pun diam. Namun, dalam diamnya, ia merenungi gagasan Harsya. Jika Harsya tidak menipu Meisha dan dirinya, mungkin ia bisa menjadi isteri dan ibu yang baik, serta belajar mencintai suami. Namun, mengingat kondisi yang ada ternyata rumit begini, perceraian memang jalan keluar untuk melepaskan ikatan perkawinan yang dipaksakan kepada mereka berdua. Percuma juga berjuang dan bertahan jika hati Harsya sudah dimiliki orang lain. Dan, ia memang bukan tipe perempuan yang bisa berbagi. Setelah beberapa waktu saling meredam kata, Armina menyetujui gagasan Harsya. Bagaimanapun, nasi telah menjadi bubur. Meisha sudah tiada, dan ia harus menanggung semuanya. Ia menyimpan dan memendam kecewa dan rasa sakit hati dirinya dan almarhum kakaknya atas perselingkuhan Harsya di sebuah rongga hatinya. Luka yang digoreskan sangatlah dalam hingga membuat pandangannya terhadap Harsya berubah. Dia tidak lagi dianggapnya sebagai lelaki tampan dan gagah yang setia pada isterinya. Bagi Armina, Harsya hanyalah seorang lelaki bertabiat buruk berlabel pengkhianat. Malam itu, Armina tidur di kamar Lubna. Armina menempatkan diri di samping anak itu. Ia tidak dapat tidur semalaman, memikirkan jalan hidupnya yang di luar bayangan. Sesekali air matanya menetes. Bayangan Kevin hadir di benaknya. Kepedihan saat Armina mengabari keputusannya kembali jelas terngiang. Setelah menghapus air matanya, Armina mengambil ponselnya dan membuka aplikasi pesan. Ia mengirimi sederet kata uangkapan kepiluan untuk lelaki yang masih dicintainya itu. “Aku kangen. Tolong aku, aku terjebak di sini!” Pesan itu terkirim, tercentang satu. Meina menatapnya penuh harap, semoga hanya karena ponselnya sedang dimatikan, bukan sebab Kevin memblokir nomornya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN