Tersadar

1261 Kata
Rasanya, Armina baru saja terlelap, kala dirasa ada sesuatu yang menggelitik hidungnya, disertai suara cekikikan yang ditahan. Lubna yang tidur menghimpitnya sudah bangun rupanya. Ia terus memejamkan matanya, membiarkan Lubna mempermainkan hidung, rambut, dan pipinya. Ketika dirasanya sudah cukup anak itu mengusiknya, disamping ia juga sudah mulai tak bisa menahan rasa geli, Armina menyentakkan tubuh dan membuka matanya lebar-lebar, melotot ke arah langit-langit kamar. Seketika Lubna menjerit ketakutan. Tetapi, setelah mengetahui Armina hanya bercanda, anak itu pun tertawa lepas. “Mamina jangan begitu dong, ah! Bikin takut aku!” Lubna memeluk leher Armina. “Kenapa takut?” Armina mencium kepala Lubna. “Kayak zombie!” jawab Lubna. Armina tertawa. Dipeluknya Lubna erat-erat. Ia ingin kasih sayangnya meresap ke sanubari bocah itu melalui dekapannya. “Eh, sudah jam berapa ini?” Armina mencoba memalingkan wajahnya yang terhalang tangan Lubna ke arah jam di dinding. Ternyata waktu sudah tiba di 07.30 pagi. Jika, masih ada Meisha, pasti ia sudah diteriaki kesiangan. “Mandi, yuk! Nanti terlambat.” “Ini kan hari Sabtu. Ngga sekolah. Libur” Lubna mengetatkan pelukannya. Anak kelas TK ini sudah hapal hari. Armina kerap lupa dengan kecerdasannya. “Jadi kita ngapain?” “Kita tidur lagi aja!” Lubna tertawa renyah. “Oke!” Armina memejamkan matanya. Dicobanya melambungkan kembali rasa kantuk dan mimpinya. Benar kata Lubna, ini hari libur. Jadi, dia bisa bersantai memanjakan dirinya. Tapi, sebuah kesadaran yang ditekannya di bawah nalarnya, perlahan menyembul menguasai hatinya. Ia sudah menikah. Mendadak Armina gelisah. Kelopak matanya langsung terbuka. Ya, ia seorang isteri sekarang. Ia merasa tak pantas membiarkan dirinya berleha-leha seperti ini. Bukankah sebagai isteri ia punya kewajiban untuk mengurus suaminya? Namun, ingatan tentang pembicaraan dengan Harsya semalam menimbulkan kesadaran berbeda. Pengakuan Harsya tentang perkawinan lain yang dimilikinya, dan kesepakatan atas pernikahannya sendiri, membuat Armina kembali memejamkan matanya. Ia hanya isteri sementara Harsya, tak perlu serius berusaha berperan sebagai isteri yang baik apalagi sempurna untuknya. “Mamina,” bisik Lubna “Ya?” “Aku lapar!” Hmm… berarti kita harus bangun sekarang!” Armina mengangkat tubuhnya. “Tapi aku ngga mau mandi!” Lubna menawar. “Oke, ngga apa-apa. Agak siangan nanti mandinya.” “Oke!” Lubna bangkit dari berbaringnya. Armina mencuci muka terlebih dahulu sebelum menyiapkan sarapan yang gampang dan cepat. Nasi goreng dan roti bakar. Lubna makan dengan lahap. Armina menggigit rotinya. Sambil mengunyah, hatinya bertanya-tanya tentang keberadaan Harsya. Sejak tadi lelaki itu tidak tampak. Kemana dia? “Mamina, Papa mana?” Lubna bertanya. “Di kamarnya mungkin.” Armina asal menjawab. Anak kecil itu turun dari kursi di samping Armina dan berlari menuju kamar papanya. Pintu kamar Harsya terlihat dari ruang makan. Armina dapat memperhatikan Lubna mengetuk pintu, menarik handlenya, sambil berseru memanggil. Pintu tidak terkunci, Lubna masuk, tapi tak lama keluar lagi. “Papanya ngga ada!” seru Lubna. “Kemana, Ma?” Armina menggeleng. Mba Karti yang ditanyai juga tidak tahu. Ia sejak pagi sibuk megurusi cucian baju di lantai atas. “Jangan-jangan sudah balik ke Bandung.” Lubna menduga. Mungkinkah? Masa Harsya tidak pamit? Sambil mendesah, Armina mengecek kamar Harsya, teras belakang, dan ruang lainnya. Mobil Harsya masih terparkir di garasi. Armina baru hendak ke lantai atas ketika terdengar jeritan Lubna. “Papa! Dari mana?” Langkah Armina terhenti di anak tangga ketiga. Ia berbalik ke sumber suara. Di teras, Lubna sedang duduk di pangkuan Harsya di kursi teras. “Habis lari, olahraga.” “Pantas keringetan, bau!” Lubna pura-pura menutup hidungnya. Mendengar komentar anaknya, Harsya malah sengaja mendekap Lubna hingga menjerit-jerit dan tertawa. “Kamu juga bau belum mandi! Dari bingkai pintu, Armina tak bisa mencegah senyumnya melihat keakraban tersebut. Dulu ia dan ayahnya tidak bisa seakrab itu. Ayahnya yang kaku dan sibuk dengan pekerjaannya jarang memeluknya. “Kenapa kamu belum mandi?” Harsya mencium ketiak Lubna. “Kata Mamina hari libur boleh ngga mandi,” jawab Lubna. Armina terkejut. “Eh! Aku ngga bilang begitu!” Serentak keduanya menoleh ke Armina. Lubna langsung menutup mulutnya, tertawa malu. “Karena kamu sudah bohong, jadinya sekarang kamu harus mandi!... Ayo!” Armina mengulurkan tangannya. Ia sesunguhnya tak benar-benar marah. Ia hanya ingin mendidik Lubna untuk tidak terbiasa memutarbalikkan fakta dengan memberikan resiko yang harus ditanggung atas ucapannya. Lubna malah memeluk lengan Harsya. Mencari dukungan untuk menolak. Namun, Harsya justeru membisikinya untuk menuruti Armina. Dengan wajah cemberut, gadis kecil itupun menyambut uluran tangan Armina. Harsya memandangi Armina. Sebaliknya, Armina menghindari pandangannya. Ia bergegas masuk ke dalam rumah dan menuju lantai atas dengan menggandeng tangan Lubna yang tak henti menggerutu dan mengeluhkan dinginnya air mandi. Selesai Lubna mandi, ganti dirinya yang membersihkan diri. Setelahnya, ia duduk di ranjang, memeriksa ponselnya. Pesannya telah terkirim ke nomor Kevin. Sudah terbaca, namun tidak terbalas. Sambil merapikan kamarnya, Armina menunggu. Semenit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Tak ada kata yang diterimanya dari Kevin. Sibukkah dia? Marahkah? Sejam kemudian, Armina melihat Kevin baru saja memperbarui stataus media sosialnya. Ia memasang foto tentang jalanan berbatu yang membelah perbukitan. Tak ada apapun dan siapapun yang melintas. Tak ada keterangan yang menyertai foto tersebut. Armina mencoba menerka arti status Kevin tersebut. Jalan yang kosong itu, apakah gambaran hatinya yang sepi telah putus hubungan dengan Meina? Ataukah memberi sinyal bahwa ia membutuhkan seseorang untuk meniti perjalanan yang baru? Tapi, bisa juga gambar itu hanyalah potret lokasi di sekitar tempat kerjanya saja. Satu tanda tanya perlahan membesar di hati Armina. Mengapa Kevin tidak merespon pesannya, tapi malah mengupdate statusnya? Sesaat hati Armina meradang. Ia membekap mulutnya dan berteriak meluapkan kesalnya. Lalu, ia menarik nafas dalam seraya meremas-remas jemarinya. Gerakan tangannya terhenti ketika ia merasakan sebentuk benda tipis keras yang melingkar di jari manisnya. Cincin kawinnya. Mata Armina memanas memandangi cincin yang dipilihkan Bu Aya untuknya. Seketika ia malu telah mengirimkan pesan kepada Kevin tentang betapa rindunya ia pada lelaki itu di malam pertama pernikahannya. Walaupun perkawinannya terasa salah, namun statusnya telah berubah menjadi isteri seseorang. Seberapapun bencinya ia pada Harsya kini, tetap saja dia adalah isterinya. Entah mengapa, ada perasaan tak pantas bila dirinya mengkhianati ijab kabul yang telah mengikatnya. “Mina!” Namanya terdengar diserukan Harsya, disusul ketukan di pintu. Armina menyeka air yang mengembang di sudut matanya, sebelum membuka pintu kamar. Di hadapannya, berdiri Harsya dengan pakaian yang cukup rapi. Kemeja hitam dan celana jeans. Hatinya bertanya apakah Harsya akan pergi ke suatu tempat. Tetapi, mulutnya terkunci rapat. “Kamu lagi mengerjakan sesuatu?” tanya Harsya. Armina menggeleng. “Ada tamu baru datang. Atasanku di kantor pusat. Bisa temani aku nemuin?” Harsya memandang Armina berharap. Dia dan isterinya hanya mau mengucapkan selamat.” “Selamat apa?” "Pernikahan kita. Mereka tahu karena aku meminta izin ambil cuti lagi. Kemarin mereka tidak bisa datang. Armina memasamkan mukanya. "Tapi kita kan..." Armina tidak meneruskan kalimatnya. "Hanya berpura-pura saja. Semalam kan kamu sudah sepakat dengan perjanjian yang kutawarkan?" Harsya mengingatkan. Armina ragu. "Mereka juga pasti ngga akan lama-lama, kok! Please..." "Sebentar!" Meina mengalah. Biar bagaimanapun, status dan kesepakatannya membawa konsekuensi peran yang harus dimainkannya. Ia mengganti pakaiannya dengan yang lebih layak. Memoles wajah serta bibirnya tipis. Kemudian menyusul Harsya yang sudah lebih dulu turun ke ruang tamu. Di sana ia menemui suami isteri paruh baya yang tampak sangat ramah. Harsya memperkenalkannya dengan pasangan bernama Pak Aryo dan Ibu Dewi tersebut. Lubna sudah duduk manis di antara mereka. "Selamat menempuh hidup baru!" ucap Bu Dewi sambil menyodorkan goodie bag mungil tapi mewah. "Terima kasih." Armina menerima dengan sopan. Ia mencoba tersenyum meskipun dirinya dilingkupi rasa jengah. Hanya dia yang dapat merasakan, hidup barunya bersama Harsya serupa memasuki gua yang gelap tak bercahaya. Dia merasa sendirian mencari lentera dan arah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN