Bu Dewi sangat ramah. Pembawaan sikapnya mengingatkan Armina kepada Meisha kakaknya. Dia pintar menciptakan bahan pembicaraan yang membuat Armina cukup nyaman berbincang dengannya.
Wanita anggun itu dan suaminya sudah 20 tahun menikah. Meski telah dua dasawarsa, hubungan mereka masih tampak mesra dan tampak penuh cinta. Armina mengubur rasa irinya. Seandainya saja ia bisa langsung mempunyai kehidupan perkawinan seperti mereka berdua. Tidak hanya sandiwara seperti yang dimilikinya.
Seusai tamunya pulang, Armina merasa lelah. Berpura-pura bahagia sungguh menyiksa dan meletihkan. Padahal baru saja sehari, dan hanya di depan dua orang pula. Bagaimana dengan 364 hari tersisa yang masih harus dilaluinya?
Padahal, dengan Harsya mendapatkan tambahan cuti lima hari saja, Armina sudah kebingungan. Ia berharap Harsya segera kembali bekerja di Bandung, sehingga ia bisa bernafas lega. Tidak sesak seperti sekarang sebab harus berlama-lama berada seatap dan seruang dengan lelaki itu.
Sore hari, sewaktu Armina sedang membuatkan jus buah untuk Lubna, Mba Karti mendatanginya dengan raut muka resah.
“Kenapa, Mba?” tanya Armina. Ia mematikan mesin juice maker.
“Barusan saya ditelefon adik saya. Katanya ibu saya sakit. Saya minta izin pulang.” Mba Karti memohon.
“Sakit apa?”
“Kata adik saya sih, gara-gara terpeleset di halaman rumah. Kakinya patah.”
Armina menggigit bibirnya. Ia jadi gelisah sebab jika Mba Karti pulang, artinya hanya tinggal bertiga orang saja di rumah ini. Tak ada orang lain sebagai pengalih perhatian.
“Boleh, Bu?”
“Bolehlah!” Armina menjawab cepat. Alangkah tidak terpuji dirinya bila sampai tidak mengizinkan.
“Saya mau naik bis malam ya, Bu. Saya siap-siap dulu.” Mba Karti meninggalkan Armina yang termenung sendirian.
Mba Karti pergi malam itu tanpa bisa memberikan batasan waktu kapan akan kembali. Mau tak mau Armina melakukan semua pekerjaan rumah tangga yang biasa dilakukannya. Dua hari melakukannya, ditambah mengantar dan menjemput Lubna sekolah, Armina pun kelelahan. Meski begitu, ia senang karena memiliki alasan untuk menjaga jarak dari Harsya.
Seusai makan malam dan membersihkan sisa makanan, Armina meninggalkan Lubna bersama Harsya di ruang tengah. Keduanya sedang asyik menonton televisi. Ia berdiam dikamarnya membenahi buku-buku dan perlengkapan kuliah yang sudah tidak digunakannya lagi. Menyentuh semuanya, membuat ia jadi kembali teringat dengan cita-cita dan mimpinya untuk bekerja dan travelling, menikmati masa mudanya, sebelum kemudian menikah.
Direbahkannya tubuhnya di atas pembaringan. Matanya terpejam, benaknya melayang-layang. Kepada Kevin yang tak juga membalas pesananya. Tapi, ia berusaha keras untuk maklum dan kemudian malah menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga kehormatannya sebagai perempuan yang telah memilih menikah dengan lelaki lain meskipun terpaksa.
Apakah ia masih bisa menggapai keinginannya yang lain? Dengan Lubna yang menjadi tanggung jawabnya, dan perangkap yang dijeratkan Harsya?
Armina mendesah. Ia mencoba membayangkan nasibnya setahun di muka. Tertayang di benaknya, ia meninggalkan rumah ini dan kembali ke rumah orang tuanya, beserta Lubna yang harus ikut bersamanya. Dirinya tak akan tega membiarkan anak itu diasuh oleh wanita lain. Apalagi yang telah mengkhianati Meisha.
Ia tak perlu khawatir dengan biaya pendidikan Lubna, sebab Meisha sudah meninggalkan dana yang cukup banyak untuk itu. Dirinya pun tak perlu khawatir sebenarnya, karena masih ada harta peninggalan orang tuanya yang sudah diserahkan semuanya oleh kakaknya kepada dirinya, meskipun tak terlalu banyak.
Biar begitu, ia tak mau mengandalkan itu semua, apalagi akan meminta bantuan Harsya. Tidak. Namun, bagaimanapun harta warisan bukanlah hasil upayanya. Ia merasa bersalah jika memanfaatkannya untuk kesenangan pribadinya. Lagipula, setinggi apapun gunung akan habis juga jika dikeruk terus-menerus.
Bekerja. Itu yang semestinya dilakukannya. Ia bisa melakukannya sambil menunggu masa ‘penahanannya’ usai. Mungkin, lebih cepat ia mandiri, akan lebih baik.
Armina pun bangkit dari posisi berbaringnya. Ia memutuskan akan mencari pekerjaan.
Ia duduk di meja belajarnya dulu dan membuka laptop. Ia berselancar mencari lowongan kerja yang sesuai dengan pendidikannya. Bisnis Digital. Dalam waktu tak terlalu lama, ditemukannya beberapa peluang. Segera disiapkannya dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Setelah semua rapi dalam satu folder, mendadak muncul keraguan di hatinya. Haruskah ia meminta izin Harsya? Bukankah ia berstatus sebagai isterinya sekarang yang selayaknya mematuhi suami.
Tapi, kan mereka cuma berpura-pura. Teringat hal itu, sebagian hati Armina menjadi tenang. Tapi sedetik berlalu, sebagian hati yang lain membuatnya galau dengan memberikan kesadaran bahwa orang lain tahunya mereka berdua pasangan yang telah resmi menikah dan tentunya punya kewajiban dan hak yang harus dipatuhi.
Armina menggeram sendiri sambil mengacak-acak rambutnya. Betapa tersiksa dirinya akibat langkah yang terjerat begini. Bagaimanapun, Harsya harus diberitahu. Memberi tahu. Armina menekankan kalimat tersebut di hatinya dan meyakinkan dirinya bahwa ia tak perlu meminta izin lelaki itu.
Setelah memberanikan diri, Armina mendekati Harsya yang tengah sibuk dengan ponselnya sementara Lubna asyik mewarnai buku gambarnya.
"Kak!" Armina duduk di seberang Harsya. Sikapnya teramat formal.
"Ya?" Harsya meletakkan ponselnya. Setelah hari pernikahannya, baru kali ini Armina mendekatinya.
"Aku mau melamar kerja."
Sejenak Harsya memandanginya.
"Buat apa?"
Pertanyaan bodoh sepertinya. Sebab, wajah Armina jadi bertambah kaku. Ia kesal dengan reaksi Harsya.
"Buat punya penghasilan sendiri. Aku kan harus mandiri. Nanti tahun depan kalau Kakak..." Kalimat Armina terhenti oleh isyarat Harsya yang disampaikan melalui gerakan menyilangkan dua telunjuknya sambil matanya melirik ke arah Lubna yang walau terlihat berkonsentrasi dengan pensil warnanya, pasti mendengarkan percakapan mereka.
Armina mengerti walau telanjur sedikit kesal. Ia beranjak berdiri dan pergi ke dapur. Ia berdiri dengan kedua tangan menekan meja dapur. Dadanya bergemuruh.
Harsya menyusulnya.
"Maaf memotong ucapanmu. Aku cuma ngga mau Lubna mendengar hal yang ngga seharusnya dia dengar." Harsya duduk di kursi di depan Armina. "Kamu tadi bilang mau kerja?"
"Iya."
"Di mana?"
"Belum tahu. Baru mau kirim-kirim lamaran."
Harsya meletakkan kedua sikunya di meja sementara jemarinya saling menggenggam.
“Hari Minggu besok aku kembali Ke Bandung. Mba Karti belum tahu kapan balik. Lubna…” Harsya tidak melanjutkan perkataannya.
Armina menunduk. Menahan kecewa. Pasti pengasuhan Lubna jadi alasan Harsya untuk mencegah keinginannya.
“Mina, aku ngga keberatan kamu kerja. Tapi, tolong harus pastikan ada Mba Karti sudah kembali sewaktu kamu memulainya, sebab harus ada yang menjaga Lubna di rumah, kan?"
“Kalau Mba Karti ngga balik lagi gimana?” tanya Armina.
“Ya, kita harus secepatnya cari orang lain lagi. Tapi, kamu pasti sepakat denganku, bahwa orang itu harus baik dan bisa dipercaya."
Armina berpikir harus kemana ia mencari pengganti Mba Karti. Perempuan sederhana itu sudah sepuluh tahun bekerja dengan Meisha. Dia baik dan jujur. Makanya Meisha betah dan menyukainya.
“Karena belum ada yang membantu lagi, mulai besok, cucian kamu kirim saja ke laundry. Makanan juga pesan online saja. Aku ngga mau kamu kecapekan sendiri jaga Lubna dan ngurusin rumah ini.” Harsya menyambung ucapannya.
Armina mengangkat wajahnya. Kalimat terakhir Harsya terasa menyentuh harunya. Kenapa lelaki ini seolah baik dan memperhatikan dirinya?
“Papa! Hapenya bunyi nih!” Tiba-tiba Lubna muncul di pintu dapur. “Dari Karina… Siapa dia?”
Harsya memandang Armina kikuk. Armina membalas dengan palingan muka.
“Maaf!” Harsya berkata kepada Armina sambil mengambil ponselnya dari tangan mungil Lubna.
“Siapa?” Lubna mengulang tanyanya.
“Teman kantor papa,” jawab Harsya sambil berlalu berpindah ke ruangan lain.
Armina mendesah. Jiwanya terusik karena nama itu muncul di antara mereka.
***