Armina berusaha keras mengabaikan dan menepis pikiran tentang Karina. Ia menyibukkan diri dengan mencari lowongan dan mengirimkan sejumlah lamaran kerja ke beberapa perusahaan sesuai dengan kualifikasinya. Ia berharap, saat panggilan tes dan wawancara, Mba Karti sudah kembali.
Ia juga membuat rencana mengisi waktunya. Dengan adanya Lubna, ia sadar tak leluasa lagi kemana- mana. Langkah pertama menikmati penjaranya adalah mempraktekkan beberapa resep makanan andalan almarhum ibunya.
Saat merawat Meisha, kakaknya itu pernah memintanya memasakkan bubur sumsum seperti buatan ibu mereka. Meisha memberikan buku tebal milik ibunya yang berisi catatan dan kliping resep masakan. Ibunya itu dulu, pernah membuka catering yang cukup laris, dan menyimpan semua resepnya.
Armina pun mencoba mewujudkan keinginan Meisha dengan membuatkan bubur sumsum sesuai dengan yang tercatat di dalam buku ibunya. Dan, ia heran sendiri, karena hasilnya sama persis dengan rasa bubur buatan ibunya dulu. Padahal, konon katanya, walau resepnya sama, namun tangan yang berlainan bisa menghasilkan rasa makanan yang berbeda. Apalagi, Armina dulu hampir tidak pernah memperhatikan ibunya memasak.
Kemudian, ia juga mencoba resep lainnya. Meisha memujinya karena tak disangka adiknya ternyata memiliki bakat memasak seperti ibu mereka.
Armina pun lalu menyimpan baik-baik buku resep tersebut. Jika senggang nanti, buku itu akan ia alih mediakan menjadi arsip digital, hingga tak khawatir robek atau rusak.
Hari Minggu ini, Harsya bersiap akan kembali ke Bandung. Armina tidak sabar menanti kepergiannya. Ia ingin segera menikmati kebebasannya berjauhan dari Harsya, setidaknya selama lima hari ke depan. Jika Harsya menginginkan, sebenarnya Armina tidak keberatan jika lelaki itu menghabiskan hari-hari sepanjang setahun kemuka di sana bersama isteri lain yang memang dicintainya.
Sejak pagi Lubna ribut menagih janji papanya yang kemarin mengiminginya bermain di playground mall jika dia menghabiskan jus wortelnya. Seusai sarapan dan menonton film kartun, anak ceriwis itu kembali mengusik Harsya yang sedang sibuk memberesi kertas-kertas di meja makan bundar di teras belakang rumah yang sering merangkap menjadi ruang kerjanya.
“Bisa nanti saja?” Harsya menawar.
Lubna melipat kedua tangannya di d**a. Bibir mungilnya meruncing dan matanya mendelik tajam. Armina yang memperhatikan dari jendela dapur tersenyum melihat tingkahnya. Gadis kecil itu berwatak keras serupa dengan mamanya.
“Nanti kapan?” tanya Lubna dengan nada kesal.
“Minggu depan, kalau papa pulang," jawab Harsya lembut.
“Ngga mau!”
“Papa harus siap-siap berangkat, sayang!.”
“Ngga mau! Dasar Papa tukang bohong!” Suara Lubna semakin melengking.
Armina yang sedang mempelajari sebuah resep, sekejap merasa risih mendengarnya. Ia bergegas menghampiri anak itu dan menyentuh bahunya.
“Ssssttt! Kok ngomongnya kasar begitu?”
“Habisnya papa jahat!” Lubna memeluk Armina. Tangisnya seketika pecah.
Sekilas, Armina melirik Harsya yang tampak bingung dengan sistuasi yang ada. Ia ikut sebal karena Harsya telah memberikan harapan palsu pada anaknya sendiri.
“Kenapa?” Armina berlutut agar matanya sejajar dengan wajah Lubna.
“Sudah janji mau ajak aku ke kidzone, tapi malah mau pergi!” Air mata Lubna mengalir di pipinya yang ranum.
“Papa kan mau berangkat. Kamu pergi sama mamina aja ya? Sekalian mamina mau belanja.” Armina membujuk.
"Belanja apa?"
"Beli s**u sama bahan makanan."
“Tapi, Mamina punya uang ngga? Nanti beli tiketnya gimana?"
Armina jadi ingin tertawa. “Punya, kok! Tenang aja!”
“Tapi, kemarin Mamina bilang mau kerja supaya punya uang. Berarti kan sekarang ngga punya uang.” Lubna masih belum percaya.
Armina ingat, saat mengirimkan lamaran kerjanya kemarin, ia membiarkan Lubna mendampinginya. Dan ia memang mengatakan alasan tersebut kepadanya. Tak disangkanya Lubna akan bernalar demikian.
Didekapnya kepala Lubna, lalu berbisik, “Sudah ngga usah nangis. Mamina masih punya uang. Sebentar lagi kita pergi, oke?”
Lubna mengangguk. Tangisnya seketika terhenti. Armina melepaskan pelukannya.
“Aku pergi sama Mamina aja. Sudah sana! Papa berangkat aja ke Bandung!” ucap Lubna kepada Harsya. Gadis kecil itu seperti berusaha menampakkan dirinya baik-baik saja.
Harsya melambaikan tangannya memberi tanda agar Lubna mendekatinya. Tangannya meraih kepala Lubna dan membelainya.
“Papa antar, ya!”
“Kan, Papa mau pergi?”
“Nanti malam saja. Sekarang, nemanin kamu dulu!” Harsya berubah pikiran. Ia tak enak hati disebut sebagai papa tukang bohong dan jahat oleh anak perempuannya.
Wajah sendu Lubna berubah cerah. Isak tangisnya berganti tawa cekikikan kala Harsya mengelitik pinggangnya.
“Ganti baju dulu!” Armina mengingatkan.
Karena Harsya jadi menemani Lubna, Armina memutuskan besok pagi saja ia melakukan rencana belanjanya. Selanjutya, ia kembali ke dapur dan menekuni catatan di aplikasi ponsel dan buku tua ibunya. Ia memilih resep-resep yang mempunyai kenangan khusus di hidupnya. Ada lemper ayam, lapis surabaya, brownies, dan donat yang sering menjadi bekal sekolahnya dulu.
Armina menyalin bahan-bahan yang dibutuhkan. Catatan ibunya begitu lengkap hingga menjelaskan detail jenis bahan dan mereknya. Meisha bilang, beda merek bahan makanan juga bisa mempengaruhi rasa makanan.
“Kok, kamu belum siap?” Harsya mengejutkan Armina dengan kehadirannya.
“Eeehhh! … Kakak aja yang pergi sama Lubna.” Armina hanya mengangkat wajahnya sebentar dan memperhatikan tulisan di hadapannya lagi.
“Katanya kamu mau belanja?” Harsya mendekati meja tempat Mina menyandarkan sikunya.
Armina menggeleng.
“Kenapa ngga jadi?” Harsya heran.
“Ngga apa-apa.” Armina malas menjawab.
“Terus, kapan mau belanjanya?” tanya Harsya lagi.
“Besok aja, Kak.” Armina menolak halus.
“Kenapa besok? Kenapa ngga sekarang?” cecar Harsya.
Armina diam. Ia mulai tak nyaman dengan percakapan ini.
“Ngga jadi, karena aku mau antar?” Harsya menebak.
“Kakak kan mau berangkat?” Armina menahan kesalnya.
“Ngga jadi, nanti malam saja atau besok pagi-pagi.”
Armina mendesah. Ia bingung bagaimana mengungkapkan bahwa ia enggan berdekatan dengan Harsya.
“Kamu ngga betah lama-lama di dekatku kan?”
Harsya menatap wajah Armina yang tertunduk. Gadis itu sama sekali kehilangan nyali mengangkat mukanya.
“Mina, aku ngerti kalau kamu masih dan mungkin akan marah terus ke aku. Aku pun sebenarnya ngga tega sama kamu. Tapi, tolonglah! Aku harus bagaimana supaya mendapatkan maaf darimu?”
Armina merinding. Jiwanya terguncang lagi oleh emosi yang bersembunyi di balik sikap tegarnya.
“Aku ngga tahu apa bisa memberikan maaf atau tidak. Bukan berarti aku dendam. Tapi…”
“Oke, aku paham!” sela Harsya.
Armina menyeka air mata yang mengembang.
“Mina, bisa ngga kita berteman?”
Apa lagi ini? Maaf saja belum diberikan, kok mengajak berteman? Armina mengeluh.
“Maaf, pertanyaanku salah." Harsya menyadari kekeliruannya.
Dia tercenung sesaat mencari kata-kata yang tepat, sementara Armina menata gelisahnya.
“Aku tahu, aku ngga bisa memaksamu untuk memaafkan dan apalagi melupakan perbuatanku kepada Meisha dan kamu. Aku sangat paham kalau penilaian kamu terhadapku berubah. Kamu berhak menjauhi dan menjaga jarak denganku. Kamu pasti merasa terjebak di sini akibat perbuatanku. Tapi, sesuai kesepakatan kita, percayalah semua ini akan berakhir… Aku cuma minta, kesediaanmu untuk bekerja sama. Kita ngga perlu menjadi teman, tapi paling ngga, jangan musuhi aku… Demi Lubna," tutur Harsya.
Armina menggigit bibirnya. Harsya menatap Armina penuh harap akan pengertian dari wanita yang biasa dianggap sebagai adiknya itu.
“Ih! Kok malah ngobrol? Katanya mau pergi? Aku tungguin di luar!” Suara protes Lubna memecah udara dapur yang kaku akibat pembicaraan Armina dan Harsya.
“Papa lagi bujuk Mamina. Dia ngga mau ikut pergi sama kita.” Harsya pintar menggunakan Lubna sebagai senjata untuk meluluhkan Armina. Meski Armina sekilas mendelik tajam padanya, ia tidak peduli.
“Kenapa? Tadi ngajak aku pergi, sekarang ngga mau pergi?” Mata Lubna membesar marah. “Nanti, aku bilang Mamina tukang bohong juga, nih!”
Harsya tertawa mendengar ucapan anaknya. Armina pun tersudut.
“Tunggu sebentar! Ganti baju dulu!” Armina menutup bukunya.
Lubna berseru riang dan berlari keluar. Armina berjalan melewati Harsya.
“Jadi, kamu sudah ngga menganggapku musuh lagi, kan?” tanya Harsya saat Armina tepat di depannya.
Namun, gadis itu tidak menjawab. Armina bergegas menaiki tangga menuju kamarnya.
Sebuah suara yang parau di hati Armina berteriak melarangnya membaiki Harsya. Selamanya Harsya adalah musuh karena telah mengkhianati Meisha dan menjebaknya. Sedangkan suara lain yang jauh lebih lembut, sebaliknya, membujuknya untuk memaafkan Harsya. Sebab, masalahnya dengan Meisha bukanlah urusannya. Apalagi Meisha telah tiada.
Armina menutup pintu kamar dan menyandarkan tubuhnya di dinding. Ia dapat merasakan kedua suara itu saling berdebat di kepalanya.
***