Dalam perjalanan menuju mall, Armina lebih banyak diam. Bersyukur dirinya, karena Lubna memilih duduk di kursi depan di samping Harsya. Sehingga ia bisa nyaman duduk di kursi tengah, di belakang Lubna.
Harsya memarkir mobilnya di lantai basement yang selantai dengan supermarket. Sedangkan, playground yang dituju Lubna ada di lantai paling atas bangunan mall bertingkat lima ini.
“Kita mau belanja dulu atau ke tempat permainan dulu?” tanya Harsya setelah mereka semua turun dari mobil dan berjalan memasuki pintu masuk yang langsung berseberangan dengan area supermarket. Pertanyannya itu lebih ditujukan kepada Armina.
“Aku belanja sendiri saja. Kakak sama Lubna langsung ke tempat main saja,” jawab Armina tanpa menatap Harsya.
“Kalau kamu duluan selesai bagaimana?”
Armina berpikir sebelum menjawab.
“Gini aja!” Harsya menyodorkan kunci mobilnya. “Kalau kamu duluan selesai, taruh belanjaannya di mobil. Terus kamu nyusul kami di atas. Kalau kamu mau jalan-jalan sendiri, nggak apa-apa. Nanti aku telefon kalau anak ini sudah bosan main.” Harsya menawarkan peluang bagi Armina untuk menikmati waktunya sendirian.
“Iya.” Armina menerima kunci itu dan memasukkannya ke dalam sling bagnya.
“Sebentar!” Harsya mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menekan-nekan layarnya.
Lubna mulai tak sabar. Armina harus memegangi tangannya agar dia tak kabur sendirian.
“Nomor rekeningmu belum ganti kan?”
Armina menggeleng. Harsya memang pernah beberapa kali mengirimkan uang kepadanya atas permintaan Meisha. Jadi, tak aneh jika dia menyimpan nomor rekening Armina.
“Aku sudah transfer uang untuk belanja ke rekening kamu. Aku titip dibelikan cemilan dan minuman untuk di perjalananku nanti ke Bandung, ya!” Harsya tersenyum, lalu mengambil alih tangan Lubna ke dalam gandengannya dan berjalan berbalik.
“Dadah Mamina!” Lubna melambaikan tangan sambil mengikuti langkah Harsya.
“Daaah!”
Ponsel Armina membunyikan nada pesan masuk. Ia membukanya sambil berjalan perlahan ke tempat deretan troli. Pesan itu merupakan notifikasi otomatis yang memberitahukan sejumlah dana telah masuk ke rekeningnya. Melihat jumlahnya, Armina kaget sendiri. Baginya nominal tersebut banyak sekali. Hatinya bertanya, ini untuk sekali belanja ataukah untuk kurun waktu tertentu? Dia sedikit curiga, jangan-jangan uang berlebih tersebut hanya taktik Harsya dalam rangka meluluhkan hatinya.
Meski hatinya dipenuhi tanya, Armina tak mau ambil pusing. Bukan ia yang meminta uang belanja. Saldo tabungannya masih sangat mencukupi. Ia berjanji tak akan bertanya untuk konfirmasi. Terserah bila Harsya akan memberinya uang atau tidak. Sesuai tekadnya, ia bakal berusaha mandiri tidak bergantung kepada lelaki itu.
Armina menelusuri lorong-lorong rak dengan langkah perlahan. Ia tak perlu tergesa-gesa sebab Lubna bisa menghabiskan waktu dua jam bermain. Matanya memperhatikan satu-satu barang yang tersedia. Ia mengingatkan dirinya sendiri untuk hanya membeli yang dibutuhkan saja. Ia tak mau dinilai boros atau aji mumpung memanfaatkan Harsya.
Saat di rak-rak kudapan, Armina bingung memilihkan cemilan yang diinginkan Harsya. Ia tidak hapal seleranya. Sudah tentu ia enggan menelefon untuk bertanya. Jadi, ia mengambil saja makanan ringan yang memang disukai Lubna dan dirinya. Mudah-mudahan saja ada yang disukai Harsya. Jika tak ada, paling tidak ia dan Lubna tetap akan memakannya.
Di lorong rak minuman, tiba-tiba Armina melihat sosok lelaki yang sangat dikenalnya. Lelaki itu juga tengah memandanginya. Darahnya tersirap dan tubuhnya jadi panas dingin.
Dia Kevin.
Armina terpaku menatap lelaki tinggi dan tampan yang hanya terentang jarak beberapa meter saja darinya. Beberapa saat mereka saling bertukar pandang. Kevin sepintas ragu dan bersiap berpaling. Namun, demi dilihatnya muka pias dan memelas Armina, ia mencoba tersenyum dan menghampirinya.
“Hai!” Kevin mendekat. Tangan kirinya menggenggam sebotol air mineral.
“Hai!” Armina membalas penuh rasa gugup.
“Sendiri?” Kevin berdiri di depan troli Armina. Begitu dekat.
“Emm… Sama Lubna dan kak Harsya. Mereka lagi main di atas.”
Sejenak Armina menyesal mengapa ia tidak menjawab bahwa ia sendiri saja. Tapi, buat apa juga?
Mata Kevin tertuju pada wajah Armina. Cukup lama dan dalam hingga membuat Armina jengah.
“Kamu lagi liburan?” Armina berupaya meredakan kecamuk hatinya.
“Nggak juga. Aku sedang dapat tugas ke Jakarta. Sebenarnya mulai besok. Tapi aku berangkat kemarin, supaya bisa ketemu keluarga dan teman-teman dulu.”
“Oh!” Armina tersenyum. Ia ingin sekali bertanya tentang pesannya yang tidak terjawab. Tapi, diurungkannya. Ia terlalu malu untuk mengungkapkannya.
“Kamu baik-baik saja?”
Seketika bibir Armina bergetar dan matanya panas. Pertanyaan Kevin tersebut langsung menyentuh jiwanya yang rentan. Ingin ia berlari ke pelukan Kevin dan berkata dia tidak baik-baik saja, serta meluapkan kekecewaan hidupnya kini. Namun, pandangan mata canggung Kevin yang mendarat ke cincin yang melingkar di jari manisnya, menyurutkannya. Troli yang menyekat mereka juga menyadarkan Armina bahwa dirinya tidak patut menyeberangi batas yang telah tercipta akibat pernikahannya dengan Harsya.
“Aku nggak apa-apa,” jawab Armina meski cenderung lirih.
Kevin tersenyum.
“Maaf aku nggak menjawab pesanmu, pas banget aku lagi sibuk. Terus kupikir nanti saat senggang akan kujawab, tapi aku malah lupa.”
Batin Armina tergores. Begitu cepat rupanya ia dilupakan.
“Nggak apa-apa.” Armina membalut kepedihannya.
Kevin mengangguk.
Armina menoleh ke belakang, takut ada pengunjung lain yang terhalang mereka. Namun, lorong ini lengang. Hanya ia dan Kevin saja berada di sini.
“Sudah selesai belanjanya?” tanya Kevin.
“Belum. Kamu sudah?”
“Aku cuma mau beli ini!” Kevin mengangkat botol minumannya. “Aku sebenarnya janjian dengan Rara dan Edo di sini. Kami bertiga mau nonton.”
Sebuah goresan kembali tertoreh di batin Armina. Hingga lukanya bertambah dalam. Mereka dulu gemar pergi nonton bersama. Kebiasaan itu ternyata masih dilakukan, tanpa menyertakannya lagi. Betapa menyakitkan rasanya disisihkan. Meski tentunya mereka tidak bermaksud demikian.
“Salam buat Rara dan Edo!” ucap Armina tegar.
Armina menarik mundur kereta dorongnya. Memberi kesempatan Kevin untuk berlalu. Rasa tersisih mendorong dirinya jadi ingin cepat menyingkir dari depan Kevin. Entah mengapa ia merasa jadi tak pantas berada di dekat lelaki itu. Kevin pun bertambah kikuk. Mungkin saja ia akhirnya menyadari kepedihan Armina.
Tanpa mengucapkan kata perpisahan, mereka berpisah. Armina berusaha keras kembali berkonsentrasi pada catatan belanja di ponselnya. Biarpun itu agak sulit dilakukannya. Kenangan kebersamaan dirinya dengan Kevin, juga Rara dan Edo membayang di benaknya. Ketika akhirnya memudar, ternyata kemudian meninggalkan luka yang perih.
Selesai membayar di kasir, Armina mendorong trolinya ke parkiran. Dimasukkannya semua tas belanjanya ke bagasi mobil. Lalu, ia duduk di kursi kemudi, menyalakan mesin dan menurunkan jendelanya sedikit. Ia perlu menyendiri sebentar, mengistirahatkan tubuhnya yang terasa letih akibat pikirannya yang lelah.
Pertemuan dengan Kevin tadi kembali mengganggunya. Ia penasaran bagaimana lelaki itu menyikapi perjumpaan mereka setelah ia meninggalkannya. Ia memeriksa status dan media sosial Kevin. Tak ada pembaruan apapun. Tapi, di akun Rara, terpampang fotonya bersama Edo dan Kevin dengan latar suasana di dalam bioskop. Ketiganya tersenyum dan tertawa.
Armina menyandarkan kepala dan memejamkan matanya. Ia gundah oleh rasa terasingkan.
Ponsel di genggamannya bergetar menandakan pesan masuk. Sebelum membuka mata, Armina sudah menduga Harsyalah yang mengiriminya pesan. Namun, nama yang tertera membuatnya terpana. Kevin.
“Hai, Mina. Sudah selesai belanjanya?... Aku senang bertemu kamu tadi. Maaf kalau sikapku kaku. Aku sungguh berharap kita tetap bisa berteman.”
Air matanya mengembang. Sekejap, jiwanya yang semula rapuh dan rentan seakan menemukan pondasi untuk berpijak kuat.
“Aku juga senang ketemu kamu. Terima kasih mau tetap berteman denganku.”
Armina membalas tanpa ragu.
Sebuah alarm kecil di hatinya menyala dan berbunyi, memperingatkannya untuk berhati-hati. Armina mematikannya. Pertemanan yang ditawarkan oleh Kevin sangat menggodanya. Menghangatkan segenap hatinya. Dan, dia cuma ingin merasa bahagia saat ini.
***