Tersenyum

1092 Kata
Pesan singkat Kevin hari itu, laksana angin sejuk yang menenteramkan. Juga serupa penyangga yang menguatkan Armina. Hatinya merasa terekatkan lagi dengan lelaki itu. Harsya yang menemuinya kemudian, bisa merasakan perubahan di diri Armina, Seperti ada secercah binar yang hidup di matanya yang akhir-akhir ini tak bercahaya. Biarpun masih saja Armina menjaga jarak dan bersikap seperlunya saja kepadanya, Harsya sudah cukup lega. Ia merasa lebih tenang akan meninggalkannya bersama Lubna untuk seminggu ke depan. Setiba di rumah, Armina langsung menata belanjaannya di dapur. Setelah memastikan Lubna tidur siang ditemani Harsya, ia memutuskan akan mampraktekkan beberapa resep kue yang sudah ia beli bahan-bahannya tadi. Ia sebelumnya juga sudah mengecek peralatan baking Meisha. Semuanya lengkap. Mikser, oven listrik, loyang, dan lainnya. Dengan ditemani alunan lagu dari aplikasi pemutar musik di ponselnya, Armina hanyut dengan kegiatan yang diyakininya akan menjadi hobinya kedepan. Menakar, menimbang, mengadon, memanggang, dan menatanya. Hingga senja, jadilah tiga jenis kue. Lapis surabaya, marmer cake, dan kue kering lidah kucing yang memanfaatkan putih telur yang tersisa. Harum mentega memuai keluar dapur, merambah ke semua arah. Hidung Harsya yang baru terjaga dari tidurnya, langsung disergap oleh wangi kue yang semerbak. Ia bangkit menelusuri sumber bau sedap tersebut berasal. Di meja marmer dapur, Armina tengah memotret kuenya yang ditata seartistik mungkin. Saat kuliah, ia pernah mengambil kursus singkat fotografi. Walaupun dengan kamera ponsel saja, ia bisa mendapatkan sudut dan tampilan yang menarik. Apalagi, ia memang menyukai food fotografi. Senyum yang menggambarkan suasana hatinya, mengembang tanpa beban. “Dari baunya yang kemana-mana, kayaknya kue itu enak.” Suara Harsya mengejutkan Armina. Lelaki itu menghampirinya. “Boleh kucoba?” Armina menggeser kue-kuenya mendekati Harsya. Dia diam mengamati Harsya terlihat sangat menikmati sepotong marmer cake. “Kan, beneran enak. Persis seperti yang dulu dibuat mamamu.” Harsya mengacungkan jempolnya. “Ini memang dari buku resep mama.” Armina tersenyum. Ia senang percobaannya berhasil dan mendapatkan pujian. “Boleh aku minta beberapa untuk kubawa nanti?” Armina mengangguk, dengan senyum yang masih menghias bibirnya. Melihat hal itu, Harsya merasa senang dan menang karena dikiranya telah berhasil meluluhkan kemarahan Armina padanya. Saat mengambil kotak makanan, Armina baru menyadari lengkungan bibirnya, langsung ia menutup mulut dengan tangannya. “Ih!” Egonya memarahi hatinya yang telah melumer hanya karena dipuji oleh Harsya. Butuh beberapa menit sebelum akhirnya ia bisa memaafkan dirinya. Selesai mengemas beberapa potong kue dan meletakkanya di meja makan bersama makanan ringan yang dipesan Harsya, Rara menelefonnya. Bergegas ia menerimanya. Hatinya semakin berbunga, karena baru kini Rara menghubunginya lagi sejak pernikahannya. “Hai, pengantin baru!” seru Rara di seberang sana. “Sstt! Apa, sih?” Armina menukas risih. Rara tergelak. “Kok, kamu sombong sih, baru nelfon aku sekarang,” protes Armina sambal menaiki tangga menuju ke kamarnya. Ia ingin mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol panjang. “Ya, aku kan nggak mau ganggu orang lagi honeymoon!” sahut Rara disertai tawa panjang. Honeymoon apa? Belum tahu saja Rara jika pernikahannya merupakan musibah buatnya. Armina sesaat tergoda untuk menceritakan masalahnya. Namun, suara di hati kecilnya melarang. Sebab, ia sudah bersepakat dengan Harsya untuk merahasiakan persoalan dan perjanjian mereka. “Hei! Kevin baru cerita, kalau kalian tadi ketemu di mall? Kok, kamu nggak nyamperin aku, sih?” “Aku nggak mau gangguin orang lagi pacaran.” Armina membalas ledekan Rara. Armina menutup pintu kamarnya, lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Senang rasanya, akhirnya bisa berbincang dan tertawa lepas lagi. Seperti dulu, topik percakapan random keduanya berlangsung berjam-jam. Sejenak, Armina terlupakan dengan situasi dirinya. Lupa juga bahwa Harsya akan pergi malam ini. Suara teriakan Lubna memanggilnya di luar kamar, menyela perhatian Armina dari mendengarkan cerita Rara tentang pekerjaan yang baru didapatkannya. Tanpa melepaskan ponsel dari telinganya, Armina membukakan pintu. “Papa mau berangkat ke Bandung sekarang!” seru Lubna. “Siapa yang mau ke Bandung?” tanya Rara yang mendengar perkataan Lubna. “Kak Harsya, mau kembali ke Bandung,” jawab Armina. “Ayo! Matiin dulu telfonnya! Papa mau pamitan!” Lubna menarik tangan Armina. Mau tak mau, Armina mengakhiri panggilan telefonnya dan membiarkan anak kecil itu menggandengnya turun ke lantai bawah. Armina memasukkan makanan yang telah ia siapkan ke dalam goodie bag, dan meminta Lubna memberikannya kepada papanya. Hari telah berubah malam. Lampu-lampu telah dinyalakan. Di teras rumah, Harsya memeluk dan menciumi Lubna lama sebelum berpaling pada Armina yang berdiri di pintu. Menjaga jarak. “Kamu nggak apa-apa, kutinggal cuma berdua?” Harsya agak cemas karena Mba Karti belum jelas kapan akan kembali. Armina mengangguk. Ia telah terbiasa tinggal di kos sendirian. Lagipula, lingkungan rumah ini cukup aman dengan dengan sistem satu pintu masuk dan keluar yang dijaga petugas keamanan secara bergantian. Ia mengenal baik mereka, sebab dulu Meisha sering memberikan makanan dan minuman. “Kamu punya nomor telefon para satpam di depan itu, kan?” tanya Harsya. “Punya.” Armina menjawab pendek. “Kalau ada apa-apa, kabari aku, oke?” Armina kembali mengangguk. “Aku pergi dulu!” Harsya mengulurkan tangannya memberikan salam. Armina membalasnya dengan menempelkan punggung telapak tangan Harsya ke pipinya. Hanya sekilas dan menyentuh tipis. Seperti kebiasaan yang memang sudah melekat sejak Harsya menjadi bagian keluarganya. Sebagai kakak iparnya. Namun, kali ini terasa sekali kecanggungannya. Ia harus menganggap lelaki ini sebagai apa? Sehabis membersihkan diri dan makan malam, Armina menemani Lubna belajar. Kala petugas keamanan berkeliling dan melewati rumah, ia memanggil dan memberikan sebagian kue buatannya dan kopi. Ia mengikuti cara Meisha untuk mendapatkan perhatian penjagaan lebih dari mereka. Menurut Meisha, pemberian itu bukan sogokan. Hanya sekedar apresiasi agar mereka juga tidak lapar dan mengantuk. Walaupun Armina berpikir sama saja. Lubna mulai mengantuk. Setelah megunci semua pintu dan jendela, Armina mengajaknya ke kamar. “Kita tidur berdua di kamar mamina saja.” “Kenapa Mamina nggak tidur di kamar bawah, di kamar papa?” tanya Lubna. “Nggak. Sama kamu aja.” “Tapi, Mamina kan isteri papa? Dulu, mama tidur berdua sama papa.” Armina mengeluhkan pertanyaan kritis Lubna. “Tapi, papa kan nggak ada sekarang. Jadi, mamina tidur sama kamu.” “Hmmm… Tapi, waktu papa ada kemarin, Mamina juga nggak tidur di kamar papa. Malah tidur di kamar sendiri.” Lubna menatapnya penuh tanya. Heran memancar di mata bundarnya. “Sudah, ah! Ayo tidur!” Armina menghentikan pembicaraan yang membuatnya tidak nyaman itu. Tak sampai sepuluh menit, Lubna terlelap. Sementara mata Armina tak bisa terpincingkan. Meski tak ingin dipikirkan, bayangan Harsya yang mulai malam ini akan bertemu dan bersama isteri lainnya mengusiknya. Ia tak bisa mencegah rasa penasarannya tentang sosok wanita lain di kehidupan Meisha, dan kehidupaannya kini. Seperti apa perempuan yang bisa mengalihkan kesetiaan Harsya itu? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN