Senin, menjadi hari pertama Armina menjalani hidupnya hanya berdua saja dengan Lubna. Pagi-pagi ia sudah membersihkan diri, menyiapkan sarapan dan bekal Lubna. Membangunkan dan menyuruh mandi gadis kecil itu memerlukan perjuangan ternyata. Armina sudah menggunakan beragam cara, tetapi anak itu juga punya bermacam jawaban untuk mengelak. “Aku masih ngantuk!” serunya sambal menutupi kepalanya dengan selimut. “Nanti kalau sudah mandi, ngantuknya hilang.” Armina meyakinkan. “Airnya dingin, nanti aku masuk angin.” “Pakai air hangat, kok! Ayolah!” Armina menarik selimutnya. “Mamina juga belum mandi!” “Sudah! Dari Subuh Mamina sudah mandi. Sekarang giliran kamu!” balas Armina sabar. “Tapi, aku lapar!” Lubna menelungkupkan wajahnya di bantal. “Ya sudah, sarapan dulu saja kalau begitu.” Ar

